NovelToon NovelToon
Tomboy Insyaf

Tomboy Insyaf

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Chicklit / Tamat
Popularitas:55.9k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.

Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Libur Telah Tiba

Kicau burung nan merdu menyeruak masuk mengetuk gendang telinga. Panik hal lumrah yang akan terjadi pada hari biasa, namun kali ini beda kicau burung menjadi melodi terindah pengantar tidur panjang seorang gadis. Menggeliat mencari posisi nyaman, semakin menenggelamkan kepala dalam bantal empuknya. Semalam tidur lebih awal, namun bangun ingin lebih akhir. Aluna benar-benar memanfaatkan liburan sekolah dengan optimal.

Mematut diri di depan cermin, rasanya ada yang salah. Rambut Aluna mulai panjang, rambut lurusnya menyentuh bahu. Menyisir perlahan, Aluna dikejutkan dengan tangan ibunya yang tiba-tiba mengelus rambutnya lembut.

"Astagfirullah, ibu! Buat kaget, untung jantung belum jompo." Protes Aluna akan prilaku ibunya.

"Maaf-maaf, habisnya ibu gemas memanggil mu dari tadi di cuekin terus. Ibu terobos masuk ternyata sedang mengagumi diri sendiri ya. Ish, kau memang cantik, tak usah dilihat lama-lama nanti terpikat." Mawar mencolek pipi Aluna.

"Tidak, aku tidak memikirkan apapun." Seingatnya ibunya tidak pernah memujinya cantik seperti pagi ini.

"Sudah mengaku saja, bibitnya saja cantik diusia tua apalagi anak-anaknya." Bangga Mawar akan hasil cetakannya.

"Ku rasa ibu lupa minum obat, sana diminum dulu takutnya semakin menjadi." Canda Aluna.

Mawar menggelitik pinggang ramping Aluna. "Berani ya kau mengatai ibu sendiri."

"Hahah.....hahaha... hahahaha.....am..pun....Bu." Nyaris ngompol akibat kelitikikan.

"Hosh...hoshh...ibu mah." Kesal Aluna, bringsal sana sini seperti cacing kepanasan.

"Sudah jangan manyun begitu, jadi tak cantik lagi malah mirip bebek. Yok sarapan." Seru Mawar.

Aluna mengelus perutnya yang rata, ah benar juga dia belum sarapan. Melirik jam dinding seketika merinding, ini pukul sepuluh pagi. Aluna harus memastikan kenapa ibunya ada di rumah dan berkeliaran bebas di jam rawan ini. Operasi kedai di pasar banjir orderan di jam-jam menjelang makan siang, karena kebanyakan pedagang sarapan rapel makan siang. Tiba di meja makan, Aluna melihat Karin sibuk mengunyah, namun matanya berat menahan kantuk.

Usil sedikit sebagai seorang kakak adalah hal yang lumrah bukan, Aluna mengambil paha ayam milik Karin. "Emm, enak juga paha ayam krispi buatan ibu."

Matanya mulai meraba sekitar, kecurigaannya membuat bola mata membulat. "Kakak, kembalikan! Ih jangan di jilat! Ibu ayam ku di curi."

"Apasih dek itu banyak loh di piring, berlebihan sekali perihal ayam saja." Aluna memulai peperangan.

"Tahu masih banyak kenapa embat punya ku, kembalikan itu sudah aku jampi-jampi." Karin berusaha meraih paha ayam favoritnya dari tangan Aluna.

Aluna melumat bagian paha dengan sengaja. "Aduh tak sengaja masuk mulut."

"Ishh, menyebalkan." Karin melipat tangan dalam dada.

"Aduh-aduh ributnya kaya anak SD saja, ini paha masih banyak jangan berebut, heran bagian ayam itu ada banyak kenapa kalian sama-sama hobi makan paha. Nih lihat pahanya bahenol semua, dah jangan pada rebutan." Mawar pergi ke dapur lagi meninggalkan dua anaknya yang mulai perang rebut paha kembali.

"Bu kakak langsung ambil dua potong!" Adu Karin.

"Dih, sendirinya ambil tiga deng Bu." Aluna tak mau jadi bahan adu domba.

"Loh impas, adek ambil tiga yang satu punya adek udah raib di rebut kakak tadi." Karin masih dendam dengan paha ayam yang dicuri Aluna.

"Itu kan bekas mu tak utuh, tak masuk itungan." Aluna mengambil sisa dua potong paha di piring.

"Yakk, jangan rakus nanti gendut." Karin menarik lauk dalam piring Aluna.

"Sudahlah ini makan sendiri semuanya." Aluna berpura merajuk, menyerahkan lauk cuma-cuma.

Karin tak enak hati, meski paha ayam amat menggoda tapi kakaknya jarang-jarang makan bersama. "Maaf, ini kak kita makan bersama saja jangan berebut nanti jadi tak enak makanannya."

Aluna mengelus kepala Karin, entahlah sudah berapa lama dia tak melakukan itu. Rasanya begitu nyaman dan terasa dekat, hingga protes Karin merubah semuanya. "Yakkk, jangan lap minyak bekas ayam di kepala ku dong, baru keramas tau."

Kerusuhan berlangsung sengit, Mawar tak ambil bagian, dia bahagia sendiri dengan menata bekal rencana liburan mereka. Tak jauh, karena tak mungkin meninggalkan ayahnya yang koma seorang diri dalam tempo lama. Memutuskan menikmati liburan karena dipaksa oleh Bondan sekeluarga. Mawar merelakan kedua putrinya pergi bersama keluarga Bondan. Sedang dirinya masihlah harus merawat sang suami. Meski menunggu juga tak melakukan apa-apa, tapi setidaknya jika dilihat dekat membuat perasaan tentram.

Tin...tin..tinnn.... klakson terdengar santar sampai pintu dapur. Mawar bergegas membuka pintu depan karena anaknya sibuk dengan persiapan masing-masing. Dalam benak mawar orangtua Bondan tak akan mampir dan langsung berangkat, ternyata mereka malah turun semua dan ngampar bersama di ruang tamu.

"Ya Allah Bu banyak banget makanan yang disajikan, ini kita malah kaya mau seserahan manten." Riska selaku ibu dari Bondan.

Rahmat ikut berkomentar. "Bener, ini seperti dia gadis Bu Mawar di beri bekal makan satu bulan kedepan."

"Ah bapak dan ibu bisa saja kalau memuji seperti Bondan, nantikan dimakan bersama jadi dilebihkan sedikit siapa tahu suka dan ingin tambah." Tutur Mawar.

"Sudahlah kita makan disini saja, air liurku sudah tak mampu di bendung. Ini kenapa juga buntut ikan bakar pake nongol segala." Bondan mengintip semua bekal yang disiapkan Mawar.

"Heh seperti belum makan saja, sudah-sudah semakin lama disini semakin besar kemungkinan makanan di gasak Bondan. Ayo berangkat." Rahmat memukul tangan anaknya yang usil mencomot bakwan udang dalam kemasan kotak bekal.

"Bu Mawar kita terimakasih banyak ini, benar-benar merepotkan. Kita bawa ya Bu, ibu tenang aja Aluna dan Karin berlibur sebentar dengan kami." Riska cipika-cipiki dengan Mawar.

"Sama-sama bu, saya juga titip mereka ya Bu, kalau sampai nakal tolong jangan dimarah, cukup buang saja ke laut Bu." Canda Mawar.

"Astagfirullah, ibu tak boleh asal ngomong begitu dong." Protes Karin.

"Tau tuh, kaya nggak butuh anak pas masa tua ya dek." Kali ini Aluna akur dengan Karin.

"Biarin aja, biar di urus ubur-ubur pas udah jompo." Karin si pantas mengejek.

Pantai menyajikan pemandangan yang memikat, pantulan sinar mentari yang akan tenggelam menjadikan langit tampak jingga, merona dan menghangatkan bagi mata yang memandang. Semilir angin, deru ombak, dan keramaian sekitar menjadikan keseruan meningkat. Langit dan pantai yang seolah padu, melepas kepenatan diri, mengisi ulang energi dari alam untuk beberapa bulan ke depan.

"Lihat cantik bukan kalau sore hari." Riska mengajak Aluna mengobrol sembari menyiapkan semuanya.

Aluna yang sibuk menata piring dan sajian menoleh ke arah Riska. "Luar biasa Tante, terimakasih sudah mengajak kami."

"Iya, sama-sa...eh lihat, adikmu dan Bondan malah saling mendorong, lah...lah...lah..tuh kan kecebur, basah deh jadinya." Fokus Riska terbagi karena mengawasi anak-anak.

Hanya Aluna dan Riska yang menyiapkan makanan, Rahmat sibuk memancing, sedang Bondan dan Aluna main kejar-kejaran. Riska sudah mewanti-wanti sebelumnya, tak ada acara basah-basahan mengingat mereka datang sudah menjelang petang. Tapi namanya juga anak-anak, suka semena-mena mereka.

"Haduh biar ku marahi mereka." Riska bersiap untuk berdiri, namun tangannya di tahan Aluna.

"Tante bisakah biarkan mereka bermain kali ini? Aku sudah lama tak melihat Karin tertawa lepas seperti ini." Aluna memandang Riska dengan mata penuh permohonan.

Riska mengerjapkan matanya berkali-kali, dia hampir masuk dalam buai kesedihan Aluna. "Kalau kau yang meminta aku tak bisa menolak."

"Aw, Tante tidak pakai cubit pipi kan bisa." Protes Aluna yang pipinya habis di cubit gemas Riska.

"Et..ett....tidak bisa ini bayaran setimpal, hahahahha." Riska tertawa lepas.

Rahmat yang menoleh ke arah istinya ikut tersenyum melihat pemandangan itu. Riska mengidamkan punya anak perempuan, sayang Allah berkehendak lain. Rahimnya harus diangkat karena kanker. Riska sempat depresi, untunglah berangsur membaik karena kehadiran Aluna dan Karin. Sempat beberapa anak gadis di datangkan ke rumah keluarga Rahmat, namun tak ada yang berhasil mencuri hati Riska. Sedang Aluna, baru diceritakan Bondan di hari pertama masuk sekolah Riska sudah penasaran.

"Woahh, siapa yang sanggup menghabiskan semua ini?" Rahmat menyudahi acara memancingnya.

"Kita semua dong paman, eh mana ikannya sekalian Aluna bakar di pinggir pantai." Aluna mendekati Rahmat, memeriksa ember yang ditentengnya.

"Sayang sekali Aluna, tadi aku dapat ikan tuna indukan jadi ku lepas saja kasihan anaknya masih butuh ibunya." Sahut Rahmat.

"Eh Aluna jangan mau di bohongi, paman mu itu kalau mancing tak pernah dapat ikan, yang ada dia dapat hikmahnya saja." Riska mendumal.

"Hahahaha, sepertinya lain kali paman harus berguru dengan ayahku, dia pandai memancing semua jenis ikan." Pamer Aluna.

"Benarkah, aku harap ayahmu segera pulih." Rahmat mendoakan.

"Yasudah bersih-bersih dulu paman, Aluna panggil dua bocah tengil yang malah semakin kelayaban tak jelas." Mata Aluna memendar mencari keberadaan Bondan dan Karin.

Aluna tak tahu apa yang terjadi, yang jelas saat kakinya lelah mencari dia bertemu Bondan yang sudah tak mengenakan pakaian atasnya. Kaos yang ia kenakan saat berangkat di pegang Karin, untuk menutupi hidungnya. Belum lagi Bondan menenteng sendal mereka berdua, dan tubuh Karin yang di gendongnya.

"Kenapa?" Aluna khawatir.

"Adikmu sotoy, lihat hidungnya mimisan dan kakinya terkilir." Adu Bondan.

"Kok bisa, ayo cepat ke pondokan." Aluna mengambil beban di tangan Bondan agar lebih cepat sampai.

Tiba di pondokan yang di sewa orangtua Bondan, Karin langsung mendapat perhatian semuanya. Kakinya di bilas air tawar, badannya di bersihkan.

"Aih kau ini bagaimana sih Bondan, mama suruh apa? Jangan lari-lari, tuh kan Karin jadi jatuh." Murka Riska.

"Eh.. Bondan kenapa tidak menyahut?" Riska yang sibuk dengan Karin menoleh ke belakang mencari anaknya.

"Yakk, siapa yang suruh kau makan duluan?" Riska semakin menjadi.

"Lapar ma, denger ocehan mama tambah lapar." Bondan sudah nyemil satu potong ayam bakar.

"Ish, jangan sentuh gurame asam manis, itu khusus buat mama dari mbak Mawar." Larang Riska karena sendok Bondan mulai menjajah semua hidangan.

"Sudah Tante ayo kita makan juga, Karin ini tak apa-apa, kakinya masih bisa jalan kok, Bondan saja yang lebay." Ajak Karin.

Santap bersama di tepi pantai sangat nikmat, pedas manis gurih membaur dalam satu kunyahan. Mereka bergembira dengan makanan yang di buat oleh Mawar. Hingga semua tandas tak tersisa.

"Ku kira tak mungkin habis, nyatanya kita benar-benar rakus." Komentar Rahmat disela-sela orang kekenyangan dengan berbagai gaya.

"Papa paling rakus, akan ku adukan pada Tante Mawar kalau aku tak kebagian pempeknya." Bondan masih saja membahas empek-empek dari tadi.

"Hush tak sopan, tak bagus membicarakan makanan yang sudah masuk lambung." Rahmat menjitak Bondan.

"Aw sakit." Gerutu Bondan.

Aluna bahagia sekali, melihat keluarga Bondan begitu mengistimewakan keluarganya. Jika diingat tak ada hubungan diantara keduanya. Keluarga Bondan juga tak punya hutang budi, tapi kehangatan keluarga itu mampu memeluk keluarga Aluna. Tali yang begitu kuat mengikat diantaranya, Aluna berharap kelak bisa membalas kebaikan-kebaikan Bondan.

Bersambung

1
Afriyeni
keren novel nya
Afriyeni
semangat untuk Alena 💪 like, komen, subscribe plus ⭐⭐⭐⭐⭐ +🌹 slm perkenalan 😘
Afriyeni
Hm teman laknat 😤
Afriyeni
emang bisa y, mati latihan dulu 🤭
Afriyeni
aku mampir, slm knl 🤗
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ: salam kenal kembali kak
total 1 replies
🔵Ney Maniez
bahagia sll restu aluna 🤗🤗🤗🤗
🔵Ney Maniez
udah tamat yaa,,,
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
🔵Ney Maniez
nyidammm
🔵Ney Maniez
sama kyk aku ank pertama, paksu jg ank pertama, ankku yg gede cucu pertama dari dua belah pihak,,
udah kayak rajaaa😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga do' a mu di dengar 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tenang Aluna udah hamil tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
🔵Ney Maniez
mudah2n Aluna hamil y🤲
🔵Ney Maniez
mama apa mana🤔🤔😂😂
🔵Ney Maniez
pkoknya riwehhhhh😂😂😂😂
🔵Ney Maniez
gercep y bondan😂😂💪💪
🔵Ney Maniez
asikkkk bondan,,, tak jd ma kknya ya adik nya ajj 😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kelakuanmu
🔵Ney Maniez
mudah2n bener Aluna hamil🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!