DURI Di Dalam PERNIKAHAN ternyata bukan hanya PELAKOR saja. Ada banyak DURI-DURI lainnya yang bisa menjadi CUCUK TAJAM dalam PERNIKAHAN. Salah satunya adalah karma orang tua yang melakukan perjanjian gaib yang ternyata harus ditanggung pula oleh anaknya.
Seorang perempuan BIASA bernama LIANA WULANDARI, ketika berusia 32 tahun dan pernikahannya tepat 10 tahun justru harus mengalami PERCERAIAN karena ulah PELAKOR.
Tapi siapa sangka, LIANA yang hanya perempuan BIASA akhirnya justru berubah menjadi LUAR BIASA setelah suaminya resmi menceraikan dirinya.
Perjalanan hidup membawanya pada PERUBAHAN NASIB yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Satu persatu tersingkap misteri yang berada di putaran hidup orang-orang terdekat.
Novel ini novel fiksi pernikahan yang unik. Genrenya beragam selain PELAKOR, CERAI, MENGUBAH NASIB, dan juga ROH SPIRITUAL.
Semoga pembaca Budiman terhibur dan juga bisa mengambil hikmahnya.
Please... LIKE, FAVORIT, KOMENTAR dari para pembaca yang baik hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - MEMBANTU IBU ANEH
Seperti roh meninggalkan raga. Tubuhku seolah melayang bagaikan selembar kertas rapuh yang terbang tak tentu arah.
Hatiku kosong. Jiwaku hampa.
Lutut pun gemetar mengingat kembali flashback demi flashback kisah hidupku yang suram.
Mati adalah yang terbaik. Itu yang ada dalam fikiranku.
Tetapi, aku juga takut mati. Takut pada kehidupan setelah kematian. Takut menjadi makhluk yang tidak diakui Sang Pencipta karena telah mengkufuri nikmat-Nya.
Tuhan! Kalau terus begini nasib hidupku, aku lebih ridho Kau ambil rohku kembali ke Haribaan-Mu. Tuhan! Jikalau takdir hidupku harus seperti ini, aku lebih ikhlas Kau kembalikan pada tanah asalku Kau ciptakan. Tuhan... Ambil saja rohku, Tuhan! Aku tak sanggup lagi menerima cobaan!
Doaku dalam hati, penuh dengan kekuatan jiwa pada Sang Maha Kuasa.
Hingga tiba-tiba...
"Tolong antarkan Ibu ke rumah Ibu, Anak Cantik!"
Seorang ibu-ibu paruh baya terdengar mengiba pada seorang perempuan yang berdiri di sampingku.
"Maaf, Ibu! Saya tak bisa antar Ibu, Saya buru-buru!" tolak perempuan cantik itu sembari mengangkat kedua tangannya dengan senyuman.
Tak berapa lama Gadis itu naik bus yang baru saja tiba dan berhenti dihadapannya.
"Ibu rumahnya dimana?" tanyaku mencoba menanyai Ibu itu. Tetapi responnya diluar dugaan.
"Saya tidak minta bantuan, Mbak!"
Aku langsung menelan ludah.
Tuhan! Apa aku ini punya kutukan sial? Bahkan wanita paruh baya seusia Mamaku pun seperti tak sudi menerima bantuanku?
"Saya bisa antar Ibu kalau Ibu mau!" tuturku lagi.
"Tidak usah!"
Oala! Sakit sekaligus nyeri hati ini. Betapa aku tidak dianggap siapapun di muka bumi ini! Hiks... Tanpa sadar air mataku jatuh meleleh.
"Eh? Ke_kenapa Mbak menangis? Aku tidak benci Mbak, aku... Cuma menolak bantuanmu saja karena..., haish! Aku jadi seperti Ibu-Ibu Antagonis di sinetron deh! Ya sudah, ayo... Kalau kamu mau antarkan aku pulang!"
Aku bingung. Tetapi tambah bingung dengan ucapan aneh Sang Ibu yang ingin kutolong itu.
"Hapus air matamu! Nanti orang mengira aku ini ibu tirimu!" bisik Sang Ibu sembari menyenggol bahuku dengan sikunya.
Tetapi air mataku bahkan bertambah deras dan isak tangisku pun kian membesar.
"Huaaa... Haaa hik hik hiks!"
"Hei, Mbak! Jangan menangis! Cup cup cup! Maaf, maaf ya...kalau ucapanku tadi membuatmu jadi sangat sedih! Maaf..."
Aku tidak hiraukan ucapan Ibu itu yang terus merapatku. Ia mengusap-usap lembut pundakku. Mengatakan kalimat lembut dengan suara halus. Tapi aku kadung lupa masalahku dengannya. Yang kuingat adalah kesedihan demi kesedihan dalam hidupku. Yang kubayangkan adalah betapa hidupku hancur lebur kini tak tahu arah tujuan.
"Maaf, maaf ya Neng Sayang! Maafkan Ibu!"
Ibu itu kembali menghiburku. Merengkuh kepalaku hingga merebah dibahunya. Tangis kesedihanku makin menjadi. Kupeluk erat tubuhnya yang tak berkutik dan hanya sesekali kudengar helaan nafasnya.
Hingga...
Treeet treeet treeet
Suara hape bergetar. Rupanya dari tas kecil yang disandangnya.
"Halo, Jordan! Iya! Iya! Mami masih ada di jalan! Mami akan pulang! Iya! Mami lagi ada masalah ini! Mami..., buat seorang perempuan menangis!"
Aku baru tersadar mendengar suaranya mengatakan sesuatu di pembicaraan via handphone dengan seseorang.
Mungkin anaknya, sedang mencarinya!
"Maaf! Maaf Saya sudah buat Ibu susah!" selaku setelah beliau mengakhiri sambungan teleponnya.
"Tidak, Ibu yang minta maaf ya? Ibu sudah berkata kasar menyakiti perasaan Neng! Maaf...! Ibu pamit permisi. Anak Ibu sudah telepon!"
Ibu itu bangkit dari duduknya. Hendak pergi setelah kami bersalaman. Tiba-tiba,
"Aduuuh! Kakiku kram! Aduh! Aduuuh!"
Aku terkejut melihatnya mengaduh kesakitan. Sontak tubuh gembal ini bangkit dan mendekatinya lagi.
Aku merengkuh bahu beliau.
"Ibu mau naik apa? Biskota jurusan apa? Biar Saya bantu sampai naik kendaraan, atau..."
"Maaf, Neng! Tolong berhentikan taksi, ya? Saya naik taksi saja!"
"Baiklah, Ibu tunggu di sini ya? Saya panggilkan taksi!
Otakku sudah kembali berfikir normal. Meskipun hati hancur berkeping-keping dan perasaan campur aduk tak karuan, setidaknya aku masih punya empati serta simpati untuk menolong Ibu yang lucu ini.
"Taksi!"
Sebuah taksi kosong berhenti di pinggir jalan.
"Sebentar ya, Pak?"
Aku kembali ke halte bus. Membantu memapah Ibu tadi hingga masuk taksi yang kuberhentikan.
"Ibu bisa sendiri?"
"Apa Neng mau ikut ke rumah Ibu?"
Aku termangu. Cukup lama tapi segera menatap kakinya yang masih terlihat kesakitan. Kuputuskan anggukan kepala.
"Baiklah. Saya antar sampai depan rumah Ibu, ya?"
"Terima kasih, Neng!"
Aku ikut masuk ke dalam taksi.
Sedikit terkejut ketika Sang Ibu menyebutkan sebuah nama perumahan elit dibilangan Utara Ibukota. Tapi aku tak mau usil tanya-tanya kebenarannya.
Wilayah perumahan elite Sunter Podomoro. Kompleks Mediterania. Tentu saja semakin membuatku ketar-ketir khawatir kalau Ibu ini berbohong.
"Masuk saja ke dalam gerbang saja, Mas! Lewati pos sekuriti!" kata Ibu itu.
Beliau membuka jendela dan melambaikan tangannya pada seorang penjaga keamanan berseragam lengkap.
"Ibu Tiur? Silakan, Pak!" kata sekuriti sambil membukakan portal gerbang pengaman kompleks perumahan mewah itu.
Ini... Tak salah khan?
Aku melirik Ibu yang bernama Ibu Tiur dan rupanya cukup dikenal oleh penjaga keamanan pos gerbang kompleks.
"Itu, depan gerbang hitam itu, rumah Saya!"
Aku ternganga. Terkesima. Rupanya ibu ini orang kaya.
"Mami!?! Darimana lagi? Kenapa akhir-akhir ini selalu pergi tanpa izin Jordan ataupun ART ?"
Seseorang yang duduk di kursi roda elektrik. Seorang pria berwajah tampan dengan garis rahang yang tegas. Membuat aku langsung terpana memandangnya.
"Ibu, Saya pamit langsung pulang!" kataku setelah membantu beliau turun dari taksi.
"Tunggu! Turunlah dulu! Saya terlanjur berbuat salah. Saya ingin membayar kesalahan saya pada Eneng!"
Seorang pria berseragam memberikan sejumlah uang kepada supir taksi yang membawa kami.
"I_ibu? Tidak usah, Ibu tidak punya kesalahan apapun pada saya. Saya tadi hanya sedang sedih dan terbawa suasana. Maaf! Saya pamit permisi!"
"Tolong! Saya orang yang tidak suka ditolak. Masuklah dahulu! Mau ya?"
Aku merasa tak enak hati.
Seorang perempuan berpakaian putih langsung menuntun Ibu Tiur. Ternyata perempuan berseragam itu adalah suster perawatnya.
"Mami! Lain kali tidak boleh keluar tanpa memberitahuku!" kata pria yang duduk dikursi roda sambil mengiringi langkah kami masuk kerumah besar nan megah.
"Iya, iya! Mami hanya ingin tuntaskan tugas Mami, Jordan!"
BERSAMBUNG