Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Setelah merapikan ruang ganti (tentu saja mereka merapikan setelah jam kerja mereka selesai), ketiganya memutuskan untuk pergi ke kediaman Catherine.
Adrian dengan senang hati menjemput mereka. "Bagaimana kabarmu, Jemi?"
"Wah, tidak bisa dikatakan baik dan tidak bisa dikatakan buruk juga," jawab Jemima sekenanya.
Adrian hanya tersenyum. Biasanya perjalanan mereka hening dan sunyi, tetapi hari itu Jemima menanyakan tentang sesuatu kepada Adrian.
"Tuan Lopez, boleh aku bertanya?" tanya Jemima sopan. "Pertanyaan sedikit pribadi."
Adrian kembali tersenyum dan mengangguk kecil. "Apa yang mau kau tanyakan, Nona?"
Jemima melihat ke arah kedua temannya untuk meminta persetujuan.
Ketika mereka berdua mengangguk kecil, Jemima pun melanjutkan rencana bertanyanya.
"Apa kau dekat dengan Lily Wood, Tuan Lopez? Ah, maaf sebelumnya kalau pertanyaan ini agak pribadi," kata Jemima dengan berhati-hati.
Adrian kembali tersenyum, lalu memandang gadis itu melalui kaca spion tengah. "Ya, bisa dibilang kami cukup dekat. Apakah Nyonya Wood yang menceritakan ini kepada Anda, Nona?"
"Ya, sebelum nenek pergi. Kata nenek, Anda ingin bertanggung jawab atasku, tapi ayahku sudah lebih dulu datang dan mengakui apa yang dilakukannya," kata Jemima lagi.
Tidak ada kesedihan dalam suaranya, tetapi terdengar datar dan kecewa. Lalu, dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mungkin hidupku tidak seperti ini kalau kau yang menjadi ayahku dan mungkin ibuku tidak akan ditelan oleh ruang aneh itu."
Seisi mobil itu kemudian senyap. Semuanya terdiam dan merasa kesedihan Jemima. Walaupun gadis berusia 25 tahun itu tidak tampak sedih.
"Aku juga akan senang menerima Anda sebagai putriku, Nona." Adrian memecahkan keheningan, lalu tersenyum.
Pria itu menggenggam tangan Jemima, seolah menguatkan dan menghiburnya.
Tak beberapa lama kemudian, mereka pun tiba di kediaman Catherine.
Aroma kayu oak menyambut kedatangan mereka. Kepala pelayan dengan senang hati membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk makan malam dan beristirahat.
"Aku senang sekali kalau berada di rumah nenekmu, Jem," bisik Ashley sambil menyeringai lebar.
Jemima tersenyum kecil. "Aku juga senang, tapi aku tidak terlalu dekat dengan nenek. Kecuali untuk membahas si ruangan aneh ini."
Setelah mereka makan malam dan berganti pakaian (sudah disiapkan oleh kepala pelayan), Catherine menemui mereka bertiga di ruang santai.
"Apa kabar cucu-cucuku? Kalian sehat?" tanya Catherine sambil membawa setoples kue jahe manis untuk camilan.
Jemima dan yang lainnya mengangguk. "Kami baik, Nek."
"Pasti ada cerita untukku, kan?" tanya Catherine lagi, senyumnya semakin sumringah.
Catherine meminta Jemima untuk duduk di sisinya. "Duduklah di sampingku, Jemi Sayang."
Jemima menurut dan berpindah ke sisi Catherine. Dia dapat memerhatikan kulit Catherine yang mulai lelah melawan usia.
Tangannya yang ternyata gemetar sedikit saat sedang tidak memegang apa-apa.
"Bagaimana dengan pengobatan Nenek? Apa sudah lebih baik? Aku lupa menanyakannya kemarin," tanya Jemima.
Lagi-lagi Catherine tersenyum. "Kalau aku belum baik, aku tidak akan berada di sini bersama kalian, dong. Hehehe."
"Kalian membawa cerita apa untukku?" tanya Catherine penasaran.
Jemima menyenggol lengan Kai dan Kai pun bercerita tentang bagaimana dia masuk ke dalam ruang ajaib dan bertemu dengan Lily.
"Dia berbicara?" tanya Catherine. Reaksinya sama seperti Jemima.
Kai mengangguk. "Ya, Nek. Nyonya Wood memintaku untuk menolongnya keluar dari sana."
Kening Catherine berkerut. "Ini di luar dugaanku. Ah, tapi itu hanya asumsi. Bagaimana denganmu, Jemi? Ada lagi yang ingin kau ceritakan kepadaku?"
Jemima pun mulai bercerita tentang pengalamannya di ruang ajaib dan pendapat pribadinya tentang cermin oval.
"Hmm, jadi kau merasa pantulan di cermin oval itu bukan dirimu? Bagaimana kau bisa berasumsi seperti itu?" tanya Catherine.
Jemima terdiam sesaat, lalu dia menjawab, "Karena ibuku sudah keluar dari cermin itu dan pantulan di cermin jadi hilang."
"Bagaimana dengan nenek Golda? Aku melihat pantulan nenek Golda di cermin bulat?" tanya Kai cepat.
Ruang tamu itu kembali sunyi. Hanya kadang terdengar suara serangga kecil yang berada di kebun belakang rumah Catherine.
"Hmm, kalau nyonya Lily keluar dari cermin, apa mungkin nenek Golda juga terperangkap di dalam cermin dan belum keluar?" tanya Ashley tiba-tiba, memecah suasana hening mencekam itu.
Kai menggeleng kuat. "Nenek Golda masih ada di dunia nyata, Ash. Setiap hari aku melihatnya."
"Kalau nyonya Lily, kan menghilang, tapi nenek Golda tidak menghilang! Tidak mungkin itu hantu yang menyamar menjadi nenek Golda, kan?" tanya Kai lagi sambil bergidik ngeri.
Ruangan itu kembali sunyi setelah perdebatan Ashley dan Kai.
Sampai akhirnya, Catherine mengambil keputusan cepat. "Aku ingin bertemu dengan nenekmu, Kai. Besok setelah kalian bekerja, antar aku ke sana."
"Aku memiliki firasat aneh, tapi semoga firasatku kali ini tidak benar dan nenekmu dalam kondisi baik-baik saja," lanjut Catherine lagi.
Jawaban itu membuat Jemima, Ashley, dan Kai saling berpandangan bingung. Apa maksud Catherine?
Selama ini Kai melihat nenek Golda selalu baik, tetapi mengapa Catherine memiliki firasat tidak baik tentang nenek Golda?
***