Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Air Mata Sang Tuan Putri
Hubungan Gisel dan Raka membaik pesat; Raka tidak lagi memanggilnya "lo-gue" dan mulai betah di rumah, meski gengsinya masih di angka 50 persen. Gisel merasa menang, setidaknya satu "es batu" kecil sudah mulai retak.
Namun, ketenangan itu pecah sore ini. Alya (16 thn) pulang sekolah dengan langkah seribu, mengabaikan sapaan ceria Gisel. Suara isak tangis tertahan terdengar sebelum pintu kamar di lantai dua dibanting keras.
BRAKK!
Gisel yang sedang menggendong Digo langsung waspada. Ia menitipkan Digo pada Bibi, lalu menyusul ke atas. Aroma white tea-nya yang segar seolah mencoba menembus pintu kayu yang terkunci rapat itu.
"Alya? Sayang, ini Kak Gisel. Kamu kenapa?" Gisel mengetuk pintu dengan lembut. Tidak ada jawaban, hanya suara tangis yang makin pecah.
Di saat yang sama, ponsel Gisel bergetar di saku dasternya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal—yang sebenarnya adalah kiriman Hadi, mata-mata Dewa yang masih bertugas.
Foto itu memperlihatkan Alya di gerbang sekolah, sedang dikelilingi oleh beberapa siswi lain yang tampak mengolok-oloknya. Di samping mereka, ada seorang cowok yang memegang bunga, tapi bunga itu dibuang ke tempat sampah di depan wajah Alya.
"Brengsek," desis Gisel. Ia tahu Alya sedang mengalami perundungan atau patah hati yang hebat.
Gisel tidak menyerah pada pintu yang terkunci. Ia merogoh saku dan mengambil kunci cadangan yang diam-diam ia minta dari Bibi kemarin.
Ceklek.
Gisel masuk ke kamar yang gelap dan beraroma melankolis itu. Ia melihat Alya meringkuk di bawah selimut, bahunya berguncang hebat. Gisel duduk di tepi ranjang, tangannya yang hangat perlahan mengusap punggung Alya.
"Siapa cowok itu, Al? Mau Mbak datengin sekolahnya terus Mbak semprot pake parfum sampai dia pingsan karena aromanya terlalu rileks?" tanya Gisel dengan nada ceplas-ceplos andalannya, mencoba mencairkan suasana.
Alya menyembul dari balik selimut, wajah cantiknya sembab dan lip tint-nya berantakan. "Dia... dia bilang aku cuma anak duda yang nggak punya Ibu. Dia cuma jadiin aku taruhan karena aku susah didapetin..."
Hati Gisel mencelos. Ia langsung menarik Alya ke pelukannya. "Denger ya, Al. Kamu punya Ibu. Sekarang ada aku di sini. Siapa pun yang berani jadiin kamu taruhan, dia nggak pantes dapet air mata kamu yang mahal ini."
Alya menangis di bahu Gisel, menghirup aroma segar yang mendadak membuatnya merasa aman. Tanpa sadar, tangannya membalas pelukan Gisel.
Sementara itu, Dewa (35 thn) sedang menatap layar laptopnya yang terhubung dengan kamera CCTV lorong kamar. Ia melihat Gisel masuk ke kamar Alya. Hatinya berdesir. Rasa bersalah karena masih menyuruh Hadi memata-matai Gisel kembali menghantuinya.
"Kenapa dia bisa selembut itu pada anak-anak yang membencinya?" gumam Dewa sambil melepas kacamata bacanya, menatap layar dengan tatapan yang mulai berubah dari curiga menjadi kekaguman yang dalam.
Pagi itu, area parkir SMA Angkasa gempar. Sebuah SUV mewah hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang utama—spot yang biasanya hanya untuk mobil kepala sekolah.
Pintu terbuka, dan aroma white tea serta citrus yang sangat segar langsung menyeruak, mengalahkan bau asap knalpot pagi hari. Gisel (23 thn) turun dengan kacamata hitam oversized, blazer kuning mustard yang pas di badan, dan rambut panjang yang tergerai sempurna. Ia tampak seperti model yang salah alamat masuk ke sekolah.
"Turun, Al. Angkat dagu kamu. Tunjukin kalau kamu itu putri Atala, bukan target taruhan," bisik Gisel pada Alya (16 thn) yang tampil sangat cantik dengan sedikit sentuhan makeup natural dari Gisel.
Semua mata tertuju pada mereka. Tak terkecuali Beno, cowok populer yang kemarin membuat Alya menangis. Beno sedang tertawa bersama gengnya saat melihat Gisel dan Alya berjalan mendekat.
"Wah, Alya bawa siapa tuh? Kakaknya? Cantik juga," celetuk salah satu teman Beno dengan nada kurang ajar.
Gisel tidak membiarkan mereka bicara lebih jauh. Ia melangkah mantap ke arah Beno, melepas kacamata hitamnya, dan menatap cowok itu dengan tatapan mata bulatnya yang mengintimidasi namun tetap penuh senyum sinis.
"Halo, Beno," sapa Gisel, suaranya renyah tapi dingin. "Saya Gisella Amara Atala. Ibunya Alya. Saya dengar kemarin kamu buang bunga ke tempat sampah ya? Sayang banget, padahal bunga itu lebih punya harga diri daripada cowok yang jadiin perasaan perempuan sebagai bahan taruhan."
Seluruh koridor sekolah mendadak senyap. Beno tertegun, wajahnya yang tadi sombong perlahan memucat. Ia tidak menyangka Alya punya "Ibu" semuda dan seberani ini.
"Maksud... maksud Tante apa?" tanya Beno terbata-bata.
"Jangan panggil Tante, panggil saya 'Nyonya Dewa Atala'. Biar kamu ingat siapa Ayah dari gadis yang kamu sakiti ini," Gisel maju selangkah, aroma segarnya kini benar-benar mengunci Beno. "Denger ya, anak muda. Di mata saya, kamu itu cuma sampah yang kebetulan pakai seragam sekolah. Sekali lagi saya denger kamu ganggu Alya, saya pastikan Papa-nya Alya bakal beli perusahaan keluarga kamu cuma buat pecat seluruh orang di sana. Paham?"
Beno menelan ludah dengan susah payah. Teman-temannya langsung bubar jalan, tidak berani membela. Gisel lalu merangkul bahu Alya dengan bangga di depan semua orang.
"Ayo masuk, Sayang. Jangan lupa nanti pulang sekolah kita ke salon, ya. Kita harus tetep fresh buat nungguin Papa kamu pulang kerja," ucap Gisel sengaja dikeraskan agar semua orang tahu betapa harmonisnya mereka.
Alya tersenyum lebar, untuk pertama kalinya ia merasa sangat bangga memiliki Gisel di sisinya.
Tanpa mereka sadari, dari dalam mobil yang diparkir agak jauh, Dewa (35 thn) sedang memperhatikan semuanya melalui kaca film yang gelap. Ia melepas kacamata bacanya dan tersenyum sangat tipis.
"Singa betina saya benar-benar luar biasa," gumam Dewa, yang ternyata diam-diam mengikuti mereka karena khawatir (dan sedikit posesif)