NovelToon NovelToon
My Boss, My Past, My Sin

My Boss, My Past, My Sin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Bad Boy / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.

Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...

Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.

Keira Althea.

Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.

“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.

Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Keira berdiri mematung di kamar Ethan, jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras hingga terasa di telinganya. Aroma sabun Ethan, hangatnya uap mandi yang masih tersisa, dan tubuhnya yang hanya terbalut handuk membuat seluruh pikirannya kacau balau.

Ethan masih berdiri tegak di depan Keira, seolah tak berniat untuk menyingkir.

Tatapannya yang dalam dan tajam terasa menusuk jantung Keira yang berdebar tak karuan.

“Kenapa kamu selalu menunduk setiap kali aku mendekat?” bisik Ethan, suaranya rendah, nyaris bergetar menahan sesuatu yang rumit. “Seolah kamu takut… atau kamu ingat sesuatu.”

Kan... Saat di luar kantor, Entah sadar atau tidak, Ethan pasti mengubah sapaannya menjadi aku-kamu kepada Keira. Tidak seformal biasanya, seolah ia ingin menghilangkan jarak antara bos dan bawahan.

"Saya___"

"Aku." potong Ethan cepat. "Mulai sekarang kalau di luar kantor pakai aku-kamu. Aku tidak mau ada jarak di antara kita."

"Apa?! Aku-kamu?! Gue rasa Pak Ethan udah gila." batin Keira frustasi.

Keira memalingkan wajahnya gugup. “A-aku nggak ingat apa-apa…” kilahnya.

Ethan mengangkat tangan, jari-jarinya menyelip ke helaian rambut Keira, membelainya perlahan.

Gerakannya lembut—kontras dengan tatapannya yang begitu dalam dan mengikat.

Keira menahan napas.

Sentuhan itu terasa seperti magnet yang menarik seluruh kekuatannya.

“Wajahmu merah,” ujar Ethan, suaranya menurun menjadi bisikan posesif. “Kamu sadar?”

Keira makin gugup. “Pak Ethan… jangan kayak gini.”

"Ethan. Panggil aku Ethan." Ethan melangkah mendekat. "Gini gimana, hm?" Ethan meraih tangan Keira—menggenggamnya lalu menariknya mendekat, membuat tubuh Keira menabrak dada bidangnya yang kekar dan masih basah.

"EH!" Keira terkejut.

Tubuhnya refleks mencoba mundur, tangannya menahan dada bidang Ethan, tapi tangan Ethan sudah melingkari pinggangnya, menahan pinggang ramping Keira seperti tidak berniat melepaskannya.

“Kenapa kamu selalu kabur dariku, Keira?” nadanya dalam, hampir menyakitkan. “Sudah tujuh belas tahun… dan tatapanmu masih sama.”

Keira makin bingung.

Ethan menundukkan wajahnya sedikit, begitu dekat hingga napasnya hangat di leher Keira. “Saat kamu melihat tato ini…” tangannya meraih jemari Keira, menuntunnya untuk menyentuh tato elang di dadanya, “…mata kamu bilang sesuatu. Kamu mungkin tidak mau mengaku. Tapi tubuhmu ingat.”

Keira tersentak keras, wajahnya memanas.

“E-Ethan… l-lepasin…”

Ethan menggeleng pelan. “Tidak.”

Ia meraih wajah Keira dengan satu tangan—ibu jarinya mengusap lembut pipi Keira, gerakan yang bertentangan dengan nada dingin posesifnya. “Keira…” suaranya merendah, “aku sudah terlalu lama menahan perasaan ini.”

Keira menatapnya, mata melebar. “P-perasaan…?”

Ethan mendekat.

Hanya beberapa sentimeter memisahkan mereka. “Ya.”

Tatapannya menusuk, jujur, dan berbahaya sekaligus. “Aku mencintaimu.”

Sebelum Keira sempat bereaksi, Ethan menundukkan wajahnya—perlahan, penuh kendali—dan menempelkan bibirnya ke bibir Keira.

Hangat.

Lembut.

Tapi intens sampai membuat lutut Keira hampir lemas.

Keira membeku, napasnya tersengal.

Ethan tidak bergerak untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Ia hanya membiarkan bibirnya menempel di bibir Keira, seolah mengukir suatu pengakuan yang tak ingin ia tarik kembali.

Namun perlahan Ethan mulai melumat dan menyesap lembut bibir Keira.

Ciuman Ethan begitu dalam, sampai membuat Keira tenggelam di dalamnya.

"Ethan cium gue? Ini pasti mimpi, kan? Astaga... Ini salah! Dia bos gue. Harusnya nggak boleh kayak gini."

Logika Keira ingin menolak, tapi tubuhnya bereaksi lain, seolah ia juga merindukan sentuhan lembut itu.

Saat akhirnya Ethan melepaskan ciumannya, keduanya terengah, seolah kehabisan oksigen.

Ethan menyatukan kening mereka dengan mata terpejam, sambil mengatur napas.

Pria tampan itu menjauh sedikit, tangan di pinggang Keira menegang, mempertahankan jarak dekat mereka. “Sekarang…” bisiknya, masih sangat dekat. “Kamu masih mau bilang tidak ingat apa-apa?”

Keira memalingkan wajah dengan cepat—bukan karena ingin kabur, tapi karena pipinya terlalu panas untuk ditunjukkan.

Ethan mengangkat dagu Keira lembut agar ia kembali menatapnya. “Kamu boleh terus menyangkal.”

Ia tersenyum kecil, tipis, tapi begitu intens. “Tapi aku tidak akan berhenti mendekatimu lagi.”

Keira terpaku.

Kata-kata Ethan tadi bergema di kepalanya tanpa henti.

“Sudah tujuh belas tahun… dan tatapanmu masih sama.”

Tujuh belas tahun.

Tujuh belas.

Sama dengan usia Aiden.

Keira menelan ludah. Tato elang itu… suara Ethan… bentuk rahangnya… mata dingin yang sangat mirip Aiden…

Semua potongan puzzle tiba-tiba menyatu seperti hantaman keras di dada.

“Ya Tuhan… dia… dia ayah Aiden…” batin Keira gusar.

Wajah Keira pucat. Tubuhnya gemetar halus. Selama ini ia mengira perasaan familiar itu hanya perasaannya sendiri—ternyata itu nyata.

Keira menatap Ethan dengan mata melebar, napasnya sesak. “A-apa maksudmu… tujuh belas tahun lalu… kamu—”

Ethan menatapnya lama, dalam, seperti tahu persis apa yang sedang Keira pikirkan. Bibirnya terangkat tipis, bukan senyum—lebih seperti pengakuan diam-diam.

Namun sebelum Keira sempat menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan pintu terdengar.

TOK TOK TOK

Ethan langsung memutar tubuhnya, ekspresinya berubah gelap seketika.

Ia berjalan ke pintu dan membukanya.

Terlihat seorang pelayang berdiri dengan kepala menunduk dalam.

“Ada apa?” suara berat Ethan terdengar dingin dan penuh ancaman.

“Ma-maaf Pak Ethan… saya tidak bermaksud mengganggu… hanya ingin menyampaikan bahwa di bawah ada Pak Rowan yang mencari bapak…” jawab pelayan itu dengan suara gemetar.

Ethan mendengus keras. Tatapannya sangat menusuk dan dingin bagai es. “Jika saya sedang bersamanya, jangan pernah mengetuk pintu kamar saya.” katanya tajam, setiap katanya terasa seperti cambuk.

Keira tersentak oleh ketusnya Ethan—tapi ia tak bisa sepenuhnya fokus.

Kepalanya masih berputar, jantungnya masih memukul keras.

Pelayan tersebut jelas ketakutan. Ia buru-buru mengangguk. “Ba-baik, Pak. S—saya minta maaf.”

"Pergilah."

Pelayan itu segera pamit undur diri.

Ethan menutup pintu, lalu kembalikan menghampiri Keira.

Wajahnya seketika melembut saat menatap Keira, sangat kontras total dengan dinginnya barusan.

“Aku harus turun menemui Rowan sebentar.” suara Ethan lembut, sangat menenangkan. “Tunggu aku.”

Keira menelan ludah, matanya masih gemetar menatap Ethan. “Tapi… aku harus pulang.”

Ethan mendekat sedikit, cukup untuk membuat Keira mundur setengah langkah tanpa sadar. “Nanti,” bisiknya dingin. “Kita belum selesai.”

Keira terdiam.

Kata-kata itu—nada itu—membuatnya membeku.

Lalu Ethan mencium kening Keira, hingga Keira memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut nan hangat itu.

Ethan meraih piyama kimononya di ranjang, lalu memakainya di depan Keira.

"Ethan!" Keira reflek menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ethan tersenyum tipis, tapi tetap meneruskan kegiatannya tanpa merasa malu.

Ia lantas kembali menatap Keira untuk terakhir kalinya sebelum pergi—tatapan yang membuat Keira sulit bernapas.

Kemudian pintu tertutup.

Keira berdiri terpaku.

Napasnya pendek.

Tangan gemetar.

“Jadi benar… Ethan… ayah Aiden…”

...****************...

1
Pa Muhsid
membaca karyamu tor seperti karya yang udah level diamond
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪
Yudi Chandra: huhuhu....makasi atas pujiannya.🙏🙏🙏😍😍😍
semoga selalu suka sama ceritanya.
kalo ada kritik dan saran bilang aja ya. biar cerita ini semakin berkembang dam banyak yang baca🤭🤭🤭🤭
salam kenal sebelumnya....
total 1 replies
Bu Dewi
seruu, lanjut kak
Yudi Chandra: okeeee👍👍👍👍
total 1 replies
Rohana Omar
1 bab lg la thorr
Yudi Chandra: besok yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rohana Omar
buat la 2 bab 1 ari thorr
Yudi Chandra: hihihi🤭🤭🤭🤭 iya. diusahain💪💪💪
total 1 replies
Rohana Omar
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bawa panci tu buat aq tergelak.....
Yudi Chandra: sama...🤭🤭🤭 namanya juga biar pinter🤣🤣🤣
total 5 replies
Pa Muhsid
anak anak anak 👨‍👩‍👧
Yudi Chandra: hahaha....anaknya siapa?🤣🤣🤣
total 1 replies
Pa Muhsid
anak lo
Yudi Chandra: hihihi....kan ethan nggak tau🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak,, hehehhehe
Yudi Chandra: pasti sayang. jangan lupa kasih bintang ya🤭🤭🤭.
biar semangat buat nulis lagi.😄
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
Yudi Chandra: pasti. jangan lupa kasih bintang 5 ya. 😁😁😁😁
total 1 replies
Akira Akira
lanjutttt
Akira Akira
lanjuttttttt
Felipa Bravo
Keren banget nih cerita, semangat terus author!
Yudi Chandra: huhuhu....makaciiiiiih😍😍😍
ini novel pertamaku di sini. biasanya di aplikasi oyen.

kasih kritik dan saran ya... biar aku makin semangat. terima kasih😍😍😍🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!