NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.

Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.

Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.

Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.

Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Cahaya jingga keemasan dari matahari yang mulai tergelincir di ufuk barat menyusup masuk melalui celah-celah gorden vertikal ruang OSIS Akademi Kuoh. Sinar senja itu melukis bayangan-bayangan panjang di atas lantai kayu yang mengkilap, membelah ruangan menjadi zona terang dan gelap yang kontras.Debu-debu halus tampak menari-nari melayang di udara, tertangkap oleh pendaran cahaya matahari yang kian meredup.

Di tengah ruangan yang luas itu, keheningan berkuasa mutlak. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak konstan dari jarum jam dinding antik berukuran besar yang berdiri kokoh di sudut ruangan—berdetak memecah detik demi detik dengan ritme yang berat dan monoton. Suhu pendingin ruangan berpadu dengan atmosfer senja, menciptakan hawa sejuk yang mengendap di permukaan kulit.

Di balik meja kerja eksekutif yang terbuat dari kayu mahoni gelap, Sona Sitri duduk dalam postur tegaknya yang khas. Punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi sedikit pun, dan kedua tangannya tertaut rapi di atas tumpukan dokumen yang belum sempat ditandatanganinya.

Kacamata berbingkai tipis yang bertengger di pangkal hidungnya memantulkan cahaya jingga dari luar jendela, menyembunyikan sebagian sorot mata ungunya yang tajam. Hening masih merajai. Sona tidak segera memberikan respon atas deklarasi yang baru saja dilontarkan oleh pemuda di hadapannya.

Perlahan, sangat perlahan, sebuah perubahan kecil terjadi pada wajah Sona. Sudut bibirnya, yang biasanya hanya menampilkan garis lurus dan kaku layaknya porselen tak bernyawa, kini mulai melengkung ke atas.

Tarikan otot wajah itu membentuk sebuah senyuman tipis. Meskipun amat sederhana dan nyaris tak terlihat, gerakan itu mengubah seluruh aura di sekitarnya.

Ketegangan yang sebelumnya menggantung tebal di udara, membuat napas terasa sesak, perlahan-lahan mengendur. Senyuman itu seolah menjadi kunci pembuka kebuntuan yang selama beberapa saat terakhir mengunci ruang OSIS dalam kebisuan yang mencekam.

Mata ungu Sona bergeser dari wajah Yudi. Tatapannya beralih menyeberangi ruangan, tertuju pada sebuah kursi kosong di sudut lain meja bundar. Itu adalah kursi tempat Saji biasanya duduk.

Mata Sona terpaku pada setumpuk catatan kecil yang tersusun kelewat rapi di atas meja Saji, beserta pena yang diletakkan sejajar dengan tepian kertas secara presisi. Postur Sona sedikit menegang. Jari-jemarinya yang tertaut di atas meja meremas satu sama lain hingga buku-buku jarinya memutih.

Di hari-hari pertama kehadirannya, ruang OSIS ini sering kali dipenuhi oleh suara obrolan, langkah kaki yang tergesa, dan interaksi yang hidup. Namun, sejak fakta mengenai silsilah keluarganya terungkap—bahwa Sona adalah adik kandung dari Maou Leviathan, Serafall—segalanya berubah drastis.

Gerak-gerik Saji yang terekam dalam ingatan visual ruangan ini menjadi buktinya. Setiap kali Saji berbicara dengannya, kepalanya selalu tertunduk rendah. Suaranya berubah menjadi gumaman yang kelewat sopan, langkah kakinya selalu mengambil jarak dua langkah di belakang Sona.

Sebuah dinding transparan yang tebal dan tak tertembus telah terbangun. Kepatuhan mutlak yang ditunjukkan Saji, kepatuhan yang lahir dari rasa segan yang berlebihan dan bayang-bayang gelar kebangsawanan, tergambar jelas dari bagaimana kursi kosong itu kini memancarkan aura inferioritas.

Sona menarik napas panjang. Udara masuk melalui hidungnya, membuat bahunya naik secara perlahan, sebelum ia menghembuskannya melalui sela-sela bibirnya. Ia memalingkan wajahnya dari kursi Saji, memutus kontak visual dengan masa lalu, dan kembali memusatkan seluruh fokusnya pada Yudi.

Pemuda itu duduk di seberangnya dengan santai. Punggung Yudi bersandar nyaman pada sandaran kursi, kedua lengannya terlipat santai di depan dada, dan kakinya disilangkan dengan postur yang sama sekali tidak menunjukkan rasa terintimidasi.

Sona mengangkat tangan kanannya. Jari tengah dan telunjuknya mendorong perlahan jembatan kacamatanya yang sedikit melorot. Lensa kacamatanya kembali memantulkan cahaya, menyembunyikan bola matanya selama sepersekian detik.

"Baiklah," suara Sona memecah keheningan. Nada bicaranya terdengar tenang, datar, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah. Suaranya bergema ringan di dinding-dinding ruang OSIS yang kedap suara. "Aku terima syaratmu itu. Kita akan menentukan taruhannya nanti."

Sona mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka menyempit di atas meja mahoni. Mata ungunya yang intens menatap lurus ke arah bola mata Yudi, tidak berkedip sedikit pun. "Tapi," lanjut Sona, suaranya turun satu oktaf, terdengar lebih berat dan mendesak. "Bisakah kau menjamin satu hal seumur hidupmu?"

Yudi tidak menggeser posisinya. Ia membalas tatapan tajam Sona tanpa berkedip. Tidak ada tanda-tanda kegugupan pada raut wajah pemuda itu. Ketenangan memancar dari postur tubuhnya yang rileks.

"Apa itu, Kaichou?" respon Yudi. Suaranya mengalir tenang, nyaris seperti orang yang sedang mengobrol ringan di kedai kopi pada sore hari. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menunggu kelanjutan kalimat dari sang Ketua OSIS.

Kedua tangan Sona kembali tertaut, kali ini di bawah dagunya. Tatapannya semakin menajam, seolah berusaha mengunci jiwa pemuda di hadapannya. "Jangan pernah berubah. Apapun yang terjadi!" ucap Sona dengan artikulasi yang sangat jelas dan tegas. Setiap silabel ditekankan dengan bobot keseriusan yang mutlak.

Mendengar kalimat itu, alis sebelah kanan Yudi terangkat naik. Dahinya berkerut dalam, menciptakan garis-garis halus di keningnya. Posturnya yang bersandar perlahan tegak. Kedua tangannya yang terlipat di dada kini terbuka, dan ia menopang sikunya di lengan kursi.

"Berubah apa? Apa maksudmu?" tanya Yudi. Nada suaranya diwarnai oleh kebingungan yang nyata. Matanya menyipit, meneliti wajah Sona untuk mencari petunjuk lebih lanjut atas pernyataan yang terasa tiba-tiba dan tidak memiliki konteks yang jelas baginya.

Sona melepaskan tautan tangannya. Ia berdiri dari kursinya. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai kayu terdengar nyaring. Sona membalikkan tubuhnya, melangkah pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah lapangan sekolah.

Sepatu pantofel hitamnya menciptakan bunyi ketukan berirama di lantai kayu. Tuk. Tuk. Tuk. Ia berhenti tepat di depan kaca jendela, membiarkan cahaya matahari senja menyepuh seluruh bagian depan tubuhnya, sementara punggungnya membelakangi Yudi, membentuk sebuah siluet yang gelap dan misterius.

"Kau sudah menantang diriku secara terbuka," suara Sona mengalun kembali. Kali ini suaranya terdengar lebih menggema karena ia berbicara menghadap kaca jendela. "Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Jadi, pastikan kau selesaikan sampai akhir."

Sona menolehkan kepalanya sedikit melewati bahunya, memberikan lirikan tajam dari balik lensa kacamatanya ke arah Yudi. "Aku tidak ingin hanya satu atau dua pertaruhan saja. siapa saja boleh memulai tantangan apapun bentuknya. Baik itu kau atau aku, siapapun diantara kita boleh memulainya. Lalu Hukuman di setiap pertaruhan, kita buat sama seperti hukuman yang telah kau tetapkan itu."

Ia memutar tubuhnya sepenuhnya, kembali menghadap Yudi dengan latar belakang langit senja yang mulai berubah menjadi warna ungu kehitaman. Sona berjalan mendekat, kedua tangannya dilipat di belakang punggung.

"Bahkan jika itu adalah pertaruhan konyol sekalipun, aku akan mengikutinya tanpa pengecualian."

Langkah Sona terhenti tepat di sisi meja. Ia menempatkan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja, membungkukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya berada sejajar dengan wajah Yudi. Tatapannya begitu lekat, penuh dengan tuntutan yang tidak terucapkan.

"Tapi..." Sona memberikan jeda sesaat. Matanya memicing. "Pastikan kau tidak lari sampai salah satu di antara kita menyerah dan mengakui kekalahan. Bagaimana?"

Penjelasan yang panjang, formal, dan dipenuhi oleh struktur kalimat yang sangat birokratis itu meluncur deras dari bibir Sona. Alih-alih merespon dengan keseriusan yang setara, otot-otot di wajah Yudi justru mulai berkedut. Sudut bibir Yudi bergerak tak beraturan, menahan sesuatu yang mendesak dari kerongkongannya. Dada pemuda itu mulai naik-turun dengan cepat.

"Pfft..." Suara tertahan keluar dari celah bibir Yudi. Matanya membulat menatap Sona yang masih berada dalam postur membungkuk serius.

Dan kemudian, pertahanan Yudi runtuh sepenuhnya.

"Hahahaha!"

Tawa renyah dan keras meledak dari mulut Yudi. Suaranya begitu lepas, menggema dan memantul di dinding-dinding ruang OSIS. Yudi menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, melempar kepalanya ke belakang sambil memegangi perutnya. Tawa itu sama sekali tidak dibuat-buat; itu adalah reaksi spontan dan jujur yang mengoyak paksa seluruh atmosfer kaku yang baru saja dibangun oleh Sona.

Reaksi Sona terjadi seketika. Mata ungunya melebar. Postur tubuhnya yang condong ke depan langsung ditarik mundur secara refleks, seolah ia baru saja tersengat listrik. Ia berdiri kaku di tempatnya.

Sepenggal keringat dingin meluncur turun dari pelipis kirinya, menetes melewati garis rahangnya. Alisnya bertaut rapat. Mulutnya sedikit terbuka, menampilkan kebingungan yang absolut melihat pionnya tertawa terbahak-bahak setelah diberikan sebuah deklarasi yang begitu serius.

Melihat perubahan ekspresi Sona—bagaimana sang Ketua OSIS berdiri kaku dengan mata berkedip cepat dan ekspresi kebingungan yang tak bisa disembunyikan—Yudi perlahan mencoba mengendalikan dirinya. Ia menarik napas panjang di sela-sela tawanya yang mulai mereda. Tangan kanannya mengusap sudut matanya yang sedikit berair.

"Maaf, maaf..." ucap Yudi, suaranya masih sedikit bergetar menahan sisa tawa. Ia berdeham dua kali, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Perutku terasa geli mendengar jawabanmu yang kelewat formal itu. Hahaha."

Yudi mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya, dan mengembalikan ekspresi wajahnya. Sisa senyum masih terukir di bibirnya, namun matanya kini menatap lurus ke arah Sona.

1
Bayuon So7
Lagi dan lagi saji blunder di sini cok
Bayuon So7
wedeh jadi MC punya hubungan sama Irina menarik untuk di tunggu hubungan seperti apa ya
Bayuon So7
Irina lawak orang lagi perang malah perkenalan diri,, emang beneran julukan dari si Milicas. Malaikat yang memproklamirkan diri
Bayuon So7
Si Imut koneko🤭
Bayuon So7
Weh mau gelut kayaknya nih, semogaa author senantiasa sehat deh
Bayuon So7
Debatnya asyik cuy, mantap lanjutkan💪
Zuta Huda
Kurang ngerti min, aku disuruh sepupuku buat like
Tessar Wahyudi: Terima kasih likenya dan salam untuk sepupunya ya👍
total 1 replies
Bayuon So7
Gak ekspektasi kalau dari pertanyaan simple bisa ambil kesimpulan seperti itu.
Paolo Maldini
Bang gw mau lempar 💣 nih
Fans Real Madrid
Semangat author
Tessar Wahyudi: makasih, semoga gak kapok ya
total 1 replies
Bayuon So7
sudah kuduga emang Kiba
Bayuon So7
Hoah udah mau masuk ke arc kiba kah?
Bayuon So7
Ada aja kelakuan Sona dan Yudi ini ya 🤣
Bayuon So7
Tutorial memancing keributan 🤭
Bayuon So7
marketing sales gak tuh🤭
Bayuon So7
Aduh Saji, begitu pedenya bilang kalau iblis reinkarnasi awal-awal sulit mendapatkan kontrak🤭
Bayuon So7
Tsubaki Flexing njir🤣
Bayuon So7
beneran juga sih, hasil yang memuaskan. Ini MC diam-diam serakah juga ya, kalau dilihat-lihat 🤭. tapi tetap masuk akal kok Thor.👍
Bayuon So7
Hn jadi ini semacam Cooling down setelah pertarungan sengit, mantap Thor.
Bayuon So7
Gua cuma mau bilang bisa cepetin gak updatenya penasaran njir🤭
Tessar Wahyudi: Sabar dong bang, semua ada waktunya mohon ditunggu dengan sabar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!