"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Breeemmm!
Suara deru mesin mobil berkapasitas besar mendadak memecah keheningan suasana pagi saat sebuah kendaraan mewah memasuki area halaman rumah baru mereka.
Arinda yang saat itu sedang membereskan piring bekas sarapan di dapur langsung tersentak kaget. Gadis itu buru-buru melangkah ke arah jendela untuk melongok keluar.
"Kak... ada mobil mewah warna hitam masuk ke halaman rumah kita?" gumamnya dengan kedua alis terangkat, mengamati mobil sport mengilat yang berhenti dengan sangat mulus di depan teras.
Repan yang masih santai duduk di sofa ruang tamu hanya melirik sekilas ke arah luar. "Oh, itu mobil yang Kakak borong kemarin."
Arinda langsung membalikkan badannya cepat, matanya membelalak.
"Kakak... beli mobil?!"
"Iya," sahut Repan santai sambil meregangkan kedua tangannya. "Dua unit sekaligus."
"Apa?! Dua unit?!" vokal Arinda meninggi karena syok.
"Kak! Itu sih namanya pemborosan banget!"
Repan hanya menyunggingkan senyuman tipis. Di dalam lubuk hatinya, ia bergumam, 'Aku juga tahu kalau ini pemborosan... tapi kan aku harus memutar otak untuk terus menghabiskan uang ini biar bisa mendulang poin lebih banyak dari sistem.'
Repan berdiri dari sofanya. "Ayo kita lihat mobil baru kita di luar."
Mereka berdua berjalan menuju teras depan. Di area parkir halaman rumah, dua unit mobil BMW MX berwarna hitam elegan dan biru tua sudah terparkir rapi. Desain bodinya sangat aerodinamis, bersih, dan memancarkan aura kemewahan kelas atas.
Pantulan sinar matahari pagi memantul sempurna di atas permukaan cat mobil, membuatnya terlihat laksana kendaraan yang baru saja keluar dari panggung pameran otomotif.
Di dekat unit mobil tersebut, seorang pria berbadan kekar berseragam petugas keamanan tampak berdiri tegap seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Selamat pagi, Tuan Besar," sapa pria itu takzim. "Tadi rombongan dari pihak showroom resmi mengantarkan dua unit mobil ini. Mereka mengonfirmasi kalau Tuan yang memborongnya secara tunai."
Repan memperhatikan perawakan pria kekar itu sejenak dengan dahi berkerut.
"Tunggu... bukannya petugas keamanan yang berjaga kemarin bukan kamu?"
Pria itu langsung memperbaiki posisi berdirinya menjadi tegap sempurna. "Ah, perkenalkan Tuan Besar, nama saya Yana. Saya adalah petugas keamanan kedua yang bertugas di kediaman ini."
Repan menganggukkan kepalanya pelan, berusaha mengingat alur informasi. "Lalu petugas keamanan yang berjaga kemarin ke mana?"
"Itu Pak Yono, Tuan Besar," jawab Yana dengan nada penuh kesopanan.
Repan memutar bola matanya pelan. 'Aneh-aneh saja... Yono, Yana... sebentar lagi siapa lagi nama petugasnya? Yona? Yuni?'
"Pak Yana," panggil Repan dengan intonasi serius.
"Saya butuh seorang sopir pribadi untuk mengantar jemput adik saya. Kalau bisa, cari sopir perempuan. Kamu punya kenalan yang bisa dipercaya?"
Yana mengangguk cepat tanpa ragu. "Kebetulan sekali ada, Tuan Besar. Namanya Yona. Dia mantan sopir pribadi keluarga kaya, jam terbangnya sangat andal dan saat ini kebetulan sedang mencari lowongan pekerjaan baru."
Repan menepuk jidatnya sendiri dalam hati. 'Benar kan tebakanku... Yono, Yana, Yona. Siapa sih yang bikin nama staf di rumah ini?'
"Ya sudah. Minta dia datang ke sini besok pagi. Mulai besok, dia resmi bertugas jadi sopir pribadi Arinda," putus Repan.
"Siap dilaksanakan, Tuan Besar!" jawab Yana penuh rasa hormat.
Sementara itu, Arinda yang sedang berjalan mengitari bodi mobil mewah tersebut sama sekali nggak sanggup menyembunyikan rasa takjubnya.
"Kak! Mobilnya keren banget! Ini pasti harganya mahal banget, kan?"
"Arinda, mobil ini nantinya bakal bertugas buat mengantar dan menjemput kamu ke mana pun kamu pergi. Kakak mau memastikan keselamatan kamu tetap terjaga," sahut Repan lembut sembari menatap wajah adiknya yang tampak gembira.
Namun, raut wajah Arinda mendadak berubah agak ragu. "Tapi Kak... aku agak malu kalau harus datang ke sekolah naik mobil semewah ini. Takut nanti teman-teman mengira aku sok pamer."
Repan menepuk pelan pundak adiknya dengan penuh afeksi.
"Mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan diri, Arinda. Ini semua demi keselamatan dan kenyamanan kamu sendiri. Kamu harus siap menghadapi berbagai reaksi pandangan orang luar."
Arinda akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Kak..."
Hari itu adalah hari Minggu, jadi tidak ada aktivitas sekolah. Udara pagi Kota Bogor terasa sangat segar, dan suasana di kediaman baru Repan diselimuti kedamaian.
Di bawah pendar sinar matahari pagi, dua unit mobil sport mewah di halaman rumah resmi menjadi simbol transformasi total kehidupan mereka berdua.
Sementara itu, di sudut Kota Bogor yang biasanya tenang, atmosfernya mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Raungan bising suara knalpot brong mendadak membelah keheningan udara pagi. Deru puluhan mesin sepeda motor saling bersahut-sahutan, memekakkan telinga dan memaksa warga sekitar mengintip keluar rumah dengan perasaan cemas.
Iring-iringan konvoi besar Geng GBA—komplotan berandalan motor yang terkenal brutal dan tanpa belas kasihan—tampak melesat cepat menyusuri lorong-lorong jalan kecil di sekitar area SMA Negeri 7 Bogor. Mereka bukan sekadar berjalan-jalan menikmati pagi.
Mereka sedang melangsungkan aksi perburuan liar. Dan target utama mereka sangat jelas: Repan dan adik perempuannya, Arinda.
Di persimpangan jalan tak jauh dari lokasi sekolah, Kicon—salah satu pentolan tinggi Geng GBA—mendadak menghentikan motornya lalu merenggut kasar kerah seragam seorang pelajar yang kebetulan melintas di sana.
"WOI! LO ANAK SMA NEGERI 7 BOGOR, KAN?!" teriak Kicon dengan raut wajah buas. "GUE TANYA, LO TAHU NGAK RUMAH SISWI YANG NAMANYA ARINDA?!"
Di belakang Kicon, puluhan anggota geng motor terus memutar tuas gas mereka, menciptakan raungan knalpot bising laksana dentuman bom mini di jalanan.
"A-ampun, Bang! Gue beneran nggak tahu di mana rumahnya Arinda!" jerit pelajar itu ketakutan setengah mati, dengan seluruh tubuh yang gemetaran hebat.
Kicon menatapnya dengan sorot mata yang menajam, seolah siap menelan hidup-hidup remaja di hadapannya.
"Beneran lo nggak tahu?! Mau gue bikin hancur muka lo, hah?!"
"BENERAN, BANG! GUE BENER-BENER NGAK TAHU!" tangis pelajar itu pecah karena ketakutan.
Tanpa rasa iba sedikit pun, Kicon menghempaskan tubuh pelajar itu hingga tersungkur ke atas trotoar jalan.
"SIALAN! Di mana sebenarnya rumah anak sekolah bajingan itu?!" umpat Kicon geram, napasnya memburu naik-turun karena emosi.
"Ayo, kita lanjut cari ke gang sebelah!" serunya seraya memantik kembali stang motornya.
Konvoi geng motor itu kembali melaju garang, dengan raungan mesin yang menggema laksana pertanda ancaman bahaya di sepanjang jalanan kota.
Di tempat terpisah, Jono petinggi Geng GBA lainnya tampak memimpin puluhan anak buahnya menyusuri lorong sempit yang ditengarai sebagai lokasi rumah kontrakan tempat tinggal Arinda dan kakaknya.
Mereka berjalan kaki membelah gang, namun aura teror pekat yang mereka bawa sukses membuat warga permukiman gemetaran ketakutan. Warga buru-buru menutup rapat jendela dan mengunci pintu rumah mereka dari dalam.
"WOI BANGSAT! KELUAR LO!" teriak Jono tepat di depan pintu kayu kontrakan lama Repan. Vokalnya menggema keras menembus lorong gang.
Hening. Sama sekali tidak ada respons maupun sahutan dari dalam. Hanya terdengar deru napas tertahan dari warga sekitar yang bersembunyi mengintip dari balik tirai jendela.
"JANGAN NGUMPET LO! GUE TAHU INI RUMAH LO, KELUAR SEKARANG ATAU RUMAH LO GUE HANCURKAN SEKALIAN!" gertak Jono lagi dengan mata melotot murka.
Karena kehilangan kesabaran, Jono melirik ke arah dua orang anak buah di sampingnya.
"Hantam pintunya!"
Dua anggota geng langsung maju melangkah ke depan.
Braaakkk!
Dalam satu hentakan kuat, pintu kayu yang lapuk itu langsung jebol berantakan. Kepulan debu beterbangan di udara. Namun, pemandangan yang tersaji di dalam sana hanyalah sebuah ruangan kosong tak berpenghuni.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Hanya tersisa lantai dingin serta sebuah lemari tua yang pintunya terbuka lebar.
Braaakkk!
"BANGSAT!! KE MANA MEREKA?!" geram Jono murka sambil menendang sebuah kursi kayu hingga hancur dihantam tembok.
"Seret warga sekitar ke sini! Paksa mereka bicara soal keberadaan dua bersaudara itu!" perintah Jono brutal.
Dua orang anak buahnya segera bertindak cepat, merenggut paksa seorang pria tua yang kebetulan menghuni rumah di sebelah kontrakan Repan.
"WOI PAK TUA! KE MANA PENGHUNI KONTRAKAN INI?!" bentak Jono kasar dengan raut wajah memerah.
"Me-mereka... mereka berdua sudah mengemas barang dan pindah sejak kemarin sore, Nak!" jawab pria tua itu dengan vokal yang gemetaran hebat, tubuh ringkihnya nyaris ambruk karena ketakutan.
"PINDAH KE MANA?!" Jono semakin merenggut erat kerah baju pria tua tersebut.
"A-aku beneran nggak tahu mereka pindah ke mana!" tangis si pria tua kepanikan.
Jono mengerang marah, lalu menghempaskan tubuh pria tua itu hingga jatuh terduduk di tanah.
Ia langsung merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor panggilan cepat. Vokalnya terdengar berat dan berbahaya.
"Bos... target nggak ada di rumah kontrakan lamanya. Sepertinya mereka berdua udah kabur duluan."
Di seberang sambungan telepon, vokal garang Angga terdengar menyahut dari markas.
"Lacak dan cari mereka sampai ketemu! Jejak mereka pasti belum terlalu jauh. Jangan berani balik ke markas kalau lo belum berhasil menghajar anak bernama Repan itu sampai sekarat!"
"Siap, Bos!" sahut Jono tegas. Komplotan itu pun segera menyebar ke berbagai penjuru lorong laksana serigala haus darah.
Sementara itu, di sudut wilayah yang lain, Bastian—petinggi Geng GBA cabang utara—tampak sedang melacak jejak Repan di sekitar area SMA 09 Cimanggu.
Pria itu sama sekali tak segan-segan menggunakan aksi kekerasan fisik untuk menggali informasi.
Seorang pelajar malang tampak terduduk lemas di atas tanah dengan kondisi wajah yang dipenuhi lebam kebiruan serta bibir yang merembeskan darah kental. Bastian berdiri tepat di hadapannya dengan deru napas yang kasar.
"BRENGSEK! LO PASTI TAHU SIAPA REPAN, KAN?!" bentaknya seraya melayangkan tendangan telak ke arah perut sang korban.
"AMPUN, BANG! Gue memang tahu orangnya, tapi gue beneran nggak tahu sekarang dia ada di mana!!" jerit pelajar itu sambil menangis menahan mulas.
"TELEPON NOMORNYA! SEKARANG JUGA!" bentak Bastian seraya mencengkeram erat rambut pelajar tersebut.
"A-aku nggak punya nomor telepon dia, Bang! Gue nggak dekat sama dia di sekolah!"
Bastian mendesis jengkel. "NGGAK BERGUNA!!"
Namun, tepat sebelum Bastian sempat melayangkan tendangan balasan berikutnya, salah seorang korban perundungan lainnya mendadak menunjuk ke arah sesosok remaja yang baru saja muncul melangkah dari lorong gang.
"Itu... itu Bimo! Dia temanan dekat sama Repan di sekolah!"
Bastian langsung memutar kepalanya. Puluhan pasang mata anggota geng motor kini tertuju lurus pada Bimo, yang baru saja keluar dari gang dengan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.
"Eh? Ada apa nih ramai-ramai?" gumam Bimo heran sembari mengamati sekitar, sama sekali belum menyadari bahaya besar yang sedang mengintipnya.
"TANGKAP ANAK ITU!!" teriak Bastian memberi komando.
Seketika itu juga, puluhan personel geng motor langsung melesat maju mengepungnya. Bimo sontak terperanjat syok saat menyadari situasi.
"SIALAN! Kenapa para berandalan motor ini bisa ada di sini?!" serunya panik di dalam hati. Tanpa membuang waktu, ia langsung memutar poros tubuhnya dan melesat lari sekencang-kencangnya.
Puluhan anggota Geng GBA langsung mengejar dari belakang, dengan derap langkah kaki yang membahana laksana gemuruh badai yang siap menerkam mangsanya.
Kota Bogor pagi itu tak lagi menjamin kedamaian. Para pemburu jalanan telah turun ke jalanan kota... dan Repan, bersama orang-orang terdekatnya, kini resmi menjadi target utama dalam panggung pemburuan berdarah ini.