Demi hidup ayahnya Ruby rela menjadi istri Rai sang big bos mafia yang dingin dan kejam namun siapa sangka di balik sikapnya yang dingin dan kejam ternyata Rai adalah seorang yang manja dan juga sangat pencemburu. Mampu kah Rai meyakinkan Ruby tentang cinta nya?
Di tambah dengan Kisah Ken dan Kiran serta Dylan dan Dasya semakin memperlengkap keluarga Klan Loyard, bersama-sama mereka menjalani kehidupan dalam keluarga Klan Loyard yang menjadi mafia terbesar yang di pimpin oleh Regis.
Ini lah kisah cinta para Big Boss pemimpin Klan Loyard.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizca Yulianah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik ku
Ruby terlonjak kaget ketika alarm di ponselnya berbunyi.
Rai masih tertidur dengan memegang tangannya. Dia melepaskannya perlahan agar tidak membangunkan Rai, mematikan alarmnya dan menuju kamar mandi.
Dia mulai hafal apa pekerjaannya, bahkan sebelum pak Handoko naik dan memberitahunya untuk memasak Ruby sudah berada di dapur.
“ Menu hari ini telur gulung “ ucap pak Handoko memberitahu karena Ruby menatap tumpukan telur di atas meja.
“ Lagi ? “ tanya Ruby.
“ Perintah Tuan Muda, sekarang tuan muda hanya akan memakan telur gulung “ lanjut pak Handoko.
Lihatlah dia sudah seperti anak yang tidak pernah makan masakan ibunya saja, pikir Ruby.
Selesai memasak Ruby kembali ke kamar membangunkan Rai yang masih tertidur. Ruby menggoyangkan pelan pundaknya, tapi dia hanya menggeliat.
Cukup lama Ruby membangunkannya hingga akhirnya Rai membuka mata.
Rai bangun dan duduk bersandar pada sandaran kasur.
“ Ini minumlah susu, semalam tuan tidak makan apapun, perut tuan pasti lapar “ kata Ruby sambil menyodorkan segelas susu.
Rai tidak bisa menyembunyikan kekagetannya dari sikap Ruby. Dia membuang muka tapi tetap mengambil susu itu dan meminumnya sampai habis.
“ Anak baik, semoga tuan tumbuh sehat “ kata Ruby sambil mengelus kepala Rai.
“ Apa yang kau lakukan ?! Berani-beraninya menyentuhku “ jawab Rai ketus tapi diam-diam menyukai perlakuan Ruby padanya.
“ Aku ingin mandi “ lanjutnya dan berdiri menuju kamar mandi.
Inilah bagian yang paling di benci Ruby, bagaimana bisa Rai bersikap sesantai itu saat dia tidak mengenakan sehelai baju pun, dan meminta Ruby untuk menggosok punggungnya, bahkan mengeramasinya.
Oh tidak, mata perawanku telah ternoda olehnya, keluh Ruby.
Ruby memilihkannya setelan jas berwarna navi dengan dasi warna merah bata. Rai sudah bersikap seperti kaisar saat Ruby memakaikannya jas.
“ Kau sudah berlatih mengikat dasi ? “ Tanya Rai.
“ Tentu saja, saya berlatih sangat keras dan sangat menyakitkan “ jawab Ruby menekankan kalimatnya mengingat dia menerima banyak pukulan dari Vivianne.
Ruby akan memakaikannya dasi tapi Rai terlalu tinggi, dia mengambil balok kayu yang sebelumnya sudah dia minta persiapkan pada pak Handoko. Dia sudah memperhitungkannya.
Wajah mereka sekarang saling bertatapan, jantung Ruby berdegub kencang, wajahnya memerah lagi. Tubuhnya gemetar tanpa alasan.
Rai mengingat kata-kata Ruby semalam sebelum tidur, rupanya saat Ruby memberinya ucapan selamat malam Rai belum sepenuhnya tidur, dan dia merasa sangat bahagia ada seseorang yang begitu perhatian padanya meskipun dia memperlakukannya tidak baik.
Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal dia tidak mengalami mimpi buruk itu lagi.
Rai yang melihat Ruby merasa gugup kemudian memeluk pinggang kecil Ruby, wajah Ruby semakin memerah.
Dia bergegas memakaikan dasi, mengikatnya tidak terlalu rapi karena dia baru sehari mempelajarinya.
Tapi Rai tidak juga melepaskan pelukannya meskipun Ruby bilang sudah selesai. Wajah Rai semakin mendekat, tanpa sadar Ruby menutup mulutnya, menghindari serangan mendadak seperti sebelumnya.
Rai tersenyum melihat tingkah Ruby, kemudian dia mencium kening Ruby. Ruby yang kaget karena serangan mendadak kali ini di keningnya segera menurunkan tangan yang menutupi mulutnya, merasa malu sudah berfikiran yang tidak-tidak.
Saat bibir Ruby sudah tidak terlindung Rai segera menciumnya, mengigit bibir bawahnya.
Ruby mendorong Rai menjauh. Wajahnya bahkan sudah seperti terbakar karena merasa panas.
“ Aku melihat ayah melakukan itu setiap hari kepada ibu, dan ibu bilang itu hadiah dari ayah karena ibu sudah menjadi istri yang baik “ Ucap Rai menjelaskan.
“ Aku suka istri yang baik dan penurut seperti ibu “ lanjutnya melepaskan pelukan tangannya dari Ruby.
Hei sebenarnya apa yang kau pelajari waktu kecil, masa kecilmu sangat berbahaya. Semoga hanya sebatas ini yang kau tau. Ruby terkejut dengan penjelasan Rai.
Mereka berjalan keluar dari ruang ganti, kepala Ruby masih berputar-putar karena kejadian tadi. Lagi – lagi Rai berhenti di depan pintu secara tiba-tiba membuat Ruby menabrak punggungnya.
Rai berbalik dan Ruby mundur selangkah berjaga-jaga jika ada serangan ke dua.
“ Aah dan kau adalah milik , dan kedepannya jangan sungkan untuk bersikap baik kepadaku “ ucap Rai seperti baru teringat sesuatu sambil menunjuk pipi Ruby, berbalik lagi dan keluar dari kamar.
Cih seenaknya saja, aku Cuma ibu pengganti untukmu, sungkan ? Aku terpaksa asal kau tau, aku juga ingin hidup tenang di tempat ini. Dasar Tuan muda manja, dia pikir dunia berputar mengelilinginya. Pikir Ruby.
Rai berjalan menuruni tangga di ikuti dengan Ruby dibelakangnya, di meja makan Ken sudah duduk dan memulai sarapan karena pelayan sudah menyajikannya dari tadi.
Vivianne juga sudah menunggu Rai di bawah tangga, menyambut Rai dengan senyum sok manisnya dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Rai begitu Rai berada disampingnya, melirik sinis ke arah Ruby.
Ambil saja ambil, setelah urusanku disini selesai aku akan pergi dan hidup bahagia di luar sana, batin Ruby.
Vivianne menarik kursi untuk Rai, sudah seperti dia berperan sebagai istri yang baik. Dan dia duduk disebelah Rai.
“ Hey kakak ipar, apa kau yang memasak sup ini ? “ Tanya Ken setelah Ruby duduk di kursi sebelahnya.
“ Iya, aku rindu ibu ku jadi aku memasaknya, itu sup kesukaanku “ jawab Ruby. Semalam saat menceritakan dongeng untuk Rai, dia sangat merindukannya.
Ruby menyendokkan sup ke mangkok dan akan memberikannya kepada Tuan Rai. Tapi tangannya di tepis oleh Vivianne.
“ Hei Pelayan rendahan kau pikir Rai mau makanan sampah itu ? “ Ejek Vivianne dan dia mengambilkan Rai makanan yang hanya dimasak oleh koki.
“ Sudahlah jangan bertengkar di pagi hari “ Perintah Rai.
Mereka makan dalam diam tapi Ruby tau Rai tidak menyentuh makanannya sama sekali.
Ruby selesai makan dan beranjak ke dapur, dia meminta pak Handoko melakukan sesuatu yang membuatnya terkejut namun tetap saja menurutinya.
Mobil dan sopir sudah bersiap menunggu di depan pintu utama, Ruby mengantar Rai. Vivianne masih saja bergelayut manja di lengan Rai, membuat Ruby merasa jijik dengan tingkah lakunya, tapi yang lebih membuat Ruby heran adalah sikap Rai yang seperti tidak keberatan dengan tingkah Vivianne.
Hati Ruby berdenyut sakit, bagaimanapun dia yang mengurusnya, tak bisa kah tuan Rai sedikit saja menjaga perasaan pengasuhnya itu.
Benar aku Cuma babysitternya, untuk apa harus menjaga perasaanku. Pikir Ruby.
Dia menunduk menghela nafas panjang.
Sopir sudah membukakan pintu untuk Rai, Ruby menundukkan kepalanya, ketika Rai akan masuk Vivianne memeluk Rai.
“ Rai apa dia yang mengikat dasi mu? Itu terlihat buruk, kemarilah akan ku perbaiki “ ucapnya dengan nada sinis melirik Ruby.
Ruby membuang muka tidak ingin melihat kejadian menjijikan itu, Rai menatap Ruby yang menghela nafas panjang dan tidak memperhatikan mereka.
“ Tidak perlu, ini hasil karya istri ku, aku harus menghargainya, itu yang di lakukan suami “ jawabnya saat Vivianne berusaha mengulurkan tangannya.
Ruby terkejut dengan pernyataan Rai, dalam hati dia tersenyum senang melihat Rai membela nya dan menghargai hasil kerjanya.
Rai memasuki mobil dan pergi melaju meninggalkan mansion itu, meninggalkan Vivianne yang geram menahan marah.
Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“ Cepat kemari “ perintahnya lalu menutup sambungan telfonnya.