NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Malam itu, langit di atas Pesantren Al-Iman tampak begitu kelam, seolah turut memberikan ruang bagi keheningan yang paling dalam. Di dua tempat yang berbeda, di bawah atap yang terpisah jarak namun di bawah naungan Tuhan yang sama, dua insan sedang bersujud dalam keruntuhan harga diri yang paling total.

Zavier mengunci pintu kamar asramanya. Ia mematikan lampu, membiarkan hanya cahaya rembulan yang masuk melalui celah ventilasi. Di atas sajadah hijau, ia jatuh tersungkur. Shalat Taubat yang ia kerjakan malam ini terasa jauh lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Setiap kali dahinya menyentuh lantai, bayangan masa lalunya berputar seperti film yang menyiksa.

"Ya Allah... Ya Ghaffur..." bisik Zavier, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Hamba datang dengan punggung yang penuh beban dosa. Hamba telah mengkhianati kepercayaan Abi, hamba telah menodai kesucian ilmu yang hamba pelajari. Ampuni hamba, ya Allah... Ampuni hamba atas setiap sentuhan haram yang hamba lakukan sebelum janji suci ini terucap."

Air mata Zavier membasahi kain sajadahnya. Ia menangis bukan karena takut akan hukuman manusia, tapi karena ia merasa sangat tidak pantas berdiri di belakang Abinya di masjid setiap subuh. Namun, di tengah isakannya, ada rasa syukur yang membuncah. Ia berterima kasih karena Tuhan masih memberinya jalan keluar yang begitu halus. Meskipun ia harus menutupi kenyataan pahit dengan kebohongan demi kebohongan, ia merasa perjalanan menuju "halal" ini dibuat begitu mudah oleh-Nya.

Di kamarnya, Zaheera pun melakukan hal yang sama. Ia mengenakan mukenanya, bersujud hingga tubuhnya bergetar hebat. Ini adalah pertama kalinya Zaheera melakukan Shalat Taubat dengan bimbingan yang baru saja ia pelajari dari Ning Syafi'iyah.

"Ya Allah, aku wanita kotor yang Engkau beri kesempatan untuk memakai kain ini," rintih Zaheera di dalam sujudnya. "Terima kasih sudah mengirimkan Zavier untuk menjemputku dari kegelapan. Terima kasih sudah menutup aibku di depan Daddy dan Mommy. Aku berjanji, ya Allah... setelah lusa, aku akan menjaga kehormatanku hanya untuk suamiku. Aku akan menjadi hamba-Mu yang baru."

Tangis Zaheera mereda menjadi sesak yang dalam. Ia merasa sangat kecil. Ia menyadari bahwa segala kemewahan di Jakarta tak pernah memberinya ketenangan sedahsyat ini—ketenangan setelah mengakui segala noda di hadapan Sang Pencipta.

...****************...

Keesokan paginya, suasana di rumah Pak Narendra mulai sibuk dengan persiapan akhir. Tenda putih bersih sudah berdiri, dan aroma bunga melati mulai menyeruak. Fatimah berada di sana, membantu Zaheera merapikan beberapa perlengkapan.

Tiba-tiba, sebuah mobil dari ndalem berhenti di depan rumah. Ning Syafi'iyah turun dengan senyum teduhnya, membawa sebuah kotak beludru putih yang dihiasi pita emas.

"Assalamualaikum," sapa Syafi'iyah.

"Waalaikumsalam, Mbak Syafi," jawab Zaheera sambil menyambut tangan calon kakak iparnya itu.

Syafi'iyah menyerahkan kotak itu dengan tatapan penuh arti. "Zee, ini ada titipan dari Zavier. Dia bilang, ini untuk kamu gunakan besok malam... saat kalian pertama kali menghadap Allah bersama sebagai suami istri. Dia ingin kamu memakainya untuk shalat berjamaah pertama kalian."

Zaheera menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya, sebuah mukena dari sutra putih yang sangat halus terbentang di dalamnya. Mukena itu begitu indah, dengan bordiran bunga melati yang sangat kecil dan rapi di tepiannya. Putihnya begitu suci, seolah melambangkan harapan Zavier untuk masa depan mereka yang bersih.

Di dalam kotak itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Zavier yang sangat ia kenali:

"Untuk Makmumku... Pakailah ini saat kita bersujud bersama untuk pertama kalinya sebagai suami istri. Mari kita tinggalkan semua noda di masa lalu, dan biarkan mukena putih ini menjadi awal dari cerita suci kita. Aku menunggumu di meja akad, Zee."

Tangis Zaheera pecah seketika. Ia mendekap mukena itu ke dadanya, menghirup aroma parfum maskulin Zavier yang samar-samar tertinggal di sana. Ia menangis sejadi-jadinya, bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat dicintai dan dihargai oleh pria yang juga menjadi partner dosanya.

Fatimah yang berdiri di samping Zaheera, terpaku di tempatnya. Ia membaca nama "Zavier" di kertas itu dan melihat ekspresi Ning Syafi'iyah. Matanya membelalak, mulutnya tertutup oleh tangannya sendiri karena terkejut yang luar biasa.

"Zaheera..." bisik Fatimah, suaranya bergetar. "Zavier? Jadi... pria yang akan menikahimu adalah Gus Zavier?"

Zaheera mendongak, matanya yang sembab menatap Fatimah. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil terus mendekap mukena sutra itu.

Fatimah langsung menghambur memeluk sahabatnya. Air mata bahagia ikut mengalir di pipi Fatimah. "Masya Allah, Zaheera! Kenapa kamu tidak bilang? Aku tidak menyangka... Kamu sangat beruntung! Benar-benar sangat beruntung!"

Fatimah menangis bahagia, merasa bahwa doa-doanya untuk sahabatnya telah dijawab dengan cara yang paling indah. Ia tidak tahu rahasia gelap di balik hubungan mereka, yang ia tahu hanyalah sahabatnya akan dipersunting oleh seorang pemuda terbaik di kota itu.

Syafi'iyah yang menyaksikan itu ikut menitikkan air mata. "Zavier sangat menjaga rahasia ini, Fatimah. Dia ingin semuanya tenang sampai waktu yang tepat. Tolong, jaga rahasia ini satu hari lagi ya?"

Fatimah mengangguk mantap. "Tentu, Ning. Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Aku sangat bahagia untuk kalian."

Malam itu, di kediamannya, Zavier menatap jas pengantin putihnya yang tergantung rapi. Dan di rumahnya, Zaheera membelai lembut mukena sutra pemberian Zavier.

Satu hari lagi. Hanya tinggal satu matahari lagi yang memisahkan mereka dari kehidupan yang sah. Meskipun dibangun di atas tumpukan kebohongan di hadapan manusia, mereka berdua tahu bahwa di hadapan Tuhan, mereka sedang berjuang untuk menjadi hamba-Nya yang paling jujur dalam bertaubat.

🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!