Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani sekali kau menggoda kekasihku
Tasya segera mendudukan tubuhnya di kursi dengan posisi membelakangi meja Ryo yang berada tidak jauh dari tempat duduknya saat ini.
"Kenapa kau jadi pucat?" tanya Rey tersenyum meledek. Entah kenapa ia begitu senang melihat ekspresi Tasya saat ini. Rey tahu jika Tasya tidak memberitahu kekasihnya itu tentang perjodohan mereka.
"Tidak. Mm kak, aku akan menunggumu di mobil." ujar Tasya yang hendak berdiri, namun Rey menarik tangannya.
"Duduklah." pintanya.
"Ta-tapi kak aku tidak nyaman berada di sini." ujarnya dengan wajah memelas.
"Duduk! kau berani membantahku?" tanyanya seraya menautkan kedua alisnya. Tasya menghela napas panjang lalu kembali mendudukan tubuhnya. Rey menaikan salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman.
Lalu ia memanggil waiters, kemudian ia mulai memesan makanan. Tapi tidak dengan Tasya, tiba-tiba ia tidak berselerah makan padahal dia belum makan sejak pagi.
Beberapa menit kemudian, seorang waiters menghampiri Rey dan juga Tasya sambil membawa nampan berisi makanan. Lalu dengan hati-hati ia memindahkan piring dan juga gelas ke atas meja, kemudian ia mempersilahkan pelanggangnya itu untuk menikmati makanan mereka, lalu ia berlalu pergi.
Rey mulai menyantap makanannya sedangkan Tasya, ia hanya memandang ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Tasya dari belakang. Tasya langsung membuyarkan lamunannya lalu ia menoleh, seketika Tasya membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya
"Ka-kak Ryo." Tasya langsung beranjak berdiri wajahnya menjadi pucat, entah karena takut atau terkejut.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya menatap Tasya sambil mengerutkan dahinya. Ryo mengalihkan pandangannya melihat Rey yang sudah beranjak berdiri.
"Ak--u."
"Kau berani macam-macam dengan kekasihku?" Ryo menatap Rey dengan tatapan membunuh dan juga mencengkram kerak baju Rey. Namun Rey hanya tersenyum kecut.
"Kak, lepaskan." Tasya menarik tangan kekasihnya agar melepaskan cengkramannya itu, namun Ryo menepis tangan Tasya.
"Diamlah! seharusnya aku tidak mempercayainya saat kau menumpang di mobilnya." pintanya tanpa menoleh ke arah Tasya. Kemudian Ryo, menghempaskan tubuh Rey namun tak membuat pria itu berpindah posisi.
"Kaak tenanglah."
"Kenapa kau mau diajak olehnya? apa dia membayarmu?" tanyanya menatap Tasya kesal. Tasya membulatkan matanya, hatinya begitu sakit. Kenapa Ryo mengatakan hal itu?.
"Kaak." triaknya lalu Tasya berlari keluar meninggalkan tempat itu. Apa Tasya semurahan itu di mata Ryo? kenapa pria itu mengatakan hal itu? sungguh Tasya sangat kecewa.
Rey hendak mengejar Tasya namun Ryo menahannya.
"Jangan macam-macam denganku. Berani sekali kau menggoda kekasihku." Ryo menatap Rey tajam. Lalu ia berlari mengejar Tasya. Sedang Rey, ia hanya tersenyum kecut sambil merapikan jasnya dan kembali duduk.
"Syaa." Ryo berlari dengan kuat menghampiri Tasya yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Syaa, maafkan aku." ucapnya sambil menatap kekasihnya itu dengan wajah memelas. Namun Tasya hanya menundukan pandangannya, tak sedikit buliran air mata membasahi wajah cantiknya itu.
"Syaa, aku mohon maafkan aku. Aku sangat emosi melihatmu bersama pria lain."
"Syaa, aku mohon maafkan aku." Tasya mendongakan kepalanya menatap Ryo dalam.
"Syaa, sungguh aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Aku tidak bisa mengendalikan lagi amarahku." Ryo menatap kekasihnya itu sambil memegang kedua bahu Tasya.
"Ayo kita pulang." ajaknya. Tasya hanya menganggukan kepalanya. Entahlah Tasya ingin sekali marah kepada Ryo namun cintanya terlalu besar sehingga ia tidak bisa marah padanya.
Ryo memasangkan helm di kepala Tasya lalu mengajak wanita itu untuk segera naik ke atas motor. Setalah Tasya mendudukan tubuhnya dengan sempurna, Ryo segera melajukan motornya.
*
Rey hanya memperhatikan mereka dari dalam restoran yang hanya dibatasi oleh dinding kaca itu
"Hufftt." Rey mengembuskan napas kasar lalu beranjak berdiri, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju mobil yang berada di parkiran restoran itu.
Rey mengambil ponselnya yang tergeletak di atas dasbor mobilnya, kemudian ia menelpon sesorang. Setelah itu ia melajukan mobilnya menunju ke kantornya.
***
"Syaa, ayo." ajaknya sambil menarik tangan Tasya.
"Kenapa kita ke sini?" tanyanya saat Ryo mengajaknya masuk ke dalam toko kue.
"Sudah lama, aku tidak membelikan donat untukmu." Ryo memutar badannya lalu mengusap-usap puncak kepala Tasya. Ia tahu jika kekasihnya ini sedang marah hanya roti bundar dengan bolongan di tengah yang memiliki toping beraneka macam itu yang dapat mencairkan kemarahannya. Tasya hanya tersenyum mendengar ucapan Ryo. Lalu mereka masuk ke dalam toko kue tersebut.
"Selamat datang." ucap penjaga kasir yang berada di dekat pintu toko. Tasya hanya membalasnya dengan senyuman.
"Syaa, kau mau toping chocholate atau strowbery?" tanyanya sambil melihat-lihat lemari kaca yang berisi donat dengan bermacam-macam toping.
"Ehm---." Tasya mengusap-usap dagunya dengan jarinya sambil berpikir. Entahlah dia tidak bisa memilih, kalau bisa dia akan membawa pulang semuanya.
"Kau mau beli semua dengan beraneka toping?" Ryo menoleh ke arah Tasya.
"Eh, tidak. Aku mau toping coklat sama keju saja."
"Baiklah, ayo kita ke pantri."
Setelah membeli donat Ryo dan Tasya berlalu pergi dari toko tersebut.
"Syaa, kau mau langsung pulang?" tanyanya sedikit mengeraskan suaranya karena sedang berada di atas motor.
"Iya kak." jawab Tasya. Lalu Ryo menambah sedikit kecepatan motornya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di depan kos Tasya. Tasya menyodorkan helm yang dipakainnya tadi kepada Ryo yang masih duduk di atas motornya.
"Syaa, maaf ya." ucapnya dengan wajah memelas,
"Iya kak, nggak apa-apa."
"Makasih sayang. Masuklah." ujarnya sambil mengelus puncak kepala Tasya. Tasya menganggukan kepalanya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kosnya itu. Sebenarnya Ryo ingin menanyakan kenapa Tasya bisa pergi bersama kakak dari temannya itu namun diulurkannya karena mood Tasya masih kurang baik.
"Apa yang terjadi di antara mereka? Kenapa mereka bisa pergi bersama padahal mereka tidak saling mengenal bahkan mungkin di Villa itu pertemuan mereka yang pertama kalinya" gumamnya sambil berpikir kemudian Ryo memutar motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
***
Tasya meletakan box kuenya di atas meja dan juga melempar tasnya ke sembarang tempat lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Tasya hendak memejamkan matanya namun ponselnya tiba-tiba berdering, Tasya dengan malas meraih tasnya dan merogoh isi tasnya itu untuk mencari ponselnya. Tasya menatap layar ponselnya ternyata ibunya yang menelpon. Tasya segera menggeser icon hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Hallo Syaa." sapa Kinaya dari seberang telepon
"Maaa." Tasya memelaskan suaranya matanya mulai berkaca-kaca. Ia sangat merindukan ibunya, tempat curhatnya selama ini namun 1 minggu balakangan ini ibunya tidak pernah menelponnya.
"Syaa, ada apa?" tanyanya dengan suara khawatir.
"Kenapa mama baru menelponku?"
"Syaa, papa melarangku. Jadi mama tidak bisa berbuat apa-apa."
"Maa, aku sangat merindukan mama." ucapnya mulai terisak.
"Syaa, tenanglah. Mama juga sangat merindukanmu. Oh iya, Besok kau mau ke sini kan?"
"Iya maa."
"Apa kau sudah berbelanja untuk keperluan pernikahanmu?" Tasya langsung membukatkan matanya.
"Astagaa, aku lupa. Tadikan aku mau membeli gaun pernikahan bersama kak Rey dan aku meninggalkan kak Rey di restoran." gumam Tasya dalam hati seraya menepuk jidatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading ❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak kaks Readers ❤️😘
sukses selalu buat othor nya