Seorang mafia kelas kakap, Maxwell Powell nyaris terbunuh karena penghianatan kolega sekaligus sahabatnya. Namun taqdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bercadar penuh kharisma, Ayesha, yang tak sengaja menolongnya. Mereka kemudian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan pernikahan gantung karena Ayesha tak ingin gegabah menerima lamaran Maxwell terhadapnya. Kehidupan seorang muallaf dengan latar belakang kehidupan gelap seorang mafia mengharuskan sang gadis muslimah yang nyaris sempurna ini harus menguji dulu seberapa mungkin mereka kelak bisa membangun rumah tangga Islami yang seutuhnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurliah Ummu Tasqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17. Terima Kasih Tuhan
"Engkau seharusnya melamarku pada waliku… dan meminta mereka untuk menikahkan kita segera. Ku tunggu malam ini”
Ayesha terkesima dengan jawabannya sendiri. Ia buru-buru beranjak pergi ke kamarnya. Bibi Leida tersenyum. Keputusanmu sudah benar Tuan Putri, batinnya.
Maxwell tersentak kaget. Ia merasa seperti mimpi. Apakah tadi itu nyata? Dicubitnya tangannya. Sakit. Atau mungkin ia salah dengar? Ia tersadar. Ada Bibi Leida yang masih memandangnya.
“Bibi, apakah aku tidak salah dengar bahwa Ayesha bersedia kunikahi malam ini?”
“Ya Tuan Maxwell. Anda tidak salah dengar tuan”
“Benarkah Bibi?”
“Oh God. Oh ya Allah…. Terimakasih…terimakasih….terimakasih Tuhan…”
Entah siapa yang mengilhami Maxwell. Ia seketika berlutut dan bersujud mencium lantai seraya berterimakasih pada Rabbnya.
Ia bergegas menemui Sir Vladimir, kakek dan Ali di teras depan.
Sesampainya di hadapan mereka, Maxwell mendadak berlutut dan menangkupkan kedua tangannya di dada seraya berkata
“Mohon maaf jika aku dianggap tidak sopan dan tidak tau diri,….”
Maxwell terdiam sejenak dan kembali manarik nafas seolah ingin menghimpun kekuatan kembali. Orang-orang di depannya hanya menatap heran.
“Tuan Vladimir dan Ahmed, selaku wali dari Non Ayesha, dengan setulus hati dan merendahkan diri di hadapan Anda semua…aku meminta… sudikah tuan berdua menerimaku menjadi bagian dari keluarga anda dengan mempersunting Ayesha malam ini menjadi istri saya?”
Maxwell menundukkan kepalanya semakin dalam. Ahmed nampak terkejut. Sir Vladimir juga shock, namun hanya sesaat. Wajah tua berwibawa itu dengan cepat menguasai diri. Ada senyum di sudut bibirnya. Ia menelusuri wajah Maxwell yang nampak pasrah dalam tunduknya. Lelaki tua itu menarik nafas dan mengalihkan pandangannya ke samping, ke wajah cucu lelakinya yang paling tau akan adik perempuannya yang selama ini dibesarkan bersama tanpa pernah terpisah kecuali ketika mereka sudah dewasa karena menempuh jenjang pendidikan yang berbeda. Ahmed yang ditatap seakan paham bahwa kakeknya sedang meminta pendapatnya. Mereka berdua menyadari betul. Bahasa Maxwell kali ini tidak mangkin tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di antara pria ini dengan Ayesha barusan sehingga lelaki tampan yang sedang berlutut ini berani memohon seperti ini.
Tidak ada yang tau arti tatapan Sir Vladimir dan Ahmed. Hanya sorot mata yang berbicara. Ahmed sejurus memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu mengangguk dan tersenyum ke arah kakeknya. Sang kakek pun mengangguk juga. Sementara Maxwell tidak tau bahasa tubuh apa yang dipertontonkan di depannya, karena ia masih tertunduk seakan tidak berani menghadapi kenyataan. Yang ada dalam pikirannya adalah, dia sudah lega karena sudah menyampaikan kata hatinya, setelah ini ia tinggal menunggu takdir Tuhan atasnya. Ia tau, walau Ayesha menerimanya, tapi keputusan Ayesha terletak pada persetujuan kedua walinya.
“Nak Maxwell, apakah engkau yakin dengan pilihanmu?”
“Ya kek, tentu. Saya mencintai cucu Anda”.
“Apakah engkau yakin Ayesha juga mencintaimu?”
“Saya akan membuat Ayesha mencintai saya jika kami sudah menikah”
“Lantas apakah engkau yakin saat ini Ayesha menerimamu?”
“Saya hanya berusaha. Jika Allah memihak pada saya saat ini maka Ayesha pasti akan menerima saya. Begitu juga tuan berdua selaku walinya. Saya yakin Ayesha juga menyerahkan keputusannya pada Anda berdua. Dan saya siap menerima apapun keputusannya. Saya hanya berusaha menggapai mimpi saya untuk menjadi muslim yang baik dengan bantuan bimbingan dari istri muslimah yang baik pula, yang saya berharap besar sosok istri tersebut adalah Ayesha. ”
“Apakah tujuanmu menikahi Ayesha nak Maxwell?”
“Saya ingin belajar langsung dari istri muslimah saya yang lebih paham agama ini, dan saya berharap dengan menikah saya bisa lebih kuat menjalani kehidupan baru saya. Dan engkau sudah tau tuan, bahwa saya hidup bergelimang harta tapi kering iman dan bimbingan. Saya harap istri yang kuat dan baik seperti Ayesha akan membantuku menggunakan hartaku yang melimpah untuk kebaikan dan menjadi jalan bagiku menebus semua dosa dan meraih pahala untuk meraih syurga Allah”.
Maxwell lega sekali. Ketiga sosok di depannya terpana dan tersenyum. Ali nampak sumringah. Ia teringat dengan jumlah uang yang ditransfer Maxwell kemarin. Ia pastilah benar-benar kaya. Sepertinya uang sebesar itu tidak bernilai baginya. Dan jika Maxwell menjadi seorang muslim yang baik, maka akan ada keluarga malaikat seperti keluarga Sir Vladimir saat ini yang selalu membantu orang susah, pikirnya.
Kini Ahmed yang berbicara.
“Tuan Maxwell. Ini sangat mendadak bagi kami. Sepertinya amat sulit memutuskan. Namun begitu kami hargai niat baik anda. Berikan kami waktu. Ohya, sebentar lagi waktu sholat juhur tiba. Setelah sholat akan kami musyawarahkan dulu lamaran anda. Keputusannya setelah sholat Ashar. Bagaimana? Apakah anda sabar menunggu?”
“Tentu saja tuan Ahmed. Saya akan menunggu. Terimakasih banyak.”
Sir Vladimir meraih bahu Maxwell untuk menariknya agar berdiri lalu menepuk-nepuk bahunya pelan. Ia tersenyum. Ahmed juga melakukan hal yang sama, seolah mengatakan dalam bahasa tubuh itu, ‘tidak mengapa, jangan sungkan, anda tidak salah mengungkapkan keinginan anda’. Maxwell pun tersenyum dan mengikuti mereka ke mushollah. Sebelum sampai di tempat sholat, Ali mendekati Maxwell.
“Apakah anda juga akan ikut sholat tuan Maxwell?”
“Ya. Apakah yang bro Ali maksud ibadah dengan bersujud itu?”
Ali mengangguk.
“Tolong ajari aku brother”
“Dengan senang hati. Mari ikuti saya”
Ali mengajak Maxwell memasuki ruang kecil di belakang mushollah. Di sana ternyata ada 3 keran air. Dengan sabar Ali mengajari Maxwell tata cara berwudhu’. Maxwell mengikutinya. Setelah selesai, mereka pun bergegas ke mushollah di mana ke dua lelaki lainnya sedang melaksanakan sholat sunnah qobliyah juhur. Ali menyuruh Maxwell memperhatikan tata cara sholat kakek dan Ahmed. Dengan berbisik Ali menjelaskan bahwa di awal ini Maxwell cukup mengikuti saja gerak imam sholat. Imam adalah pemimpin dalam sholat berjamaah, sholat bersama-sama. Kelak Maxwell harus belajar bagaimana cara sholat, bisa dengan membaca buku petunjuk sholat untuk muallaf atau lebih mudahnya menonton videonya di youtube. Selain itu Maxwell harus belajar membaca Al-Qur’an. Ali mengatakan Maxwell jangan khawatir karena semuanya akan terasa mudah yang penting Maxwell harus tekun dan bersungguh-sungguh. Maxwell manggut-manggut dan merasa tak sabar untuk segera belajar seperti yang disampaikan Ali.
Setelah selesai sholat sunnah, kakek pun bergeser ke tempat imam sholat dan mengajak makmumnya untuk berbaris rapi dan memulai sholat. Maxwell berdiri di posisi paling pinggir sebelah kiri. Sebelum sholat dimulai, Ali membisikkan padanya untuk berniat dalam hati sholat juhur 4 rakaat menghadap kiblat, sebagai makmum karena Allah. Maxwell, layaknya anak kecil yang tidak tau apa-apa nampak serius dan mempraktikkan dalam hatinya apa yang diajarkan oleh lelaki belia di sebelahnya ini. Dengan kaku dia pun seterusnya berusaha mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya hingga selesai.
Sementara itu, di kamarnya, Ayesha sedang berzikir dengan tali tasbih di tangannya. Ia tidak sholat karena sedang datang bulan. Ia nampak khusyuk bertasbih, bertahmid dan bertakbir dengan mata terpejam, seolah meresapi setiap helaan nafasnya ketika menyebut asma Allah. Sebelumnya ia sudah beristighfar ratusan kali memohon ampunan pada Allah jika selama hidup sudah banyak dosa yang dia lakukan yang baik sengaja maupun tidak.
Setelah beberapa saat kemudian, Ayesha larut dalam doanya, memohon pada Allah ketetapan hati. Meminta ijin padaNya akan keputusan besar yang akan dia ambil dalam hidupnya malam ini.
“Ya Allah Ya Rabb, duhai Sang penggenggam jiwa. Amat mudah bagimu membolak balik hati hambaMu. Hamba hanyalah seorang manusia biasa yang penuh dengan kelemahan, maka tetapkanlah hati dan jiwaku untuk senantiasa taat dalam kesabaran dan melaksanakan perintahMu. Jika malam ini engkau takdirkan hamba menikah dengannya dengan kemudahan tanpa keraguan maka hamba ikhlas menerimanya dengan niat menggenapkan separuh agama dan membantunya dalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Jika malam ini engkau takdirkan hamba menikah dengannya dengan kemudahan tanpa keraguan maka hamba ikhlas menerimanya dengan niat memberikan manfaat yang besar untuk umat dan agama ini. Semoga engkau memberikan kekuatan pada hamba menjadi wasilah untuknya demi kehormatan dien ini dan kemaslahatan umat. Aamiin”
Ayesha kemudian bersujud. Lama ia rendahkan dirinya di hadapan RabbNya. Keputusannya sudah bulat.
Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu.
“Masuklah”
Muncul sosok teduh dengan pancaran mata yang bijak di sana. Sir Vladimir. Ia perlahan masuk setelah menutup kembali pintunya dan mendekati Ayesha yang menoleh ke arahnya.
“Apa yang kau rasakan cucuku?”
“Lebih tenang kakekku sayang”
Tiba-tiba Ayesha bangkit dan memeluk lelaki tua di depannya. Air mata turun tak tertahan. Ayesha terus memeluk erat sosok yang sangat dicintainya tersebut seakan takut dipisahkan. Sang kakek merasakan sesuatu. Ia sangat paham.
“Apakah ini pelukan perpisahan?”
Ayesha tak menjawab.
“Hai Ayesha…aku sudah tau jawabanmu cucuku yang cantik… inikah caramu mengungkapkan perasaanmu?”
Kakek masih memancing Ayesha berbicara. Tapi hanya sesenggukan tangis yang ia dengarkan. Cucunya hanya berkata dalam bahasa tubuh.
“Australia tidak jauh sayang. Suamimu kelak akan membawamu dengan mudah kemari dengan jetnya”
Sir Vladimir terkekeh menggoda.
“Kakek….”, Ayesha berseru sambil tetap memeluk kakeknya erat. Ia belum mau melepaskan pelukannya.
“Kakek tau. Cucu kecilku ini rupanya sudah jatuh cinta. Kakek yakin Ayesha mampu menghadapi semua kesulitan ini. Berdirilah terus disisinya. Bantu dia. Bimbing dia agar menjadi umat Rasulullah yang paling banyak kontribusinya untuk umat. Sudah saatnya engkau menjadi da’i minimal untuk pendamping hidupmu sendiri. Bukankah amat besar pahalanya jika engkau berhasil? Allah sudah memilihmu sayang, karena engkau mampu”.
Ayesha tercekat. Kakeknya selalu tau apa yang ia pikirkan. Ia kemudian melepas pelukannya dan menatap manik mata kakeknya dengan wajahnya yang basah.
”Kakek yakin aku mampu?”
“Ya. Jika kalian terus bersandar pada Allah, kalian pasti bisa mengarungi semuanya dengan baik dan berhasil. Percayalah pada pertolongan Allah. Dan teruslah menjaga husnuzonmu pada Allah. Ingatlah pesan kakek ini”
“Ya kek. Terimakasih. Engkau paling memahamiku”
“Aku juga. Aku bahkan lebih memahamimu adik kecilku”
Ahmed sudah masuk sambil melipat tangannya di dada. Matanya hanya mengawasi gadis cantik di depannya yang tanpa cadar saat ini.
“Kau tidak ingin memelukku juga dan mengucapkan salam perpisahan?”
“Kakak…apa maksudnya?”
Ayesha pura-pura bingung. Namun Ahmed sudah menghampirinya dan membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah-olah sosok di depannya akan menghambur dalam pelukannya. Dan Ayesha memang tidak menahan dirinya berpura-pura. Ia langsung memeluk kakaknya dengan tangisannya lagi. Cukup lama adegan ini. Mereka larut dalam perasaan masing-masing.
“Kakak yakin Ayesha mampu. Dampingilah dia. Dia sangat membutuhkan sosokmu. Jadikan dia seperti sebuah lentera yang pastinya sinarnya menebar manfaat menjadi petunjuk jalan semua orang di sekitarnya. Kau paham bukan?”
Ayesha mengangguk. Ia sangat memahami apa yang disampaikan kakak lelakinya ini. Ya, Maxwell bukan lelaki biasa. Jika ia bisa menjadi lentera itu, maka betapa banyak kemaslahatan umat bergantung padanya. Ayesha tersenyum. Ya Rabb, beri aku kemampuan itu, batinnya.
“Kak, kalian meninggalkannya…?”
“Kau takut dia akan hilang?”
“Kak…”, Ayesha cemberut.
“Hmm…ada yang sudah takut kehilangan rupanya… Sabarlah Cantik…”
Ahmed tergelak, menggoda. Yang digoda langsung merona.
“Kak Ahmed …”
“Hahaha.. Jangan takut. Ia pergi bersama Ali. Mereka ke kota untuk membeli sesuatu. Mungkin mahar untuk calon istrinya yang luar biasa ini…”
Ayesha hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di balik pelukan kakaknya. Sir Vladimir hanya tersenyum melihat kemesraan kedua kakak adik itu. Sekelebat bayangan kedua orang tua mereka hadir di pelupuk mata sang kakek. Ia menarik nafas dan tak terasa air matanya pun tumpah. “Kalian harus meridhoinya menjadi menantu. Berdoalah pada Rabb kita untuk selalu menjaga keduanya.”, batinnya.
/Pray//Pray//Pray/