Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 bicara saja
Bicara saja
"Ngapain senyum-senyum nggak jelas begitu?" Sungut Rossi berdecak sebal. Andhra segera mengulum bibirnya yang tadi mengembang. Setelah sekian lama pria itu akhirnya bisa tersenyum kembali. Dia pun menyadari perubahan itu, lalu menggelengkan kepalanya, membuang pikiran aneh yang sempat bersemayam di otak cerdasnya. Tersenyum terlalu lama bukanlah sifat Andhra.
Hening.
"Kau senang sekali melihat orang lain gemas akan sikapmu. Kau juga pandai sekali membuat orang lain penasaran." Gumam Rossi yang sebenarnya terdengar jelas di telinga Andhra, hanya saja pria itu terlalu tenang menanggapi. Dia memilih menikmati hangatnya mentari yang terasa hangat. Tiduran dengan berbantalkan lengan di bebatuan begini, sepertinya efektif untuk menghilangkan stress.
"Lihatlah! Dia sama seperti batu dimana dirinya berada." Umpat Rossi sambil melempar kerikil kecil ke sungai.
Rossi mulai jengah dengan keadaan ini.
Plung
Plung
Dia sama sekali tidak bergeming. Dasar batu.
Dan sialnya, Rossi semakin tertarik dengan pria yang kini berada tepat dihadapannya. Mulai bentuk postur tubuh, gaya yang cool menyebalkan tapi mampu membuat orang semakin penasaran. Diantara itu semua, yang pasti ialah tampang keren yang jika tersenyum menampakkan cekungan di bagian pipi. Sungguh imut dan membuat hati kaum hawa meleleh.
Ah! Kau tidak boleh terbuai Ros, kau akan mati berdiri jika bersamanya. Apa kau lupa? Kau menginginkan pangeran baik hati yang bersikap hangat dan romantis. Batin Rossi. Tapi bagaimana dengan tantangan Dara?
Hening
Sibuk berpikir
Andhra merasakan hangat di sekujur tubuh, sepertinya cahaya matahari pagi mulai mentransfer tenaga UV untuknya. Matanya mulai terpejam. Tangan satunya sebagai bantal dan satunya lagi menutup wajahnya agar tidak terpapar langsung oleh sinar UV.
Sebuah penelitian mengatakan bahwa sinar matahari pagi mengandung Vitamin D. Secara umum, vitamin D dinilai memiliki manfaat besar bagi kesehatan tulang. ...Kalsium. Matahari pagi ternyata juga mampu meningkatkan jumlah asupan kalsium bagi tubuh. ...Fosfor. Nutrisi yang tidak kalah penting bisa diberikan oleh sinar matahari pagi untuk tubuh adalah fosfor.
Rossi masih mencari cara untuk memulai rencananya untuk memenangkan tantangan hingga, sebuah ide muncul di otak cerdas Rossi.
Kerikil kecil melayang dan jatuh tepat di kepala Andhra.
"Auwwhh." Sang pemilik jidat langsung terduduk sambil mengusap pelan keningnya.
"Apa lihat-lihat." Sungut Rossi tidak berdosa,gaya angkuh tapi cemberut. Lucu. Gadis itu membuang muka saat Andhra menatapnya intens.
"Jangan menatapku begitu!" Malu juga akhirnya. Ekor mata Rossi melirik tapi wajahnya mengarah ke arah sungai. Sesekali menunduk. Sikap apakah itu?
"Ada apa? Bicara saja!" Andhra kembali kesal hati sendiri sebab peduli pada gadis yang baru saja dia kenal kemarin. Bisakah dia mengabaikannya seperti yang sudah-sudah?
"Aku bosan!"
"Lalu?" Intonasi Andhra berubah seiring alisnya yang terangkat.
"Jalan-jalan yuk!"
"Kau pikir?"
Rossi bingung sendiri atas pertanyaan Andhra. Apa maksudnya? Rossi hanya berpikir mengajaknya jalan-jalan. Itu saja. Pikir apa lagi. "Bukankah kau kemari bersama kakakmu?"
"Dia sibuk! Bapak kepala desa sangat tegas dalam memimpin. Sampai kak Rusdi begitu segan kepadanya." Andhra tersenyum puas dalam hati, itu tandanya Farid memang bisa diandalkan. Sedangkan, Mimik wajah Rossi berubah sendu. Tetap tangannya membuang banyak kerikil ke sungai. "Dara juga tidak mau mengajakku jalan-jalan. Dia sibuk dengan keluarganya. Melupakan diriku, padahal tadinya dia yang mengirimkan pesan untuk kemari."
"Kang, mau ya!"
Andhra membuang nafasnya kasar. Namun tatapan tajamnya membuat nyali Rossi menciut.
Lanjutkan apa tidak ya? Ah sudah kepalang tanggung. Terima saja segala konsekwensinya. Kupastikan Dara akan membayar semester ke enam ku. Batin Dara.
Sebab beberapa menit yang lalu, Dara mengirim notif baru, jika Rossi berhasil mengajak Andhra jalan, maka Dara akan memberikan sejumlah uang berapapun yang diminta oleh Rossi.
"Jalan kaki! Kita ke puncak itu." Rossi mengernyit bingung. Bukankah tempat itu terlalu tinggi? Bagaimana cara mereka naik? Bahkan kondisi Rossi tidak sepenuhnya fit karena haid. Meski flu sudah berkurang oleh khasiat jamu yang diseduh ibunya semalam.
"Bisakah kau lebih romantis? Bagaimana bisa kau mengajak seorang gadis memanjat tebing begitu?" Andhra tidak menyahut dia semakin mendekati Rossi.
"Apa perlu?"
Hah! Rossi malah bengong sendiri. Sadar jika dia dan Andhra bukanlah sepasang kekasih. Menggaruk tengkuk sepertinya cukup manjur untuk menghilangkan rasa canggung.
Gadis ini banyak maunya. Dasar kancil. Aku sudah menebak, pasti gadis ini lah yang dimaksud Dara malam itu. Baiklah, dia cukup menarik untuk dijadikan kelinci percobaan. Batin Andhra.
"Mau apa kau?" Tubuh Rossi kini sudah mendarat sempurna di bahu Andhra bagaikan karung beras.
"Hai, turunkan aku!" Memberontak, Andhra sedikit menggertak dengan gerakan cepat, memindahkan posisi ala bridal style, tangannya mengayun kuat seakan hendak melempar tubuh Rossi ke sungai.
"Jangan! Aku masih ingin hidup. Aku belum menikah! Jangan jadikan aku tumbal." Rossi memejamkan mata beberapa saat, reflek dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Andhra. Kini posisi dirinya beralih. Goncangan terasa lebih lambat,aroma tubuh Andhra tercium jelas. Harum dan menenangkan, sama seperti senja kemarin.
Hingga dia merasa telah menginjak tanah. Apakah sudah turun? Ah benar. Saat mata Rossi terbuka, dia melihat sisi tebing yang dipenuhi oleh akar menjalar, bukan! Tapi tanaman menjalar yang sepertinya sengaja di tanam untuk menyamarkan sebuah pintu rahasia. Perlahan pintu itu menutup.
Tunggu! Aku sudah berada di dalam?
Rossi menggedor pintu yang tadinya terbuka. "Hai, mengapa kita kemari? Pintu ini tertutup. Bagaimana cara kita keluar? Panik Rossi. Masih berusaha mencari celah untuk keluar.
"Berjanjilah kau tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang tempat ini!" Rossi mematung sejenak.
Ini berarti, dia...
"Ingatlah, kau akan merahasiakan tempat ini dari siapapun!" Tubuh Andhra kini sudah berada tepat di depan matanya.
Dada keras ini.
"Dengar tidak?"
"Ah! Iy-iya! Dengar!"mengangguk seperti orang bodoh.
Bodoh kau Ros, mengapa malah mengagumi dada keras itu? Batin Rossi sambil menggetok kepalanya sendiri.
"Kau kenapa?"
"Tidak! A.. aku takjub. Iya takjub!" Bagaimana tidak? Kini dirinya sudah berada di dalam sebuah gua. Bukan gua, tapi sebuah bangunan yang menurutnya begitu indah.
"Ayo!"
"Ah, Iya!" Masih mengagumi setiap detail ruangan yang lebih tepatnya seperti hotel bintang lima.
"Apakah ini sebuah rumah?" Pertanyaan polos Rossi membuat Andhra menghentikan langkahnya sejenak.
"Menurutmu apa?"
"Isshh ditanya malah balik nanya, tak baik tahu. Membuat orang penasaran saja!"
Rossi melihat sofa yang tersusun rapi layaknya ruang tamu, dinding kaca atas tangga kamar transparan yang dihiasi oleh taman bunga dengan lampu warna-warni. Rossi bisa menduga jika itu pastilah sebuah kamar.
"Kau mau minum apa?" Owh tak sadar Rossi kini sudah membentur meja panjang melengkung. Sebuah meja lagi berada di tengah sebagai tempat memasak.
"Kau ingin minum apa?"
"Hah." Rossi masih terbengong, pikirannya masih sibuk menerka, benarkah dia tadi masuk ke dalam dinding tebing? Atau ini hanya sebuah mimpi. Ingin menjerit rasanya. Bagaimana bisa di dalam sebuah gua ada bangunan seindah ini.
"Hai ... Bengong Mulu dari tadi! Mau minum apa?"
"Ini milik siapa?" Pertanyaan bodoh Rossi.
Mau dong punya suami kaya seperti kepala desa. Belum lagi dua vila yang dibangun itu.
"Menurutmu?"
"Issh, selalu saja begitu." Rossi mencebik kesal. "Apakah ini milik bapak kepala desa?"
Tentu saja, bukankah Andhra pulang kampung hanya menggunakan bis, mana ada orang kaya yang seperti itu. Lalu Andhra juga bilang bahwa motor saja tidak punya. Logika yang masuk akal bukan? Lalu bagaimana bisa dia memiliki rumah tersembunyi begini? Atau mungkin rumah ini milik kepala desa? Sepertinya Rossi harus mencari tahu semua ini. Jika benar, sungguh beruntung Dara yang memiliki suami tajir. Ahhh jiwa Rossi meronta.
"Kau ingin apa? susu, gula, atau madu?"
Hahhh...si batu bisa bikin kopi?
"Terserah padamu. Aku akan menilainya nanti." Bersikap sok pandai rupanya.
Dasar kancil, padahal mukanya menunjukkan kebingungan.
Tbc
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri