NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Hukuman Bersama

HAPPY READING!

 

* * *

 

 

Setidaknya dengan kedatangan Langit kemarin bisa membuat Adista tersenyum sedikit meskipun dia masih terasa sakit mengingat Papanya yang seperti itu.

Adista tidak habis pikir, kenapa Mamanya itu masih saja bisa bertahan dengan Evan hanya karena Adista. Adista tidak masalah kalau dia tidak memiliki Papa, karena dia memiliki Papa pun dia masih merasa tidak ada Papa. Jadi percuma.

Adista merapikan sedikit lagi rambut hitamnya kemudian menguncirnya menjadi satu tanpa ada satu poni pun berada di dahinya, Adista tidak suka memiliki poni.

“Pagi Kakek,” ucap Adista sambil tersenyum lebar dan duduk di sebelah Kakeknya.

Kakek tidak menjawab dan tetap melanjutkan meminum teh sambil membaca koran membuat Adista terkekeh.

“Masih ngambekan Kek?” tanya Adista, Kakek tidak menjawab. “Yaelah Kek, diambil hati banget ucapan Langit.”

“Memang Langit kenapa? Mama cuman dengar dia teriak aja udah itu dia pamit.”

“Biasa Ma, Kakek masih labilan,” Adista terkekeh.

“Putusin aja Langit,” ucap Kakek sambil melipat koran miliknya. “Dia gak baik buat jadi pacar kamu.”

Adista berdecak. “Kek, dari SMP Kakek juga selalu bilang kayak gitu saat Adista pacaran. Adista turutin apa kata Kakek karena Adista tahu Kakek lebih tahu daripada Adista. Tapi kalo sekarang, no Kek. Adista gak mau.”

“Adis ... dia itu bukan cowok baik-baik,” kata Kakek lagi mencoba meyakinkan Adista.

“Udah Pa, Adis tahu mana yang terbaik buat dia. Adista udah gede bukan cucu Kakek yang baru masuk TK kemarin.”

“Anita, ini beda. Langit itu bukan cowok baik.”

“Iya, Anita tahu Pa. Langit sering cerita kalo dia itu nakal.”

“Memang Kakek tahu dari mana kalo Langit itu bukan cowok baik-baik?”

“Keliatan aja dari mukanya,” kekeh Kakek.

“Ih Kakek,” Adista kesal.

“Sana pacaran aja sama Langit. Awas aja kalo nangis-nangis putusan sama Langit dan gangguin Kakek.”

“Adista gak bakal nangis kalo putus Kek, nangis itu kalo Oppa ketahuan pacaran. Beuh ... sakit banget hati Adis.”

Kakek menghela napas dan menggeleng kepalanya. “Syukur kamu punya Langit.”

 

* * *

 

Langit tidak menjemputnya dan Adista tidak tahu alasannya, Adista bingung dengan Langit, sewaktu-waktu dia terus-terusan saja berada di samping Adista dan di waktu lain lagi cowok itu menghilang bagai di telan bumi dan besoknya dia akan meminta maaf kepada Adista. Padahal Adista sama sekali tidak masalah kalau Langit tidak mengabarinya, Adista bukanlah tipe cewek yang pusing dengan cowok yang tidak ada kabar.

Adista duduk di bangkunya dengan Dinda dan Mikko yang sudah berdua-duan, Adista tidak habis pikir. Tidakkah Dinda bosan dengan Mikko yang selalu menempelinya setiap saat? Kalau Adista jangan ditanya, Langit yang selalu menempelinya pun dia teriaki selalu agar cowok itu pergi. Jangan ditanya juga reaksi Langit, yang pastinya cowok itu tidak akan pergi.

“Pagi-pagi udah pacaran aja, inget woy, ini sekolah,” cibir Adista sambil mengamati mereka.

Dinda hanya terkekeh dan menghampiri Adista setelah mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Buat lo, Bokap gue baru aja pulang dari Padang,” kata Dinda sambil memberikan paper bag.

Adista diam menatap paper bag itu, pikirannya sekarang melayang pada sosok Evan. Pria itu membelikan sepatu sekolah dan hingga sekarang sepatu itu masih digunakannya.

“Adis ...,” Dinda melambaikan tangannya di depan wajah Adista. “Lo dengar gue? Adista ....”

“Eh ...,” Adista tersenyum. “Thanks bilangan ke Bokap lo.”

“Lo ada masalah?”

“Enggak kok,” Adista menggeleng. “Gue memang keliatan lagi ada masalah ya?”

Dinda hanya tersenyum dan menggeleng kemudian menghampiri Mikko lagi yang duduk di bangkunya sedangkan Dinda duduk di bangku Langit.

Adista kembali menatap paper bag yang diberikan oleh Dinda dan sepatu hitam miliknya secara bergantian.

“Apa sih yang gue harapin dari dia?”

Bel masuk sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu sedangkan cowok yang notabenya cowok Adista

dan teman sebangku Mikko belum hadirnya juga hingga sekarang, serta Bu Mala sudah berceloteh panjang lebar tentang Langit yang tidak berubah-ubah.

“Assalamu’alaikum Bu Mala yang cantik,” ucap Langit sambl masuk dan mencium punggung tangan Bu Mala.

Bu Mala diam menatap Langit dari atas hingga bawah, Langit hanya terkekeh dan tersenyum penuh arti kepada Bu Mala untuk menyuruhnya duduk saja.

“Saya baru saja curhat tentang kamu.”

“Ah Ibu, bisa aja,” ucap Langit sambil mencolek lengan Bu Mala.

Seluruh kelas hanya terdiam menatap reaksi Langit yang diluar batas itu, dan Bu Mala yang memperhatikan lengannya yang sudah dicolek oleh Langit.

Bu Mala tersenyum, tidak Ibu itu selalu tersenyum yang membuat seluruh siswa terbujur kaku seperti tak bernyawa menghadapi pelajarannya. Artinya siap bertempur melihat senyumannya.

“Kamu tinggal pilih aja, mau duduk tapi tulis yang sering kamu tulis di satu buku atau lari di lapangan hingga jam pelajaran saya selesai.”

Langit diam tidak menjawab, kemudian Langit melirik ke arah teman sekelasnya dan matanya menangkap sosok yang tengah memegang botol minum yang hendak minum secara diam-diam.

Karena Bu Mala itu tidak suka ada muridnya yang minum di saat jam pelajarannya!

Dan targetnya adalah pacarnya: Adista.

“Bu, Adista mau minum tuh,” ucap Langit membuat Bu Mala menatap Adista.

Adista terkaku, botol yang dia pegang dan hendak minum itu sudah berhenti. Adista tidak berkata apa-apa menatap Bu Mala dengan senyuman di wajahnya.

Adista is died!

“Adista, bisa-bisanya kamu cari kesempatan,” ucap Bu Mala, Adista cepat-cepat menyimpan botol minumnya. “Kamu lari di lapangan berdua dengan Langit, sekarang!”

Adista kembali diam, dia tidak pernah sekalipun dihukum lari lapangan. Menghembuskan napasnya, Adista langsung berdiri dan menghampiri Langit yang tengah senyum-senyum yang menambah kekesalan Adista kepada Langit.

“Kamu itu maunya apa sih?” tanya Adista sambil berlari di samping Langit, cowok itu terkekeh. “Kalo jadi cewek itu ngelindungi bukannya menjeblosi.”

“Kan akunyapengen lari berdua dengan kamu, Adis.”

“Idih ...,” cibir Adista. “Kamu juga kenapa bisa telat?”

“Biasa, tidur malam, bangun siang, pagi ngantuk.”

“Memang kamu dari mana?” tanya Adista. “Basecamp?”

Langit diam membuat Adista berhenti berlari. Langit yang melirik Adista berhenti berlari, menghampiri Adista dengan berjalan mundur.

“Iya, aku di basecamp.”

“Ngerokok?”

Langit diam lagi membuat Adista menghela napasnya. “Habis ini push-up seratus kali,” Adista berlari meninggalkan Langit.

“Seharusnya gue nyangkal aja,” gumamnya.

Adista dan Langit sudah berlari tanpa hitungan lagi, dan dia selalu saja memperhatikan jam kapan bel istirahat berbunyi.

“By, kalo kamu capek duduk aja. Maaf buat kamu kayak gini.”

Adista menggeleng. “Enggak, aku masih kuat kok.”

“Serius By?”

“Iya, aku serius.”

Bel istirahat akhirnya berbunyi setelah mereka berlari dua putaran terakhir, Adista dan Langit duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon di dekat lapangan itu.

“Push-up sekarang,” ucap Adista, Langit meringis.

“Sekarang By?”

Adista mengangguk dan Langit mengambil posisinya untuk melakukan push-up di depan orang banyak yang tengah memperhatikan mereka.

“Dua puluh tiga ... dua puluh empat ... dua puluh lima ....”

“Aku ke toilet dulu,” ucap Adista kemudian pergi meninggalkan Langit yang masih push-up karena dia merokok kemarin.

Adista tidak ke toilet, cewek itu berjalan menuju kantin untuk membeli minum dan tisu untuk Langit. Sebenarnya, Adista tidak tega melihat Langit yang harus push-up setelah berlari mengelilingi lapangan.

“Mang, air mineral sama tisu satu,” ucap Adista.

“Ini neng,” Adista mengambil dan memberikan beberapa lembar uang kemudian dia berjalan cepat kembali ke lapangan menemui Langit yang mungkin saja sudah selesai push-up.

Adista berhenti berjalan ketika melihat Della ada disana yang tengah memberikan minum kepada

Langit. Menghembuskan napasnya, Adista berjalan menuju mereka saat Langit telah mengambil botol minum itu dan hendak membukanya.

“Langit,” panggil Adista. Langit yang hendak membuka tutup botol pun langsung berhentidan menatap tangan Adista yang membawa air mineral dan tisue.

Langit tersenyum, memberikan botol minum itu kepada Adista dan mengambil botol minum yang dipegang oleh Adista.

“Thanks By minumnya,” Adista tersenyum tipis. “Thanks juga minumnya Del.”

“Ah ... iya Kak, kalo gitu aku permisi dulu. Duluan Kak Adista,” Adista mengangguk dan tersenyum singakat.

“Kamu udah push-upnya?” tanya Adista duduk di samping Langit, Langit mengangguk. “Seratus kali?”

“Iyo dong By, cowok kayak aku ini gak pernah bohong. Lihat aja tampang aku ini.”

Adista mendengus. “Bohong banget.”

 

* * *

 

“Ayo pulang By,” ajak Langit menunggu Adista yang memasukkan buku cetaknya kedalam loker dan memasukkan senda jepit ke dalam tasnya. “Sendal buat apa By?”

“Kelihatannya mendung, takut hujan aja. Aku butuh sendal.”

Langit mengangguk dan menggenggam tangan Adista untuk pergi menuju dimana Libert di parkir.

“Kamu markir di sini, Lang?” tanya Adista heran karena motor merah yang bernama Libert itu terparkir bukanlah parkiran untuk murid tetapi untuk guru.

Langit mengangguk. “Di parkiran sana panas, kasihan Libert nanti hitam.”

Adista mencibir dan naik ke jok penumpang.

“Hati-hati naiknya By, Libert nanti marah.”

Adista mendengus dan memegang erat tas punggung Langit karena cowok itu suka tiba-tiba melajukan motornya dengan cepat membuat Adista pernah hampir terjatuh.

Adista mendongak sambil menengadahkan tangannya, hujan. Adista menepuk punggung Langit untuk menyuruhnya berhenti di depan halte yang terlihat oleh Adista.

Karena Adista harus melindungi sepatu pemberian Evan.

Adista dengan cepat turun dan duduk di bangku halte setelah Langit memberhentikan motornya di dekat sana, Adista membuka sepatunya dan mengambil sendal yang tadi dia bawa.

“Adis,” panggil Langit. “Kenapa harus berhenti sih?”

“Sepatu aku gak boleh kena basah, nanti rusak.”

“Kan bisa beli yang baru.”

“Aku gak bisa,” ucap Adista memakai sendalnya dan memasukkan sepatunya ke dalam tasnya. “Aku gak bisa beli sepatu lain meskipun aku punya uang buat beli sepatu baru.”

“Kenapa?”

Adista terdiam, dia tidak menceritakan perihal Evan kepada siapapun termasuk Langit orang terdekat Adista saat ini. Adista tidak tahu apakah memang penting menceritakan tentang Evan kepada

Langit.

“Itu pemberian Papa aku,” lirih Adista. Langit mengernyit, ucapan Adista terdengar ambigu. Langit bahkan pernah bertemu dengan Papa Adista saat Langit ingin menjemputnya jalan-jalan tetapi Adista tertidur, hingga akhirnya Evan yang menemani Langit.

“Maksud kamu?” Langit mengernyit. “Aku bahkan pernah cerita panjang lebar sama Papa kamu.”

Adista terkejut, kapan Langit bertemu dengan Evan? Bahkan saat Langit datang, Evan tidak pernah ada di rumah.

“Kamu kapan ketemu Papa aku?”

“Saat aku ke rumah kamu ngajak kamu jalan-jalan tapi kamu tidur, Papa kamu baik kok orangnya. Dia bahkan cerita panjang lebar tentang kamu. Jadi Papa kamu kenapa?”

Adista tercekat, apa benar dengan ucapan Langit? Tapi kalau memang benar adanya kenapa Adista melihat Evan bersama dengan keluarganya yang lain, bahkan Evan terlihat bahagia bersama dengan

keluarganya itu.

Adista menggeleng, itu tidak mungkin.

 

 

TBC

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!