Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah yang tak bisa ditolak
Lucein tiba di mansion pribadinya—bangunan batu kelam yang berdiri terpisah dari rumah utama, sunyi dan tertutup, seolah mencerminkan pemiliknya.
Dia meletakkan senapan nya, lalu menatap pantulan dirinya dalam cermin. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Kata-kata itu kembali terngiang.
“Namun dunia juga tidak seharusnya dijalankan tanpa hati.”
“Omong kosong,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Lucien melepaskan mantel panjangnya, lalu rompi dan kemeja. Kancing-kancing terbuka satu per satu dengan gerakan tenang dan terkontrol. Tubuhnya tersingkap perlahan—dada bidang dengan otot terlatih, bahu kokoh yang menyimpan kekuatan mentah, garis-garis tegas yang terbentuk bukan oleh kemewahan, melainkan disiplin bertahun-tahun.
Tidak ada kesia-siaan pada tubuh itu.
Segalanya dibangun untuk bertahan. Untuk bertempur.
Lucein melangkah ke ruang mandi. Memutar katup air, lalu mengalir deras membasahi kepalanya, menyusuri leher, dada, hingga punggungnya.
Lucien menarik nafasnya dalam-dalam, untuk sesaat, itu membuat dirinya merasa tenang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat suara ketukan pintu terdengar jelas.
“Siapa?” suara Lucein rendah, bergema dari balik guyuran air.
“Aku, Tuan. Alden,” jawab suara itu dari luar.
Lucein membuka mata. “Ada apa?”
“Nyonya Marianne menunggu di rumah utama,” ujar Alden.
“Beliau ingin berbicara dengan Tuan secara langsung.”
“Apa perihalnya?” tanya Lucein.
“Beliau tidak menjelaskannya,” jawab Alden jujur.
“Namun nadanya… mendesak.”
Air masih mengalir ketika Lucein menjawab,
“Baik. Setelah aku selesai mandi, aku akan ke sana.”
“Baik, Tuan, aku akan menyampaikannya.” sahut Alden.
Langkah kaki menjauh.
Lucein mematikan air. Ia berdiri diam sejenak, lalu menunduk, membiarkan tetesan terakhir jatuh ke lantai.
***
Di sisi lain Elara duduk di atas batang pohon tua di tepi taman belakang—tempat yang entah sejak kapan menjadi pelariannya. Kaki-kakinya menggantung, jemarinya mencengkeram kain rok.
“Aku bodoh…” bisiknya lirih.
“Kenapa aku harus bicara sejauh itu…”
Bayangan senapan di tangan Lucein kembali muncul di benaknya. Cara pria itu berdiri. Tatapan dinginnya dan senyum tipis yang menakutkan, bagi Elara.
Elara memeluk lengannya sendiri.
“Jika dia benar-benar murka…” suaranya bergetar.
“Jika kata-kataku sampai ke telinga Nyonya Marianne…”
Elara berhenti. Dia tidak berani melanjutkan pikirannya sendiri.
Nama itu saja sudah cukup membuat nya ketakutan.
**
Aula rumah utama Kaelmont diselimuti cahaya lampu kristal yang temaram. Dinding-dinding tinggi berlapis lambang keluarga bangsawan berdiri angkuh, seolah menjadi saksi bisu perintah-perintah yang tak pernah boleh dibantah.
Di ujung ruangan, Nyonya Marianne Kaelmont duduk di kursi berukir emas. Punggungnya tegak, jemarinya bertumpu ringan pada tongkat kecil berhiaskan batu safir.
Lucein berhenti beberapa langkah darinya, lalu menundukkan kepala singkat.
“Ibu memanggilku.”
“Duduklah, Lucein,” ucap Marianne datar, tanpa basa-basi.
“Kita tidak memiliki banyak waktu.”
Marianne menatap putranya lama.
“Dewan Bangsawan telah menyampaikan keputusan mereka,” ucapnya akhirnya.
“Mereka menghendaki ikatan resmi antara Kaelmont dan Aldenor.”
“Aku sudah mendengarnya,” jawab Lucein tenang.
“Dan jawabanku tetap sama.”
Marianne mengangkat alisnya tipis.
“Tidak?”
“Aku tidak akan menikahi Seraphina.” Jawab Lucein tanpa ragu
“Apakah kau lupa siapa dirimu?” tanya Marianne pelan, namun tajam.
“Kau Marquis Kaelmont. Wilayah ini berkembang karena darah, bukan perasaan.”
“Aku memahami tanggung jawabku,” balas Lucein.
“Namun pernikahan bukan alat tawar-menawar, bu.”
Marianne tersenyum kecil.
“Kau keliru. Dalam keluarga ini, pernikahan selalu menjadi alat.”
Lucein mengepalkan tangannya di atas lutut.
“Wilayah Kaelmont pasti akanbkuat tanpa ikatan itu.”
“Kuat,” potong Marianne, “namun terisolasi.”
“Dengan Seraphina, wilayah timur dan jalur dagang selatan akan berada di bawah pengaruh kita. Tatah bangsawan akan berpihak penuh pada Kaelmont.”
“Tapi aku tidak membutuhkan istri untuk memerintah,” kata Lucein dingin.
“Namun kau membutuhkan legitimasi,” balas Marianne cepat.
“Dan Seraphina adalah kuncinya.”
Lucein menghela napas pendek.
“Aku tidak ingin menjalani hidup yang dipilihkan orang lain, bu.”
Marianne bangkit dari kursinya.
Suara tongkatnya menyentuh lantai marmer terdengar jelas Tok seperti palu keputusan.
“Kau boleh menolak atas dasar apa pun. Namun bukan atas dasar garis keturunan.” katanya dingin
Lucein menatap ibunya.
“Aku adalah ibumu,” lanjut Marianne.
“Dan kau adalah penerus darah Kaelmont.”
Lady Marianne melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Lucein.
“Pernikahan ini bukan permintaan. Ini perintah, Lucien, mengertilah, nak.”
“Jika aku menolak?” tanyanya, meski dia sudah tahu jawabannya.
“Dewan akan bertindak,” jawab Marianne tanpa ragu.
“Kaelmont akan disingkirkan. Pengaruhmu akan dipatahkan. Dan Kaelmont akan terpecah.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari ancaman mana pun.
Lucein terdiam.
“Kau boleh membenci keputusanku,” lanjut Marianne lebih lirih,
“Namun kau tidak boleh menghancurkan warisan keluarga hanya demi perasaan yang belum pasti, LUCIEN!"
Lucien berdiri, dia menghela nafas kesar dan berkata,
“Jika itu kehendak ibu, aku akan mempertimbangkannya.” Ucapnya pelan.
Marianne tersenyum tipis. " Terimakasih nak, kau harus mengerti posisimu."
Lucien tak lagi menjawab, dia menuduk, lalu berbalik dan melangkah pergi.