NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Bayang-Bayang di Tengah Malam

Tengah malam itu, suara dering telepon bagaikan pisau yang mengoyak sunyi. Aisha bangkit dari tempat tidur dengan jantung berdebar kencang, belum semata-mata menyadari waktu sebelum melihat nama Arka di layar ponsel.

“Arka? Ada apa?” Suaranya serak, masih setengah tertidur.

“Aisha, Baskara... dia tidak ada di kamarnya.”

Dunia Aisha berhenti berputar. Ia duduk tegak, kedua tangannya mulai gemetar. “Apa maksudmu tidak ada? Kamu cek seluruh apartemen?”

“Aku sudah cek semuanya. Kamar mandi, ruang tamu, dapur, balkon. Tidak ada. CCTV di lorong apartemen menunjukkan dia keluar dari pintu utama jam dua belas lewat tiga puluh menit. Sendirian. Aku sudah telpon polisi.”

Aisha sudah berdiri, meraih jaket dan kunci mobil. “Aku ke sana sekarang. Apakah Ren...?”

“Aku sudah cek lokasi Ren. Dia masih dalam tahanan rumah, pergelangan kakinya dipasang alat monitor. Polisi sudah konfirmasi dia tidak kemana-mana.”

Lega sesaat, tapi ketakutan tidak berkurang. Jika bukan Ren, lalu siapa? Atau—Aisha membayangkan yang terburuk—mungkinkah Baskara melarikan diri? Anak itu baru mulai menunjukkan senyum setelah sekian lama. Apa ada sesuatu yang terjadi sepulang dari makan malam tadi?

“Aku berangkat sekarang,” ucap Aisha sambil membuka pintu apartemennya.

“Hati-hati. Aku tunggu di lobi.”

Perjalanan yang biasanya memakan waktu dua puluh menit terasa seperti abadi. Aisha menerobos lampu merah dua kali, membiarkan klakson mobil lain memekakkan telinga tanpa peduli. Pikirannya hanya satu: Baskara. Anak yang baru semalam tersenyum padanya, yang meminta nasi goreng dengan kecap manis, yang perlahan membuka pintu hatinya—kini lenyap di tengah malam.

Ia tiba di apartemen Arka pukul setengah tiga. Lampu-lampu lobi menyala terang, beberapa petugas keamanan tampak sibuk dengan monitor CCTV. Arka berdiri di dekat resepsionis, wajahnya pucat, kemeja yang dikenakan tidak rapi—sepertia ia baru bangun dan langsung panik.

“Ada perkembangan?” tanya Aisha tanpa basa-basi.

Arka menggeleng. “Polisi sedang melacak ponselnya. Tapi ponselnya mati. Terakhir terdeteksi di sekitar apartemen ini sekitar jam dua belas.”

“Kenapa dia bisa keluar sendiri? Pintu apartemen terkunci dari dalam, kan?”

Arka mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku lupa... minggu ini kunci elektroniknya bermasalah. Kadang tidak terkunci otomatis. Aku sudah minta teknisi, tapi belum sempat datang.”

Aisha menekan rasa ingin menyalahkan. Bukan saatnya. “Apa dia membawa sesuatu? Tas? Uang?”

“Tas ransel kecilnya tidak ada. Uang jajannya minggu ini juga raib. Aku hitung, sekitar dua ratus ribu.”

“Dia sengaja pergi.” Aisha merasakan dadanya sesak. “Dia merencanakan ini.”

“Tapi kenapa?” Arka membentak frustrasi. “Tadi dia kelihatan baik-baik saja. Dia tersenyum, makan dengan lahap, bahkan memintamu membuat nasi goreng. Lalu tiba-tiba...”

Aisha mengingat sesuatu. Saat mereka berpisah di depan restoran, Baskara melambai padanya dengan senyum yang terasa agak dipaksakan. Ia pikir itu hanya karena anak itu masih lelah secara emosional. Tapi sekarang, dipikir ulang, senyum itu terasa seperti... selamat tinggal.

“Arka, apa Baskara bicara sesuatu sepulang dari makan malam?”

Arka berpikir keras. “Dia mandi, lalu aku dengar dia menonton TV di kamarnya. Aku ketuk pintu sekitar jam sepuluh, dia bilang mau tidur. Aku pikir dia tidur karena lampu kamarnya mati.”

“Dia pura-pura tidur. Lalu menunggu sampai kamu terlelap.”

Mereka berdua terdiam, membiarkan kenyataan menghantam. Seorang anak berusia dua belas tahun, dengan sengaja meninggalkan rumah di tengah malam, tanpa memberi tahu siapa pun.

Petugas keamanan menghampiri mereka. “Pak, Bu, kami menemukan sesuatu di CCTV. Anak Bapak keluar melalui pintu belakang apartemen, lalu berjalan ke arah timur. Kami kehilangan jejaknya di pertigaan dekat pom bensin.”

Aisha dan Arka langsung menuju mobil. Mereka akan menyusuri rute itu, meskipun hanya dengan harapan tipis.

Mereka menyusuri jalan sepi Jakarta dini hari. Aisha di mobil Arka—ia memutuskan untuk meninggalkan mobilnya di apartemen, karena Arka lebih tahu area sekitar. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya jingga yang remang, menerangi trotoar kosong.

“Kenapa dia pergi?” Aisha bergumam, lebih pada dirinya sendiri. “Apa karena aku? Apa karena dia masih marah dan tidak tahan melihatku?”

Arka tidak menjawab. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Atau mungkin,” Aisha melanjutkan, “dia pergi karena dia merasa tidak aman. Karena Ren. Karena dia takut sesuatu akan terjadi lagi.”

“Aisha, berhenti.” Suara Arka keras, memotong. “Kita tidak akan tahu kenapa sampai kita menemukannya. Jadi hentikan spekulasi dan bantu aku mencari.”

Aisha menggigit bibir. Ia tahu Arka benar, tapi sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri.

Mereka tiba di pertigaan dekat pom bensin yang disebut petugas keamanan. Arka memarkir mobil di pinggir jalan, lalu mereka turun. Tidak ada siapa pun. Toko-toko tutup, pom bensin pun hanya menyisakan lampu penerangan yang minim.

Aisha membungkuk, mencoba mencari petunjuk. Di selokan dekat pom bensin, ia menemukan sesuatu. Sebuah kertas kecil, basah oleh embun malam.

Ia memungutnya. Kertas itu adalah struk pembelian dari minimarket. Tanggal hari ini, pukul 00.47. Dua puluh menit setelah Baskara meninggalkan apartemen. Pembelian: satu botol air mineral dan satu bungkus roti.

“Arka, lihat ini.” Aisha menunjukkan struk itu.

Arka mengambilnya, membaca, lalu menoleh ke minimarket di seberang jalan. “Dia ke sana.”

Mereka menyeberang. Minimarket itu buka 24 jam. Seorang kasir muda dengan seragam biru sedang merapikan rak.

“Permisi,” Arka membuka percakapan. “Apakah kamu ingat anak laki-laki sekitar umur dua belas tahun, tinggi begini, rambut hitam, datang sekitar jam dua belas lewat empat puluh?”

Kasir itu mengerutkan dahi, lalu mengangguk. “Iya, Pak. Saya ingat. Anaknya beli roti dan air. Saya tanya kok keluar malam-malam, dia bilang mau ke rumah teman. Saya pikir itu biasa saja.”

“Dia bicara apa lagi?” tanya Aisha cepat.

“Dia minta diantar ke stasiun kereta terdekat. Saya bilang saya tidak bisa karena masih kerja. Lalu dia pergi ke arah selatan, saya rasa.”

Stasiun kereta. Aisha dan Arka saling berpandangan. Baskara hendak naik kereta? Kemana?

Mereka bergegas kembali ke mobil, meluncur menuju stasiun kereta yang berjarak sekitar satu kilometer dari minimarket. Di dalam mobil, Aisha mencoba menenangkan diri dengan berpikir logis.

“Dia membawa uang terbatas. Dua ratus ribu, kurangi belanja tadi, sisa sekitar seratus delapan puluh. Untuk tiket kereta, dia hanya bisa pergi tidak terlalu jauh.”

“Atau dia tidak naik kereta. Mungkin dia hanya berjalan ke arah stasiun tapi kemudian naik angkutan lain.”

Mereka tiba di stasiun. Stasiun kereta komuter di jam segitu sudah sepi. Tiket terakhir dijual hingga pukul setengah satu. Setelah itu, tidak ada jadwal kereta hingga subuh.

Arka masuk ke ruang tunggu, berbicara dengan petugas keamanan stasiun. Aisha menunggu di luar, matanya menyusuri setiap sudut gelap.

Tak lama, Arka keluar dengan wajah kecewa. “Petugas bilang tidak ada anak-anak yang masuk setelah jam setengah satu. CCTV mereka hanya merekam area tertentu, dan tidak terlihat Baskara.”

“Jadi dia tidak naik kereta.”

“Mungkin. Atau mungkin dia pergi ke stasiun lain.”

Aisha menutup matanya. Kepalanya berdenyut. “Arka, aku tidak bisa kehilangan dia. Aku baru saja mendapatkannya kembali.”

Arka meraih bahunya. Sentuhan itu hangat, meskipun di antara mereka masih ada jurang yang dalam. “Kita akan temukan. Aku janji.”

Mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen dan berkoordinasi dengan polisi. Saat memasuki lobi, seorang petugas menghampiri dengan tablet di tangan.

“Pak Arka, Bu Aisha, kami dapat informasi dari call center. Sekitar jam setengah dua, ada laporan seorang anak laki-laki berjalan sendirian di kawasan Pasar Minggu. Diduga mencoba menumpang bus malam, tapi supir bus tidak mengizinkan karena dia tidak punya masker.”

“Pasar Minggu? Itu searah dengan rumah kami dulu,” kata Aisha.

Arka mengerutkan kening. “Rumah lama? Kenapa dia ke sana?”

“Mungkin dia ingin mengambil sesuatu.”

“Rumah itu sudah kosong, Aisha. Kunci sudah kami kembalikan ke pengelola.”

Aisha tidak menunggu. Ia sudah berlari menuju mobil. “Aku ke sana. Kamu koordinasi dengan polisi.”

“Aku ikut!”

“Tidak. Jika dia benar-benar di sana, aku bisa membawanya pulang. Kamu tetap di sini untuk jaga-jaga kalau dia kembali.”

Arka tampak hendak membantah, tapi akhirnya mengangguk. “Hati-hati. Kabari aku setiap sepuluh menit.”

Perjalanan ke rumah lamanya—rumah yang dulu mereka tinggali bertiga—memakan waktu sekitar empat puluh menit. Aisha melaju dengan kecepatan stabil, tidak ingin melewatkan apa pun di sepanjang jalan.

Rumah itu berada di kawasan perumahan yang sepi. Lampu penerangan jalan minim, hanya beberapa rumah yang masih menyala. Begitu mobilnya berhenti di depan pagar, Aisha melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Pagar samping rumah terbuka. Tidak lebar, hanya cukup untuk dilewati satu orang.

Aisha turun, tidak mematikan mesin. Ia membawa ponsel sebagai senter, melangkah pelan menuju pagar itu. Tanah di sekitar pagar basah oleh embun, tapi ia bisa melihat jejak sepatu anak-anak yang masih segar.

Ia masuk ke halaman samping, lalu ke belakang rumah. Di sana, di teras belakang yang dulu sering mereka gunakan untuk sarapan pagi bersama, seorang anak laki-laki duduk bersandar di dinding, lutut ditarik ke dada, wajahnya basah oleh air mata.

“Baskara.”

Anak itu terlonjak, menatap Aisha dengan mata merah sembab. “Ibu?”

Aisha tidak menahan diri lagi. Ia berlutut di depan anaknya, memeluknya erat, membiarkan air matanya jatuh ke rambut Baskara.

“Kamu buat Ibu takut setengah mati!” Aisha terisak. “Kenapa kamu pergi tanpa bilang? Ibu kira kamu...”

“Ibu, aku minta maaf,” Baskara juga menangis. “Aku tidak bisa tidur. Aku kepikiran terus. Aku takut Om Ren akan datang lagi. Aku takut Ibu dan Ayah akan terluka karena aku.”

Aisha melepaskan pelukannya, menatap mata anaknya. “Tidak ada yang salah denganmu, Nak. Ini bukan salahmu.”

“Tapi Om Ren datang karena aku. Karena dia ingin balas dendam. Aku dengar dia bilang di vila dulu, dia akan menghancurkan kalian karena aku.”

Aisha teringat teriakan Ren saat mereka meninggalkan vila. Ren memang mengatakan hal-hal mengerikan. Dan Baskara mendengarnya.

“Kamu dengar itu?”

Baskara mengangguk. “Aku pura-pura tidur, tapi aku dengar. Om Ren bilang dia belum selesai. Aku takut dia akan menyakiti Ibu atau Ayah lagi. Jadi aku pikir... aku pikir kalau aku pergi, mungkin dia akan berhenti.”

Aisha merasakan dadanya ditusuk ribuan pisau. Anak ini, yang hatinya telah dihancurkan oleh perbuatannya, tetap memikirkan keselamatan orang tuanya. Ia rela meninggalkan rumah, rela berjalan sendirian di tengah malam, hanya karena takut Ren akan kembali.

“Baskara,” Aisha memegang kedua tangan anak itu. “Dengar Ibu. Om Ren tidak akan bisa menyakiti kita lagi. Polisi sudah menjaganya. Dia tidak akan bisa mendekati kita. Dan Ibu janji, Ibu tidak akan pernah membiarkan siapa pun—termasuk Om Ren—menyakiti kamu lagi. Tidak akan pernah.”

“Tapi Ibu...”

“Tidak ada tapi.” Aisha menegaskan. “Kamu adalah anak Ibu. Tanggung jawab Ibu adalah melindungi kamu. Bukan sebaliknya. Kamu tidak perlu lari untuk melindungi kami. Biar Ibu dan Ayah yang melindungi kamu.”

Baskara menunduk, bahunya bergetar. Aisha memeluknya lagi, membiarkan anak itu menangis sepuasnya.

“Ibu, aku takut,” bisik Baskara di sela isaknya.

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Ibu akan selalu di sini.”

Mereka berpelukan cukup lama, hingga tangis Baskara mereda menjadi isakan kecil. Aisha kemudian menghubungi Arka, memberitahu bahwa Baskara ditemukan dan aman. Di seberang telepon, Arka menghela napas panjang, dan Aisha bisa mendengar isak lega yang ditahannya.

“Aku akan jemput kalian,” kata Arka.

“Tidak usah. Aku bisa bawa dia pulang. Kamu tunggu di apartemen.”

Perjalanan pulang, Baskara duduk di kursi penumpang depan. Matanya sayu, kadang terpejam, tapi ia berusaha tetap terjaga.

“Ibu,” katanya pelan. “Ibu masih sayang Ayah?”

Pertanyaan yang dulu pernah ia tanyakan, tapi kini terasa berbeda. Aisha menoleh sekilas. “Ibu sayang Ayah. Tapi hubungan Ibu dan Ayah sudah berbeda, Nak. Itu bukan karena kamu, itu karena pilihan Ibu dulu.”

“Aku tahu,” Baskara menggenggam tangannya sendiri. “Aku cuma... aku ingin kalian baikan lagi. Tapi aku juga tahu itu tidak mudah.”

Aisha tidak bisa menjawab. Karena di dalam hatinya, ia juga ingin hal yang sama. Tapi ia tahu, beberapa hal tidak bisa dipaksakan.

Mereka tiba di apartemen pukul setengah lima. Langit timur mulai memutih. Arka sudah menunggu di lobi, wajahnya lelah namun lega.

Begitu Baskara turun, Arka langsung memeluknya erat. “Jangan pernah lakukan itu lagi. Ayah janji akan pasang keamanan yang lebih baik. Ayah janji akan lebih menjaga kamu.”

“Maaf, Ayah,” Baskara terisak lagi.

Mereka bertiga naik ke apartemen. Aisha membantu Baskara membersihkan diri, menyiapkan teh hangat, dan membiarkan anak itu berbaring di sofa dengan selimut.

Ketika Baskara akhirnya terlelap karena kelelahan, Aisha dan Arka berdiri di balkon. Udara dingin menyelimuti mereka, sama dinginnya dengan jarak yang masih tersisa.

“Terima kasih sudah menemukannya,” kata Arka tanpa menatapnya.

“Dia anakku juga.”

Arka menghela napas. “Aisha, aku akan mengurus pindah sekolah Baskara. Jauh dari jangkauan Ren. Dan aku akan memperketat keamanan.”

“Aku setuju.”

“Dan...” Arka akhirnya menatapnya. “Mungkin lebih baik kamu tidak bertemu Baskara untuk sementara. Sampai situasi benar-benar aman.”

Aisha merasakan dadanya sesak. “Arka, dia baru mulai mau bicara denganku.”

“Aku tahu. Tapi lihat apa yang terjadi. Dia kabur karena takut Ren akan menyerang kita lagi. Dan Ren mengincar kita karena hubungan kalian dulu. Aku tidak mau mengambil risiko.”

“Jadi kamu menghukumku lagi?”

“Ini bukan hukuman, Aisha. Ini perlindungan untuk anak kita.”

Aisha membungkam. Ia tahu Arka benar. Namun rasa sakit karena harus kembali menjauh dari Baskara terasa seperti kematian kedua.

“Aku akan menuruti keputusanmu,” katanya akhirnya. “Tapi tolong... jangan buat Baskara lupa padaku. Jangan buat dia membenciku lagi.”

Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap langit yang mulai terang, seolah mencari jawaban di antara bintang yang memudar.

Aisha berpamitan. Ia melangkah ke pintu, membukanya perlahan, lalu berhenti.

“Arka,” katanya tanpa menoleh. “Terima kasih sudah tidak membenciku sepenuhnya.”

Ia berjalan keluar, menekan tombol lift, dan menunggu dengan tubuh yang terasa hampa.

Lift terbuka. Aisha masuk, menekan tombol lobi. Saat pintu lift mulai menutup, sebuah tangan menyelip di sela-sela.

Arka berdiri di ambang pintu. Di tangannya ada jaket tebal milik Aisha yang tertinggal di sofa.

“Kamu lupa ini,” katanya, menyerahkan jaket.

Aisha menerimanya. Jari mereka bersentuhan sebentar. Hangat yang sudah lama tidak ia rasakan.

“Arka...”

“Pulanglah yang hati-hati. Istirahat.”

Pintu lift menutup. Aisha berdiri dengan jaket di tangan, matanya basah.

Di lantai atas, Arka kembali ke ruang tamu. Baskara masih terlelap di sofa. Arka duduk di sampingnya, memperhatikan wajah anaknya yang mulai tenang.

“Ayah,” bisik Baskara setengah sadar, “Ibu mana?”

“Ibu sudah pulang, Nak. Besok Ayah antar kamu ke sana, ya.”

Baskara menggeliat, kembali terlelap. Arka menatap ponselnya, membaca pesan yang masuk beberapa menit lalu dari nomor tidak dikenal.

“Anakmu kabur karena takut padaku. Menarik. Kau pikir kau bisa melindungi mereka selamanya, Arka? Aku punya waktu. Banyak waktu.”

Arka mengepalkan ponselnya. Di luar, matahari mulai terbit, menyinari Jakarta yang baru saja terbangun. Namun di dalam apartemen itu, kegelapan yang lain baru saja memulai permainannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!