Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Kabur
Dalton menuju rumah sakit, dia langsung menemui dokter yang berpengalaman di bidang syaraf. Karena syaraf tangan Dalton yang cacat melekat pada tangan besi yang kini hancur. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah besi itu harus dilepas agar tidak merusak jaringan syaraf yang ada.
"Saya tidak bisa membuat tangan besi yang melekat dengan jaringan syaraf ini, Saya hanya bisa melepaskannya," ucap Dokter syaraf
"Tidak masalah lakukan saja," ucap Dalton
"Oke saya akan mempersiapkan segalanya untuk tindakan operasi. Sungguh saya akui tekhnologi di Jepang sangat berkembang, Saya harus belajar lebih banyak dengan menggabungkan sains dan ilmu kedokteran," ucap Dokter sembari mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi.
"Pak... Tapi nanti malam Anda harus bertemu dengan Victoria. Apa bapak yakin akan menemuinya tanpa...maaf," ucap Megan memperingatkan dengan bisikan lalu Dalton langsung mengerti dan segera menjawab pertanyaan Megan
"Bilang saja tanganku terluka, dan kita akan menutupinya dengan membuat perban dengan bentuk lengan," sahut Dalton balas berbisik
Tak butuh waktu lama, dengan bantuan perawat serta suster, ruang operasi sudah siap. Dalton dan Megan pergi ke ruang operasi.
Megan menunggu di luar ruangan selama tindakan operasi sementara Dalton masuk kedalam dan dia sedang di bius lokal.
Pikiran Megan terus terbayang akan sosok penembak yang dilihatnya tadi. Ia berharap semoga penembak itu bukan Ayahnya. Sesungguhnya Megan tidak pernah tahu jika pekerjaan Ayahnya dari dulu adalah pembunuh bayaran. Jika dia tahu nanti apa yang akan Megan lakukan?
Megan terus menatap layar ponselnya, memantau informasi dari Rob, asisten Dalton yang sedang mengejar pelaku penembakan.
"Semoga mereka bisa menangkapnya segera. Seharusnya pak Dalton memiliki beberapa bodyguard di sampingnya. Jika ada yang mencurigakan mereka bisa langsung menangkapnya dengan mudah. Hemm salah apa ya Pak Dalton sampai memiliki musuh? Apa ini tentang bisnis?" gumam Megan berbicara sendirian sambil menatap ponsel
Di lain tempat, anak buah Dalton menangkap sosok yang sama persis dengan yang dia lihat sebelumnya di atap. Dengan mantel jas besar, topi bucket berlari mengejar bus
"Hei! itu dia disana!" teriak salah satu anak buah
Tiga Anak buah yang lain mendekati si peneriak dan ikut mengejar pria bermantel jas.
"Ahh sial bis itu meninggalkan ku," pekik pria bermantel
"Mau lari kemana kau!" ucap salah satu anak buah Dalton seraya menarik kerah mantel dari belakang
Yang lainnya datang memegangi bahu serta lengan pria bermantel itu
"Si-siapa kalian," ucap Pria bermantel dengan wajah yang berbeda, lebih muda dan dia tidak memiliki kumis ataupun brewok
"Shiit bukan dia!" ucap anak buah Dalton yang memegang lengan
Tak berapa lama Asisten Dalton datang menghampiri karena mengira pelaku penembakan sudah ditemukan.
"Kerja bagus," ucap Rob sebelum melihat wajah pria itu
"Kita salah orang," sahut salah satu anak buah Dalton yang memegangi bahunya
"Katakan dimana pemilik mantel dan topi ini?" tanya salah satu anak buah yang memegang kerah belakang
"Aku tidak tahu, dia memberiku mantel dan juga topinya. Dia juga memberiku uang jika aku langsung memakai barangnya. Itu saja selebihnya aku tidak tahu. Sumpah!" ucap pria itu seraya ketakutan. Pasalnya anak buah Dalton ada yang memegang senjata api. Pria itu pun dilepaskan
"Kita terkecoh," ucap Rob pada anak buahnya kemudian ia melihat pada pria itu dan bertanya lagi, "Kau lihat dia pergi ke arah mana?"
"Aku tidak tahu, dia mengusir ku dan teman-teman yang lain saat kami sedang nongkrong di gang kecil itu," ucap pria itu seraya menunjuk jalan tempat ia nongkrong sebelumnya.
"Aku habis dari sana dan tidak ada orang. Kita periksa lagi barangkali dia telah menyamar dan berganti penampilan," ucap Rob pada ke sempat anak buah Dalton.
"Kau....pergilah, maaf sebelumnya," ucap Rob pada pria muda bermantel itu
Rob menyuruh keempat anak anak buahnya mencari sekali lagi menelusuri jalan sekitar. Sementara dirinya pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian pastinya agar pengamanan makin diperketat.
.
.
.
Dalton yang masih terjaga melihat langsung tangannya yang sedang dilepaskan oleh rangkaian besi dan kawat yang terhubung. Tangannya di bius sehingga ia tidak merasakan apapun dari tangan, bahu dan dada bagian kanan.
Dokter sedikit berkeringat karena harus berhati-hati agar tidak merusak syaraf yang masih aktif.
35 Menit Kemudian, Dokter berhasil melepaskan tangan besi dan menutup lukanya kembali dengan jahitan menggunakan laser.
"Bius masih berjalan, sebaiknya Anda istirahat agar beberapa jaringan bekerja untuk menutup luka lebih cepat, setelah ini suster akan membawa Anda ke ruang perawatan," sahut dokter
"Saya akan beristirahat sejenak hingga sore karena malam harinya saya harus pergi,"
"Hemm baiklah saya akan memberikan obat pereda nyeri lewat suntikan saat anda akan pulang nanti," ucap dokter
Lampu operasi yang berada di luar ruangan telah padam, pertanda operasi telah selesai. Megan berdiri dan ingin segera bertemu dengan Dalton untuk memastikan kondisinya.
Begitu suster membuka pintu ruang operasi, Megan langsung menghampirinya.
"Bos, bagaimana keadaan mu?" tanya Megan
Dalton berbaring di ranjang brangkar dan suster mendorongnya menuju kamar perawatan
"Kau belum pulang? Untuk apa menungguiku," sahut Dalton, Megan ikut mengantar
"Hmm ku pikir aku di ajak kemari untuk menemanimu bos,"
"Kau kembalilah bekerja, jangan lupa hutangmu harus dibayar jadi bekerjalah yang benar," ucap Dalton sedikit dingin.
Kemudian Megan menghentikan langkah, "Huff tahu gitu aku langsung pulang saja tadi," gerutu Megan namun masih didengar oleh Dalton.
Sesungguhnya Dalton merasa tidak percaya diri jika harus memperlihatkan fisiknya yang tidak sempurna. Sejak lahir, tidak memiliki tangan hingga batas siku, sering dibully teman sebaya dan tidak ada teman yang mendekat padanya. Terlebih seorang wanita. Itu saat dirinya tidak memiliki apapun.
Perubahan terjadi saat Dalton menjadi kaya. Kekayaan yang dimilikinya, dapat menutup rapat mulut seseorang yang suka menghina. Dan semakin tinggi kekuasaannya, semakin banyak orang yang segan akan dirinya bahkan takut dan tidak berani mencari masalah.
Tetapi dalam hati yang terdalam, Dalton membutuhkan seorang teman bicara lawan jenis.
Pintu lift khusus pasien, mulai tertutup. Dalton akan dibawa ke ruang perawatan yang berada di lantai atas.
Seseorang menahan pintu itu dan memaksa untuk masuk ke dalam lift khusus pasien.