Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You're Still The One
Sudah hampir beberapa hari Valerie membalas pesan dari Jeevan seperlunya saja, panggilan masuk pun tidak diterima olehnya. Memang Valerie masih marah kepada Jeevan dan ia hanya mau mengingatkan Jeevan jika semua hal tidak bisa dibelinya dengan uang.
Pernikahan mereka tidak terasa tinggal dua minggu lagi, seharusnya kedua orang tuanya sudah berada di sini sejak kemarin untuk menemaninya. Bahkan saat menjelang hari penting untuk Valerie, kedua orang tuanya tidak ada di sini terutama mamanya. Ingin rasanya Theresia menemaninya fitting baju pengantin, mencari WO, bukan masalah uang bagi Valerie tapi keberadaan mamanya yang sangat dirindukan sejak lama.
Bahkan setiap detik Valerie sangat merindukan kehadiran mamanya, meski hanya sebentar namun berharga baginya. Valerie tidak pernah meminta banyak, yah diinginkan olehnya adalah duduk berdua berbincang di kedai kopi, belanja bersama, nonton bioskop bersama, tapi semua itu nggak akan terjadi.
Besok Valerie akan mengadakan foto prewedding bersama Jeevan, kebetulan mereka berdua ditemani neneknya Jeevan dan Deevina yang juga ingin ikut melihat proses foto prewedding putra bungsunya. Wajah Vale terlihat sedikit murung dan matanya memerah, mungkin bekas semalam dia menangis sendirian merindukan Theresia. Andai saja Valerie mempunyai seorang kakak atau saudara perempuan, pasti tidak akan pernah merasakan kesepian.
Kedua bola mata Jeevan sedari tadi terus melirik mengawasi gerak-gerik Valerie yang duduk tidak jauh darinya, sejak datang sampai saat ini Valerie tidak berbicara kepadanya. Dia hanya berbicara dengan mama dan neneknya. Setiap kali Jeevan hendak mendekatinya, ia langsung menghindarinya dengan banyak alasan.
"Kamu lagi sakit?" tanya Deevina baru sadar memperhatikan wajah Valerie yang terlihat murung.
Valerie yang sedang mengirim pesan seketika menoleh ke arah Deevina yang duduk di hadapannya hanya terhalang sebuah meja panjang yang membatasinya.
"Hah? Nggak kok, Ma. Aku baik-baik saja," jawab Vale meyakinkan Deevina dengan senyuman manisnya agar calon mertuanya tidak begitu mengkhawatirkannya.
"Kamu terlihat pucat. Apa kamu makan dengan benar, Nak?" tanya neneknya Jeevan yang begitu perhatian dengannya.
Neneknya Jeevan tahu jika Valerie tinggal sendirian dan pasti tidak ada teman untuk diajak makan bersama, neneknya Jeevan khawatir jika Valerie sering melewatkan jam makannya.
"Tenang aja, Nek. Aku baik-baik aja kok, cuma agak sedikit gugup," ucap Vale berbohong mencari alasan.
Semua yang Valerie katanya adalah bohong, akhir-akhir ini ia merasakan pusing di kepalanya. Seharusnya jadwal kontrol dua hari lalu, namun Valerie sangat sibuk sekali. Selama pemotretan tidak ada kata yang terucap dari mulut Valerie saat bersama Jeevan, padahal mereka sangat dekat, bahkan Valerie selalu menghindar jika ada kontak mata dengannya. Sikap Valerie membuat Jeevan sangat kesal dan marah, jika saja tidak ada mama dan neneknya pasti sedari tadi Jeevan sudah mengajak Valerie berdebat.
"Aku boleh request pose buat kenang-kenangan?" pinta Jeevan kepada fotografer.
Valerie menoleh ke arah Jeevan yang ada di dekatnya, kenapa Jeevan meminta pose khusus? Pose apa yang dimaksud olehnya. Bukan hanya Valerie yang keheranan tapi mama dan neneknya juga saling menatap satu sama lain. Neneknya sudah mengetahui pose apa yang dimaksud oleh cucuknya itu, pasti Jeevan akan melakukan hal-hal aneh yang akan membuat mamanya geleng kepala.
"Pose apa?" tanya fotografer masih berdiri memegang lensa kameranya menatap ke arah Jeevan.
"Boleh foto kami berdua sedang berciumann?" jawab Jeevan tanpa beban menata lekat fotografer.
Semua yang ada di sana begitu terkejut dan kaget dengan apa yang baru saja Jeevan ucapkan, apalagi Valerie yang sedari tadi tidak pernah menoleh atau menatapnya sedikitpun kepadanya membuat Jeevan sedikit kesal dan jengkel.
Deevina dan neneknya Jeevan hanya bisa tersenyum penuh arti saling menatap satu sama lain, seraya tertawa ringan menggoda Jeevan. Sedangkan sang fotografer terdiam membeku menatap Jeevan keheranan. Jeevan sadar jika saat ini Valerie sedang menatapnya dengan tatapan sinis seolah ingin memakannya, dan akhirnya Jeevan berhasil menarik perhatiannya.
Hatinya terbakar emosi dan tatapannya begitu sinis menatap Jeevan, tapi sayang Jeevan mengabaikan Valerie yang seolah mengirimkan pesan kepadanya jika ia menolak permintaan Jeevan.
"Hah? Serius, Pak?" tanya fotografernya masih tidak percaya.
"Iya. Abisnya calon istriku lagi marah, dan aku ngga tahu gimana caranya biar dia mau bicara lagi," jawab Jeevan menyindir Valerie dan menggodanya.
Suasana yang tadinya terasa membeku dan sedikit tegang, mendadak mencair karena ucapan Jeevan yang mampu membuat semua orang yang ada di sana tertawa. Ternyata Jeevan sedang menggoda Valerie yang sedang marah kepadanya, tatapan sinis Valerie mendadak menjadi malu dan gugup menjadi pusat perhatian di sana.
Hatinya yang kesal dan dongkol berubah menjadi malu ketika Jeevan berhasil menggodanya, kenapa dia bisa berpikir seperti itu untuk bisa membuatnya mau bicara dengannya. Kini Jeevan menoleh membalas tatapan Valerie begitu lekat. Senyumnya merekah menyapa Valerie, tapi perempuan cantik berambut sebahu hanya terdiam membisu dengan wajah datarnya.
"Masih marah? Apa perlu aku cium kamu di sini?" Jeevan masih menggoda Valerie membuat wajah cantiknya mendadak memerah karena malu.
Suara teriakan terdengar dari salah satu penata rias, mereka semua menjadi terbawa suasana saat Jeevan berhasil menggoda Valerie. Kenapa Jeevan bisa membuat Valerie salah tingkah, melihat kedua cucunya membuat neneknya Jeevan sangat bahagia.
"Apaan sih, nggak lucu!" Valerie mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan Jeevan yang terus berusaha untuk berbaikan dengannya.
"Aku serius. Kalau kamu masih marah, aku ciuum kamu di depan semua orang," ancam Jeevan dengan nada suara yang lembut namun terdengar sangat mengerikan.
Senyuman Jeevan seolah sedang menggoda Valerie yang sedari tadi menahan rasa malunya, karena semua orang di sini tertawa dan tersenyum melihat sikap Jeevan.
Setelah selesai mengganti pakaian, Jeevan tidak sengaja melihat Vale seperti sedang menelepon seseorang, ternyata itu adalah telepon dari mamanya yang memberitahukan jika mereka berdua pulang satu hari sebelum hari pernikahannya.
Pancaran wajah cantiknya yang tadi terlihat begitu bersinar mendadak sirna karena senyumannya hilang seketika, sikap Valerie membuat Jeevan sangat mengkhawatirkannya. Ia ingin melihat Valerie tersenyum dan tertawa saat bersamanya, karena selama bersamanya ia belum pernah melihat senyuman itu.
"Iya, Ma. Nggak apa-apa kok, mereka bisa ngerti kalau mama datang sehari sebelum hari pernikahanku," ucap Vale terdengar sedikit lirih menahan sedih di hatinya.
Mungkin Theresia tidak peduli bagaimana keadaan Valerie saat ini, baginya putri semata wayangnya baik-baik saja. Namun nyatanya yang Jeevan lihat ia sedang menahan air matanya agar tidak keluar menetas ke pipi, dan tangisnya tidak terdengar oleh orang tuanya.
Jeevan selalu menghawatirkan Valerie setiap saat, apapun caranya akan dilakukan olehnya untuk membuat Valerie bahagia mulai saat ini. Terdengar sayu-sayu pembicaraan Valerie ternyata mendapatkan telepon dari mamanya yang memberitahukan jika mereka akan datang H-1 hari pernikahannya.
Bagaimana Valerie tidak merasa sedih karena orang tuanya datang sehari sebelum resepsi pernikahannya, seharusnya mereka sudah ada di sini untuk menemaninya memilih gaun pengantin, foto prewedding, fitting baju dan hal-hal kecil lainnya. Selesai menutup teleponnya, air mata Valerie menetas jatuh ke pipi namun ia mencoba menahannya agar tidak pecah dan terlihat oleh Deevina dan neneknya Jeevan.
Tidak ada kata yang terucap dari mulut Valerie saat menuju jalan pulang selama di dalam mobil, ia lebih banyak diam sambil menatap ke luar jendela kaca mobil memalingkan kesedihannya dari Jeevan. Apa yang sedang dilalui oleh Vale sangat berat beberapa hari ini.
"Besok kamu ada acara?" tanya Jeevan saat masih di dalam mobil ketika mereka sudah sampai di rumahnya.
"Aku mau pergi bersama temanku," jawab Valerie hendak membuka pintu mobil tapi Jeevan mencoba menahannya.
"Kalau malam?" Jeevan mencoba menahan Valerie agar bisa lebih lama mengobrol dengannya.
Tangan Vale berhenti sejenak ketika hendak membuka pintu mobil, ia menoleh ke arah Jeevan dengan tatapan sendu Valerie menatap Jeevan.
"Seharian besok aku sibuk dan pastinya akan melelahkan, jadi aku ngga bisa pergi," jawab Valerie menjelaskan secara detail karena malas menjawab pertanyaan Jeevan lagi.
Sepertinya Jeevan tidak berhasil membuat Vale lebih lama bersamanya karena ia bisa melihat jika Vale sedang tidak baik-baik saja.
"Oke," balas Jeevan terdengar kecewa.
Saat Valerie hendak turun Jeevan melihat sebuah mobil yang tentunya terasa asing, itu bukan mobil Valerie ataupun penghuni rumah ini. Apakah ada yang datang? Sebuah mobil mewah berwarna putih.
"Itu mobil siapa?" tanya Jeevan ketika Valerie sudah membuka pintu mobil namun belum melangkah turun.
Mendengar ucapan Jeevan membuat Valerie menoleh dan melihat sebuah mobil sudah terparkir lebih dulu, betapa kagetnya Valerie ketika melihat mobil terparkir yang ada di depan mobilnya Jeevan adalah mobil milik Nathan. Apalagi saat Nathan keluar turun dari mobilnya ketika tahu kedatangan Valerie.
Nathan turun dari mobil dan berdiri menghadap ke arah mobil Jeevan seolah sedang menunggu kedatangan Valerie. Bukan hanya Valerie yang kaget, tapi juga Jeevan yang mulai emosi dan terbakar api cemburu. Wajahnya memerah dan kedua bola matanya membulat seakan keluar dari tempatnya. Kedua tangannya menggenggam erat stir mobil.
"Nathan," Valerie menyebut namanya dengan suara pelan namun membuat Jeevan sangat kesal setiap kali Valerie menyebut nama mantan kekasihnya.
Tanpa berpikir panjang Jeevan menutup kembali pintu mobil yang sudah dibuka oleh Valerie tadi dengan kasar, membuat Valerie yang tadinya terdiam terpaku menatap Nathan dari kejauhan kaget dibuatnya.
"Brukk..." suara pintu mobil Nathan terdengar sangat keras.
"Ngapain kamu?" Valerie menatap Jeevan keheranan.
"Dia yang ngapain di sini?" Jeevan balik tanya dengan sikap dingin dan menatap Vale begitu tajam.
"Aku nggak tahu dia mau apa," jawab Valerie mencoba menjelaskan.
"Kalian janjian di sini?" tuduh Jeevan menebak membuat Valerie tertawa ringan terkesan sinis.
"Apa? Kamu nuduh aku?" Valerie terlihat mulai kesal.
"Oke, kalau begitu nggak ada alasan kamu ketemu dia."
Secepat kilat Jeevan kembali menyalakan mesin mobilnya dan hendak pergi dari sana, namun Vale lebih dulu menghentikannya.
"Stop! Kita mau ke mana?"
"Jujur, aku nggak suka dia ada di sini dan kamu juga sama, kan?" tanya Jeevan sambil melepaskan injakan gas mobil saat Valerie memintanya untuk berhenti.
Memang benar semua apa yang Jeevan ucapkan karena pasti Nathan akan memintanya untuk kembali lagi bersamanya, memohon agar hubungan mereka berdua seperti dulu lagi. Belum sempat Vale menjawab pertanyaannya, ponsel Valerie berdering dan ternyata ada panggilan masuk dari Nathan.
Beberapa saat Valerie terdiam menatap layar ponselnya dan sesekali menatap ke arah Nathan yang tidak jauh dari mobil Jeevan. Valerie menerima panggilan masuk dari Nathan yang membuat Jeevan begitu kesal dan marah.
"Halo, Vale. Bisa kita bicara sebentar?" suara Nathan terdengar begitu lembut di telinga Valerie yang masih terus menatap Nathan dari kejauhan.
Tidak ada suara terdengar dari telinga Nathan saat menelpon Valerie, namun dia yakin jika Valerie mendengarkan ucapannya.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Aku tahu pasti kamu nggak mau menemui ku lagi, tapi beri aku kesempatan buat meminta maaf dan berpamitan sama kamu. Bukannya aku juga berhak mendapatkan penjelasan dan kata maaf darimu?" suara Nathan membuat Valerie sedih karena telah membuatnya kecewa dan sakit hatinya.
Lama Valerie terdiam sambil terus menatap ke arah Nathan yang ada di sana membuat Jeevan kehabisan kesabarannya. Jeevan hendak mengambil ponsel milik Valerie yang masih berada di telinganya dan mematikan panggilan dari Nathan secara sepihak, tapi sayang Valerie lebih dulu sadar akan sikap Jeevan dan segera menghindarinya agar Jeevan tidak mengambil ponselnya. Hanya tatapan kecewa saat Jeevan melihat sikap Valerie yang sudah mencoba menghindarinya.
"Oke. Kita bicara sebentar," kata Vale sambil menatap Jeevan membuat hati lelaki bermata hitam kecewa dan marah.
"Kalian mau ngobrol?" tanya Jeevan saat Valerie menyudahi panggilan masuknya.
"Iya," jawab Valerie singkat.
Hanya diam yang bisa Jeevan lakukan menahan emosinya yang hendak meledak kapan saja, wajahnya mulai terlihat memerah. Yang ingin Jeevan lakukan saat ini adalah turun dari mobil dan menghajar Nathan habis-habisan.
"Kalian berdua mau balikan lagi?" Jeevan masih belum bisa menerima keputusan Valerie sehingga membuatnya sedikit kesal dengan banyaknya pertanyaan Jeevan.
"Van. Aku mohon kamu jangan banyak ikut campur urusan pribadiku! Ini urusanku bukan urusanmu! Dan kita udah sepakat buat nggak ikut campur urusan masing-masing!" Valerie mulai kesal membuat Jeevan merasa muak berada di situasi seperti ini.
Hati Jeevan sakit dan terluka dengan ucapan Valerie yang seharusnya mengusir Nathan dari sini, semua tidak sesuai yang Jeevan bayangkan.
"Oke. Terserah kamu, lakukan apa yang kamu mau!" kata terakhir Jeevan seraya membuang muka dari tatapan Valerie sambil menahan marahnya.
Tanpa pamit Valerie membuka pintu mobil dan Jeevan masih berharap berdoa dalam hati jika Valerie berubah pikiran, namun nyatanya Jeevan mendengar suara pintu mobil tertutup sebagai tanda Valerie telah pergi meninggalkannya. Hati Jeevan galau dan emosinya memuncak, dinyalakannya mesin mobil lalu diinjaknya gas begitu dalam membuat mobilnya melaju dengan cepat meninggalkan rumah Valerie.
Melihat kepergian Jeevan yang menyetir terburu-buru membuat Valerie merasa bersalah, ia tahu Jeevan kecewa kepadanya karena kemarin sudah membelanya habis-habisan. Tapi Valerie juga harus menyelesaikan semuanya. Senyum Nathan merekah bahagia saat melihat Valerie berjalan menghampirinya.
Jeevan mengendari mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, sorot matanya begitu tajam menahan amarah yang akan meledak, tangannya menggenggam erat stir mobil. Nathan membawa Valerie ke tempat kesukaannya, yaitu sebuah mall besar milik keluarnya Nathan. Di sana Nathan mengajak Valerie bermain ice skating.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Valerie saat tahu Nathan mengajaknya bermain ice skating.
"Ini adalah permintaan terakhirku. Karena besok aku akan pergi dan menetap di Irlandia," jawab Nathan dengan wajah terlihat sangat sedih menatap Valerie.
Papanya Nathan meminta putranya untuk mengurus perusahaan yang baru saja dijalankan olehnya, karena Nathan adalah satu-satunya pewaris tunggal mengharuskannya meneruskan kursi kepemimpinan papanya. Ini ada baiknya juga bagi Nathan, pergi dari sisi Valerie dan melupakan semua kenangan bersamanya. Meskipun nyatanya perasaan itu tidak akan bisa hilang sepenuhnya. Butuh waktu lama bagi Nathan untuk bisa melupakan Valerie.
Keduanya bermain ice skating tanpa ada yang menggangu karena Nathan meminta stafnya untuk mensterilkan tempat itu. Valerie teringat kenangan bersama Nathan yang sering main ice bersama, Nathan paling handal dalam permainan ini. Valerie belajar darinya sampai akhirnya ia menjadi yang paling jago daripada Nathan.
"Aku minta maaf soal kejadian kemarin." Nathan mulai berbicara saat mereka berdua berdiri berhadapan di tengah-tengah area ice skating hanya berdua saja.
Tatapan Valerie sendu menatap Nathan yang terlihat sangat sedih dan kecewa, rasanya Vale adalah orang yang sangat jahat karena telah menyakiti hati Nathan, tapi ini semua demi kebaikannya agar nantinya jika Valerie benar-benar pergi, Nathan tidak terluka semakin dalam.
"Nggak seharusnya aku menyakitimu seperti itu, dan jujur aku sangat terpukul dengan keputusanmu yang tiba-tiba saja mengakhiri hubungan ini," tambah Nathan lagi.
Saat ini sikap Nathan terlihat sangat tenang dan emosi yang stabil tidak seperti kemarin, mungkin sekarang Nathan sudah mulai tenang dan menerima kenyataan jika mereka berdua harus berpisah. Ucapan Nathan membuat Valerie sedih dan ingin menangis, andai saja Nathan tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya pasti akan memaafkannya.
"Sejak pertama kita bertemu sampai saat ini perasaanku nggak pernah berubah, mungkin aku sedikit egois dan memaksakan kemauanku tapi kamu selalu menerimanya. Pernikahan adalah impianku sama kamu, mempunyai banyak anak, rumah besar milik sendiri di mana kita akan selalu bertemu setiap hari. Itu adalah impianku selama ini. Tapi semua mendadak sirna dalam sekejap." Suara Nathan terdengar sedikit lirih seperti menahan kesedihan dan hendak menangis.
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Valerie namun sebisa mungkin ia menahannya, hatinya mendadak sakit dan sesak seperti ada lubang besar di sana. Ia tahu telah menyakiti lelaki yang pernah ada di sisinya selama hampir satu tahun bersama. Apapun alasannya, Valerie harus mengakhiri hubungannya dengan Nathan.
Suasana sedikit sendu antara Vale dan Nathan ternyata harus disaksikan oleh seseorang yang diam-diam mengawasi mereka berdua. Ternyata Jeevan mengikuti mereka berdua, tatapan mata Jeevan begitu tajam melihat ke arah mereka berdua. Wajahnya semakin memerah dan matanya terlihat menyeramkan, ingin rasanya Jeevan membawa pergi Valerie dari sana sekarang juga. Tapi mereka berdua harus berbicara menyelesaikan semuanya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪