Hai.....!
Ini adalah lanjutan dari kisah MENJADI ISTRI KETIGA JURAGAN. Ini kisah tentang anak-anak mereka yang tak jauh kehidupan cinta segi tiga, poligami dan juga cinta tak terbalas. Namun bisa juga dibaca tanpa membaca novel sebelumnya.
Erdana menjalin hubungan dengan Mentari. Sementara Prayuda sangat mencintai Mentari. Namun karena suatu peristiwa, Erdana harus bersama Yasmin. Bagaimana kisah ini akhirnya mencapai titik kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Mentari (part 2)
Dua perempuan yang sama-sama cantik itu duduk saling berhadapan.
Belum ada percakapan yang tercipta diantara mereka karena keduanya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Gaun kita sama, kak. Rancangan kakak memang sangat bagus. Aku suka. Tapi ini kan gaun khusus wanita hamil?" Yasmin diam sejenak. Ia menatap Mentari. "Apa kakak hamil?"
Mentari tersenyum. "Gaun rancangan ku ini dibuat bukan hanya khusus wanita hamil. Karena itu jika wanita sudah selesai melahirkan, gaun ini masih bisa terpakai. Aku suka saja memakainya sekaligus juga promosi tentang gaun ini."
"Iya juga sih. Memakai gaun ini membuatku perutku tak terlihat besar. Teman-teman ku di kampus bisa curiga dengan usia kandunganku. Mereka akan tahu kalau aku hamil di luar nikah. Makanya kalau dua bulan sebelum melahirkan, aku akan minta cuti."
Mentari menatap Yasmin dengan seksama. "Bagaimana rasanya hamil?"
Yasmin tersenyum kecut. "Bagi wanita yang hamil dari pria yang dicintainya pasti ini sesuatu yang membahagiakan. Namun haruskah aku bahagia karena hamil dari hasil pemerkosaan? Aku memang sempat berpikir untuk mengugurkan kandungan ini. Namun aku memilih mempertahankannya. Anak ini nggak salah. Walaupun aku tak tahu bagaimana harus mencintainya."
"Berbahagialah, Yasmin. Anak itu akan membuat hubunganmu dengan Erdana menjadi lebih baik."
"Bagaimana denganmu, kak? Kejadian ini pasti sudah menghancurkan semua mimpimu untuk bersama kak Erdana. Aku tahu kalau kalian saling menyayangi. Kak Mentari adalah cinta pertama kak Erdana begitu juga sebaliknya. Waktu kami menikah, aku bahkan melupakan kakak karena aku terlanjur kecewa dengan Andre yang tak siap menerima keadaanku yang sedang hamil. Aku kejam ya, kak?"
Mentari tersenyum. " Kamu nggak salah apalagi kejam. Inilah takdir kehidupan. Aku harus pergi karena memang kau yang lebih membutuhkan Erdana."
"Aku tak mencintai kak Erdana."
"Kau pasti bisa mencintainya. Dan aku yakin Erdana juga suatu saat akan mencintaimu."
"Nggak, kak. Aku mencintai Andre." Yasmin diam lagi sejenak, lalu ia menatap Mentari. "Sebelum meninggal, kakekku meminta aku berjanji untuk terus bersama Erdana. Namun aku tahu kalau aku tak bisa memenuhi permintaan terakhir kakek. Kak, maukah mau menerima anak ini jika ia lahir nanti? Karena aku ingin bercerai dari kak Erdana saat anak ini lahir. Dan aku tahu, orang yang tepat, yang akan mengurus anakku ini adalah kau, kak."
Mentari terkejut. "Yasmin, jangan bicara seperti itu. Anakmu akan tinggal bersamamu juga Erdana sebagai ayahnya."
Yasmin menangis. "Aku belum siap punya anak, kak. Usiaku bahkan baru 19 tahun. Aku punya mimpi-mimpi indah yang ingin diwujudkan. Aku ingin menjadi dokter ahli bedah seperti yang ku rindukan sejak kecil."
Mentari melihat dirinya seperti juga Yasmin saat ini. Ia memang sangat mencintai Erdana namun rasa cintanya tak mampu menghalangi mimpinya untuk menjadi desainer terkenal. Walaupun karena mimpinya itu, ia tak bisa menjadi istri sah dari lelaki yang sangat dicintainya.
"Kak, bagaimana? Kakak mau menerima dan merawat anakku ini?"
Mentari tersenyum. "Yasmin, anak ini akan lebih baik tumbuh bersamamu dengan Erdana. Percayalah kalau Erdana adalah lelaki yang baik. Kita sudah mengenalnya sejak kecil."
"Aku mohon kak, pikirkan sekali lagi. Aku juga tak mau kehilangan mimpiku."
Yasmin akhirnya pulang tanpa mendapatkan jawaban apapun dari Mentari.
"Sayang, dokter Prayuda mengingatkan bahwa kau punya janji bertemu dengannya hari ini di rumah sakit. Ada apa?" tanya Jeslin.
"Di rumah sakit milik keluarga Prayuda ada dokter ahli dari Amerika. Dia ingin aku diperiksa oleh dokter itu."
"Ya, sudah. kalau begitu segeralah bersiap. Karena sekarang sudah jam 4 sore. Ibu akan siapkan makan malam untukmu."
"Jangan siapkan makan malam, bu. Karena dari rumah sakit, aku akan langsung ke Surabaya. Aku tak ingin Yasmin mengatakan pada Erdana tentang keberadaan ku di sini. Aku tak sanggup bertemu dengannya, bu. Aku tahu kalau aku akan kembali jatuh dalam pelukan Erdana jika melihatnya."
Jeslin hanya bisa menarik napas panjang. Walaupun ia bangga dengan ketegaran hati anaknya, namun ia juga tahu kalau Mentari sangat tersiksa berpisah dengan Erdana.
************
Nick membalut luka di lengan Elmira karena selesai syuting tadi, ada serangan dari orang yang tak dikenal.
"Bagaimana lukamu? Masih sakit?"tanya Nick.
"Masih agak perih, sih. Namun nggak sesakit tadi."
Nick pun menjauh dari Elmira. Wajah yang cuek justru membuat Elmira selalu penasaran untuk melihatnya.
"Nick, tanganmu juga terluka. Mari aku bantu oleskan obat."
"Nggak perlu, nona. Biar aku mengolesnya sendiri."
"Bagaimana mungkin kau bisa mengolesnya sendiri? yang terluka kan di bagian punggungmu karena tadi kamu melindungi aku." Elmira berdiri. Ia mendekati Nick. "Ayo buka kemeja mu."
"Tapi nona....!"
"Ayo di buka! mau menunggu kedua bodyguard itu datang? Mereka kan baru saja pergi makan siang. Kita ada di Shanghai, memangnya kamu tahu rumah sakit terdekat dari hotel ini?"
Walaupun terlihat agak ragu, Nick membuka kemeja hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Elmira merasakan jantungnya berdetak dengan cepat melihat otot pria itu. Pada hal ia sudah terbiasa melihat cowok berbadan seksi. Namun entah kenapa kali ini agak berbeda.
"Kaos dalamnya juga harus dibuka, Nick."
Perlahan Nick juga melepaskan kaos dalamnya. Tanpa sadar Elmira menelan salivanya, melihat betapa sempurnanya tubuh Nick itu. Roti sobek diperutnya yang bahkan lebih indah dari semua pria yang pernah menjadi lawan mainnya.
"Punggungmu terluka agak parah Nick. Tahan sedikit ya? Pasti ini sangat perih." Elmira mengambil cairan pembersih luka dan menuangkannya di atas kapas. Ia mulai membersihkan luka Nick. Cowok itu sama sekali tak meringis kesakitan.
"Memangnya luka ini nggak sakit, Nick?" tanya Elmira penasaran.
"Sakit, nona."
"Kenapa kamu nggak meringis?"
"Aku sudah terbiasa menahan rasa sakit."
Elmira tersenyum. Ia bangga dengan kekuatan yang Nick miliki.
Luka Nick pun sudah dibalut dengan baik. Ia kemudian membersihkan tangannya di wastafel.
"Nick, aku mau tidur sebentar. Jangan tinggalin aku ya? Kalau kau lelah, kau dapat tidur si sofa. Aku masih takut dengan kejadian tadi."
"Baik, nona."
Elmira pun naik ke atas ranjang. Ia merasa sangat lelah. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan syutingnya nanti malam.
Saat Elmira terbangun, jam tangannya menunjukan pukul setengah enam lewat 40 menit. Keadaan kamar sudah agak gelap. Hanya satu lampu yang Nick nyalakan. Ia mencoba mencari keberadaan sang bodyguard. Langkah kakinya terhenti saat melihat sang bule ada di sudut ruangan, sedang sholat. Mata Elmira bahkan tanpa berkedip melihat lelaki itu sedang sujud dengan penuh khidmat.
Hati artis terkenal itu bergetar dengan sangat hebat. Rasa kagum memenuhi rongga dadanya. Ia tak menyangka dibalik tampang bulenya, Nick ternyata seorang Muslim yang taat beribadah.
Dia memang lelaki baik. Kok jantungku jadi berdebar-debar ya?
Elmira memegang dadanya sendiri. Ia pun tergerak mengambil air wudhu untuk menunaikan juga sholat magrib nya.
***********
"Aku tadi ketemu kak Mentari."
Erdana yang baru selesai mencuci peralatan makannya terkejut. Ia menatap Yasmin.
"Di mana?"
"Di rumah orang tuanya."
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik."
Erdana meletakan lap yang dipakainya untuk mengeringkan tangannya. "Apakah dia masih ada di sana?"
"Aku tak tahu."
Dengan cepat Erdana melangkah ke ruang tamu, mengambil kunci mobilnya yang selalu tergantung di dekat pintu masuk. Ia pun meninggalkan apartemen.
Yasmin menatap kepergian Erdana. Semoga mereka bisa bertemu.
Dengan kecepatan tinggi, Erdana mengendarai mobilnya menuju ke rumah orang tua Mentari. Saat ia tiba di sana, satpam langsung membukakan pintu dan Erdana langsung masuk ke dalam.
"Erdana?" Jeslin terkejut melihat kehadiran Erdana.
Erdana langsung mencium punggung tangan Jeslin seperti biasanya. "Di mana Mentari, bi? Aku ingin bertemu."
"Mentari sudah pergi, nak."
"Kemana?"
"Bibi nggak tahu. Ia tak bilang mau kemana kali ini. Begitulah dia."
"Jangan bohong kepadaku, bi. Jangan sembunyikan Mentari dariku. Bibi tahu kalau aku sangat mencintainya."
"Ingat, nak. Kamu sudah menikah."
"Aku juga sudah menikahi Mentari 3 tahun yang lalu, bi."
"Apa?"
"Kami menikah di Amerika secara siri. Paman Gading yang menjadi walinya. Itu kami lakukan karena tak ingin berbuat zinah karena hubungan kami yang sudah terlalu dekat."
Jeslin menggeleng tak percaya. Suaminya pergi dengan membawa rahasia pernikahan anaknya.
"Ya Allah. Mengapa harus begini jadinya?"
"Karena itu katakan di mana Mentari, bi."
"Buat apa? Untuk menjalani hidup berpoligami? Memangnya kau pikir keluarga dokter Surya akan membiarkan kau berpoligami?"
"Aku tak mencintai Yasmin, bi."
Jeslin menarik napas panjang walaupun dadanya terasa sesak. " Lupakan Mentari. Ia sudah memilih jalannya sendiri. Bibi sungguh tak tahu kemana anak bibi pergi."
Erdana pun pulang dengan rasa kecewa. Ia tahu kalau Jeslin sangat keras sifatnya. Ia tak akan mengatakan dimana Mentari. Dan itu sangat menyakiti hati Erdana.
************
Bagaimana kisah ini berlanjut?
Dukung emak ya guys
jangan lupa like, komen, vote dll ,🙏🙏🙏
cakep Thor
barusan tamat baca para juragan
tapi konflik nggak trll berat, jd masih adem ikutin alurnya..
nggak emosi yg berlebihan 😁
ceritanya bagus beda dari yg lain dgn tema sama
hanya bbrp kali ada nama tokoh yg tertukar 🙏🙏🙏