Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16
Mita.
Aku menggeliatkan tubuhku, mengerjapkan mata beberapa kali. Aku melihat ke jam dinding sudah menunjukan pukul 4 sore. Lama sekali aku tidur, aku juga belum masak untuk makan siang pasti arun belum makan siang karena aku belum masak.
Aku langsung beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan buang air kecil.
Aku melihat ke sekekliling ruangan tapi tidak menemukan arun, apakah arun pergi keluar,? Aku melangkah menuju dapur, dan melihat ada beberapa masakan di meja makan, aku pegang mangkok yang berisi sop ayam, dan masih lumayan hangat. Apakah arun yang masak tapi tidak mungkin, arun sepertinya tidak bisa masak. Mengingat pertama kali aku datang ke apartemen ini, tidak ada peralatan masak jadi mana mungkin arun yang masak atau arun membelinya di luar. Biar nanti saja aku tanyakan padanya.
Aku mencicipi sop ayam, rasanya enak bumbunya juga pas jika di bandingkan dengan sop buatanku sepertinya lebih enak sop yang ini. Kriuk..Kriuk... Wah perutku sudah minta untuk di isi, pas sekali sudah ada makanan di meja makan jadi aku tak perlu repot-repot memasak.
Sebelum aku memasukan makanan ke dalam mulutku, aku menyentuh bibirku yang sedikit bengkak. Tadi saat aku tidur aku bermimpi abian membangunkanku, abian mengeluarkan jurus andalannya untuk membangunkanku, memencet hidungku jika aku sudah sangat susah untuk di bangunkan.
Aku langsung memeluk abian erat aku bahkan menciumnya terlebih dahulu dalam mimpi itu, dan anehnya aku merasa ciuman itu seperti nyata. Dan saat aku bangun tidur aku mendapati bibirku yang sedikit bengkak.
Apakah ini nyata atau hanya sekedar mimpi, tapi kalau itu nyata tidak mungkin. Abian tidak mungkin datang kesini hanya untuk membangunkanku. Ah mungkin ini hanya mimpi, akunya saja yang berlebihan karena sebelum tidur aku memikirkan abian dan sangat merindukannya jadi merasa bahwa mimpu itu nyata.
Aku mulai menyuapkan makanan pada mulutku berusaha untuk tidak memikirkan mimpi yang terasa nyata itu.
Setelah makan aku mencuci piring kotornya ke wastafel, setelah ini aku berencana akan memeriksa arun di ruang kerjanya, untuk menanyakan apakah dia sudah makan siang atau belum. Sebenarnya bukan waktu makan siang lagi kalau sudah jam segini tapi lebih tepatnya makan sore.
Ketika aku keluar dari dapur dan berjalan menuju ruang kerja arun. suara bel pintu terdengar, aku berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu.
Di depanku berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian seksinya yang menunjukan kekak lekuk tubuh wanita itu. Tinggi tubuh kami hampir sama hanya dia lebih tinggi karena memakai sepatu high heels. sepertinya aku pernah melihat wanita ini tapi di mana ya.
“Hallo mba apakah arunnya ada?” tanya wanita itu tersenyum ramah padaku. Sudah cantik ramah pula aku yakin pasti banyak lelaki yang mengejar-ngejarnya. Eh tapi siapa wanita ini kenapa mencari arun.
“sepertinya arun ada di dalam” jawabku ragu, karena aku juga tidak tahu pasti apakah arun ada di dalam atau pergi keluar.
“ohiya silahkan masuk” wanita itu masuk dengan membawa koper. Saat kami sudah sampai di ruang tamu arun keluar dari ruang kerjanya. Wanita itu langsung lari dan memeluk arun, arun menyambuat pelukan wanita itu sambil tersenyum lebar. Bahkan senyuman itu tidak pernah di tujukan kepadaku.
“kapan pulang ke indonesia?” tanya arun setelah melepaskan pelukannya
“sekitar tiga hari yang lalu” jawab wanita itu
“kenapa baru kesini kalau sudah pulang tiga hari yang lalu?”
“nona mau minum apa? Biar saya buatkan” tawarku karena wanita ini tamu jadi aku harus menawarinya minumkan.
“tidak usah mba aku bisa ambil sendiri, apartemen ini sudah seperti apartemenku jadi aku bisa mengambil sendiri apa yang aku mau” jawab wanita itu sopan. Hah berarti wanita ini sering tinggal disini bersama arun. apakah wanita ini kekasih arun.
“sejak kapan kamu memperkerjakan pembantu di apartemen ini? Bukankah kamu tidak suka ada orang lain satu ruangan denganmu” tanya wanita itu kepada arun. siapa yang dia maksud pembantu, yang bekerja di apartemen ini hanya bi irna itu juga hanya sebagai staff kebersihan. Setelah pekerjaanya beres bi irna pun langsung pulang. Dan disini sekarang hanya ada kami bertiga.
“dia bukan pembantu, ini mita istriku” jawab arun santai sambil duduk di sofa
“hah istrimu?” ucap wanita itu terkejut sambil menatap arun dan aku secara bergantian.
“kamu tidak bohongkan?” tanya wanita itu masih belum percaya kalau aku istri arun.
“kamu lihat saja photo pernikahan itu, bukankah wajahnya ada dalam photo tersebut” arun menunjuk photo pernikahan kami yang di pajang di dinding menuju kamar tidur yang kami tempati.
“ah iya benar” wanita itu mengahampiri diriku setelah melihat photo pernikahan kami.
“maafkan aku, bukan maksudku menghinamu tapi melihat dari penampilanmu aku kira kamu pembantu” wanita itu memelankan suaranya ketika mengucapkan kata pembantu. Aku bisa merasakan kalau dia merasa tidak enak telah menganggapku demikian. Dia pun tak salah jika menganggapku pembantu melihat dari penampilanku dengan baju yang kusut, rambut yang aku rapihkan asal-asalan dan akupun belum mandi dari pagi jadi wajar saja dia menganggapku pembantu.
“iya tidak apa-apa, aku bisa memakluminya” ucapku sambil tersenyum
"maafkan aku juga tidak bisa datang kepernikahan kalian, saat itu aku sedang ada ujian semester di kampus jadi aku tak bisa meninggalkan ujian itu"
Ketika wanita itu ingin memelukku aku langsung menghindar menjauh darinya. Wanita itu menunjukan ekspresi kebingungan karena aku menolak pelukannya.
“hahahaha kamu jangan cemburu aku bukan kekasih arun, aku Nia sepupunya arun”
“kami memang sangat dekat seperti ini dari dulu tapi kami hanya sepupu jadi kamu tak usah menolak pelukanku” wanita yang bernama nia ini mengira kalau aku cemburu karena menolak pelukannya, padahal aku menolak pelukannya karena aku tidak enak dengan badanku yang belum mandi dari pagi di tambah tadi pagi aku habis olahraga. Jadi aku tak ingin parfum yang ada di tubuh nia bercampur dengan tubuhku yang bau asem ini. Mencium tubuh nia yang sangat wangi dengan parfum yang tidak pamiliar di hidungku, aku yakin kalau parfum yang di pakainya pasti harganya mahal.
“bukan itu maksudku, aku tidak enak berpelukan dengan mu karena aku belum mandi, aku tak ingin kamu mencium bau-bau yang aneh saat perpelukan denganku”
Aku mendengar suara arun tertawa sebentar, aku menoleh kepadanya. Arun membekap mulutnya seperti menahan tawa. Apakah dia menertawanku karena aku belum mandi dari pagi.
“kamu lanjutkan saja mengobrol dengan arun, aku akan mandi dulu.” Aku langsung jalan dengan cepat ketika nia akan berbicara lagi padaku. Aku masuk kedalam kamar dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.