NovelToon NovelToon
Selingkuhan CEO

Selingkuhan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Aliansi Pernikahan / Persaingan Mafia
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Panggilan dari Masa Lalu yang Terlupakan

Tiga Bulan Kemudian: Rutinitas dan Gangguan

Hubungan Natalie dan Ares telah mencapai keseimbangan yang stabil. Di mata publik, mereka adalah mitra yang berkuasa; secara pribadi, mereka adalah sepasang kekasih yang menyandarkan diri pada loyalitas dan kepercayaan absolut. Kekuatan Ares terletak pada ketenangannya, dan kekuatan Natalie terletak pada kemampuannya untuk menjaga ketenangan itu.

Suatu sore, Natalie sedang meninjau dokumen properti Ares di kantornya. Ares sedang rapat video penting di ruang sebelah. Rutinitas mereka kini adalah kedamaian yang mendominasi, setelah badai yang berlalu.

Namun, kedamaian itu terganggu oleh sebuah panggilan telepon. Itu bukan dari salah satu nomor rahasia Ares, melainkan dari telepon pribadinya yang jarang digunakan—nomor yang ia simpan untuk urusan pribadi dan urusan masa lalu yang ingin ia kubur.

Panggilan itu datang dari nomor yang tidak dikenal, tetapi kode area lokal, dari kota kecil tempat ia dibesarkan dan ditinggalkan.

Natalie ragu seagu sejenak. Ia tidak pernah menjawab nomor yang tidak dikenal, tetapi nalurinya mendorongnya. Ia menggeser tombol jawab.

"Halo?"

Suara di seberang sana adalah suara wanita tua, serak, dan tegang.

"Apakah ini Natalie?" tanya suara itu.

"Ya, ini saya. Siapa ini?" tanya Natalie, nada suaranya berubah dingin dan waspada.

"Namaku Laras. Aku... aku teman lamanya. Aku menelepon dari rumah sakit di Cilacap."

Jantung Natalie mencelos. Cilacap. Kota yang menjadi penjara masa kecilnya.

"Rumah sakit? Saya tidak mengenal Anda, Nyonya," kata Natalie, mencoba memutus.

"Tolong, tunggu sebentar. Ini tentang ibumu, Nak. Rima."

Nama itu—Rima—menghantam Natalie seperti tamparan. Ia tidak pernah menyebut nama itu. Rima. Wanita yang menghilang saat Natalie berusia delapan tahun, meninggalkan Natalie sendirian untuk berjuang di jalanan hingga ia cukup dewasa untuk kabur. Natalie selalu berasumsi ibunya meninggal, atau mungkin hidup bahagia jauh darinya. Rasa sakit lama yang ia kubur dalam-dalam kini muncul kembali ke permukaan.

"Rima? Dia bukan ibu saya. Saya tidak punya ibu," balas Natalie tajam, tetapi tangannya gemetar.

Wanita di seberang telepon itu mendesah. "Aku tahu kau marah. Kau berhak marah. Tapi dia... dia sakit keras, Natalie. Dia terkena stroke parah. Dia mungkin tidak punya banyak waktu lagi. Dia terus menyebut namamu."

"Kenapa Anda menghubungi saya? Setelah semua tahun ini, dia tiba-tiba mengingat saya?" tuntut Natalie, suaranya bergetar dengan emosi yang kuat—kemarahan, rasa sakit, dan sedikit rasa ingin tahu yang mematikan.

"Dia selalu mengingatmu, Nak. Tapi dia tidak pernah berani menghubungimu. Sekarang, dia sendirian, dan dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia ingin kau datang. Dia ingin menjelaskan."

"Menjelaskan apa? Bagaimana rasanya ditinggalkan? Bagaimana rasanya berjuang sendirian?" air mata mulai menggenang di mata Natalie, emosi yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan Ares.

"Aku tidak memintamu memaafkannya. Aku hanya memintamu untuk memberinya kesempatan, sebelum terlambat. Rumah sakit kota Cilacap. Ruang Anggrek, tempat tidur tiga."

Sambungan telepon itu terputus.

Natalie duduk di kursinya, memegang teleponnya dengan tangan gemetar. Ia tidak memperhatikan dokumen properti di depannya lagi. Ia hanya melihat Cilacap. Rima. Rasa sakit yang terkubur dari masa lalunya kini menuntut perhatian.

Pengakuan di Tengah Kekuasaan

Natalie tahu ia harus segera memberitahu Ares. Ini bukan hanya masalah pribadi; ini adalah kerentanan. Jika ibunya sakit, dan sendirian, itu bisa menjadi titik lemah yang dimanfaatkan musuh-musuh yang tersisa.

Natalie bangkit dan masuk ke kantor Ares. Ares segera mengakhiri rapat videonya saat melihat wajah Natalie. Wajah yang biasanya setenang dan sekuat baja itu kini terlihat rapuh dan dipenuhi air mata yang belum tumpah.

"Ada apa, Natalie?" tanya Ares, nadanya segera berubah menjadi prihatin. Ia bangkit, melingkari mejanya.

Natalie tidak bisa bicara. Ia hanya menyerahkan teleponnya, menampilkan nomor penelepon dan nama rumah sakit.

"Ibuku," bisik Natalie, akhirnya, kata itu terasa pahit di lidahnya. "Ibuku yang meninggalkanku."

Ares mengambil telepon itu, matanya memindai informasi dengan cepat. Ia segera mengerti. Ares tidak bertanya; ia hanya memeluk Natalie, mendekapnya dengan erat. Itu adalah pelukan dukungan, bukan dominasi.

"Dia menghubungimu," kata Ares, suaranya lembut. "Setelah sekian lama."

Natalie menarik diri sedikit, mengusap air matanya dengan marah. "Dia di rumah sakit, stroke. Dia ingin aku datang. Dia ingin menjelaskan mengapa dia meninggalkanku saat aku masih anak-anak."

"Dan apa yang akan kau lakukan?" tanya Ares, memberi ruang bagi Natalie untuk memutuskan.

"Aku harus pergi," kata Natalie, tekad kembali ke matanya, menenggelamkan rasa sakit. "Bukan untuk memaafkannya. Tapi untuk melihat mata wanita yang menghancurkan hidupku, dan mendengar apa yang dia katakan. Dan yang terpenting: untuk memastikan dia tidak akan menjadi masalah bagi kita."

Ares menatapnya, ada sedikit kekaguman dalam tatapannya. Ia tahu betapa sulitnya keputusan ini.

"Kau tidak akan pergi sendirian," kata Ares, tegas. "Itu adalah tempat yang jauh dari pengawasan kita. Jika musuh yang tersisa mencium kerentanan, mereka akan menggunakan ini. Rook akan pergi bersamamu. Dan..."

Ares meraih tangan Natalie. "Aku akan pergi bersamamu. Aku akan menemanimu sampai ke Cilacap. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi masa lalu, apalagi bahaya, sendirian. Kau adalah Bayanganku. Dan aku akan selalu ada di sisimu."

Keputusan Ares adalah bukti dari evolusi hubungan mereka: dari penguasa dan aset, menjadi dua mitra yang saling melindungi dari dunia, bahkan dari hantu masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!