NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:490
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Debaran Pertama

Setelah berjalan cukup jauh, mereka duduk di atas pasir. Langit malam itu dipenuhi bintang, dan rembulan memantulkan cahayanya di permukaan laut. Suara ombak yang tenang membuat suasana terasa lebih intim.

“Lyla…” panggil Noah pelan, suaranya terdengar ragu.

“Iya…” jawab Lyla, masih menatap langit.

“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Noah sambil meliriknya sekilas.

“Apa?” Lyla menoleh, penasaran.

Noah mengusap kepalanya sendiri, lalu menarik napas.

“Aku… mendapatkan tawaran seleksi masuk agensi. Tapi… aku belum yakin, belum memutuskan.”

Lyla membelalakkan mata, ekspresinya berubah kagum.

“Kamu harus menerimanya! Ini kesempatanmu, Noah… kesempatan yang nggak datang dua kali.”

Noah menunduk sedikit.

“Tapi… aku tidak percaya diri,” ucapnya pelan.

Lyla menggeleng tegas. “Noah, aktingmu sangat keren. Kamu harus percaya diri dengan kemampuanmu.” Ia menepuk bahu Noah, memberi semangat.

Noah tersenyum tipis. “Begitu, ya…”

“Iya. Noah, pacarku memang calon aktor hebat.”

Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Lyla. Beberapa detik kemudian, matanya membesar

Pacar? Kenapa aku pakai kata pacar segala? pikirnya panik dalam hati, sementara pipinya mulai merah.

“Kapan… audisinya…?” tanya Lyla akhirnya, mencoba mencairkan suasana sambil mencuri pandang ke arah Noah.

“Noah tersenyum tipis. “Minggu depan. Aku masih punya waktu buat latihan, tapi…” Ia menunduk sebentar. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari percaya sama dirimu sendiri dulu,” jawab Lyla lembut. “Kalau kamu sudah yakin sama kemampuanmu, latihan akan terasa lebih ringan.”

Noah menatapnya lama. “Kamu selalu bisa bikin aku merasa… mampu.”

Lyla pura-pura tersenyum santai, padahal dalam hati jantungnya tak karuan. “Itu karena kamu memang mampu, Noah.”

Noah mengangguk pelan, lalu kembali memandang langit malam. “Kalau aku lolos… kamu mau jadi orang pertama yang aku kasih tahu?”

“Boleh… asal kamu janji traktir aku,” jawab Lyla sambil tersenyum tipis.

“Deal.” Noah mengulurkan tangan, dan Lyla menyambutnya tanpa ragu.

Lyla hendak beranjak dari duduk.

“Ayo kita kembali ke penginapan.”

“Tunggu, Lyla…” Noah menahan tangan Lyla.

Lyla kembali duduk, menatapnya penasaran. “Ada apa?”

Noah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—sebuah kalung sederhana namun indah. Lyla spontan menunduk, wajahnya memerah.

“Boleh aku memakaikannya untukmu?” tanya Noah pelan. Lyla hanya mengangguk.

Perlahan, Noah berdiri di belakang Lyla, menyibakkan sedikit rambutnya. Sentuhan jarinya membuat Lyla menahan napas. Wajah Noah kini begitu dekat, jarak mereka hampir tidak ada. Lyla bisa mendengar degup jantungnya sendiri.

“Lyla…” suara Noah terdengar dalam dan lembut. “Kalung ini… semoga bisa mengingatkan kamu… kalau aku selalu ada di sisimu.”

Lyla menelan ludah, jemarinya menyentuh bandul kalung itu. “Noah…”

Noah tersenyum kecil. “Dan… kalau kamu izinkan… aku ingin tetap ada di sisimu, bukan cuma malam ini,  tapi seterusnya.”

Lyla masih menatap kalung itu, senyumnya tipis namun matanya berkilat. “Terima kasih, Noah… ini cantik sekali.”

“Seindah pemiliknya,” gumam Noah pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Lyla mengerjap, pipinya merona. “Apa tadi kamu bilang sesuatu?”

Noah hanya tersenyum, tapi jantungnya berdebar tak karuan. Ia menatap Lyla sebentar… lalu sedikit mendekat. Lyla refleks mundur sedikit, tapi tubuhnya tertahan pasir di belakang.

“Noah…” suaranya pelan, hampir berbisik.

“Aku… boleh?” tanya Noah, tatapannya penuh ragu tapi juga harap.

Lyla menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil.

Noah mendekat perlahan, jarak mereka kini hanya sejengkal. Malam terasa sunyi, hanya suara ombak yang menemani. Saat bibir mereka hampir bertemu, Lyla menutup matanya rapat, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung jaket Noah.

Sentuhan itu singkat, lembut, dan begitu hati-hati—hanya sekilas, tapi cukup membuat pipi keduanya memanas.

Mereka sama-sama tersenyum canggung.

“Noah…” Lyla menunduk, suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak.

“Hm?”

“Itu… ciuman pertamaku.”

Noah tertegun, lalu tersenyum hangat. “Kalau begitu… aku janji akan menjaganya, sama seperti aku menjaga kamu.”

Lyla masih menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. Noah berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya.

“Ayo… kita pulang sebelum ombaknya makin tinggi.”

Lyla menatap tangannya sebentar, lalu menggenggamnya dengan hati-hati. Sentuhan itu membuat jantungnya kembali berdebar, seolah ciuman singkat tadi masih tertinggal di udara.

Mereka mulai berjalan menyusuri pasir. Noah sesekali menoleh, lalu tersenyum jahil. “Kenapa dari tadi menunduk terus? Malu, ya?”

Lyla pura-pura melotot. “Bukan!” tapi suaranya terdengar jelas bergetar.

“Oh, jadi bukan? Kalau gitu… kita ulang lagi?” goda Noah, membuat Lyla langsung mencubit lengannya pelan.

“Aduh! Lihat, kan? Aku ini korban kekerasan,” Noah pura-pura mengeluh sambil tertawa.

Langkah mereka melambat. Lampu-lampu dari penginapan mulai terlihat di kejauhan. Noah menggenggam tangan Lyla sedikit lebih erat. “Aku serius, Lyla. Tadi itu… penting buat aku.”

Lyla menoleh cepat, lalu tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Sesampainya di depan pintu penginapan, mereka sama-sama terdiam. Noah menunduk sedikit, menatap Lyla dari dekat. “Selamat malam, pacar calon aktor hebat.”

Lyla hampir tertawa mendengarnya, tapi hatinya hangat. “Selamat malam, Noah.”

Mereka berpisah dengan senyum yang sama-sama tak bisa dihapus, sambil membawa debar yang belum juga reda.

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!