NovelToon NovelToon
Fall In Love With You, Mr Tomi.

Fall In Love With You, Mr Tomi.

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst
Popularitas:27.1k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.

Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.

Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

Seperti biasa, Sonia menyiapkan pakaian ganti untuk Tomi dan meletakkannya di atas tempat tidur.

"Mas nggak mandi?." Tanya Sonia melihat Tomi masih betah duduk di sofa.

Tomi tak merespon, pria itu justru sibuk memilih kata yang pas untuk berbicara.

"Kalau begitu aku saja duluan yang mandi, kalau mas masih ingin beristirahat sejenak." Sonia lantas melangkah menuju lemari untuk mengambil jubah mandi yang bersih, sebelum menuju kamar mandi. Baru saja hendak mengayunkan langkah tiba-tiba Tomi berkata.

"Wanita di masa laluku dulu adalah Nona Cili, dialah mantan tunanganku yang pernah pergi meninggalkan aku dihari pernikahan kami lima tahun lalu." akhirnya Tomi mampu mengungkapkannya secara langsung dihadapan Sonia.

Deg.

"Mengapa mas mengatakan semua itu padaku?." Sonia ingin tahu alasan Tomi sampai mengakui sosok Cili sebagai mantan tunangan dihadapannya. Apakah Tomi ingin ia menyiapkan diri sejak dini untuk sebuah perpisahan ataukah untuk hal lain, Sonia sendiri belum bisa menyimpulkan.

"Karena kamu adalah istriku, dan sebagai seorang istri tentu saja kamu berhak mengetahuinya." jawab Tomi.

"Apa mas masih ingin kembali bersama Nona Cili?." Tanya Sonia dengan nada pelan, bahkan nyaris tak kedengaran.

"Apa maksudmu?." Saking tidak habis pikir dengan pertanyaan Sonia, tanpa sadar Tomi menaikan intonasi suaranya hingga beberapa oktaf dan itu justru membuat Sonia salah paham.

"Maaf jika pertanyaanku terlalu lancang." Sonia tersenyum getir sesaat sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

"Kenapa dia malah bertanya seperti itu? Apa mungkin Sonia berpikir aku masih berkeinginan kembali pada Cili?." Entah mengapa memikirkan Sonia berasumsi demikian menimbulkan kegelisahan dihati Tomi.

"Sonia...Sonia....Buka pintunya, Sonia! Aku belum selesai bicara." Tomi mengetuk pintu kamar mandi, berharap Sonia segera membuka pintu.

Di waktu yang bersamaan seseorang mengetuk pintu kamar.

"Iya, sabar!." Tomi beranjak guna membuka pintu kamar. "Ada apa?."

"Mas Tomi kenapa sih? Kok sewot gitu?." Zira dibuat heran sekaligus bingung dengan ekspresi kakaknya.

"Bukan apa-apa. Ada apa kamu ke sini?." Tanya Tomi, tak sabar adiknya segera pergi.

Zira tak langsung menjawab, gadis itu justru mengintip ke dalam kamar guna mencari keberadaan kakak iparnya.

"Kakak ipar kemana, mas?." Tanya Zira tak melihat keberadaan Sonia di kamar.

"Lagi mandi." Jawab Tomi seadanya.

"Begitu rupanya. Ohiya... aku hampir lupa, mas dipanggil sama papah tuh." Sebenarnya tujuan utama Zira adalah untuk menyampaikan pesan ayah, memanggil Tomi karena ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh pria paruh baya tersebut dengan putranya.

"Pergilah, nanti mas menyusul!." Kata Tomi pada adik perempuannya itu.

Berhubung ayah memanggilnya maka mau tak mau Tomi harus menunda keinginannya untuk melanjutkan pembicaraannya tadi dengan Sonia. Ia segera beranjak menuju ruang kerja ayahnya.

"Ceklek." Tomi memutar handle pintu ruang kerja ayah, dan kedatangan Tomi tersebut disambut oleh tatapan tajam sang ayah. Perasaan Tomi mulai awas, pasalnya tak biasanya ayah menatapnya seperti itu, kecuali jika ia melakukan kesalahan besar.

"Apa papah memanggilku?."

Ayah mengangguk. "Duduklah!." Meskipun mimik wajahnya terlihat sedang marah, namun ayah tetap berbicara dengan nada pelan, tidak terbawa emosi.

Tomi pun menduduki kursi didepan meja kerja ayah.

"Apa maksudmu, dengan menggunakan jasa wanita itu sebagai model di perusahaan kita?." Tanpa ada basa-basi, ayah langsung menanyakan alasan Tomi menggunakan jasa Cili sebagai model di perusahaan mereka.

"Bagaimana jika anggota keluarga Sonia sampai mengetahuinya? Apa kamu pikir tuan Abimana dan Abil tidak akan sakit hati dengan keputusan kamu ini? Papah yang orang tua kamu saja merasa sakit hati dengan keputusan kamu, bagaimana dengan mereka. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan istri kamu sebelum mengambil keputusan, Tomi? Papah benar-benar kecewa pada keputusan kamu."

"Maafkan Tomi, pah....ini semua murni kesalahan Tomi. Tomi yang terlalu gegabah dengan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Azam yang notabenenya tidak mengenal sosok Cili hingga akhirnya kontrak kerjasama itu terjalin." Tomi lantas menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi dari ayahnya.

"Ya Tuhan..." Ayah menepuk jidat, baru kali ini putranya itu bertindak tanpa berpikir dengan matang hingga pada akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Ya, kehadiran Cili di perusahaan seharusnya tidak terjadi, begitu menurut ayahnya Tomi.

"Apa tindakan kamu selanjutnya? Bagaimana jika Wanita itu sampai melakukan sesuatu yang bisa saja membahayakan keselamatan menantu papah?."

"Tomi janji itu tidak akan terjadi, pah. Tomi akan memerintahkan orang untuk menjaga Sonia dari jarak yang aman. Tomi pastikan Sonia akan aman, pah." Tomi berusaha meyakinkan sang ayah bahwa ia akan menjamin keselamatan istrinya dari kejahatan, terutama dari si licik Cili.

Ayah nampak menghela napas panjang. Jujur, pria paruh baya tersebut tidak tega jika menantunya harus terus terluka hati akibat keberadaan mantan tunangan putranya melenggang bebas di gedung perusahaannya. Menurut ayah, Sonia adalah gadis yang baik dan sudah sepantasnya mendapat pria yang baik dan juga mencintainya. Bukannya meragukan kebaikan putranya, namun Ayah meragukan perasaan putranya terhadap sang menantu.

"Tomi..." Kali ini seruan ayah terdengar lebih serius.

"Iya, pah."

"Jika memang kamu masih belum bisa melupakan wanita itu, menurut papah sebaiknya kembalikan Sonia kepada keluarganya dengan cara baik-baik!." Memang berat rasanya harus berpisah dengan menantu yang sudah dianggap seperti anak sendiri, tetapi bagi ayah lebih berat jika melihat menantunya itu makan hati hidup bersama pria yang tidak mencintai dirinya, seperti Tomi.

"Apa maksud, papah? Tomi tidak akan melakukannya, pah." Raut wajah penolakan tercetak jelas di wajah Tomi. Tentu saja Tomi menolak keras saran ayahnya tersebut, dan kali ini bukan lagi karena alasan Abil, tapi karena ia yang tidak menginginkannya.

"Kalau memang kamu tidak ingin mengembalikan Sonia pada keluarganya, maka papah harap kamu bisa secepatnya mengambil keputusan! Sudahi kontrak kerjasama bersama wanita itu atau kembalikan Sonia pada keluarganya!." Tegas ayah.

Tomi pun terdiam. Bukan apa-apa, sejak awal pun ia sudah ingin menyudahi kontrak kerjasama tersebut. Akan tetapi, ia juga harus memikirkan saham perusahaan. Jika sampai Cili mengatakan hal yang bukan-bukan dihadapan media, tentunya itu akan berpengaruh besar pada nama baik serta saham perusahaan.

Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk keberadaan Cili di perusahaan, dan pastinya itu pun akan membawa pengaruh besar pada hubungannya dengan Sonia. Memikirkan semua itu membuat kepala Tomi serasa ingin pecah, apalagi ayahnya telah memberikan ultimatum terhadapnya. Bisa dibilang, secara tidak langsung sang ayah memintanya memilih antara Sonia atau mantan tunangannya, Cili.

"Tomi akan mencoba mencari solusi untuk masalah ini, pah."

"Jangan hanya mencoba, tapi kamu harus berusaha semaksimal mungkin agar situasi yang ada tidak lagi menguras hati dan perasaan menantu papah!."

"Baik, pah."

1
Lentera Aksara
kalau itu ulet bulu
Sonia suruh pindah aja Thor
kasian Dede bayinya
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Dwi ratna
pst si cabe level akut dah
secret
hmmm siapa tuhh yg diliat sonia
sutiasih kasih
lanjut thorrr... udah g sabar😍😍
Ayila Ella
waduh siapa tuh, jangan bilang itu si cilok
Lia siti marlia
siapa tuhhh sonia bikin penasaran aja
Ami LeoGirl
Cikarang selatan hadir.... kpn up lgi thorr
Nurul
Ditunggu lanjutannya......
Uba Muhammad Al-varo
Tanggerang hadir kakak Author 🙏🙏💪💪💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
cilli....... bukan nya sadar malah tambah gila karena obsesi dan keegoisanmu dan karena perbuatan ini juga kamu akan berakhir menderita dan menyesal, nggak mau menurut sih apa yang dikatakan oleh Linda 👿👿
sutiasih kasih
cili cari hidup susah...
Ami LeoGirl
Lajutkn up semangt
Lentera Aksara
kota udang hadir Thor 😁
Nurminah
jangan sampe kejebak ama obat perangsang ya Thor jujur muak liatnya
secret
akhirnya perjuanganmu membuahkan hasil tom, hrs hati2 karena si cabe blom kapok
secret
Palembang thorr, salam kenal dari wong kito galo😁
Lusi Hariyani
hati2 tomi jaga sonia bahaya mengancam
Syifa
kaka yg banyak donk aplopnya
Ayila Ella
waduh gawat si ular mau bikin olah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!