"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sindiran Meli.
Seperti rencana awal, kedua insan itu sedang berada di dalam mall untuk membeli peralatan masak dan juga cet rumah. Mereka berdua sudah membeli beberapa peraratan masak, jadi mereka tinggal membeli beberapa cat untuk rumah mereka.
"Yang merah bagus, yank." Rehan memberi saran kepada Nadia yang sedang sibuk memilih-milih warna cat yang bagus untuk rumahnya.
"Kamu mau di sambar petir?" Ketus Nadia. Dia pernah mendengar bahwa petir itu suka menyambar orang yang memakai berbagai warna merah.
"Yaudah warna hijau aja. Kan enak tuh di lihat, seperti rumput." Seperti tidak punya kapok untuk menawarkan idenya kepada istrinya, Rehan kembali di tatap galak oleh Nadia.
"Cat rumah berwarna hijau itu jelek. Aku gak suka." Bantah Nadia.
Penjual cat yang berdiri di depan Nadia dan Rehan menggelengkan kepalanya pelan.
"Pengantin baru ya?" Tebak penjual cat itu.
"Iya, kenapa pak?" Nadia masih sibuk memilih-milih cat untuk rumahnya.
"Gak apa-apa mbak, jarang loh ada suami yang mau nemenin istri belanja kayak gini." Penjual itu tersenyum kepada Nadia dan Rehan.
"Tuh yank, Harusnya kamu bersyukur punya suami kayak aku." Nadia mendengus mendengar ucapan Rehan.
"Gak usah besar kepala kamu. Cet warna biru mudanya dua, pink dua, putih dua, sama kuning dua, pak." Nadia menunjuk semua cat pesanannya.
"Siap, mbak. Langsung antar ke rumah?" Penjual cat itu terlihat sangat bersemangat mendengar pesanan Nadia yang sangat banyak.
"Iya, pak." jawab Nadia. Dia dan Rehan berjalan keluar dari Mall sambil bergandengan tangan.
"Ngapain beli cat sebanyak itu?" Rehan merapatkan pinggang Nadia ke tubuhnya.
"Ada deh. Kamu tuh tugasnya ngebayar semua catnya, aku yang ngurus." Sontak perkataan Nadia membuat Rehan mendengus pelan.
Mereka berdua sudah sampai di parkiran Mall. Rehan membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya.
"Mumpung masih belum magrib, kerumah papa kamu sekalian ya, yank?" Rehan meminta persetujuan dari Nadia. Mata Nadia yang tadinya terfokus pada layar heandponenya, langsung menatap kearah Rehan.
"Tumben peka kalau aku pengen kesana?" Nadia menoel-noel pipi Rehan. Bukannya marah, Rehan malah ketawa mendengar sindiran istrinya.
"Lagi belajar jadi suami yang baik." Nadia mengangguk, dia tersenyum kepada Rehan.
****
Mobil sport berwarna merah masuk kedalam halaman rumah keluarga Zaen. Rehan sudah menelpon kedua sahabatnya untuk datang ke rumahnya. Sekarang Luwis dan Jeo sedang menunggu barang-barang dapur dan cat milik Rehan datang.
Mendengar deru mesin mobil, Meli bergegas keluar rumah. Dia langsung tersenyum senang melihat anak tirinya datang dengan menantunya.
"Yaampun kalian, mama kira kalian sudah lupa dengan mama." Sebuah kalimat sindiran itu membuat Nadia dan Rehan saling tatap. Nadia memutar kedua bola matanya malas, mama tirinya pasti sedang caper di depan Rehan.
"Kamu kesini bawa apa, Nad? Kemarin tetangga kita, Kinan, anaknya Pak Broto dan Bu Yuni, Suaminya main kerumah mertuanya bawa berlian. Mama lihat berliannya bagus banget." Rehan bersandar di samping mobilnya. Sedangkan Nadia sudah ingin mencakar-cakar wajah mama tirinya yang cerewet itu.
"Gak bawa apa-apa. Papa mana?" Ketus Nadia. Jika bukan karena dia merindukan papanya, tentu dia tidak mau menginjakan kakinya kerumah ini lagi.
"Papa kamu belum pulang kerja, kasihan loh Nad, papa kamu bekerja siang malam, tapi perusahaannya...."
"Bukannya suami ku sudah membantu perusahaan papa, mama lupa?" Potong Nadia. Dia benar-benar muak mendengar semua keluhan wanita tua di depannya.
"Heee..., iya. Yaudah kalian masuk, Nak Rehan, ayo masuk." Cengir Meli. Tidak gampang untuk meminta sesuatu kepada putri tirinya. Dia harus mencari akal untuk meminta hal-hal yang dia inginkan kepada Rehan.
Rehan bersalaman dengan Meli, kemudian dia berjalan membututi Nadia yang sedang masuk kedalam rumah. Nadia menaiki satu-persatu anak tangga rumahnya. Dia sangat merindukan kamarnya.
"Akhirnya...." Nadia memeluk gulingnya. Dia berguling kesana dan kemari.
"Perasaan aku kalau pulang kerja juga gak pernah kamu peluk seperti itu." Rehan melepaskan jaketnya. Dia duduk di sofa kamar Nadia dengan kaki dia naikkan keatas meja.
"Kamu itu aneh, guling saja kamu cemburui. Apalagi manusia." Rehan terkekeh mendengar perkataan Nadia.
"Itu tandanya aku benar-benar cinta sama kamu. Harusnya kamu bersyukur aku cemburu setiap kamu dekat dengan laki-laki selain aku. Kalau aku ngebiarin kamu dekat dengan laki-laki lain, kamu perlu curiga. Aku benar-benar cinta atau tidak sama kamu." Penjelasan yang Rehan sampaikan cukup membuat Nadia paham. Perkataan suaminya membuat sudut bibirnya tanpa sadar tertarik keatas, membentuk sebuah lekukan senyuman manis.
"Uh, soswitt. Pasti ada maunya." Nadia duduk bersandar di belakang tempat tidur. Rehan tersenyum jahil, dia menghampiri istrinya yang sedang menatapnya.
"Cukup beri aku kesempatan untuk menikmati tubuhmu malam ini. Dua ronde saja." Nadia melotot mendengar perkataan Rehan.
"Ogah. Tau ah, aku mau mandi. Gerah." Nadia ingin turun dari tempat tidurnya, tapi pergelangan tangannya di tahan oleh Rehan.
"Mandi bareng yuk? Aku mandiin, kan kamu capek." Rehan menatap Nadia sambil tersenyum.
"Dasar mesum, tukang modus." Nadia menggigit tangan Rehan, kemudian dia berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Aaa...., au." Rehan mengibas-ngibaskan tangannya keudara. Nadia benar-benar....
****
Luwis dan Jeo mengumpat. Memang gerbang rumah Rehan tidak di kunci, tapi pintu rumahnya di kunci. Rehan bilang....
"Luwis, aku share look lokasi rumah ku. Kamu kesana sama Jeo. Kalian bebas mau ngapain aja. Mau buat kopi, makan, engkang-engkang kaki juga boleh. Tugas kamu sama Jeo cuma nungguin barang-barang pesanan ku dan Nadia datang."
"Kenapa kamu mau di kadalin Rehan? Tahu gini aku ogah." Mereka berdua bagaikan gelandang yang meminta sumbangan di rumah Rehan. Luwis dan Jeo duduk di kursi teras rumah Rehan dan Nadia.
"Aku mana tahu kalau Rehan itu bohong." Luwis menyugar rambutnya kebelakang. Dia kira, dia akan makan enak di rumah Rehan. Karena Rehan bilang, Nadia sudah masak enak-enak di rumah.
"Terus ini kapan barangnya sampai?" Jeo terlihat tidak sabar. Dia sudah merencanakan untuk ngedate dengan perempuan incarannya. Tapi si Luwis...
"Gagal-gagal." Jeo menonjok dindin rumah Rehan.
"Oh pengiriman barangnya gagal. Yaudah kita pulang aja." Ingin sekali Jeo mencekik leher sahabatnya itu.
"Luwis....!!" Geram Jeo.
***
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka menikmati makanan yang Meli buat. Rasanya cukup enak, ayam balado dan juga sayur asamnya cukup untuk membuat perut meminta lebih.
"Maafkan Nadia yang tidak kesini setelah menikah, Pa. Kami di sibukkan dengan kepindahan rumah kami." Nadia merasa tidak enak dengan papanya.
"Papa juga pernah muda sayang. Papa paham itu. Oh ya, kamu sudah isi belum?" Nadia mengerutkan keningnya di kala papanya menanyakan hal yang tidak dia mengerti.
"Kamu sudah hamil belum, Nad?" Jelas Meli. Nadia meringis pelan, kemudian dia menatap Rehan.
"Sejauh ini belum, Ma, Pa. Tapi kita sedang berusaha." Jawab Rehan, dia mengusap lembut rambut panjang Nadia.
"Kami masih ingin merasakan pacaran dulu di pernikahan kami. Bukankah begitu sayang?" Nadia mengangguk, dia tersenyum kepada Rehan.
"Oh begitu." Meli mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Papa ikut senang melihat kalian berdua akur begini." Aldi tersenyum kepada menantu dan putrinya. Malam ini menjadi saksi atas rasa bahagia kedua keluarga itu.