Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tina
Sore harinya, Kasandra berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya.
Ia memilih gaun berwarna krem dan memoles wajahnya dengan riasan tipis.
Setelah merasa penampilannya sempurna, ia mengambil tas tangannya.
Sebelum keluar kamar, Kasandra mengambil ponselnya lalu menghubungi Jason.
"Jason, aku mau ke kafe yang ada di seberang kantor kamu, datanglah ke sana, ada yang ingin aku bicarakan dan aku tanyakan"
Suara Jason terdengar dari seberang telepon.
"Ok. Tunggu aku di sana, jangan ke mana-mana."
Kasandra tersenyum tipis.
"Aku tunggu."
Panggilan pun berakhir.
Tanpa berpamitan kepada siapa pun, Kasandra langsung keluar dari rumah.
Ia bahkan tidak memberi tahu Nisa bahwa ia akan pergi.
Dari balik jendela dapur, Nisa melihat mobil Kasandra perlahan meninggalkan halaman rumah.
Ia hanya mengembuskan napas panjang.
"Entah sampai kapan rumah ini dipenuhi kebohongan," gumamnya lirih.
Tatapannya kemudian beralih ke arah Agnes yang sedang tertidur pulas di dalam boks bayi.
Nisa menghampiri bayi kecil itu dan mengusap lembut pipinya.
"Yang sabar ya, Nak. Semoga suatu hari nanti semua kebenaran terungkap."
Beberapa saat kemudian, Kasandra tiba di sebuah kafe yang berada tepat di seberang gedung Alexander Group.
Dari balik kaca besar kafe itu, gedung perusahaan milik Fisya terlihat jelas.
Kasandra memilih duduk di sudut ruangan yang cukup sepi.
Dari tempat itu, ia dapat mengamati pintu keluar-masuk gedung Alexander Group tanpa menarik perhatian orang lain.
Seorang pelayan menghampirinya.
"Selamat sore, Kak. Mau pesan apa?"
"Satu cangkir kopi hitam tanpa gula," jawab Kasandra singkat.
"Baik, mohon ditunggu."
Pelayan itu pun pergi.
Kasandra menyandarkan tubuhnya di kursi sambil sesekali melirik jam tangan.
Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, menandakan kegelisahan yang sejak tadi ia rasakan.
Tak lama kemudian, secangkir kopi hangat disajikan di hadapannya.
Namun, Kasandra tidak langsung meminumnya, tatapannya tetap tertuju ke arah gedung Alexander Group.
Di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.
**Di mana Tina sekarang?**
Dan pertanyaan itulah yang membuatnya tidak bisa tenang sedikit pun sambil menunggu Jason datang menemuinya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Jason masuk ke dalam kafe, wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja.
Jason langsung duduk di hadapan Kasandra.
"Kamu kenapa ingin bertemu dengan ku mendadak? Bukankah aku sudah memberitahukan kamu tadi pagi"
Kasandra menatap Jason tanpa berkedip.
"Aku tidak bisa tenang setelah kamu telpon tadi pagi"
Jason mengembuskan napas panjang.
"Masalah Fisya lagi?"
"Iya. Masalah Fisya, dan juga Tina... anakku," jawab Kasandra tajam.
Jason kembali menarik napas panjang sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi sesaat kemudian, ia mengangkat satu tangan untuk memanggil seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka.
Pelayan datang menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Americano tanpa gula," jawab Jason singkat.
Setelah pelayan pergi, Kasandra kembali membuka pembicaraan.
"Jason..." panggil Kasandra
"Di mana Tina sekarang?" Tanya Kasandra
Jason menggeleng pelan.
"Aku belum tahu."
Kasandra langsung mengepalkan tangannya.
"Bagaimana mungkin kamu belum tahu?"
"Kamu sudah bertemu dengan Fisya, apa kamu tidak bertanya tentang Tina padanya?"
Jason menahan emosinya.
"Aku sudah mencoba bertanya tapi Fisya tidak mau menjawab keberadaan Tina dimana"
Kasandra memukul pelan meja di depannya.
"Aku ingin menemui Fisya sekarang juga."
Jason langsung menggeleng.
"Jangan."
"Kenapa?" Tanya Kasandra dengan tatapan tajam
"Karena kamu hanya akan membuat dia semakin curiga." Ucap Jason dengan penuh penekanan
Kasandra menggigit bibirnya.
"Aku hanya ingin bertemu Tina anakku"
Jason menatap Kasandra beberapa detik.
"Kas... Dimana pun Tina berada, dia tetap anak kandung kita."
Kasandra terdiam.
Jason melanjutkan.
"Fisya sangat menyayangi Tina, itu justru menguntungkan kita."
"Dia akan membesarkan Tina dengan pendidikan terbaik, memberikan kehidupan terbaik dan mempersiapkannya menjadi pewaris Alexander Group." Tegas Jason
"Suatu hari nanti... Semua itu akan kembali kepada kita." Lanjut Jason
Kasandra masih terlihat gelisah.
"Tapi bagaimana kalau Tina tidak pernah kembali?"
Jason menggeleng mantap.
"Itu tidak mungkin."
"Apa kamu yakin?" Tanya Kasandra ragu
Jason mengangguk.
"Ya aku yakin bahkan sangat yakin karena perusahaan Alexander sedang berkembang sangat pesat."
"Apalagi sekarang Fisya sudah menjalin kerja sama dengan Crown Empire Group."
Kasandra langsung mengangkat kepalanya.
"Crown Empire Group?"
"Iya." Jawab Jason
"Perusahaan terbesar itu?" Ucap Kasandra dengan wajah terkejut
"Benar." Jawab Jason
Kasandra masih tampak terkejut dan tidak percaya
"Bagaimana bisa?"
Jason menghela napas.
"Aku juga tidak tahu tapi kerja sama mereka sudah berjalan."
Kasandra mulai berpikir.
"Kalau begitu... Kekayaan Fisya akan semakin besar."
Jason tersenyum tipis.
"Itulah sebabnya aku tidak khawatir tentang anak kita Tina"
"Karena Tina sudah dipersiapkan menjadi pewaris."
"Semakin besar perusahaan Fisya... Semakin besar pula keuntungan yang suatu hari nanti bisa dinikmati Tina."
Kasandra akhirnya mulai tenang.
"Kamu benar."
Jason mencondongkan tubuhnya.
"Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah bersabar, jangan bertindak gegabah, seperti yang kamu bilang, kita harus waspada"
Kasandra mengangguk pelan.
"Tapi... Aku masih merasa takut."
Jason mengernyit.
"Takut apa?"
"Takut kehilangan Tina." Jawab Kasandra lirih
Jason menggeleng.
"Kamu tidak akan kehilangan dia."
"Percayalah."
"Kita hanya perlu menjalankan rencana seperti semula tapi kali ini kita harus lebih berhati-hati."
Kasandra menarik napas panjang.
"Iya."
Jason kemudian berkata dengan nada rendah.
"Dan satu hal lagi."
Kasandra menatapnya.
"Jangan sampai Fisya curiga pada kita"
"Kita harus bersikap seperti biasa dan kita harus memerankan peran masing-masing agar pandangan Fisya seperti dulu lagi terhadap kita"
Kasandra mengangguk perlahan.
***
Di sudut lain rumah...
Nisa sedang menggendong Agnes yang terus menangis pelan.
Ia mengusap punggung bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Sudah... jangan menangis lagi, Nak."
"Aku ada di sini."
Agnes perlahan terdiam.
Nisa menatap wajah mungil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau saja kamu tahu... Betapa besar rahasia yang menyelimuti hidupmu."
Ia memeluk Agnes lebih erat.
"Dunia mungkin belum berpihak kepadamu sekarang tapi aku berjanji.. Selama aku masih bekerja di rumah ini, aku akan menjaga dan menyayangimu semampuku."
Tanpa disadari Nisa... Ucapan itu menjadi awal dari tekadnya.
Ia mulai mengumpulkan keberanian untuk mencari tahu kebenaran dan ia juga siap untuk membela Agnes di kemudian hari