NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Ririn Puspitasari

Devan Pramudya, pemuda tampan ini harus terpaksa menyaksikan perbuatan tak senonoh calon istrinya tepat di depan mata. Pernikahan yang beberapa hari lagi akan digelar terancam batal.

Rina yang tak ingin anaknya mendapatkan reputasi buruk dan mencoreng nama perusahaan itu, mendesak Devan untuk tetap melanjutkan pernikahan.

Arabella Maharani, gadis penjual susu kedelai ini tak sengaja menabrak mobil Devan. Alhasil, mobil tersebut memiliki kerusakan membuat Arabella harus bertanggung jawab.

"Menikahlah denganku!" seru Devan.

"Apakah kau gila? Aku menabrak mobilmu. Apakah otakmu juga ikut mengalami kerusakan?!" ketus Bella.

"Bukankah ini tawaran yang langka, Nona? Banyak wanita yang ingin mendapatkan tawaran ini. Lagi pula jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau bawa," ucap Devan sinis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Terlahir Menyebalkan

Rina menghampiri putranya sedang berada di ruang tengah. Devan yang sadar akan kehadiran mamanya, langsung mengubah posisi duduknya.

Rina menjatuhkan bokongnya tepat di seberang sofa yang di duduki oleh Devan. Wanita tersebut menatap anaknya dengan seksama.

Devan melihat tatapan mengintimidasi dari mamanya membuatnya menjadi ciut. "Apakah aku melakukan kesalahan?" batin Devan bertanya-tanya.

Tak lama kemudian Mayang, pelayan yang mengajari Bella di ruang baca tadi membawa satu gelas jus jeruk yang dipesan oleh Devan. Wanita yang umurnya memasuki 30 tahun tersebut langsung meletakkan minuman milik Devan ke atas meja.

"Terima kasih," ujar Devan.

"Sama-sama, Tuan." Pelayan tersebut sedikit menundukkan kepalanya.

"Mayang, tolong kau rawat menantuku dengan baik. Jika kondisinya sudah memungkinkan, ajari dia lagi," titah Rina.

"Baik, Nyonya." Mayang pun berlalu dari hadapan kedua orang tersebut.

Devan kembali melirik ibunya, Rina lagi-lagi melemparkan tatapan mematikan.

"Ada apa?" tanya Devan. Pria tersebut meraih gelas minumannya yang ada di atas meja lalu kemudian menenggaknya.

"Apakah benar kau seorang gay?"

Prftttt ....

Seketika jus yang belum masuk sempurna ke dalam tenggorokan tersebut keluar kembali melalui kulit serta hidungnya. "Aishhh ...." Devan berdecak seraya menyekanya dengan tisu yang ada di atas meja.

Melihat Devan yang tak menggubris pertanyaannya membuat Rina mengerutkan keningnya. "Apakah semua itu benar?" ucapnya mengulang kembali pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban.

Devan menghela napasnya dalam. "Dari mana mama mendapatkan informasi itu?" tanya Devan.

"Kau tak perlu tahu mama mendapatkan berita tersebut dari siapa. Apakah ini alasan kau ingin membatalkan pernikahanmu dengan Nadia? Karena gadis itu tak bisa menerima keadaanmu?"

Seketika Devan tergelak. Ia tak menyangka jika mamanya berpendapat seperti itu. "Sebentar, apakah Joko yang memberitahukan pada mama?" tanya Devan.

Ia permasalahan ini berawal dari Joko yang salah paham padanya. Hingga membuat gosip tersebut berbuntut panjang.

"Apakah Joko juga sudah mengetahuinya?" Rina menutup bibirnya. Ia tak percaya jika putra satu-satunya memiliki kelainan orientasi seksual.

"Ma, Devan bisa jelaskan. Semua ini adalah salah paham. Aku tidak gay!" tegas Devan.

"Lantas mengapa kau memilih untuk tidak menikah dengan Nadia?" tanya Rina lagi.

"Devan memiliki alasan tertentu, Ma. Maaf Devan tak bisa menceritakan hal tersebut pada mama," jelas Devan.

Rina menatap anaknya penuh selidik. Wanita itu masih curiga tentang kebenaran Devan yang menyukai seorang pria.

"Semakin kau menutupi alasanmu membatalkan pernikahan itu, semakin kuat juga dugaanku membenarkan tentang desas-desus tentangmu itu," batin Rina.

Siang pun berganti malam. Devan baru saja masuk ke kamarnya. Ia melihat Bella yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya dengan wajah yang mendongak ke atas serta mulut yang sedikit ternganga.

"Apakah benar dia seorang gadis? Ckckckck ...." Devan mendekat ke ranjang. Ia sedikit mengangkat kaki Bella yang bengkak dan memberinya sebuah bantalan agar Bella tak terlalu banyak bergerak.

Devan menarik selimut untuk menutupi tubuh Bella. Matanya tiba-tiba memandang lekat wajah gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya.

Tanpa sadar tangan Devan terangkat untuk menepikan anak rambut yang menutupi wajah Bella. Sontak Devan terkejut saat Bella tiba-tiba membuka matanya.

Cukup lama mata mereka bertemu pandang.

"Ck, kenapa pria ini yang hadir dimimpiku. Seharusnya Pak Ferdy saja," gumam Bella yang kembali menutup matanya.

Devan menatap gadis yang ada di hadapannya ini dengan heran. "Sepertinya kau memang sudah menyebalkan sedari lahir." Devan langsung menjauh dari tempat tidur tersebut.

Bella yang dalam keadaan mengigau pun berhasil membuat mood Devan menjadi buruk.

Devan menuju lemari. Mengambil kasur yang ditiduri oleh Bella semalam. Pria itu membentangkan kasurnya dengan sedikit kesal.

"Aku akan mengalah hanya karena kau cedera saja! Jika kau sehat, sudah ku tendang kau dari tempat tidurku yang nyaman itu!" umpat Devan kesal.

Ia merebahkan dirinya. Menarik menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. "Lihat saja jika kau sudah sehat, aku tak akan membiarkanmu merasakan kenyamanan sedikit pun," gerutu Devan yang mulai memejamkan matanya.

....

Bella mengerjapkan matanya saat sinar mentari mengenai wajahnya, masuk melalui celah jendela. Ia menatap langit-langit sebentar hingga nyawanya terkumpul.

Perlahan Bella mengubah posisinya menjadi duduk. Ia baru menyadari bahwa kini dirinya berada di atas kasur milik Devan.

"Semalam aku tertidur di sini?" gumamnya menanyai dirinya sendiri.

"Lantas di mana pria itu?" tanya Bella sembari menggaruk-garuk kepalanya.

Bella pun melirik ke bawah. Ia menemukan Devan yang tengah meringkuk di bawah sana. Seketika senyum di wajah Bella pun terbit. Senyum kemenangan setelah kemarin melalui kesakitannya.

"Ya, sebaiknya kau juga merasakan bagaimana berada di bawah sana," ujar Bella.

Devan yang sudah terbangun, langsung membalikan badannya menatap istrinya yang berada di atas.

"Apakah kau senang?" ketus Devan.

"Hahaha ... iya, melihatmu seperti itu terasa sangat menyenangkan," timpal Bella seraya tergelak.

Devan meraih ponselnya yang berada tak jauh dari bantal. Dilihatnya jam di ponsel tersebut masih menunjukkan pukul 6 pagi.

Pria itu langsung beranjak dari tempat tidurnya. Membereskan kasur yang tadi ia tiduri dan kembali meletakkan benda tersebut ke dalam lemari.

"Jika kakimu sudah tidak sakit lagi, sebaiknya bergegaslah bangun. Aku tidak akan memanjakanmu!" tukas Devan.

Bella mencebikkan bibirnya sembari mengikuti apa yang Devan ucapkan barusan. Gadis itu pun langsung terdiam saat Devan meliriknya dengan tatapan yang tajam.

"Apa? Kenapa?" tantang Bella sembari membulatkan matanya.

"Cih, jika kau seorang pria sudah lama ku hajar," ujar Devan.

"Tunggu! Hajar dari segi apa dulu?" selidik Bella.

"Menurutmu apa?" tanya Devan menaikkan alisnya sebelah.

Sontak Bella langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. "Jangan macam-macam kau Devan!"

"Kau bukan seleraku!"

"Ah iya, aku lupa jika dia tak suka wanita," batin Bella.

Bella menatap Devan yang berjalan menuju ke kamar mandi sembari membawa pakaiannya untuk langsung ia kenakan nanti.

Tak lama kemudian, ponsel Bella berdering. Ia melihat nama 'Ibu' yang tertera di layar ponsel. Dengan cepat gadis itu pun menerima panggilan tersebut.

"Halo, Bu."

"Halo, Bella. Kau sudah bangun?" tanya Lusi dari seberang telepon.

"Bella baru saja bangun," timpal Bella.

"Anak gadis bangunnya harus lebih pagi. Setidaknya kau harus bangun lebih awal dari suamimu," ucap Lusi menasihati anaknya.

"Bella bangun lebih awal, Bu. Lima menit setelah Bella bangun, Devan juga bangun."

Terdengar suara Lusi terkekeh geli dari seberang telepon. "Oh ya, katakan pada suamimu ibu sangat berterima kasih banyak karena dia sudah ingin membantu untuk membuatkan tempat khusus untuk ibu menjual susu kedelai," papar Lusi.

Bella cukup lama mencerna ucapan dari ibunya. " Membangun tempat khusus? Kapan dia membicarakan pada ibu?" tanya Bella.

"Kemarin malam, orang suruhannya datang menemui ibu. Mereka bilang disuruh oleh keluarga Pramudya untuk merenovasi serta membuat satu bangunan khusus tempat ibu berjualan. Awalnya ibu menolak, akan tetapi mereka tetap memaksa dan akhirnya ibu pun menyetujuinya," terang Lusi.

Seketika pandangan Bella menatap ke arah kamar mandi. Entah bagaimana ia harus berterima kasih pada suaminya itu. Devan melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan Bella. Padahal dirinya selalu saja membuat Devan kesal.

"Nak,..." panggil Lusi saat Bella cukup lama terdiam.

"Iya, Bu."

"Kamu harus baik-baik ya di sana. Apa yang dikatakan oleh suamimu, sudah seharusnya kamu menurutinya," ujar Lusi.

"Baik, Bu."

"Ya sudah, kalau begitu ibu tutup dulu teleponnya ya."

"Hmmm,..."

Tak lama kemudian, panggilan telepon pun terputus. Bella masih setia menatap ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat.

Sesaat kemudian, Devan keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. Ia heran saat menatap Bella yang melihatnya tanpa berkedip.

"Ada apa?" tanya Devan.

"Terima kasih karena kau sudah membantu ibuku membuatkan tempat khusus untuk berjualan," gumam Bella.

"Hah?! Aku?"

Bersambung....

Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya (jika ada).

Yang belum favorit, yuk difavoritkan supaya mendapatkan notifikasi update terbarunya~

Ig: ayasakaryn24

1
Bali Loka Entertainment
Luar biasa
H
😂😂😂
Erina Munir
penasaran juga nih bacanya...
Erina Munir
puas thor bacanya aku...tq othor karyanya bagus banget ada lucu2nya jdi bacanya ga capek...👍👍
Erina Munir
joko bner2 calon suami yg baik...berbahagialah ine...devan blom tau ya...klo wanita umumnya sebelum nikah tdk cerewet tpi setelah nikah n punya anak memang hrs cerewet karnabtanggung jawabnya udh mulai banyak...
Erina Munir
😆😆😆😆😆 aya2 wae devan...kangenlah sama joko...inget makan supermi waktu duluu
mom'za
baru kali ini baca novel,asistennya lemot bin somplak/Joyful/
Rosana Manalu
joko lucu
Sri Udaningsih Widjaya
Bagus ceritanya thor
IG: Ayasakaryn24: terima kasih kk❣️
total 1 replies
Anonymous
Cakepan nadia dr pd bella
Dede Suryani
dasar bos eror
Ruzita Ismail
Luar biasa
Dede Suryani
dasar
Nurhayati
ga ada kisah ferdy
Nurul Syahriani
Makanya jangan main rahasia rahasia dari suami
Nurul Syahriani
Dari banyak nya novel Ceo dan asisten yg aku baca. Hanya di novel ini asisten ceo nya kismin, gak punya mobil gak tinggal di apartemen
Iponk
emang udah lewat ya masa nifasnya...
Iponk
naah ini bener joko, ngomong buat dirinya sndiri
Iponk
devan ituuuu
Iponk
niat banget mama rina ngerjain anaknya..wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!