Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari dan Jurang
Varian keluar dari Menara Gading dengan perasaan menang yang meluap-luap. Status "Netral" adalah kartu bebas penjara yang paling berharga. Sekarang, tidak ada yang akan mencurigainya jika auranya terasa aneh atau jika dia terlihat terlalu kuat. Semuanya bisa dia lupakan dengan alasan "Kekacauan Mana".
Namun, takdir punya selera humor yang kejam. Kedamaian Varian tidak bertahan sampai dia mencapai gerbang asrama.
Saat Varian berjalan melintasi halaman utama akademi yang dipenuhi pohon Ek kuno, dia mendengar keributan yang luar biasa. Suaranya seperti gemuruh ombak di lautan. Ratusan murid—terutama perempuan—berlarian ke arah gerbang utama, berteriak histeris, meninggalkan buku dan tas mereka begitu saja.
"Dia datang! Dia datang!"
"Pahlawan Matahari!"
"Lihat lambangnya! Itu Keluarga Gremory!"
Sebuah kereta kuda yang sangat mewah berhenti di depan gerbang akademi. Kereta itu dicat putih dengan ornamen emas murni, dan di pintunya terukir lambang Singa Emas yang mengaum. Enam kuda putih gagah menariknya.
Pintu kereta terbuka.
Seorang pemuda turun.
Usianya sebaya dengan Varian, sekitar 14 tahun. Rambutnya pirang keemasan, berkilau di bawah matahari siang seolah-olah dia membawa cahayanya sendiri. Matanya biru cerah, memancarkan kepolosan, harapan, dan rasa keadilan yang tulus tanpa noda. Dia mengenakan baju zirah ringan berwarna putih-perak yang bersih. Di pinggangnya, tergantung pedang dengan sarung putih yang memancarkan aura suci yang menyakitkan.
Leon Gremory.
Adik dari Baron Gremory yang Varian bantai setahun lalu.
Anak laki-laki yang tidur di kamar sebelah saat Varian menggorok leher orang tuanya.
Satu-satunya penyintas klan Gremory.
Dan sekarang... Pahlawan Terpilih (The Hero) yang diramalkan oleh Gereja akan mengalahkan Raja Iblis.
Varian berhenti berjalan. Dia berdiri di kejauhan, di bawah bayangan koridor pilar batu, mengamati pemandangan itu.
Mata kanan Varian berdenyut sakit yang luar biasa di balik kacamata sihirnya. Jantung Naga di dadanya berdegup kencang, bereaksi agresif terhadap kehadiran musuh alaminya.
...Makan dia... bisik insting Void di kepala Varian. ...Jantungnya bersinar... Enak... Ambil cahayanya...
Leon, yang sedang tersenyum ramah, menyalami murid-murid, dan melambaikan tangan pada para penggemarnya, tiba-tiba berhenti. Senyum di wajahnya memudar perlahan.
Dia menoleh tajam. Matanya menembus kerumunan, menembus jarak, langsung ke arah koridor gelap tempat Varian berdiri.
Insting Pahlawannya mendeteksi sesuatu. Bukan mana jahat yang jelas, tapi... rasa dingin. Rasa tidak nyaman yang dia rasakan saat berdiri di depan makam keluarganya setahun lalu. Rasa kehilangan.
Mata mereka bertemu.
Biru Langit vs Hitam Pekat (Palsu).
Leon mengerutkan kening. Dia mengabaikan kerumunan yang memujanya. Dia melangkah membelah lautan manusia itu, berjalan lurus ke arah Varian. Para murid membelah jalan, bingung kenapa Pahlawan mereka mendekati murid biasa yang tampak suram dan sendirian.
Varian tidak bergerak. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, bersandar santai di pilar. Dia menunggu.
"Hai," sapa Leon saat dia sudah berdiri di depan Varian. Senyumnya kembali, tapi sedikit kaku dan dipaksakan. Matanya menyelidik, mencoba membaca apa yang ada di balik kacamata Varian. "Aku murid baru di sini. Leon Gremory. Siapa namamu?"
"Varian," jawabnya singkat. Datar. Tanpa hormat.
"Varian..." Leon mengulang nama itu pelan, seolah mencicipi rasanya di lidah. "Aneh. Auramu... rasanya sangat sepi. Seperti orang yang berjalan sendirian di tengah badai salju tanpa mantel."
Varian mendengus pelan, sudut bibiirnya terangkat membentuk seringai sinis. "Dan auramu menyilaukan. Seperti orang yang tidak pernah tahu rasanya terbakar matahari karena selalu dilindungi payung."
Leon tertawa kecil, tapi tawa itu tidak mencapai matanya. Tangannya tanpa sadar turun, jari-jarinya menyentuh gagang pedang sucinya. Gerakan refleks tubuh menghadapi ancaman purba. "Mungkin kau benar. Aku memang hidup dengan banyak perlindungan. Tapi bukankah kegelapan ada untuk diusir oleh cahaya? Bukankah itu tujuan kita belajar sihir?"
Varian menegakkan tubuhnya dari pilar. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Leon saat dia hendak lewat, seolah membisikkan rahasia kotor.
"Atau mungkin," bisik Varian, suaranya dingin menusuk hingga ke tulang sumsum Leon. "Cahaya ada hanya untuk membuat bayangan semakin pekat dan nyata."
Varian berjalan melewati Leon, sengaja menabrakkan bahunya sedikit dengan bahu sang Pahlawan.
Zrrrt.
Percikan mana yang tak terlihat meletup saat aura mereka bersentuhan. Suaranya seperti listrik statis, tapi rasanya seperti benturan dua pedang.
Leon tersentak kaget, mundur selangkah.
Varian terus berjalan tanpa menoleh, jubah akademinya berkibar ditiup angin, menghilang ke dalam lorong asrama yang gelap.
Di belakangnya, Leon berdiri mematung di tengah kerumunan yang hening. Dia menatap punggung Varian yang menjauh. Wajah ramahnya hilang sepenuhnya, digantikan oleh tatapan serius, bingung, dan penuh kecurigaan.
"Aku menemukannya," gumam Leon pelan, tangannya mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. "Aku belum punya bukti... tapi instingku berteriak. Dialah orangnya. Aura itu... hawa dingin itu... itu sama dengan yang ada di kamar ayah dan ibu malam itu."
Perang dingin antara Pahlawan Cahaya dan kegelapan baru saja di mulai