Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Malam akhirnya turun.
Rumah Besar Sie tidak mematikan lampu utama. Dari luar, rumah itu tetap terlihat seperti biasa, terang, mahal, dan aman. Di dalam, semua orang berjalan dengan suara lebih pelan.
Nana memakai jaket gelap yang diberikan Irwan. Rambutnya diikat rendah. Tas pengalih diletakkan di atas meja kecil di depannya. Bentuknya sama dengan tas Albert, hitam dengan pegangan kulit cokelat. Beratnya juga dibuat mirip.
"Jangan buka," kata Steven.
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, jangan jawab seperti mau membuktikan."
Nana menatapnya. "Kalau kau khawatir, bilang saja khawatir."
Irwan yang sedang memeriksa earbud pura-pura batuk.
Steven menatap Nana datar. "Aku khawatir kau membuat masalah tambahan."
"Itu hampir jujur."
"Itu sudah terlalu banyak."
Stella muncul di ujung lorong. Matanya merah, tapi ia memaksakan senyum.
"Aku tidak ikut mengantar karena katanya wajahku terlalu mudah dibaca," ujarnya.
"Xiao Liu..."
Stella memeluk Nana cepat. "Pulang. Itu saja. Jangan jadi pahlawan."
"Aku bukan pahlawan."
"Bagus. Pahlawan sering mati duluan."
Pelukan itu lepas sebelum Nana bisa menjawab. Stella mundur, menggenggam tangan sendiri agar tidak menarik Nana kembali.
Albert datang terakhir. Ia memakai jaket sederhana dan membawa tas asli di tangan kiri. Wajahnya tenang. Kalau bukan karena ancaman di kotak tadi, orang bisa mengira ia hanya hendak pergi membaca buku di tempat lain.
"Nana," katanya.
"Iya, Paman."
"Kalau di tengah jalan kau merasa ragu, pilih keselamatanmu. Tas bisa diganti. Anak manusia tidak."
Nana mengangguk.
Steven membuka pintu servis. "Berangkat."
Irwan memasangkan earbud kecil ke telinga Nana, lalu menekan bahunya sebentar agar ia tidak bergerak.
"Kalau sinyal hilang, jangan panik," katanya. "Toko kain punya dinding tebal dan banyak logam. Sinyal bisa putus beberapa detik. Kalau lebih dari satu menit, pakai aturan lampu. Kalau semua gagal, buang tas dan selamatkan diri."
"Kalau saya buang tas, misi gagal."
Steven menjawab sebelum Irwan, "Misi gagal masih bisa diperbaiki. Orang mati tidak."
Nana menatapnya, tapi Steven sudah menoleh ke pintu.
Mereka tidak memakai mobil mewah. Mobil pertama adalah van logistik kecil dengan logo katering lama yang sudah pudar. Albert duduk di belakang bersama Irwan. Nana duduk di kursi tengah, tas pengalih di pangkuan. Steven menyetir.
Tidak ada yang bicara pada sepuluh menit pertama.
Lalu Albert bersuara dari belakang, "Dulu aku sering lewat jalan seperti ini untuk membeli buku bekas."
Nana menoleh sedikit. "Malam-malam?"
"Siang. Malam aku terlalu penakut." Albert tersenyum kecil. "Orang sering mengira berani berarti tidak takut. Padahal menurutku berani itu tetap tahu takut, tapi tidak membiarkan takut memilihkan jalan."
Nana memegang pegangan tas lebih erat.
"Paman takut?"
"Sangat."
Jawaban jujur itu membuat Nana lebih tenang daripada semua peta Irwan.
Jalan servis di belakang rumah membawa mereka melewati gang perumahan tua, bengkel yang sudah tutup, dan toko kelontong dengan lampu neon berkedip. Nana menghafal belokan seperti biasa. Kiri setelah pos ronda. Kanan setelah tembok hijau. Lurus sampai bau gorengan hilang dan berganti bau kain lembap.
Ruko kain itu berada di deretan toko lama yang sebagian besar sudah tutup. Papan namanya pudar. Pintu depan setengah terbuka, lampu di dalam menyala kuning.
Irwan berbicara pelan, "Masuk lewat depan. Tukar tas di rak kain batik kanan. Tunggu lampu."
"Dua kali aman, tiga kali pintu belakang," kata Nana.
"Benar."
Steven mematikan mesin. "Jangan improvisasi kalau tidak perlu."
Nana membuka pintu. "Kalau perlu?"
"Pastikan kau masih bisa lari setelahnya."
Ia membawa tas pengalih masuk.
Toko kain itu penuh gulungan besar yang disusun sampai hampir menyentuh langit-langit. Bau kain baru, kamper, dan debu bercampur. Seorang penjaga tua duduk di dekat kasir, membaca koran seolah semua ini transaksi biasa.
Nana berjalan ke rak batik kanan.
Albert masuk dua menit setelahnya dari pintu samping dalam, seolah ia pelanggan lain yang baru keluar dari ruang ukur. Tas hitamnya ada di tangan.
"Kainnya bagus," kata Albert pelan sambil berdiri di sebelah Nana.
"Saya tidak tahu cara menilai kain."
"Lihat seratnya. Yang kuat tidak perlu berteriak."
Kalimat itu membuat Nana menoleh.
Albert tersenyum, lalu meletakkan tasnya di bawah rak. Nana menaruh tas pengalih di sampingnya. Gerakannya cepat, tetapi tidak terburu-buru. Tangannya masuk di antara dua gulungan kain, menarik pegangan kulit cokelat, menukar posisi, lalu mengangkat tas yang kini seharusnya palsu.
Selesai.
Pintu depan toko tampak tenang.
Nana menunggu lampu.
Satu kedip.
Dua kedip.
Aman.
Ia hampir melangkah ke depan ketika dari kaca etalase, ia melihat bayangan motor berhenti di seberang jalan. Pengendaranya tidak melepas helm. Lampu tokonya berkedip lagi.
Ketiga.
Darah Nana terasa turun ke kaki.
Entah lampu itu rusak, atau seseorang memaksa penjaga memberi tanda salah.
Albert masih di belakang rak. Jika Nana keluar lewat depan dengan tas palsu, pengejar mungkin mengikutinya. Itu rencana. Namun jika tanda sudah bocor, pengejar bisa menunggu pintu belakang juga.
Nana menatap penjaga tua.
Tangannya yang memegang koran bergetar sedikit.
Dipaksa.
Nana mengambil satu gulungan kain kecil, menjatuhkannya ke lantai. Suaranya cukup keras.
"Aduh, maaf!" serunya.
Penjaga tua menoleh. Albert juga menoleh. Dalam gerakan itu, Nana menendang tas palsu sedikit ke bawah meja kasir, lalu mengambil tas lain yang sama dari rak bawah. Tas cadangan. Irwan tidak menyebutnya, tapi toko seperti ini tidak mungkin hanya menyiapkan dua tas kalau Tim Lilin yang mengatur.
Tas cadangan lebih ringan.
Bagus.
Kalau ia salah, setidaknya yang ia bawa bukan tas asli.
Nana berjalan ke pintu belakang.
Lorong belakang sempit dan gelap. Bau air got naik dari saluran kecil. Di ujung lorong, harusnya Irwan menunggu.
Tidak ada Irwan.
Hanya seorang pria berjaket hujan berdiri di dekat pagar besi.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena helm masih terpasang. Tapi suaranya terdengar tenang.
"Tasnya."
Nana menggenggam pegangan tas lebih erat.
"Saya salah pintu," katanya.
"Tidak. Kau benar."
Pria itu melangkah maju.
Dari dalam toko, terdengar suara Albert memanggil pelan, "Nana?"
Nana tidak menoleh.
Kalau ia menoleh, pria itu akan tahu siapa yang ia lindungi.
Ia mundur satu langkah, menghitung jarak ke pintu belakang, ke pagar, ke tumpukan kardus kosong di sisi kiri.
"Tasnya," ulang pria itu.
Nana mengangkat tas sedikit, seolah takut.
Lalu ia melemparkannya ke arah kanan, bukan ke pria itu.
Pria itu refleks menoleh.
Nana berlari ke kiri.
Baru dua langkah, tangan pria itu menyambar ujung jaketnya dan menariknya keras ke belakang sampai napasnya tersangkut di dada, tajam dan mendadak sekali.