Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Nama Wicaksana di Mulut Bunga
Kasus ini aneh.
Bunga tidak tahu ada seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kosnya dan memikirkan kalimat itu. Ia hanya tahu dua hari setelah tea gathering, undangan baru datang dari grup kecil socialite yang sekarang mulai menerimanya sebagai hiburan sekaligus ancaman.
Acara itu disebut luncheon amal.
Di dunia Bunga dulu, makan siang berarti nasi, lauk, dan perut kenyang sampai malam. Di dunia mereka, makan siang berarti ruang hotel butik yang wangi, meja bundar dengan kartu nama, tas-tas mahal digantung di kursi, dan perempuan-perempuan yang bisa tersenyum sambil menghitung siapa duduk di sebelah siapa.
Bunga datang bersama Melati.
"Kalau Ratih mulai lagi, aku potong," kata Melati sebelum mereka masuk.
"Jangan potong terlalu cepat. Nanti kelihatan aku tidak bisa bicara."
"Kamu bisa bicara. Masalahnya, Ratih suka membuat orang bicara sampai salah."
Rangga berkata, "Melati membaca situasi dengan baik."
"Aku dengar kamu memuji aku," bisik Bunga.
Melati menoleh. "Apa?"
"Aku bilang, kamu cantik hari ini."
Melati menatapnya curiga. "Kamu pasti mau menyembunyikan sesuatu."
"Itu sudah jelas dari awal kita kenal."
Mereka masuk.
Ratih sudah duduk di meja tengah, bergaun putih dengan bros kecil di dada. Wajahnya cerah. Terlalu cerah. Di sebelahnya ada beberapa perempuan dari acara teh kemarin dan dua orang ibu yang dulu melihat Bunga ditumpahi anggur. Baskara berdiri di dekat jendela, berbicara dengan panitia acara. Ketika melihat Bunga, ia berhenti sebentar.
Matanya turun ke tangan Bunga.
Plester sudah diganti rapi.
"Sudah membaik?" tanyanya saat Bunga mendekat.
"Belum putus, jadi aman."
Melati menyikutnya pelan. "Jawab normal."
Baskara hanya menghela napas kecil. "Hati-hati hari ini."
Bunga menatapnya. "Dengan makanan atau orang?"
"Keduanya."
Ia tidak menambahkan apa pun, tetapi pandangannya bergerak ke Ratih. Bunga menangkap peringatan itu terlalu terlambat untuk pergi.
Acara dimulai dengan sambutan pendek tentang pendidikan anak, donasi, dan dampak sosial. Bunga mengikuti tepuk tangan, menahan lapar, dan menjawab obrolan ringan seperlunya. Ia hampir percaya hari itu akan lewat tanpa luka besar.
Lalu Ratih berdiri.
"Sebelum sesi komitmen donasi," katanya dengan senyum manis, "aku ingin mengapresiasi teman baru kita. Bunga beberapa hari ini banyak dibicarakan, ya. Mulai dari keberanian menyelamatkan anak kecil sampai latar keluarganya yang... sangat menarik."
Tepuk tangan kecil terdengar. Ada yang tulus, ada yang penasaran.
Bunga merasakan punggungnya mengeras.
Rangga berkata, "Tenang."
Melati langsung berbisik, "Ratih."
Ratih pura-pura tidak mendengar. "Kemarin aku sempat bertanya, tapi mungkin suasananya terlalu kecil. Banyak yang penasaran juga. Bunga, boleh cerita sedikit? Keluarga militer Jawa Tengah yang kamu sebut itu dari mana, ya?"
Ruangan berubah.
Tidak hening total. Lebih buruk. Semua orang tetap terlihat sopan, tetapi perhatian mereka berkumpul di tubuh Bunga seperti lampu panggung.
Bunga meletakkan garpu.
"Saya rasa cerita keluarga saya tidak terlalu relevan dengan acara donasi, Ratih."
"Justru relevan," jawab Ratih lembut. "Di acara seperti ini, kepercayaan penting. Kita semua membawa nama keluarga. Kalau ada yang masuk lingkaran ini dengan cerita yang tidak jelas, bukankah lebih baik diluruskan?"
Beberapa mata berpindah ke Melati. Melati sudah membuka mulut, tetapi Bunga menyentuh pergelangan tangannya di bawah meja.
Jangan dulu.
Rangga berkata, "Pakai jawaban kedua."
Bunga menarik napas. "Saya tidak pernah bilang keluarga saya nama besar. Kalau Ratih mencari nama besar, wajar tidak ketemu."
Ratih tersenyum seolah sudah menunggu jawaban itu.
"Aku memang tidak mencari nama besar. Aku mencari nama yang ada. Dan beberapa orang yang cukup mengenal jaringan purnawirawan Jawa Tengah tidak menemukan satu pun keluarga yang cocok dengan Bunga Lestari."
Bisik-bisik mulai bergerak.
Bunga merasakan telapak tangannya lembap.
Ratih melanjutkan, "Mungkin kamu bisa menyebut nama orang tua? Atau kesatuan? Atau sekolah? Apa saja supaya kami tidak salah paham."
"Kami?" suara Melati mulai naik. "Ratih, ini bukan pemeriksaan."
"Aku tidak memeriksa. Aku menjaga lingkaran kita."
Kata lingkaran kita membuat Bunga ingin tertawa. Sejak kapan lingkaran yang belum pernah memberinya kursi punya hak menjaga pintu?
Namun tawa itu tidak keluar.
Karena Ratih mengangkat ponselnya.
"Aku bahkan punya jawaban dari beberapa pihak. Mereka bilang tidak ada. Jadi, Bunga, kamu sebenarnya siapa?"
Pertanyaan itu jatuh tepat di pusat tubuhnya.
Untuk satu detik, semua aturan yang ia tulis di buku catatan menghilang. Jangan murah hati dengan informasi. Jangan terlalu defensif. Gunakan rasa tidak nyaman. Jangan menyebut detail. Semuanya pecah seperti kaca. Yang tersisa hanya meja hotel, wajah-wajah menunggu, dan Ratih yang tersenyum karena sudah menemukan lantai retak.
Rangga berkata, "Bunga."
Ia tidak bisa menjawab.
Jari-jarinya dingin. Lidahnya terasa kering. Di telinganya, suara ruangan menjauh. Ia melihat bibir Ratih bergerak lagi, melihat Melati berdiri setengah, melihat Baskara berjalan mendekat, tetapi semuanya seperti dilihat dari dalam air.
"Bunga, saya bisa membantu."
Tidak.
Ia ingin mengatakan tidak, tetapi mulutnya tidak bergerak.
"Bunga, kalau kamu jatuh sekarang, semuanya selesai."
Tubuhnya terlalu lambat.
Kesadaran Rangga menyentuhnya seperti tangan yang masuk ke ruangan gelap. Tidak kasar pada awalnya. Hanya dorongan. Lalu dorongan itu menjadi kendali.
Bunga merasakan punggungnya tegak.
Tangannya berhenti gemetar.
Napasnya berubah, lebih panjang, lebih terukur, bukan napasnya.
Ketika mulutnya terbuka, suara yang keluar masih suara Bunga, tetapi cara menyusun kata-katanya bukan milik Bunga.
"Ratih," katanya, tenang sekali, "kalau kamu ingin mempermalukan seseorang, setidaknya gunakan data yang benar."
Ruangan membeku.
Melati menatap Bunga dengan mata membesar.
Ratih tersentak sedikit, lalu tersenyum lagi. "Oh? Jadi dataku salah?"
"Kamu mencari keluarga inti di Jawa Tengah. Kamu bertanya pada jaringan yang suka mengukur orang dari nama makan malam dan grup WhatsApp. Itu bukan penyelidikan. Itu arisan dengan rasa intelijen."
Seseorang tertawa tertahan, lalu cepat menutup mulut.
Wajah Ratih memerah tipis. "Hati-hati, Bunga."
"Saya sedang hati-hati. Karena itu saya tidak menyebut nama orang yang sudah wafat hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu kamu."
Bunga, dari bagian dalam tubuhnya sendiri, merasa seolah sedang berdiri di belakang kaca. Ia bisa melihat, bisa mendengar, tetapi tidak bisa mengangkat tangan. Ketakutan berubah bentuk menjadi marah.
Rangga terus berbicara melalui mulutnya.
"Kamu bilang tidak ada keluarga yang cocok. Wajar. Hubungan lama keluarga saya tidak tercatat di daftar sosial yang bisa kamu screenshot. Ada jalur pendampingan keluarga purnawirawan dan bantuan hukum lama yang pernah bersinggungan dengan Wicaksana. Nama-nama seperti itu tidak disebarkan untuk bahan gosip."
Nama Wicaksana jatuh ke ruangan seperti gelas kristal pecah.
Bisik-bisik berhenti.
Baskara juga berhenti melangkah.
Ratih menatapnya, kali ini tanpa senyum sempurna. "Wicaksana?"
"Ya," jawab Bunga dengan suara Rangga yang dingin dan rapi. "Kalau kamu punya akses yang cukup, silakan tanyakan. Tapi kalau kamu hanya punya potongan obrolan dari orang yang ingin terlihat tahu, jangan jadikan itu palu untuk memukul orang di depan umum."
Ratih membuka mulut, tetapi tidak langsung punya kata.
Salah satu ibu di meja sebelah berbisik, "Wicaksana Group?"
Yang lain menunduk ke ponsel.
Dalam lingkaran itu, nama Wicaksana bukan sekadar nama keluarga. Itu gedung tinggi, yayasan, kontrak, pengacara, rumah sakit, dan undangan yang tidak semua orang pernah lihat. Tidak ada yang berani menertawakan nama itu tanpa memastikan siapa yang sedang mendengar.
Ratih berusaha kembali menyerang. "Kalau benar ada hubungan dengan Wicaksana, kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena saya tidak memakai nama orang lain sebagai perhiasan," jawab Rangga melalui Bunga. "Berbeda dengan sebagian orang yang membawa daftar kenalan seperti membawa daftar harga diri."
Serangan itu halus, tetapi cukup dalam.
Melati menutup mulut. Baskara menatap Bunga seolah baru melihat orang asing memakai wajah yang ia kenal.
Ratih akhirnya menurunkan ponselnya.
"Aku hanya ingin memastikan," katanya, lebih pelan.
"Sudah. Sekarang mari kembali ke acara amal. Anak-anak yang katanya ingin dibantu mungkin lebih membutuhkan perhatian daripada asal-usul saya."
Tidak ada yang bisa membantah kalimat itu tanpa terlihat buruk.
Panitia acara bergerak cepat, terlalu lega mendapat jalan keluar. Sambutan berikutnya dimulai dengan suara agak gemetar. Kursi-kursi kembali berderit. Orang-orang pura-pura membaca brosur donasi.
Bunga tetap duduk tegak sampai perhatian ruangan benar-benar pindah.
Lalu kendali itu lepas.
Ia hampir tersungkur.
Melati menangkap lengannya. "Bunga?"
"Toilet," bisik Bunga.
Melati langsung membantunya berdiri. Baskara melangkah seperti ingin ikut, tetapi Melati menatapnya dengan tegas.
"Aku bisa."
Di toilet hotel yang dingin dan wangi bunga sintetis, Bunga mengunci pintu bilik paling ujung. Begitu sendirian, ia menekan kedua telapak tangan ke dinding marmer. Tubuhnya miliknya lagi, tetapi rasanya seperti baru dikembalikan setelah dipakai orang lain.
"Bunga," kata Rangga.
"Diam."
Suara itu keluar gemetar.
Rangga diam.
Bunga menatap tangannya. Tangan itu tadi bergerak tanpa izin. Mulut itu tadi bicara tanpa izin. Punggung itu tadi tegak bukan karena ia memilih tegak.
"Kamu pakai tubuhku."
"Saya minta maaf."
"Kamu pakai tubuhku, Rangga."
Kali ini ia menyebut namanya, bukan Tuan, bukan suara di kepala, bukan sekutu. Nama lengkap kemarahannya.
"Maaf," kata Rangga lagi, lebih rendah. "Tapi kalau saya tidak bertindak, semua yang kamu bangun bisa selesai di ruangan itu."
"Itu tidak membuatnya jadi milikmu."
Hening.
Di luar bilik, air keran menyala sebentar lalu mati. Sepatu seseorang masuk, berhenti, lalu keluar lagi setelah melihat bilik terkunci terlalu lama.
"Saya tahu," kata Rangga akhirnya.
"Tidak. Kamu baru tahu karena aku marah." Napas Bunga patah. "Aku sudah kehilangan rumah, Nenek, nama baik yang bahkan belum sempat kupunya. Jangan ambil tubuhku juga."
Kalimat itu membuat kesunyian di kepalanya terasa berat.
Ketika Rangga bicara lagi, suaranya tidak membawa logika. Hanya penyesalan.
"Saya salah."
Bunga memejamkan mata.
Ia ingin terus marah. Ia pantas marah. Namun di balik amarah itu ada fakta lain yang tidak bisa ia buang: Rangga menyelamatkannya. Ratih hampir menguburnya hidup-hidup di depan semua orang, dan Rangga menariknya keluar dengan satu nama yang cukup besar untuk menjadi payung.
Itu membuat semuanya makin menyebalkan.
"Lain kali," kata Bunga pelan, "bilang dulu."
"Bahkan dalam keadaan darurat?"
"Apalagi dalam keadaan darurat."
Rangga tidak langsung menjawab.
Lalu, sangat pelan, ia berkata, "Baik. Lain kali saya bilang dulu."
Bunga menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, membuka kunci bilik, dan melihat wajahnya sendiri di cermin. Masih wajah yang sama. Bedanya, sekarang ia tahu wajah itu bisa menjadi medan perang.
Di luar toilet, Melati menunggu dengan cemas.
"Kamu tidak apa-apa?"
Bunga menarik napas. "Tidak. Tapi aku masih bisa jalan."
Melati mengulurkan tangan.
Bunga menerima.
Di dalam kepalanya, Rangga tidak berkata apa-apa lagi.
Untuk sementara, diamnya adalah bentuk izin yang paling bisa Bunga terima.