NovelToon NovelToon
LOVE STORY FROM ROAD

LOVE STORY FROM ROAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Obsesi / Fantasi Wanita
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: sjulerjn29

Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. TRUTH UNSPOKEN

‎“Kenapa Kamu pulang dengan kondisi gini sih, nak?” sepasang mata berkaca-kaca menatap putrinya, ia menggigit bibir tak kuasa menahan air mata yang mulai menetes membasahi wajahnya.

‎“Apa yang terjadi?" Dengan tangan yang gemetar, ia berusaha menghapus air mata putrinya.

‎"Jawab ayah dengan jujur! Liat Ayah sekarang!" Nadanya mulai meninggi, namun Raisa tetap terdiam menunduk larut dalam kesedihan. Seketika Raisa memeluk ayahnya dengan isak tangis yang semakin terdengar jelas. Ayah Raisa menghela napas panjang dan membalas pelukan putrinya dengan hangat. Helai demi helaian rambut dibelainya dengan lembut menepis sejenak semua pertanyaan yang ia lontarkan agar Raisa bisa merasa tenang.

‎"Raisa..sayang,siapa yang buat kamu kayak gini? Kenapa kamu pergi diam-diam? Ayah khawatir sama kamu, Nak."

‎Raisa tiba-tiba melepaskan pelukannya Perlahan, ia mendongak pelan, Matanya sembab dan tubuhnya refleks mundur setengah langkah, takut melihat kekecewaan yang begitu menyayat di matanya.

‎"Raisa...RAISA..!" Emosinya tak terbendung sehingga ia membentak putrinya yang sejak tadi hanya terdiam sambil menangis. Suara ayahnya pecah, lebih karena panik daripada marah. Bahkan Alex dan Bobby hanya bisa menunduk saling berpegangan tangan.

‎“Sekali lagi, kenapa kamu pergi diam-diam? Kenapa kamu terluka begini? Kenapa kamu gak bilang, Raisa?” Kecemasan mulai menghantui pikirannya, napasnya mulai tak beraturan dan kakinya mulai melangkah mondar-mandir ke segala arah.

‎“Kenapa kamu bikin Ayah…” suara itu melemah, “…bikin Ayah takut setengah mati?” Ayah Raisa berbalik arah menghampiri putrinya dan meraih kedua tangan yang sejak tadi menggenggam erat ujung jaketnya sendiri.

‎Raisa masih terdiam menggigit bibir, tak ada kata yang keluar, cuma napas pendek, sesak, dan rasa bersalah yang tertahan.

‎“Kamu gak tahu, Nak... Ayah pikir kamu kenapa-kenapa. Ayah pikir kamu... hilang…Dan sekarang liat kamu kayak gini."

‎Raisa mendekat pelan, memeluk kembali Ayahnya yang masih syok. Luka di tubuhnya masih terasa, namun luka di hati mereka berdua jauh lebih dalam.

‎"Maafin Raisa, Yah...Raisa salah." Akhirnya kata itu terucap walau hatinya masih gemetar takut.

‎"Kenapa...? Kenapa Raisa...?"

‎"A..aku gak papa ko, Yah..ini cuma luka ringan dan...dan aku.." Kalimatnya terhenti karena tiba-tiba Ayahnya mendorong pelan tubuh Raisa dalam dekapannya. Alisnya mulai meninggi tak percaya akan kalimat yang ia dengar barusan.

‎"Apa? Ini luka ringan katamu? Sa..kamu susah untuk jalan dan luka lebam dimana-mana, kamu masih mikir itu baik-baik saja? itu parah Nak..." ujarnya tak percaya sehingga mengguncang pelan tubuh putrinya.

‎"Tapi aku kuat kok Yah, Ayah gak usah khawatir ya..Aku cuma jatoh ko, tadi...tadi ada yang mau nyerempet aku dan akhirnya aku jatoh dan yah...kakiku jadi gak bisa jalan," senyumnya tipis mencoba membuat Ayahnya percaya dengan perkataannya, namun matanya tidak bisa berbohong dan itu yang dirasakan Ayah Raisa saat menatap putrinya.

‎"Tapi, tapi nanti juga sembuh kok."

‎Ayahnya menoleh, sorot matanya langsung menusuk tak percaya.

‎“Jatuh?” tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.

‎“Jatuh sampai bibirmu pecah? Jatuh sampai kaki kamu pincang? Dan jatuh bareng sama cowok ini?!” Nada suaranya meninggi, anak buah Raisa langsung menunduk makin dalam, keringat dingin mengalir. Alex mencengkram erat tangan Bobby hingga dia menghentakkan kaki berusaha melepaskan genggaman Alex yang membuat tangannya kaku seketika.

‎Rasa cemasnya masih membara, tapi kini digantikan oleh kemarahan yang tertahan. Tangannya mengepal menatap tajam putrinya. Sedangkan Raisa terlihat gugup, otaknya berpacu mencari alasan agar Ayahnya percaya.

‎"Ayah gak percaya kamu cuma jatoh, kamu bohong kan? Jawab Sa!!"

‎"Enggak kok, a..aku jujur."

‎"Dia..dia cuma temen aku kok, dia nganterin aku pulang, udah itu aja.." jawabnya gugup, perlahan menunduk tak berani bertatap muka dan tetap keras kepala menutupi yang sebenarnya terjadi.

‎"Aku gak bohong. Aku cuma gak mau Ayah khawatir."

‎"Terlambat, Nak," ucapnya dengan suara rendah, berat, dan getir. "Ayah sudah khawatir. Ayah hampir gila karena gak tahu kamu dimana!"

‎Raisa terpaku seketika, air matanya mengembang tapi tak jatuh. Tangan sang Ayah bergetar, matanya menatap luka-luka di wajah Raisa. Melihat baju yang dikenakan putrinya yang kotor oleh debu entah debu jalanan atau debu yang lain. Pandangannya beralih ke arah bawah, tangan mulus Raisa seakan hilang karena adanya goresan dan juga memar. Pandangannya turun kebawah melihat salah satu kaki anaknya yang tidak bisa berdiri tegak. Dan dia tak bisa menerima cerita sesederhana itu setelah melihat kembali kondisi putrinya.

‎"Raisa, kamu pikir Ayah bodoh? Kamu berani berkata BOHONG...!!" serunya membentak, napasnya memburu dan matanya melebar. Penyakitnya mulai kambuh bahkan lebih parah dari sebelumnya.

‎"Ayah gagal jadi orang tua..! Kamu terluka! Semua ini..SALAH AYAH!" teriakan pilu seorang Ayah yang menyalahkan dirinya sendiri.

‎"Yah, stop!" seru Raisa, berdiri walau tertatih.

"Ayah tenang dulu, napas perlahan..liat aku, Yah!" Tapi sang Ayah malah makin panik, meremas rambutnya sendiri bahkan hingga memukul kepalanya berkali-kali. Hingga suara jeritan pecah.

‎"Kau bisa mati, Raisa! Ayah bisa kehilangan kamu..!"

‎Itulah sumber dari semua amarah, semua kontrol dan semua larangan adalah dari ketakutan akan kehilangan yang akan terulang kembali.

‎"Tapi aku gak mati, Yah! Aku baik-baik saja sekarang..Aku disini, aku pulang!" Raisa berusaha menenangkan Ayahnya yang mulai tak terkendali.

‎"GAK..GAK BOLEH, KAMU GAK BOLEH HILANG, JANGAN SEPERTI DIA! ANAKKU GAK BOLEH HILANG LAGI..!" teriakan menggema di udara membuat Alex dan Bobby terkejut mendongak ke arahnya, namun tak bisa berbuat apa-apa karena takut membuat situasi semakin kacau.

‎"Aku gak becus jaga anak..aku ayah yang payah...GAK BERGUNA...!"

Dia mulai menyakiti dirinya sendiri, memukul kepalanya hingga tubuhnya di hujani pukulan penyesalan yang mulai menjerat hatinya.

‎Pelan-pelan Raisa memeluk Ayahnya walaupun lengan sang Ayah sempat mendorong tubuhnya agar menjauh, tapi akhirnya melemas. Dan di pelukan Raisa, dia menangis bukan karena marah tapi tangisan yang selama ini ditahan bertahun-tahun. Tangisan rasa bersalah, takut, dan cinta yang menyakitkan.‎

Namun saat Ayah Raisa mulai merasa tenang, matanya tak sengaja melihat pantulan bayangan kedua orang di belakang mereka, sekilas ia mulai mengingat kembali sesuatu yang ia pertanyaan sejak tadi karena Raisa belum menjelaskan semuanya dan masih ada keraguan di benaknya.

‎Ayah Raisa melepas tangan putrinya yang mendekap tubuhnya dengan erat. Langkahnya mulai tegas kembali, tatapan matanya masih dingin menatap tajam ke arah dua orang pria yang sejak tadi terdiam menunduk. Raisa mencoba menahan langkah Ayahnya namun tak sempat sehingga tangannya terhenti di udara.

“Kamu!” Pemuda itu reflek mendongak terkejut. Bobby yang sejak tadi disamping Alex, memutuskan untuk mundur perlahan sambil menunduk.

‎“Kamu yang bawa anak saya keluar malam-malam kan?!” Sepasang tangan yang kekar mencengkram leher Alex membuatnya terkejut sekaligus takut.

‎“Ini semua gara-gara kamu, kan?!” Dingin menusuk hingga ke ubun-ubun kepala, bukan karena udara yang dingin tapi sikap Ayah Raisa yang tiba-tiba berubah drastis seperti ingin melenyapkannya.

‎“om, saya.." Kalimatnya terhenti karena seketika cengkraman itu semakin erat.

‎"Pasti kamu kan yang buat anak saya kayak gini? Hah? Kamu apain anak saya? CEPAT JAWAB...!" Ayah Raisa melepas cengkraman, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.

‎"A..Ssaya cuma nganterin anak om kok, saya gak macem-macem sama anak om, sumpah!" Alex terlihat gugup dan memohon agar Ayah Raisa mempercayainya.

‎"BOHONG...! Kamu pikir saya gak liat tadi? Kamu pegang-pegang anak saya! Hah? Kamu rangkul dan bisikin sesuatu, kamu ancam anak saya kan?" Tubuh kekarnya beradu dengan dada bidang Alex yang selama ini dia banggakan dan seketika menciut tak berarti apa-apa.

‎"Aduh gawat, ternyata tadi om liat semuanya ternyata, gimana nih..bisa salah paham ini." Napasnya mulai tak teratur, keringat mengalir di sekujur tubuhnya menandakan ia benar-benar terdesak oleh pertanyaan Ayah Raisa.

‎"Menghadapi anaknya saja sudah kewalahan, apalagi Ayahnya... bagaimana ini, aku dalam masalah besar sekarang. Tapi tenanglah My Queen aku akan hadapi semua demi dirimu, walau sekujur tubuhku sekarang mendadak kaku karena takut..." benaknya dalam hati.

Bersambung...

Apa yang akan dilakukan Ayah Raisa terhadap Alex?

Akankah Ayah Raisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Alex?

Dengan kekacauan yang terjadi apakah Raisa berani untuk membuka rahasianya?

Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya.

Semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa..

Terimakasih yang sudah setia..

1
checangel_
Jurus pelarian berujung penantian 🤭
checangel_
Kekuatan do'a😇
checangel_
Dari baja yang dibekukan dalam suhu cukup sekian dan tidak butuh keluhan, walaupun terkadang banyak alasan 🤭
checangel_
🤭/Scowl/
checangel_
Aset mahal/Facepalm/
sjulerjn29: aset dia cuma muka🤭
total 1 replies
checangel_
/Facepalm/
checangel_
Calm down😊
checangel_
/Good/
checangel_
Aku setia menunggu Bobby ini🤭
sjulerjn29: tunggu aksi heroik dia ya🤭
total 1 replies
💃💃 H💃💃💃
bagus
checangel_
Harus dong, kan sudah makan es doger 🤭
sjulerjn29: iya Kenny pun gabung soalnya udah terkuras habis tenaganya 🤭
total 3 replies
checangel_
Bisa-bisanya lagi berada di tengah konflik, es doger lewat🤣🤭
sjulerjn29: di real life juga suka gitu kan🤭
total 1 replies
checangel_
🤣🤣 Sabar ya Bobby /Facepalm/
sjulerjn29: Bobby belum siap🤣
total 1 replies
checangel_
Merdeka bergema /Smile/
sjulerjn29: harus nya sambil bawa bambu runcing bukan helm🤭
total 1 replies
Xlyzy
eh kalian ga cemburu apa lihat Raisa di pepet terus gitu kalian kapan bertindak nya
Xlyzy
dia yang senyum dia yang ga sadar 🤣😭
@dadan_kusuma89
Rio, kamu mau nyamar jadi gembel apa gimana nanti? buat mengerjakan misi dari bosmu...
@dadan_kusuma89
Udah, Marco! Istirahat dulu, ngopi dulu... ntar bisa dicoba lagi
-Thiea-
siapa lagi ini. mau ngomong apa dia? suruhan siapa? apa musuhnya? atau ibunya? Atau pria yang diam-diam naksir Raisa. 🫣
-Thiea-: hahaha... biar bingung jawabnya. 😅😅
total 2 replies
-Thiea-
gak usah dipikirin ibumu, dia aja gak peduli sama kamu. dan g pernah ada saat kamu butuh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!