Menikah di masa muda karena perjodohan memang adalah hal klise. Namun, kenyataan nya hal klise seperti itu yang di jalankan oleh Dea Amelia Wijayanto. Mengubahnya menjadi gadis yang tidak terurus hanya karena mengurus seorang anak dan suami. Pengkhianatan menghancurkan hidup Dea.
Lucas Sandoro, suami yang dingin dan tak mencintai Dea. Kehidupan seperti apa yang sebenarnya pernikahan itu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Bab 17
_____________________
.
.
.
.
.
Mutia Wijayanto tak henti-hentinya memanjatkan doa agar sang ayah baik-baik saja. Lelaki tua itu di larikan ke Rumah sakit ,karena sakit jantungnya kambuh. Ani hanya duduk menatap kosong ke arah lantai dingin rumah sakit.
Dea melangkah setengah berlari menyusuri lorong Rumah Sakit. Ia mendapatkan kabar jika Papa masuk rumah sakit dari salah satu pembantu rumah itu menelfon. Dea keluar dengan baju tidur dan celana panjang.
"Bunda!" Seru Dea saat ia sampai di UGD.
Nyonya Wijayanto mendongkrak menatap wajah khawatir putrinya. Mutia menatap Dea dengan raut benci. Ani berdiri dan melangkah mendekati Dea dan memeluknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Bunda?" tanya Dea pelan.
"Penyakit Papa mu kambuh itu saja sayang," berbohong Ani lembut.
"Bunda!" Seru Mutia tak suka Ibunya berbohong.
"Sudahlah Mutia! Bunda tak ingin ada keributan saat ini di sini," pinta Ani sebelum Mutia membongkar apa yang terjadi sesungguhnya.
Melihat raut wajah tak suka dari Ibunya Mutia memilih bungkam dan melangkah pergi dari UGD. Ani melepaskan pelukannya dan menarik Dea duduk di bangku tunggu.
"Apa terjadi sesuatu hingga penyakit Papa kambuh?" tanya Dea yang masih penasaran.
"Nanti saja Bunda, jelaskan sayang. Bunda saat ini tak bisa mengatakan apa-apa pada mu!" Ucap Ani dengan nada lembut menggenggam tangan Dea dengan erat.
Dea tau jika sang Ibu benar-benar tak bisa berbicara banyak. Dan Dea mencoba mengerti akan hal itu.
"Kau datang dengan menantu, Lucas?" Tanya Ani menatap sekelilingnya karena baru sadar jika Dea datang sendiri.
"Kak Lucas lembur Bun, malam ini. Itulah kenapa aku datang sendiri," jawab yang tak bohong.
Lelaki imut itu mengatakan bahwa ia lembur dan pulang malam. Lucas tak mungkin pulang dengan wajah biru dan sudut bibir yang pecah bukan? Ia tak ingin Dea banyak tanya jadi dia memutuskan untuk menelfon Dea dan mengatakan dia pulang malam.
Dan syukurnya Dea percaya pada perkataannya. Di lain tempat Lucas melajukan mobilnya dengan cepat. Hanya karena panggilan dari Mutia yang menangis. Lucas melupakan janjinya pada Dea. Bahkan ia lupa jika dirinya tengah marah pada Mutia.
Lucas memarkirkan mobilnya di depan cafe di dekat Rumah Sakit. Lucas turun terburu-buru dan masuk ke dalam cafe. Di sudut cafe ia melihat gadis itu menundukkan wajahnya.
Lucas melangkah cepat menghampiri Mutia. Dan duduk di depan Mutia.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Lucas dengan suara lembut.
Mutia mengangkat wajahnya dan menatap Lucas dengan mata sendu. Mutia berdiri dari duduknya dan melangkah menuju bangku Lucas. Ia memeluk Lucas dengan erat. Lucas menepuk pundak Mutia dengan lembut. Wanita itu kembali menangis tampa suara.
Lucas tau Mutua sedang terpuruk. Karena ia bersama Mutia sudah sangat lama. Ia tau luar dalam diri Mutia. Terakhir kali Mutia menangis seperti saat ini adalah tujuh tahun yang lalu. Dimana ia menikah dengan Dea.
Merasa telah puas Mutia melepaskan pelukannya dari Lucas dan duduk di samping Lucas.
"Terimakasih telah datang Lucas," ucap Mutia dengan suara parau.
"Tentu saja aku datang, aku tau kau sedang terpuruk," balas Lucas jujur, "Apa terjadi sesuatu?" lanjut Lucas.
"Ya, Papa ku masuk Rumah Sakit serangan jantung karena bertengkar dengan ku, Luc!" jawab Mutia jujur.
Lucas mengangguk mengerti. Ia merogoh saku jas kerjanya dan memberikan Mutia sapu tangannya. Mutua menerimanya dan menghapus sisa air mata yang tergenang di pipinya.
"Kau taukan aku tak bisa melawannya. Bahkan aku tak bisa bertindak tegas waktu itu. Karena Papa ku masuk Rumah Sakit saat aku memintanya membatalkan perjodohanmu dan Dea. Agar ia menjodohkan aku denganmu. Tapi aku tak bisa berbuat banyak Lucas. Hingga kau juga harus menuruti permintaanku karena aku takut Papa akan meninggalkan aku dan Mama ku," jawab Mutia kembali membuka luka masa lalu.
"Ya, aku tau pengorbanan mu untuk Papa mu Tia. Papamu akan baik-baik saja jadi tenang saja." Ucap Lucas menggenggam tangan Mutia mencoba memberikan semangat.
Mutia tersenyum merasakan hangatnya genggaman tangan Lucas. Lelaki imut itu harus menikahi Dea karena paksaan dari Mutia. Karena Papa Dea masuk Rumah Sakit saat itu. Meski keluarga Lucas tak tau kenapa Tuan Wijayanto masuk Rumah Sakit.
Namun tidak dengan Lucas dan Mutia yang tau dengan pasti apa penyebabnya.
"Apa Dea berada di Rumah Sakit juga sekarang?" tanya Lucas pada Mutia tiba-tiba.
Karena Lucas baru ingat jika mertuanya masuk Rumah Sakit. Pasti Istrinya juga berada di rumah sakit saat ini. Mutia melepaskan genggaman tangan Lucas dari tangannya. Kecewa? Tentu saja. Sakit? Jangan di tanya lagi, itu lah yang sedang Mutia rasakan sekarang.
Lucas berdiri dari duduknya dan menatap Mutia dengan pandangan tak enak.
"Aku ingin bertemu Dea dulu. Aku tau dia juga pasti khawatir sama sepertimu," ucap Lucas sebelum berlalu pergi keluar Cafe tanpa mendengar jawaban dari Mutia. Wanita cantik itu tersenyum kecut melihat punggung Lucas tak terlihat lagi di kaca bening cafe.
Tak butuh waktu lama bagi Lucas sampai di ruang tunggu UGD. Mata Lucas menatap Dea dari jauh. Wanitanya itu tertidur di kursi tunggu. Di sana juga ada Ibu mertuanya yang tak kalah samanya keadaan nya dengan Dea.
Ke dua wanita beda usia itu tertidur dengan posisi duduk. Kepala yang bersandar di kepala kursi. Lucas mendekat dan mengelus pipi Dea pelan. Dea yang merasa terganggu pun membuka matanya perlahan. Ia menggerjab beberapa kali lalu baru lah mata bulat itu terbuka sempurna.
"Kak Lucas?" seru Dea serak khas orang bangun tidur.
"Jika kau mengantuk maka pulanglah Dea," tutur Lucas lembut.
"Tidak Kak! Aku akan menemani Bunda di sini," bantah Dea.
Ani yang merasa ada suara sedikit berisik membuka ke dua matanya perlahan.
"Kapan kau sampai, Lucas?" Tanya Ani menatap menantu imutnya itu.
"Baru saja, Bun!" jawab Lucas lembut.
Saat Dea akan mengeluarkan suara bertanya melihat ada lebam di wajah imut suaminya itu. Tak jadi karena Dokter keluar dengan ranjang tuan Wijayanto yang di dorong oleh Suster dan perawat lainnya.
Ke tiganya langsung menghampiri Dokter yang menanggani Budi.
"Bagaimana ke adaan suami saya Dokter?" tanya Ani pada sang Dokter dengan raut wajah khawatir.
"Syukurnya tuan Wijayanto baik-baik saja nyonya, saya minta agar suami nyonya tak di bebani dengan banyak beban pikiran," jelas sang Dokter tersebut.
"Terimakasih Dokter." Tutur Dea tersenyum lega.
"Sama-sama Nona, sekarang kami akan memindahkan Tuan Wijayanto keruangan inap," tutur Dokter.
Ke tiganya mengangguk dan mengucapkan kata-kata terimakasih. Dea dan Lucas di paksa pulang oleh nyonya Wijayanto. Mau tak mau Ke duanya terpaksa pulang karena paksaan Ani pada ke duanya.
* * *
Lucas masih memeluk Dea dengan erat. Dea mengerjapkan ke dua matanya mencoba mengatur cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Ia mendongak kan wajahnya menatap wajah Imut dan tenang sang suami.
"Aku tak tau kapan perasaan ini hadir Kak. Namun aku merasa semakin jatuh dalam pesona mu. Apa yang harus aku lakukan, Kak?" Tanya hati kecil Dea menatap wajah Lucas.
Tangan Dea membelai wajah Lucas dengan perlahan. Jari lentiknya menyentuh bulu mata Lucas yang lentik. Sekarang Dea baru tau kenapa bulu mata Bintang sangat lentik tak seperti bulu matanya. Anaknya mewarisi bulu mata sang suami.
"Apa kau akan tetap membelaiku sampai malam datang nyonya Sandoro?" ucap Lucas dengan suara serak dan ke dua mata tertutup.
Sontak saja Dea membulatkan ke dua bola matanya. Ia tak tau sejak kapan Lucas terbangun dari tidurnya. Lucas membuka ke dua matanya karena tak menerima jawaban dari Dea. Ia tersenyum hangat dan mengecup kilat bibir Dea.
"Morning Kiss." Ucap Lucas dan memeluk Dea lagi. Ia membuat wajah Dea terbenam masuk ke dalam dada bidangnya.
Dea masih diam entah karena terkejut dengan Lucas yang telah bangun. Atau karena kecupan kilat Lucas pada bibir ranumnya.
"Kenapa aku tiba-tiba menginginkan nasi goreng pedas dan jus mangga manis di pagi hari ya?" tnya Lucas heran karena keinginan anehnya. Terbukti dari kerutan di dahinya.
Lucas tersenyum lebar mendengar perkataan Lucas. Ia tau jika Lucas tengah mengidam menggantikannya. Dea melepaskan pelukan Lucas padanya. Dan langsung duduk di atas tempat tidur.
"Aku akan membuatkan nasi goreng super pedas dan juga Jus manga untuk Kak Lucas. Jadi Kakak mandilah lebih dahulu." Tutur Dea langsung turun dari atas tempat tidur.
Lucas masih merasakan perasaan aneh. Ia merasa perasaan marah yang tak terkontrol mulai dari kemarin. Buktinya ia menyerang Kris hanya karena menatap wajah Kris yang menurutnya menyebalkan.
Di lain tempat lelaki tampan itu menatap foto yang orang suruhannya . Ia tersenyum menyeringai menatap foto yang sangat bagus itu .
"Masa berlaku telah habis tuan Lucas Sandoro!" Tuturnya menyeringai.
.
.
.
.