Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Julid
Langkah Chisen terdengar dari teras tepat setelah Juwanto menyelesaikan kalimatnya.
Chisen itu, seumur hidupnya, seperti cuma melukis tema yang sama.
Erlyn tidak sempat bertanya tema apa.
Chuan sudah berdiri, wajahnya tenang tetapi matanya tajam. Juwanto langsung menunduk ke gelas airnya seperti orang yang ingin tenggelam di sana. Chisen masuk ke ruang keluarga, melihat tiga orang itu, lalu berhenti pada Juwanto.
"Apa yang kamu katakan?"
Tidak keras.
Lebih buruk dari keras.
"Tidak ada," jawab Juwanto terlalu cepat.
"Juwanto."
Juwanto mengangkat kedua tangan. "Aku bodoh. Aku tahu. Aku tidak akan menyentuh gelas apa pun lagi seumur hidup."
"Bukan itu."
Chisen melangkah masuk. Udara di ruang keluarga berubah lebih dingin. Erlyn tahu ia seharusnya diam, tetapi kalimat Juwanto sudah telanjur masuk ke kepalanya dan berputar di sana, tidak mau keluar.
"Dia cuma bilang Koh selalu melukis tema yang sama," kata Erlyn pelan.
Chisen menatapnya.
Ruang keluarga menjadi sunyi.
Di wajah Chisen, sesuatu tertutup lebih rapat. Seperti pintu loteng yang dikunci dua kali.
"Kalian pulang," katanya pada Juwanto dan Chuan.
Juwanto tidak membantah. Chuan mengambil tas kertas, menepuk bahu Juwanto sekali, lalu menunduk sopan pada Jing yang baru muncul dari dapur. Tidak ada yang menjelaskan apa pun. Beberapa menit kemudian, mobil mereka keluar dari pagar.
Malam itu, Chisen tidak turun lagi.
Erlyn juga tidak tidur cepat.
Ia memikirkan satu tema. Memikirkan kanvas yang ditutup kain putih. Memikirkan London. Memikirkan Chisen yang marah bukan karena Juwanto minum sedikit wine, tetapi karena kalimat itu hampir membuka sesuatu.
Keesokan paginya, ia pergi ke sekolah dengan kepala berat.
Ia mengira hari itu akan menjadi hari biasa. Kuis matematika, Angie yang lupa membawa penggaris, Kevin yang bertanya apakah buku latihan dari Tunjungan sudah dipakai. Hal-hal kecil yang bisa membuat pikirannya berhenti menatap loteng.
Ternyata sekolah punya cara lain untuk membuat hidupnya ramai.
Saat istirahat pertama, Angie datang ke meja Erlyn dengan wajah yang biasanya hanya muncul ketika ia menemukan masalah.
"Jangan buka grup kelas," katanya.
Erlyn langsung mengambil ponsel.
"Aku bilang jangan."
"Kalau kamu bilang begitu, aku pasti buka."
Angie mengumpat pelan, bukan kata kasar, hanya suara frustrasi. Erlyn membuka grup WhatsApp kelas. Ada terlalu banyak pesan baru. Beberapa sudah dihapus. Beberapa hanya stiker. Lalu ia melihat tangkapan layar dari grup lain.
Foto lama Chisen di gerbang sekolah muncul lagi.
Di bawahnya, ada foto Kevin dan Erlyn dari kejauhan saat keluar dari toko buku di mall. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk dikenali. Seseorang menambahkan tulisan panjang:
Anak baru ini katanya tinggal serumah sama kakak tiri cowoknya. Yang satu jemput pakai mobil mahal, yang satu diajak jalan ke mall. Enak banget hidupnya.
Perut Erlyn turun.
Kali ini bukan hanya "kakak atau pacar".
Kali ini orang sudah tahu kata kakak tiri. Tinggal serumah. Tidak sedarah. Semua fakta yang tadinya ia sebut dengan hati-hati sekarang dipotong, ditempel, diberi nada kotor.
"Siapa yang kirim?" tanya Erlyn.
"Akun anonim. Tapi awalnya dari grup angkatan," jawab Angie. "Aku lagi cari."
Suara beberapa murid di kelas mengecil ketika mereka sadar Erlyn sudah membaca. Ada yang pura-pura menulis. Ada yang menunduk ke ponsel. Ada yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tidak cukup pintar untuk disembunyikan.
Erlyn berdiri.
Angie memegang lengannya. "Mau ke mana?"
"Toilet."
"Aku ikut."
"Tidak usah."
"Aku ikut."
Mereka baru sampai pintu ketika seorang siswi di baris belakang berkata setengah berbisik, "Kalau memang tidak aneh, kenapa marah?"
Angie berbalik. "Kalau memang tidak punya otak, kenapa bicara?"
Kelas langsung hening.
Erlyn menarik napas. Ia tidak ingin menangis. Tidak ingin melawan di depan kelas. Tidak ingin menjadi lebih besar lagi di mata orang-orang yang sedang lapar bahan cerita.
Namun sebelum ia sempat keluar, suara lain terdengar.
"Cukup."
Seorang gadis berdiri dari bangku dekat jendela. Rambutnya panjang, dikuncir rendah. Wajahnya tegas, tidak akrab dengan Erlyn, tetapi beberapa kali mereka pernah satu kelompok tugas. Namanya Tung Jessica.
Jessica menatap siswi di baris belakang. "Dia sudah bilang itu kakak tirinya. Mama-nya menikah dengan Papa cowok itu. Apa bagian yang kalian tidak mengerti?"
Siswi itu mencibir. "Aku cuma tanya."
"Tidak. Kamu menyindir."
Nada Jessica datar, tetapi kerasnya tepat.
"Kalau keluargamu dibahas seperti itu di grup angkatan, kamu juga akan marah."
Tidak ada yang menjawab.
Erlyn menatap Jessica, terkejut.
Jessica mengambil tasnya, berjalan ke arah Erlyn dan Angie. "Ayo. Jangan buang waktu di sini."
Angie menatapnya dengan apresiasi baru. "Aku mulai menyukaimu."
"Aku tidak butuh disukai. Aku butuh kelas ini tidak bodoh massal."
Di koridor, Jessica menurunkan suara sedikit. "Aku pernah pindah sekolah waktu SMP. Orang bisa sangat kreatif kalau tidak tahu apa-apa tentangmu."
Erlyn menatapnya. "Terima kasih."
Jessica mengangkat bahu. "Jangan berterima kasih dulu. Kita belum tahu siapa yang mulai."
Angie langsung mengangguk keras.
Sekali.
Untuk pertama kalinya hari itu, Erlyn hampir tertawa.
Mereka bertiga keluar ke koridor. Tetapi ponsel Erlyn kembali bergetar sebelum mereka mencapai toilet.
Nomor tidak dikenal mengirim satu tangkapan layar lagi.
Kali ini, pesannya lebih pendek.
Kakak tiri serumah? Yakin cuma kakak?