Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah acara selesai
Acara ijab kabul itu akhirnya selesai juga. Semua orang sibuk menyalami Cantika dan Yoga, memberi ucapan selamat sambil menepuk-nepuk bahu, punggung, bahkan pipi Cantika. Ia menyerah pasrah saja, tubuhnya sudah lemas seperti habis lomba panjat pinang.
Begitu momen terakhir tamu keluar rumah, Cantika langsung menarik napas panjang dan melepaskan selendang kecil yang tadi dipakai buat nutupin kepala. Ia mendesah pelan.
“Ya Allah… ternyata nikah dadakan itu capeknya dua kali lipat nikah normal,” gumamnya sambil memijat leher.
Yoga mendekat, masih memakai kemeja putih bersih, rambut rapi, dan wajah yang mulai tampak agak letih. Tapi entah kenapa setiap ia melihat Cantika, lelaki itu suka menatap lama, seolah ingin menganalisa setiap detail.
“Capek?” tanyanya pelan.
“Masih hidup sih… jadi ya lumayan.” Cantika menjawab sambil merosot duduk di sofa ruang tamu.
Yoga tersenyum tipis. “Tadi kamu keliatan banget gugupnya.”
“Aku kira tadi aku bakal pingsan. Serius. Pas Pak KUA bilang ‘sah’, aku udah nggak tau ini dunia nyata atau mimpi buruk.” Cantika menutup wajahnya.
“Berarti kalau mimpi buruk, aku… ini monster?” Yoga mengangkat alis.
“Bukan monster,” Cantika menatapnya lama, “lebih kayak… kucing besar yang sok cool tapi sebenarnya ingin dielus.”
Yoga berkedip. “…Kucing besar?”
“Lion king versi KW.”
Yoga memegangi dadanya pura-pura sakit. “Kamu jahat.”
“Kamu yang mulai ngeledek aku gugup.”
Yoga duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk Cantika mencium wangi sabun tubuhnya. “Tapi serius,” ujar Yoga, suaranya lebih pelan, “makasih ya… kamu mau nerusin acara ini demi ayahku.”
Cantika hanya bisa menunduk. “Aku nggak tega aja lihat Ayah Yoga tadi sampai kejang segala. Lagian… aku juga nggak mau dianggap pembawa sial kalau tiba-tiba aku kabur juga.”
Yoga menahan tawa. “Ijabnya udah sah, kamu mau kabur kemana?”
“Ke planet Mars. Cari alien. Nikah sama alien juga gapapa.”
Yoga ikut tertawa kecil. “Kamu lucu juga, Cantika.”
“Aku tuh bukan lucu. Aku… panik.”
Yoga hendak menjawab ketika pintu dibuka dari luar. Masuklah Bu Ratna,ibu Yoga dengan wajah sumringah setengah menangis.
“Nak Cantika… Nak Yoga… ayo ke kamar dulu. Kalian ganti baju, istirahat. Tamu sudah pulang semua,” katanya sambil menyeka ujung mata.
Cantika langsung gelagapan. “Ke… kamar? Berdua?”
Bu Ratna mengangguk senang. “Iya dong. Kan sekarang sudah suami istri.”
Cantika menoleh cepat ke arah Yoga, wajahnya langsung memerah.
Yoga yang awalnya santai, tiba-tiba memandang ke samping, entah kenapa ikut kaku. “Bu, maksudnya istirahat doang kan?” tanyanya hati-hati.
“Ya iya, istirahat. Masa langsung apa-apa.” Bu Ratna mengusap lengan Cantika lembut. “Kamu pasti capek banget, Nak. Dandan dari pagi, dilamar jam-jam ga jelas, nikah dadakan pula.”
Yoga mengangguk. “Kami naik dulu ya, Bu.”
“Iya, iya. Nak Cantika, nanti kalau butuh apa, panggil saja.”
Ketika ibunya keluar, Cantika memelototi Yoga.
“Kita tidur sekamar?”
“Kita suami istri sekarang. Mau tidur di gudang?” balas Yoga santai.
Cantika memukul lengan Yoga pelan. “Kamu jangan becanda begitu!”
Yoga terkekeh. “Yaudah… ayo.”
---
Kamar Baru yang Aneh Rasanya
Kamar Yoga ternyata luas. Warna dindingnya abu-abu lembut, ranjang besar, perabot rapi. Semua terlihat… terlalu indah untuk seseorang yang menikah lima belas menit lalu karena salah alamat.
Cantika berdiri mematung di depan pintu. “Ini serius?”
“Serius.”
“Kamar kamu?”
“Udah pasti. Masa kamar tetangga.”
Cantika manyun. “Ya kan aku memastikan.”
Yoga mengambil handuk dan memberikan pada Cantika. “Kamu mandi dulu. Kamu tadi keringetan banget.”
Cantika menatap handuk itu serasa menatap tugas ujian.
“Nanti kalau aku keluar kamar mandi, kamu tiba-tiba berubah jadi suami galak terus bilang ‘ini malam pertama’, aku sumpahin loh, Yo.”
Yoga mengangkat tangan. “Tenang. Aku bukan tipe cowok begitu. Aku nggak bakal nyentuh kamu kalau kamu nggak nyaman.”
Cantika menatapnya lama. Lalu… ia mengangguk pelan.
Oke. Setidaknya cowok ini masih punya adab.
---
Selesai mandi, Cantika keluar dengan baju ganti yang sudah disiapkan ibu Yoga,dasar keluarga kaya, semuanya ada stoknya. Kaos longgar dan celana training. Nyaman sih, tapi tetap saja aneh. Yoga sedang duduk di ujung ranjang, ponsel di tangan, dan kepala sedikit menunduk.
“Lho?” Cantika mengernyit. “Kok kamu belum mandi?”
Yoga melirik sebentar. “Nunggu kamu keluar dulu.”
“Kan kamar mandinya ada dua.” Cantika menunjuk pintu satunya.
“Aku lupa,” jawab Yoga tenang.
“Plak.” Cantika menepuk jidat sendiri. “Suami macam apa yang lupa ada kamar mandi di kamarnya?”
Yoga berdiri sambil mengambil handuk. “Suami mendadak.”
Cantika terdiam.
Hmm… fair enough.
---
Canggung, tapi Hangat
Yoga keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan celana jogger abu-abu. Rambutnya masih basah, sebagian menempel di dahi. Cantika nggak sengaja terpaku.
“Jangan lihat aku seperti aku habis casting iklan sampo,” kata Yoga sambil mengeringkan rambut.
Cantika buru-buru memalingkan wajah. “Aku nggak lihat!”
“Kamu lihat.”
“Aku cuma… ngecek kamu nggak berubah jadi alien.”
Yoga tertawa kecil.
Mereka akhirnya duduk di pinggir ranjang. Jaraknya cukup aman, tapi tetap saja canggung. Cantika memainkan jarinya.
“Yo…” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kita… beneran nikah.”
“Iya.”
“Aku nggak nyangka. Kamu juga nggak nyangka, kan?”
Yoga menggeleng. “Nggak. Aku tadinya mau nikah sama orang lain.”
“Maaf ya… calon istrimu kabur.”
“Bukan salahmu.”
“Kalau aku nggak salah alamat kan nggak gini jadinya…”
Yoga menatapnya, lebih serius. “Cantika, kamu jangan mikir kamu penyebabnya. Semua kejadian hari ini bukan karena kamu nggak becus kirim paket.”
Cantika mengembungkan pipinya. “Aku sebenarnya becus! Cuma rumahnya mirip! Dan Google Maps tadi muter-muter…”
Yoga menahan tawa. “Iya, iya. Oke. Kamu becus.”
“Kenapa kayaknya kamu nggak tulus?”
“Aku tulus kok. Serius.”
Cantika menatapnya curiga, lalu akhirnya ikut tersenyum. Hati kecilnya hangat entah kenapa.
Yoga menatapnya lama. “Kalau kamu mau… kita anggap ini pernikahan kontrak dulu.”
Cantika mengernyit. “Kontrak?”
“Iya. Kita tinggal bareng, tapi nggak ada kewajiban sebagai suami istri sampai kamu siap. Kita pelan-pelan.”
Cantika menghela napas lega. “Makasih. Serius… makasih. Aku takut kamu tiba-tiba ngotot harus jalani semuanya sekarang.”
Yoga menggeleng. “Aku nggak mau kamu merasa dipaksa. Kejadian hari ini udah cukup gila.”
Cantika mengangguk. “Gila banget. Aku tadi pagi cuma mau kirim parsel. Tiba-tiba sore aku jadi istri orang.”
“Tapi… kamu istri aku.”
Cantika memelototinya. “Yoga!”
“Ya kenyataan toh.”
Cantika mengambil bantal dan melemparkannya ke Yoga. “Bisa nggak sih kamu nggak bikin aku panas dingin.”
Yoga menahan bantal di dadanya sambil tertawa. “Oke, oke.”
---
Saat Semuanya Terasa Lebih Tenang
Beberapa menit berlalu. Mereka mengobrol hal-hal ringan: hobi, pekerjaan, keluarga. Awalnya canggung, tapi lama-lama mengalir sendiri. Yoga ternyata pendengar yang baik, dan Cantika punya bakat bercerita sampai Yoga beberapa kali ngakak.
“Jadi kamu pernah nyasar waktu jadi kurir?” tanya Yoga.
“Pernah. Bukannya pernah lagi… sering. Aku tuh punya bakat khusus tersesat.”
“Terus kamu diterima kerja gimana ceritanya?”
“Temenku kasihan.”
Yoga terbahak. “Kamu lucu.”
“DASAR! Kamu ngeledek aku mulu!”
“Nggak. Ini serius.” Yoga menatap Cantika lembut. “Kamu lucu. Menyenangkan.”
Cantika tercekat.
Yoga menambahkan, lebih pelan, “Dan aku bersyukur hari ini… kalau yang datang ke rumah waktu itu bukan orang lain.”
Cantika terdiam. Dadanya terasa hangat.
“Yo…”
“Hm?”
“Boleh nggak… kita tidur dulu? Aku capek banget.”
Yoga tersenyum. “Ayo.”
Ia mengambil bantal tambahan dan meletakkannya di antara mereka.
Cantika menatapnya. “Ini apa?”
“Pembatas. Supaya kamu nyaman.”
Cantika tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Mereka berbaring. Lampu kamar dimatikan, tersisa lampu tidur warna kuning lembut. Cantika menarik selimut sampai dagu.
“Yo…”
“Iya?”
“Aku masih takut besok bangun dan semuanya berubah.”
Yoga menghela napas perlahan. “Nggak. Aku di sini. Dan apapun yang terjadi, kita jalanin bareng.”
Cantika menggigit bibir. “Aku cuma cewek biasa. Lulus SMA, kerja kurir. Kamu… ya kamu. Kaya, ganteng, terpelajar.”
Yoga menoleh ke arahnya. “Aku juga manusia, Cantika. Sama kayak kamu. Dan sekarang… kamu istriku. Mau kamu percaya atau nggak, aku nggak menyesal.”
Cantika menatap langit-langit. Senyumnya muncul tanpa sadar.
“Makasih, Yoga.”
“Tidur ya,” ucap Yoga lembut.
“Iya.”
Cantika memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa aman.
Dan tanpa ia sadari, laki-laki di sebelahnya juga menatapnya sesekali… dengan tatapan yang belum pernah ia berikan pada siapa pun sebelumnya.