Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu Yang Kembali Mengetuk
Langit di atas hutan pinus perlahan mulai menerang seiring dengan redanya gemuruh guntur. Tirai hujan deras yang tadinya mengurung mereka di dalam gua batu kini telah menyusut menjadi tetesan air yang jatuh perlahan dari ujung-ujung daun pinus. Udara segar yang bersih bercampur aroma tanah basah seketika menyeruak masuk ke dalam gua.
Sentuhan hangat jemari Max di pipi Yeza perlahan terlepas, meninggalkan sensasi dingin yang mendadak membuat Yeza merindukannya. Mereka berdua menarik napas dalam-dalam, seolah tersadar kembali dari sihir instan yang sempat mengunci dunia mereka selama hujan turun.
"Hujannya sudah mereda," ucap Max dengan suara baritonnya yang kembali tenang, meski tatapan matanya masih menyiratkan kehangatan yang enggan hilang. "Ayo kita kembali sebelum Bram mulai mengerahkan tim penyelamat untuk mencari kita."
Yeza tersenyum tipis dan mengangguk. "Iya, Max." Ia bersiap melepas jaket abu-abu milik Max, namun pria itu menahan tangannya.
"Tetap pakai saja. Udaranya masih sangat dingin," ujar Max lembut.
Mereka pun berjalan beriringan keluar dari gua, menyusuri jalan setapak yang kini sedikit becek. Begitu mendekati area tenda, mereka langsung disambut oleh raut wajah cemas Bram yang sedang mondar-mandir di dekat mobil MPV hitam. Beberapa kru lain tampak bersiap membawa senter. Sementara di sudut lain, Jeff dan Nindi terlihat sedang bersiap masuk ke dalam mobil kru mereka sendiri, meski pandangan Jeff sempat tertuju dengan tatapan tidak suka saat melihat Yeza masih mengenakan jaket milik Max.
"Ya ampun, Max! Yeza! Kalian dari mana saja?" seru Bram panik sambil berlari menghampiri mereka. "Aku baru saja mau menyuruh anak-anak kru menyisir hutan! Untung kalian tidak apa-apa!"
"Kami hanya berteduh di gua kecil tak jauh dari sini, Kak Bram. Maaf membuat khawatir," jelas Yeza dengan nada tidak enak.
"Ah, syukurlah kalau kalian aman. Ya sudah, semua barang sudah masuk bagasi. Kru yang lain juga sudah beres-beres. Ayo kita langsung pulang sekarang sebelum jalanan luar kota semakin gelap dan berkabut," ajak Bram sambil membukakan pintu mobil.
Max dan Yeza segera masuk ke dalam kabin mobil yang hangat. Begitu mobil MPV hitam itu melaju meninggalkan kawasan hutan pinus, Yeza menatap keluar jendela. Lewat kaca spion, ia bisa melihat mobil yang ditumpangi Jeff bergerak ke arah yang berbeda. Ada rasa lega yang luar biasa di hatinya; hari terakhir pemotretan telah usai, dan masa lalunya benar-benar tertinggal di belakang.
Perjalanan pulang ke Jakarta berlangsung dalam keheningan yang menenangkan. Bram sibuk menyetir membelah kabut malam, sementara di kursi tengah, Max dan Yeza duduk berdampingan.
Meskipun mereka tidak lagi saling berbicara atau bersentuhan seperti saat di dalam gua tadi, ada sebaris kedekatan baru yang tak kasat mata di antara mereka. Yeza melirik Max yang kini telah memejamkan matanya di sampingnya. Di bawah pelukan jaket hangat milik sang aktor yang masih melekat di tubuhnya, Yeza tahu bahwa setelah malam ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Perjalanan panjang membelah kemacetan malam dari pinggiran kota akhirnya berakhir saat mobil MPV hitam yang dikemudikan Bram memasuki pelataran parkir basemen apartemen mewah mereka. Keheningan yang menenangkan di dalam mobil perlahan berganti dengan debaran antisipasi saat Yeza dan Max melangkah beriringan memasuki lobi VIP.
Malam sudah sangat larut ketika mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift yang sama. Angka digital di atas pintu lift bergerak naik dengan cepat, membawa mereka kembali menuju lantai sepuluh. Suasana di dalam lift terasa sunyi namun hangat, sisa dari kedekatan tak kasat mata yang terbangun di dalam gua hutan pinus tadi sore.
Ting!
Suara denting lift bergema lembut saat pintu berdinding kaca es itu bergeser terbuka, menampilkan lorong apartemen lantai sepuluh yang sepi dan diterangi lampu temaram yang elegan.
Max melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti oleh Yeza di belakangnya. Namun, baru dua langkah Max berjalan menelusuri lorong menuju unit 10A, langkah kaki pria tegap itu mendadak berhenti total. Tubuhnya menegang seketika.
Yeza yang berjalan di belakang hampir saja menabrak punggung lebar Max. Ia mengernyitkan dahi bingung, lalu mengintip dari balik bahu Max untuk melihat apa yang membuat bosnya itu mematung.
Di ujung lorong, tepat di depan pintu unit apartemen milik Max, berdiri seorang wanita.
Wanita itu tampak sangat modis dan elegan, mengenakan trench coat berwarna krem yang mewah khas gaya busana Eropa Timur, dengan sebuah koper glamorous berukuran sedang di sampingnya. Begitu mendengar suara langkah kaki, wanita itu membalikkan badannya. Wajahnya yang cantik dengan riasan minimalis namun tegas langsung terlihat jelas di bawah terpaan lampu lorong.
Detik itu juga, napas Yeza seolah tertahan di tenggorokan.
Wajah wanita itu sangat familiar. Wajah yang sama yang beberapa bulan lalu memenuhi laman berita gosip dan media sosial di seluruh negeri. Wanita misterius yang sempat diisukan sebagai tunangan Max yang membatalkan pernikahan demi pergi ke Paris.
"Max," sapa wanita itu dengan suara yang terdengar renyah, senyum manis langsung terkembang di bibirnya saat melihat Max.
Max mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Suasana lorong yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh ketegangan.
"Laura?" ucap Max dengan suara baritonnya yang terdengar sangat rendah dan dingin, menyebut nama wanita yang baru saja mereka bahas dalam obrolan intim malam sebelumnya. "Kenapa kamu ada di sini?"