"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17 - Kembali Datang dengan Niat Baru
Setya menatapnya beberapa detik lebih lama, menatap yang paling percaya diri.
“Baik. Kalau begitu, kita sepaham,” kata Setya akhirnya, suaranya datar.
Maura menghela napas pelan, bahunya sedikit turun. “Terima kasih.”
Namun keheningan setelahnya justru terasa lebih berat. Setya menyandarkan punggung ke kursi, matanya menatap lurus ke depan, bukan lagi ke arah Maura.
“Tapi kamu perlu tahu, saya bukan orang yang sembarangan menyentuh,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.
Maura menoleh cepat. “Saya tidak mengatakan Bapak sembarangan.”
“Namun kamu juga tidak memberi ruang bahwa itu mungkin terjadi,” balas Setya tenang, nyaris dingin.
Maura menahan napas. Ada ketegangan yang berbeda sekarang, bukan soal kejadian semalam, melainkan tentang cara mereka memaknainya.
“Saya memilih yang paling rasional. Dan versi itu tidak melibatkan perasaan, niat, atau apa pun yang bisa disalahartikan,” jawab Maura akhirnya.
Setya mengangguk perlahan. “Kamu sangat disiplin dalam memberi batas.”
“Itu bagian dari pekerjaan saya. Dan bagian dari cara saya untuk bertahan,” jawab Maura cepat.
Kalimat itu membuat Setya menoleh lagi. Kali ini tatapannya lebih dalam.
“Bertahan dari apa?”
Maura tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya.
“Dari asumsi. Dari gosip. Dari orang-orang yang merasa punya hak untuk menilai hidup saya.”
Setya terdiam. Ia paham dunia itu, hanya saja ia selalu berada di sisi yang kebal.
“Saya tidak berniat menjadi ancaman,” katanya.
“Saya tahu, tapi Bapak juga harus tahu, niat baik tidak selalu menghentikan dampak buruk,” jawab Maura jujur.
Hening.
Setya memutar kunci kontak, tapi tidak menyalakan mesin. “Itu sebabnya saya datang. Untuk memastikan kita berada di garis yang sama,” ucapnya.
“Dan sekarang sudah,” Maura mengangguk.
Setya menoleh. “Kamu yakin?”
Maura menatapnya lurus. “Saya tidak membawa apa pun dari semalam, Pak Setya. Tidak perasaan. Tidak tafsir. Pun tidak pemikiran yang Bapak takutkan sampai harus datang pagi-pagi begini ke kampus tempat saya bekerja.”
Setya menatapnya tanpa berkedip. Kalimat terakhir itu tepat sasaran, menelanjangi motifnya datang ke sini.
“Apa kelihatannya saya setakut itu?” tanyanya datar.
Maura tidak langsung menjawab. Ia menggeser pandangannya ke kaca depan, ke lalu-lalang orang yang tak mereka kenal.
“Kelihatannya Bapak orang yang tidak suka ada variabel di luar kendali. Dan saya... mungkin salah satunya,” katanya akhirnya.
Setya tersenyum tipis dan akhirnya menyalakan mesin. “Saya antar kamu kembali.”
“Tidak perlu. Saya bisa jalan kaki,” Maura refleks menolak.
Setya meliriknya singkat. “Saya tidak ingin menambah bahan pembicaraan. Apa yang akan mereka pikirkan kalau melihat kamu jalan sendirian, sedangkan sebelumnya masuk ke mobil saya. Saya tidak ingin dianggap pria tidak bertanggung jawab.”
Maura terdiam. Alasan itu terlalu masuk akal untuk langsung dibantah.
“Bapak terlalu memikirkan opini orang lain untuk seseorang yang katanya tidak peduli,” gumamnya pelan.
Setya melajukan mobil perlahan keluar dari area parkir. “Saya tidak peduli pada opini. Saya peduli pada dampaknya, terutama kalau menyangkut reputasi saya.”” koreksinya singkat.
Mobil melaju dan berhenti di depan universitas, Maura menolak untuk diantarkan ke depan fakultas. dirinya tidak ingin semakin banyak orang menyadari bahwa dirinya baru saja berbicara dengan pria paling berpengaruh.
“Saya permisi, Pak Setya.”
Tidak perlu menunggu jawaban, Maura langsung membuka seatbelt dan membuka pintu. Tapi, baru saja akan melangkahkan kaki keluar, panggilan Setya dengan suara beratnya berhasil menghentikannya.
“Maura.”
Perempuan itu menoleh.
“Kamu benar soal satu hal. Saya memang tidak suka variabel.”
Maura menunggu.
“Dan itu sebabnya, saya akan menjaga jarak,” lanjut Setya.
Setya menatap kepergian Maura tanpa merespon kalimatnya. Perempuan itu berlalu begitu saja dan Setya tahu ada hal aneh yang tiba-tiba hadir dalam dadanya.
Sementara itu, Maura memasuki gedung fakultas dengan langkah yang tetap tenang. Namun suasana tidak sepi seperti biasanya. Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya, apalagi saat dirinya memasuki ruang dosen.
“Bu Maura. Tadi... itu Pak Setya Pradana, ya?” panggil Bu Rina ragu-ragu.
Maura berhenti. Senyum profesional langsung terpasang, rapi dan terkendali.
“Iya, Bu.”
Detik itu juga, suasana langsung ramai. Bahkan, pagi itu yang seharusnya
“Iya?” ulang Bu Rina, suaranya meninggi tanpa sadar. “Ngapain beliau ke sini?”
Beberapa dosen lain yang semula pura-pura sibuk kini ikut menoleh. Kursi berderit. Laci ditutup pelan. Ruang dosen yang biasanya tenang berubah menjadi ruang tunggu gosip.
Maura meletakkan tasnya di meja, merapikan map dengan gerakan terukur. “Ada urusan pribadi yang perlu diklarifikasi. Sudah selesai.”
Kehebohan itu terjadi seharian penuh dan Maura kewalahan menanggapinya. Bahkan, para mahasiswanya pun turut serta membuatnya pusing dengan banyak pertanyaan.
Dan, sialnya, di hari berikutnya, siang hari sepulang mengajar yang hanya satu kelas saja, Maura harus segera menyerahkan undangan anniversery universitas.
“Silakan, Bu Maura. Pak Setya sedang ada di ruangannya,” Resepsionis mengenal namanya lebih cepat dari yang ia duga.
Lift membawanya naik dalam keheningan yang membuat Maura tidak henti-hentinya kagum dengan interior perusahaan ini. Setya sedang membaca laporan ketika pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Dan saat pintu terbuka, alisnya terangkat tipis, refleks yang jarang terjadi.
“Kamu?”
Nada itu jelas menunjukkan keterkejutan, meski berusaha ditahan.
“Selamat siang, Pak Setya,” sapa Maura formal.
Ia melangkah masuk dan berdiri dengan jarak aman dari meja kerja pria itu. Map di tangannya dipegang dengan erat dan rapi.
Setya meletakkan laporan itu. “Ada apa lagi?”
Maura menyerahkan map tersebut. “Undangan anniversary universitas.”
Setya menerimanya, membuka, membaca cepat. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuatnya mendongak kembali.
“Kenapa tidak langsung kemarin saja?” tanyanya.
Maura tidak perlu berpikir lama.
“Karena ini permintaan resmi. Sedangkan kemarin, Bapak datang tiba-tiba. Tanpa surat. Tanpa kapasitas institusi,” jawabnya tenang.
Setya menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menilai apakah jawaban itu defensif atau justru konsisten.
“Kamu benar-benar menjaga garis,” katanya akhirnya.
“Itu kewajiban saya.”
“Baik,” pria itu menutup map itu perlahan.
“Baik... bagaimana, Pak?” Maura mengedip, satu kali.
“Saya akan datang.”
Jawaban itu jatuh terlalu cepat. Maura refleks mengangkat alis, kali ini gagal sepenuhnya menyembunyikan keterkejutannya.
“Maaf?”
“Saya akan hadir,” ulang Setya, datar.
Ia terdiam sesaat, lalu berkata jujur, “Terus terang, saya tidak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat ini.”
Setya bersandar ke kursinya. “Kenapa?”
“Acara ini-” Maura memilih kata-katanya dengan hati-hati, “ekhem... tidak lebih formal dibanding acara amal kemarin. Bahkan bisa dibilang ini hanya acara seremonial. Acara santai saja.”
Setya menatapnya lurus, Maura tidak langsung menangkap maksudnya.
“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih, karena bantuan kamu malam itu,” lanjut Setya pelan,
Hening kembali turun.
Maura menegang tipis. “Bapak tidak punya kewajiban apa pun pada saya.”
“Saya tahu. Ini pilihan saya,” jawabnya cepat.
Tatapan mereka bertemu, yang seharusnya normal. Namun, keduanya merasa ada ketegangan aneh yang langsung diputuskan oleh Maura.
“Kalau begitu, terima kasih atas konfirmasinya, Pak,” kata Maura akhirnya, menarik napas kecil.
Maura membungkuk sopan, lalu berbalik.
“Maura.”
Langkahnya berhenti.
“Makan siang dengan saya.”