Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Makan Manusia
Dan besok, pintu lain di Kediaman Ciu akan terbuka untuknya.
Keira baru mengerti arti kalimat itu setelah sarapan staf.
Pagi di paviliun belakang tidak pernah benar-benar tenang. Panci bergesekan di dapur, mesin cuci industri berdengung dari ruang laundry, dan para ART bergerak cepat membawa nampan, seprai, serta keranjang pakaian. Semua orang tampak sibuk, tetapi mata mereka punya waktu untuk menoleh ke arah Keira.
Hari ini, bisik-bisik itu lebih tajam.
"Itu yang dapat lima puluh juta."
"Baru masuk sudah dekat Nyonya Stephanie."
"Kemarin katanya dilihat Tuan Muda Pertama."
Keira mengambil piringnya tanpa menanggapi. Nasi, tempe goreng, tumis kangkung, dan telur rebus. Ia makan cepat, menghitung waktu. Setelah ini, ia harus bersiap menemui Nyonya Ketiga. Bi Sari belum memberi detail, tetapi peringatannya semalam cukup jelas.
Hati-hati menjawab.
Keira baru menghabiskan separuh telur ketika seorang perempuan berdiri di depan mejanya.
Usianya sekitar tiga puluh akhir, seragam ART-nya rapi, rambutnya dicepol rendah. Wajahnya tidak garang. Justru ia tersenyum, tetapi senyum itu membuat beberapa staf lain langsung pura-pura sibuk.
"Pengasuh baru," katanya. "Ikut sebentar."
Keira meletakkan sendok. "Ada tugas dari Bi Sari?"
Senyum perempuan itu tidak berubah. "Aku Ningsih. Kalau di area belakang, kau dengar dulu dari yang senior."
Beberapa ART di meja sebelah menahan tawa.
Keira berdiri. "Saya ada jadwal bertemu Nyonya Ketiga setelah sarapan."
"Justru karena mau ketemu Nyonya Ketiga, bajumu harus bersih, tanganmu harus biasa kerja, dan mulutmu jangan terlalu pintar." Ningsih menoleh ke dua perempuan lain. "Ayo, ajari dia cara kerja staf sungguhan."
Keira tahu ini bukan tugas.
Tapi menolak di depan seluruh ruang makan staf berarti memberi Ningsih panggung. Ia belum tahu jaringan perempuan itu, belum tahu siapa yang berdiri di belakangnya, belum tahu kamera mana yang merekam dan mana yang mati.
Jadi ia mengikuti.
Ruang laundry berada di sisi belakang dapur, dekat pintu servis yang menghadap tembok luar. Udara di sana panas, penuh bau deterjen, pelembut pakaian, dan kain basah. Mesin-mesin besar berputar, tetapi di sudut ruangan sudah disiapkan beberapa ember dan tumpukan pakaian.
Terlalu banyak untuk satu orang.
Ningsih menunjuk ember. "Cuci manual."
Keira menatapnya. "Semua?"
"Katanya Suster Keira hebat. Menyelamatkan bayi, mengatur Nyonya Stephanie, membuat Ko Gilbert pulang dengan muka kusut." Ningsih mengambil sepasang sarung tangan karet dari rak, lalu melemparkannya ke lantai, bukan ke tangan Keira. "Kalau tanganmu cuma bisa menggendong bayi mahal, berarti kau belum pantas makan di dapur yang sama dengan kami."
Salah satu ART tertawa. "Jangan sampai kukunya rusak, nanti Nyonya Besar sedih."
Keira mengambil sarung tangan itu dari lantai. Ukurannya terlalu besar dan salah satu jarinya robek.
Ia memakainya juga.
Air sabun terasa panas. Deterjen masuk melalui bagian sarung tangan yang robek, menyentuh punggung tangan kanannya. Bekas luka lama di sana langsung perih.
Keira menunduk dan mulai mengucek kain.
Satu lembar.
Dua lembar.
Ningsih duduk di kursi plastik sambil memeriksa kuku. "Cepat. Di sini bukan tempat orang manja."
"Kalau ada pakaian bayi, tidak boleh dicampur deterjen kuat," kata Keira pelan. "Kulit bayi bisa iritasi."
Ningsih mengangkat alis. "Masih mengajar?"
"Saya hanya memastikan tidak ada pakaian bayi di tumpukan ini."
Seorang ART di belakang Keira menarik rambutnya tiba-tiba.
Kepala Keira tersentak ke belakang. Rasa sakit menyambar kulit kepalanya.
"Kalau disuruh cuci, cuci," bisik perempuan itu. "Jangan banyak gaya."
Keira menggigit bagian dalam pipinya.
Ia bisa berteriak.
Bisa memanggil Bi Sari.
Bisa melempar ember dan membuat semua orang tahu.
Tapi di ruangan ini, mereka banyak. Ia sendirian. Kalau ia hanya berteriak tanpa bukti jelas, Ningsih akan berkata ia tidak tahan kerja, terlalu sensitif, sengaja membuat masalah sebelum bertemu Nyonya Ketiga.
Keira menunduk lagi.
Deterjen makin menggigit lukanya.
Ketika ia mengambil kain ketiga, salah satu ART menuangkan segenggam garam kasar ke punggung tangannya.
Perihnya meledak.
Napas Keira putus. Jemarinya menegang di dalam air sabun.
"Ups," kata perempuan itu. "Kukira itu ember rendaman."
Tawa kecil meledak di ruangan.
Keira menatap tangannya.
Kulit di sekitar bekas luka memerah. Goresan baru dari insiden bayi terbuka lagi, darah tipis bercampur air sabun.
Di kepalanya, suara Kiara muncul.
Kei jangan capek.
Keira memejamkan mata sebentar.
Capek tidak membunuh.
Lengah yang membunuh.
Ia melepaskan sarung tangan robek itu. Pelan. Terlalu pelan sampai tawa di ruangan mulai mereda.
Ningsih menatapnya. "Kenapa? Mau lapor?"
Keira tidak menjawab.
Ia mengambil gelas kaca kosong dari rak dekat dispenser. Gelas itu biasa dipakai staf minum. Tangannya masih basah, tetapi genggamannya stabil.
"Kalian benar," ucapnya. "Di rumah ini, orang kecil harus tahu cara bertahan."
Ningsih berdiri. "Apa maksudmu?"
Keira mengangkat gelas itu, lalu menjatuhkannya ke lantai.
Pecahannya menyebar.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Keira mengambil satu pecahan yang cukup besar dengan ujung kain, lalu menggores lengan kirinya sendiri. Tidak dalam. Tidak cukup untuk membahayakan nyawa. Tapi cukup untuk membuat darah muncul jelas di kulit.
Ruangan membeku.
Salah satu ART menjerit tertahan.
Ningsih mundur setengah langkah. "Kamu gila?"
Keira menatap darah di lengannya, lalu menekan kain bersih ke atas luka itu. Rasa sakitnya tajam, membuat matanya panas, tetapi suaranya tetap rendah.
"Kalau saya keluar dari sini hanya dengan tangan merah, kalian bisa bilang saya ceroboh. Kalau saya keluar dengan lengan berdarah, rambut berantakan, dan luka lama terbuka, ceritanya jadi berbeda."
"Kamu mau menjebak kami?"
"Kalian sudah mulai duluan."
Ningsih menelan ludah. Wajahnya tidak lagi santai.
Keira melangkah mendekat. Pecahan kaca berbunyi kecil di bawah sepatunya.
"Kalau Nyonya Stephanie melihat saya seperti ini, menurutmu dia akan percaya siapa?"
Tidak ada yang tertawa.
Keira melanjutkan, "Nyonya Stephanie percaya saya. Nyonya Besar baru memberi saya kompensasi. Ko Ethan sedang mengawasi setiap kesalahan sejak kejadian bayi. Dan hari ini saya dipanggil Nyonya Ketiga. Kalian yakin mau semua mata itu melihat hasil kerja kalian?"
Wajah salah satu ART pucat. "Mbak Ningsih..."
"Diam," desis Ningsih, tetapi suaranya tidak sekuat tadi.
Keira mengambil perban kecil dari kotak P3K di dinding. Ia bergerak tenang, karena kalau tangannya gemetar sekarang, mereka akan mencium ketakutannya.
Padahal ia takut.
Sangat takut.
Ia tidak ingin melukai diri sendiri. Ia benci harus memilih luka yang bisa ia kendalikan daripada luka yang mereka berikan diam-diam. Tetapi ia lebih tahu lagi, perempuan miskin yang tidak punya saksi sering hanya punya satu cara membuat orang kuat berhenti: membuat akibatnya terlihat.
Keira membalut lengannya seadanya. Darah masih merembes tipis di bawah kain putih.
"Mulai hari ini," katanya, "kalau kalian ingin mengujiku, lakukan di tempat yang ada kamera hidup."
Ningsih menatapnya dengan mata penuh benci.
Namun ia tidak menghentikan Keira ketika Keira berjalan keluar dari ruang laundry.
Koridor belakang terasa lebih dingin daripada sebelumnya.
Keira berhenti di dekat wastafel servis, mencuci sisa sabun dari tangan kanan tanpa menyentuh luka terlalu keras. Air membuat perihnya kembali menyala. Ia menggigit bibir sampai rasa sakit itu lewat.
Ia harus mengganti perban sebelum bertemu Nyonya Ketiga.
Ia harus menyisir rambut.
Ia harus terlihat seperti tidak ada yang terjadi.
Keira menarik lengan seragamnya turun, menutupi perban sebisanya, lalu berjalan menuju koridor utama.
Baru tiga langkah, ia berhenti.
Di ujung koridor, Ethan berdiri tanpa suara.
Matanya tidak melihat wajah Keira.
Tatapannya jatuh tepat pada lengan kiri Keira yang baru saja dibalut.
Keira tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana.