Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.
"Aaarrgghhh, di mana ini?" rasa pening kembali melanda hingga membuatku tak berani membuka mata lagi.
Sekilas aku teringat akan pertengkaran dengan tunanganku sebelumnya yang membuatku kehilangan fokus saat berkendara, hingga terjadilah kecelakaan itu.
Tanganku reflek memijat kening.
"Hei, mommy sudah sadar," suara gadis kecil memaksaku untuk membuka mata.
Pandangan yang awalnya kabur lama-lama menjadi terang, hingga nampak jelas di depan mataku kedua bocah tampan dan cantik nan polos sedang menatapku.
"Hai mommy," sapa keduanya.
"Mommy?"
Beberapa waktu mengenal keluarga ini, tak disangka ternyata aku melihat wajah yang sangat mirip denganku.
Hingga dirinya berani mengajakku bertukar peran, yang membawaku terlibat semakin dalam.
Bisa kah aku lepas dan menjauh? Atau malah jatuh semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Kunci
"Mendadak sekali rapatnya Ricky?" tanya Maxime ketika pantatnya barusan bertemu dengan kursi mobil.
"Iya tuan. Maaf. Ada beberapa urusan yang harus anda tangani langsung," jelas Ricky, asisten Maxime.
"Ada apa? Selama ini tak ada masalah bukan?" tanggap Maxime.
"Direktur anak cabang membuat ulah tuan. Banyak uang perusahaan yang diselewengkan," tukas Ricky.
"Hhhmmm. Apa sudah ditelusuri?" tanya balik Maxime.
Maxime dan Ricky memecah jalanan ibukota untuk menyelesaikan masalah anak cabang.
"Sudah tuan," angguk Ricky tanpa ragu.
"Harusnya gue nggak usah pergi Rick. Cukup kamu aja yang ke sana," ucap Maxime.
'Urusan pecat memecat itu harus anda yang datang tuan. Apalagi nih urusan pucuk pimpinan di sana,' batin Ricky.
"Eh Rick... Aku rasa hari ini Axel aneh banget deh," kata Maxime.
"Ada apa dengan tuan Axel?" tanggap Ricky.
"Hari ini dia ngotot banget ketemu sama Kirani," beritahu Maxime.
"Kalau menurut aku nggak ada yang aneh. Tuan Axel sudah lama kenal dengan nyonya," tukas Ricky.
"Tapi tetap saja aku merasa ada yang janggal. Entah itu apa," ucap Maxime sambil memikirkan sesuatu.
Belum lagi tingkah Kirani yang tak seperti biasa.
Banyak sekali sifat Kirani yang berubah hari ini. Semuanya berusaha ditepis dan disangkal oleh Maxime.
"Rick, mungkin nggak sih satu orang bisa memerankan dua peran di dunia ini?" tanya Maxime.
"Maksud tuan?"
"Yaaaa.. Barangkali aja ada. Di sini berperan jadi siapa, di tempat lain dia jadi siapa," kata Maxime.
"Maksud tuan, orang dengan tipikal bermuka dua? Gitu kah?" Ricky menanggapi.
"Enggak... Bukan begitu maksud aku," ujar Maxime.
"Oh ya Rick. Apa ada yang kita lewatkan tentang keluarga istriku?" hati Maxime mulai meragu.
"Enggak ada tuan. Nyonya Kirani adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Kedua orang tuanya meninggal saat ada perselisihan intern keluarga," kata Ricky tanpa ragu.
"Itu hasil penyelidikan selama ini," bilang Ricky.
"Ada kemungkinan Kirani punya kembaran gitu?" dan Ricky menggeleng pasti.
Maxime membuang nafas kasar. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang dia sendiri tak bisa mencerna itu apa.
.
Setelah Maxime pergi, kini Kirana telah bersama dengan Cantika kembali untuk bermain bersama.
"Tumben kamu masih ada di rumah?" suara nenek terdengar tiba-tiba.
"Grandma....," Cantika memeluk sang nenek dengan senang.
"Mommy mau menemani aku main boneka," oceh Cantika.
Kirana diam.
Gara-gara wanita ini lah dia masuk lagi ke keluarga ini.
Apa sebaiknya aku cerita saja sama wanita ini? Pikir Kirana.
"Apa kamu senang sayang?" tanya nenek itu ke cicitnya.
"Of course. Jarang-jarang mommy punya waktu untuk aku. Iya kan Mom?" celoteh gadis kecil bertanya ke Kirana.
Kirana hanya bisa mengangguk.
"Nyonya, ada yang ingin saya bicarakan," bilang Kirana.
"Nyonya?" pertegas nenek karena merasa heran.
Selama ini Kirani selalu memanggil nenek dengan kata tak sopan.
'Wanita tua? Cerewet atau apapun itu. Semua masih terngiang di telinga nenek.
"Iya nyonya," sambung Kirana.
"Oke, kita bicara di ruang kerjaku," bilang nenek.
'Ruang kerja? Emang orang kaya musti begitu ya? Sudah tua pun masih kerja?' batin Kirana.
"Duduk!" suruh nenek setelah tiba di ruang dengan berjejer buku yang ditata rapi.
Kirana melihat sekeliling.
Netranya antusias dengan beragam bacaan.
"Ini semua milik anda nyonya?" tanyanya jujur.
Sinar matanya tak bisa bohong, jika Kirana sangat senang melihat bermacam etalase bagai toku buku yang berpindah ke mansion milik Maxime.
"Sejak kapan kamu suka buku? Biasanya lihat aja enggak," ucap nenek.
"Apa yang ingin kamu katakan?" todong nenek.
Tapi mata Kirana malah tertuju ke sebuah buku yang ada di pojok.
"Wah, anda ternyata penggemar penulis ini?" seru Kirana sambil menelusur etalase tanpa mengambil bukunya.
"Hhhmmmm...," nenek mengiyakan saat netra Kirana melihat buku karya Pramoedya Ananta Toer.
"Aku juga suka nyonya," bilang Kirana.
Kirana duduk di depan nyonya besar keluarga Bagaskara.
"Nyonya, apa anda juga mengira jika saya adalah cucu menantu anda?" pancing Kirana untuk melihat reaksi nenek.
"Sandiwara apalagi yang kamu mainkan Kirani? Semua orang di rumah ini sudah hafal akan karakter kamu," tukas nenek.
"Hah?" Kirana yang dibuat terbengong akan tanggapan nyonya besar itu.
"Saya bukan Kirani nyonya. Nama saya Kirana. Kirana Larasati," sebut Kirana.
"Ha...ha... Jangan banyak alasan kamu. Sampai kapanpun, aku tetap menganggap kamu adalah Kirani. Cucu menantu yang tak tahu malu," sebut nenek dengan nada ketus.
Mau pakai bukti apa, toh identitas diri Kirana ikutan sirna saat kejadian kecelakaan itu.
"Nyonya, ijinkan saya keluar dari sini. Saya akan membawa saksi bahwa saya bukanlah cucu menantu anda," kata Kirana yang belum teringat akan keberadaan Axel yang kenal baik dengan keluarga Bagaskara.
"Bukannya kamu sudah biasa pergi tanpa ijin?" ejek nenek.
"Jadi boleh nyonya?" tanya Kirana untuk memperjelas.
'Asyik, akhirnya bisa keluar juga dari sini. Horeeee...,' hati Kirana bersorak senang.
"Baik nyonya, saya undur diri," Kirana membungkuk hormat dan hendak undur diri keluar ruangan.
"Apa dia salah obat hari ini?" gumaman nenek masih bisa didengar oleh telinga Kirana.
'Hmmmm bodo amat. Yang penting gue bisa bebas,' Kirana menjauh dari keberadaan nenek.
Kirana pergi ke kamar Cantika untuk mengambil tas yang dua hari ini selalu setia menemani.
"Mommy mau kemana?" tanya gadis kecil yang ternyata masih menunggu Kirana.
"Hhhmmm.....," Kirana menggaruk kepala yang tak gatal, kalah janji dengan gadis kecil yang ada di hadapannya kini.
Kirana telah berjanji akan menemani Cantika tidur dan bermain. Apalagi Maxime hari ini pergi keluar kota.
"Mom, ingat janjinya tadi," netra gadis kecil itu mulai berkaca-kaca membuat Kirana semakin tak tega.
"Mom hanya sebentar sayang," Kirana berani menyebut dirinya sendiri dengan kata 'mom'
"Enggak boleh. Mom harus nemenin Cantika bobok," rajuknya.
Hati Kirana luluh akan permintaan gadis kecil yang merengek kepadanya.
'Kutunggu Cantika tidur dulu, baru aku pergi,' niat dalam hati Kirana.
"Baiklah. Asal Cantika cepetan bobok ya," Kirana menyanggupi rengekan Cantika.
.
Kirana berjalan mengendap agar tak menganggu Cantika yang telah terlelap.
"Pengawal akan mengantarmu. Akan kutunggu saksi kamu datang ke sini," ucapan nenek mengagetkan Kirana yang berjalan pelan-pelan.
"Ba...baik nyonya," jawab Kirana.
Untuk saat ini, Kirana berniat mengajak Berlian untuk menjadi saksi supaya keluarga ini tak salah paham akan dirinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Happy Reading guysssss...
Jangan lupa kasih vote, like, komen, hadiah, kopi dan apapun itu.
Makasih 💝
Kirana sudah mengandung lagi
Maxime & keluarga besar sudah bahagia
terima kasih thor🥰🥰🥰
harus bersedih atau bahagia ini😁
siapa yg telpon Maxime ?
kunci semua rahasia Kirana & Kirani ada di tangan Morgan ? ayo temukan Morgan segera Ricky
Fighting
yang lagi ngidam rujak cingur😄
suruhan Maxime atau Axel ?