Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan pertama setelah pernikahan
Aneska duduk di depan Danish. Sebuah meja yang berdekatan dengan meja lainnya, menjadi pilihan keduanya. Dengan senyuman yang terus tersungging di bibir Aneska, membuat sudut bibir Danish juga ikut tersungging.
Tadi saat mereka baru saja duduk di meja ini, seorang waitress menghampiri, untuk menanyakan apa yang ingin mereka pesan.
Dan sesuai dengan rencana awal, Aneska ingin makan dengan Ayam Taliwang, pun begitu dengan Danish. Dan minuman yang mereka pilih, adalah jus naga.
Sebagai informasi saja, Aneska adalah penggila akut buah naga. Karena, buah yang berwarna ungu tua itu terasa sangat enak di lidahnya. Dan rasa manis itu terus menggoda Aneska, untuk terus mengingat rasanya.
Sedangkan Danish hanya mengikut saja. Sebenarnya dia ingin minum air perasan lemon hangat, hanya saja dia ingin mencoba apa yang Aneska sukai.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka akhirnya tiba. Dua porsi makan ayam Taliwang terhidang di depan mereka. Dan itu membuat selera makan Aneska menjadi mencuat.
"Ayo, dihabiskan. Daripada nanti dingin!" suruh Danish, saat melihat Aneska yang sedikit ragu memakan makanannya. Ia ragu karena berada didekat Danish.
Mendengar perkataan sang suami, akhirnya Aneska mengangguk. Ia memakan makanannya dengan lahap, dan itu membuat senyuman lagi-lagi tersungging dikedua sudut bibir Danish.
Danish akui, Aneska yang kini berada di depannya, terasa berbeda dengan Aneska yang dulu ia temui sebelum menikah. Bukan hanya soal penampilan tapi juga sikap.
Jika Aneska dulu berpenampilan terkesan terbuka, maka Aneska yang kini berada di depannya, terkesan tertutup. Dan juga, sifat malu-malu Aneska kini juga berbeda dengan Aneska sebelum menikah.
Danish menikmati makanannya dengan senyuman yang terus tersungging. Mengenal seseorang setelah menikah ternyata menyenangkan juga. Bahkan Danish kini sudah lupa dengan Zoya yang mendekam di penjara karena laporannya.
Dan move on jalur ilfil adalah cara yang paling ampuh. Karena memikirkan kalau Zoya memasukkan obat kedalam minumannya saja, membuat Danish berpikir kalau saja hal itu terjadi, ia yakin kalau dirinya bukanlah yang pertama.
Sedangkan saat dirinya terbangun dengan memeluk Aneska di pagi hari itu, ia tahu kalau itu adalah yang pertama bagi Aneska, karena Danish sendiri lah yang melihat buktinya diatas sprei tempat tidur.
"Suka?" tanya Danish saat melihat Aneska yang hampir menghabiskan makanannya.
Aneska mengangguk malu-malu, setelahnya ia lanjut makan lagi.
Setelah selesai mengisi perut yang tadinya kosong, dan hari yang kini sudah sore menjelang senja, Danish dan juga Aneska kini sedang berjalan-jalan dengan sepeda motor yang mereka sewa.
Mereka terus berkendara hingga tiba didekat kerumunan. Dan nyatanya itu adalah acara pasar malam yang akan digelar sebentar lagi.
Aneska menunjuk antusias kearah pasar malam itu. Kali ini dia bertingkah seperti bocah yang melihat banyak sekali mainan didepan mereka.
Wajar saja jika ia sangat tertarik, karena selama ini ia bahkan bisa dibuat tidak pernah datang ke tempat menyenangkan seperti ini. Hidupnya hanya tentang bekerja mencari uang untuk menghidupi dirinya dan juga ibunya.
Melihat Aneska yang antusias, Danish memarkirkan motornya. Kemudian ia menggenggam tangan Aneska untuk masuk kedalam pasar malam tersebut.
"Kamu bebas mau melakukan apa saja," ucap Danish saat melihatnya Aneska yang berbinar menatap stand Jasuke yang ada didepannya.
"Sungguh?" tanya Aneska bahagia.
Danish mengangguk. Ia tersenyum saat melihat Aneska yang berlari ke arah stand tersebut, dan memesan satu porsi Jasuke. Jagung Susu dan Keju yang dicampur menjadi satu.
Dalam hati, Danish tersenyum bahagia. Nyatanya, untuk membuat sudut bibir Aneska terangkat, tidak butuh hal yang sulit. Dan itu semua sangat berbeda dengan Zoya yang hanya ingin barang-barang branded yang sangat mahal.
Dan kali ini, Danish menganggap kalau jalan-jalan ini adalah kencan pertama antara dirinya dan juga Aneska.
Selama lebih dari dua Minggu lamanya, ia dan Aneska berstatus sebagai suami istri, Danish sangat jarang memiliki waktu berdua dengan istrinya itu. Terlebih saat dia sibuk mengisi jadwalnya, agar kepergiannya ini, tak diganggu oleh pekerjaan nantinya.
Setelah selesai membayar makanan pilihan Aneska, kini Danish menggandeng tangan Aneska menuju arena permainan. Meskipun belum dimulai, tapi tetap saja raut wajah antusias Aneska membuat Danish sangat bahagia.
"Anggap ini adalah kencan pertama kita setelah menikah," ucap Danish di telinga Aneska saat melihat wanita itu lahap memakan jasukenya.
Dan tanpa bisa dicegah, Aneska kemudian tersedak, membuat Danish panik. Ia menepuk pundak istrinya itu, tapi Aneska masih terbatuk-batuk. Hingga akhirnya Danish beranjak dari sana untuk membelikan minuman.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Danish kembali dengan sebotol minuman ditangannya. Dan Aneska juga sudah berhenti terbatuk, meskipun tenggorokannya terasa perih.
Sedangkan dalam pikiran Aneska saat ini, dia merasakan perasaan yang sangat bahagia. Jauh dari ibu kota negara, yang menjadi wilayah tempat tinggalnya, membuat kekhawatiran Aneska berkurang. Karena ia berpikir, kalau dirinya tak mungkin bertemu dengan Aresha disini.
Aneska menatap wajah Danish dengan seksama, membuat suaminya itu salah tingkah.
"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Danish bingung.
Kemudian, Aneska menggeleng mendengar pertanyaan itu. Tanpa Danish duga sama sekali, tiba-tiba saja kejadian tak terduga dialaminya.
Aneska, dengan berani tiba-tiba mencium pipinya, di tempat ramai ini. Di depan banyaknya orang yang berlalu lalang di sana. Membuat tubuh Danish menegang, dengan wajah yang memerah.
"Itu untuk hadiah kencan pertama kita setelah menikah," ucap Aneska, sebelum akhirnya ia bangkit dan pergi dari sana, meninggalkan Danish agar dirinya tidak merasa lebih malu lagi.
Danish yang di tinggal, masih seperti orang kebingungan. Hingga akhirnya ia tersadar dan mengejar Aneska.
"Ini harus diselesaikan, Sayang!" teriak Danish, yang semakin membuat Aneska memerah bak buah persik.
***
Happy reading!