Pernikahan yang di dasarkan oleh perjodohan, membuat Max tak pernah menganggap Monica sebagai istrinya. Ia selalu memperlakukan Monica dengan begitu kasar. Bahkan, tak tanggung-tanggung Max selalu membawa wanita bayaran nya ke apartemen nya dan Monica untuk memuaskan nya.
Suara desahan dari dalam kamar Max, membuat Monica terisak. Ia benar-benar merasa tak di hargai sebagai seorang istri. Sudah hampir setahun pernikahan mereka, namun Max masih belum juga berubah.
"Ceraikan putri ku sekarang juga!" ucap Juan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Max merasa tubuhnya begitu lemas saat mendengar ucapan Juan barusan. Kenapa di saat ia sudah mencintai Monica, Juan malah menyuruh nya untuk menceraikan Monica.
"Dad, ku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Monica. Aku mencintai nya Dad. Aku sangat mencintai nya" ucap Max. Berlutut di hadapan ayah mertua nya. Namun, bukannya merasa iba, Juan malah menatap Max dengan sinis.
Bagaimana kah kisah nya? Akankah Max bisa mempertahankan pernikahan nya dengan Monica?
Yuk, simak ceritanya.
Update setiap hari senin-jumat!
Sabtu dan minggu libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17
Berikan vote, coment, dan like ~
Siang harinya.....
Jam menunjukkan pukul 12 siang waktu setempat. Monica yang sedang berada di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos nya itu pun terbangun saat mendengar gemericik air shower dari dalam kamar mandi. Monica berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal karena pergulatan panas nya dengan Max beberapa jam yang lalu.
Ddrrtt!
Ddrrtt!
Ddrrtt!
Ponsel Max yang berada di atas nakas berdering. Membuat Monica meraba-raba nakas itu dan mengambil ponsel Max. Dan melihat nama Evelyn tertera di sana. Karena penasaran, Monica pun langsung mengangkat panggilan dari Evelyn.
"Max hikss hikss..... Max, aku hamil"
Deg!
Jantung Monica berdegup kencang saat mendengar ucapan Evelyn di seberang sana. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Max..... Kenapa kau diam saja" ucap Evelyn. Di seberang sana.
Ceklek!
Max membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana dengan menggunakan handuk putih yang melingkar di pinggang nya. Ia menatap ke arah Monica yang sedang terdiam sambil memegang ponsel nya. Max melangkahkan kakinya mendekati Monica.
"Ada apa" ucap Max.
"Bicara dengan wanita mu" ucap Monica dingin. Sambil memberikan ponsel itu pada Max.
"Wanita ku?" ucap Max. Mengerutkan keningnya bingung. Ia mengambil ponsel nya dari tanggan Monica.
"Max? Kau mendengarkan ku?" ucap Evelyn di seberang sana.
"Kenapa kau menghubungi ku" ucap Max dingin.
"Max, kita perlu bertemu" ucap Evelyn.
"Aku sedang sibuk! Tidak ada waktu" ucap Max. Monica yang malas mendengar pembicaraan Max dengan Evelyn pun turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Max, tapi ini sangat penting" ucap Evelyn.
"Bicarakan saja disini" ucap Max.
"Max. A-aku sedang hamil" ucap Evelyn. Membuat Max terkejut.
"Omong kosong! Aku selalu bermain dengan aman" ucap Max. Kini, ia tau kenapa tadi Monica bersikap dingin pada nya.
"Aku tidak bicara omong kosong Max. Aku benar-benar sedang hamil sekarang" ucap Evelyn.
"Jika kau benar-benar hamil. Itu pasti bukan anakku. Aku sudah mengakhiri hubungan kita lima bulan yang lalu. Kenapa baru sekarang kau mengatakan bahwa kau sedang hamil" ucap Max. Membuat Evelyn diseberang sana menelan salivanya susah payah.
"Max....."
"Sudahlah Evelyn. Tidak perlu berbohong lagi" ucap Max. Memotong ucapan Evelyn.
"Tapi....."
Tut!
Max langsung mematikan panggilan itu tanpa mendengar ucapan Evelyn lebih lanjut. Ia melemparkan ponsel nya begitu saja di atas ranjang. Dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Monica! Buka pintu nya. Aku akan jelaskan padamu" ucap Max. Mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu dari luar. "Monica! Sayang, buka pintu nya dulu. Aku akan menjelaskan nya padamu" ucap Max lagi. Masih dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
"Sayang, buka!" ucap Max. Monica yang sedang berada di bawah pancuran air shower pun mendengus kesal.
"Jelaskan saja dari luar sana" ucap Monica berteriak. Membuat Max menghela nafas nya.
"Monica, yang dikatakan oleh wanita itu tidak benar. Dia bukan hamil anakku, tapi hamil anak pria lain" ucap Max. Dengan berteriak pula.
"Apa kau sudah membuktikan nya?" ucap Monica.
"Tidak perlu di buktikan. Aku yakin itu bukan anakku" ucap Max.
"Bagaimana jika dia memang hamil anakmu" ucap Monica.
"Itu tidak mungkin! Hubungan kami sudah berakhir lima bulan yang lalu. Dan aku selalu bermain dengan aman" ucap Max.
Ceklek!
Monica membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana dengan menggunakan kimono dan handuk yang di lilitkan di kepalanya. Ia menatap Max lalu menghela nafas nya. Dan melangkahkan kakinya menuju walk in closed.
"Kau percaya pada ku, bukan?" ucap Max. Mengikuti Monica dari belakang.
"Keluar Max. Aku ingin mengganti pakaian" ucap Monica.
"Apa kau masih malu? Aku sudah melihat semuanya" ucap Max. Menggoda Monica.
"Max, keluar! Aku sedang tidak ingin bercanda saat ini" ucap Monica. Membuat Max menghela nafas nya.
"Monica, tolong percaya padaku. Walaupun, aku pria brengsek. Aku tidak pernah sampai menghamili wanita lain" ucap Max. Memasang wajah memelas nya agar Monica luluh.
"Max, keluar! Aku ingin berganti pakaian" ucap Monica. Memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Huh! Baiklah aku keluar sekarang" ucap Max. Dan ia pun segera keluar dari walk in closed.
...*****...
Saat ini, Amber sedang duduk di halaman belakang mansion milik Chris. Ia menatap kolam renang yang ada disana dengan sendu. Di belakang nya ada beberapa pengawal yang Chris siapkan untuk nya agar ia tidak kabur. Jujur saja, selama seminggu ini ia begitu tersiksa tinggal bersama dengan Chris. Chris selalu memperlakukan nya dengan kasar. Karena obsesi Chris pada Monica. Membuat dirinya harus terkurung di sini. Entah apa yang di rencanakan oleh Chris. Ia tidak tau. Yang pasti alasan Chris mengurung nya disini karena Monica.
"Nyonya, Tuan Chris memanggil anda" ucap seorang pelayan. Membuat Amber menghela nya berat. Dengan malas ia bangkit berdiri dan menghampiri Chris yang saat ini sedang berada di kamar.
"Siapkan pakaian ku di koper" ucap Chris. Saat Amber sudah berada di dalam kamar. Amber pun menurut. Ia masuk kedalam walk in closed dan langsung menyiapkan pakaian di koper untuk Chris.
Setelah lima menit menyiapkan pakaian Chris. Amber pun keluar dari walk in closed sambil menyeret koper itu. Chris yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil mengutak-atik ponselnya pun bangkit berdiri.
"Aku akan pergi ke Barcelona selama seminggu. Jika kau berani kabur di saat aku tidak ada. Kau tau bukan? Apa yang akan aku lakukan padamu?" ucap Chris. Menatap Amber dengan tajam. "Sebelum aku pergi, kau harus memberikan aku stamina" ucap Chris lagi. Membuat Amber menelan salivanya susah payah. Ia tau stamina yang di maksud oleh Chris.
"Buka pakaian mu" ucap Chris. Pada Amber. Sambil membuka pakaian yang ia kenakan. Dengan gemetar, Amber pun membuka semua yang ia kenakan. Hingga ia benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.
Nafas Chris memburu saat melihat tubuh polos Amber. Ia menarik kasar tangan wanita itu dan menghempaskan nya ke ranjang. Hingga membuat Amber terlentang disana. Dengan kasar, Chris membuka paha Amber lebar. Mengarahkan miliknya pada milik Amber. Dan memulai penyatuan mereka tanpa melakukan pemanasan lebih dulu. Amber yang berada di bawah kukungan Chris hanya bisa meringis kesakitan saat milik Chris terus menghunjami miliknya dengan begitu kasar.
Setelah satu jam. Barulah Chris menghentikan permainannya saat ia sudah mencapai puncaknya. Ia menatap Amber yang masih berada di bawah kukungan nya. Wanita itu memejamkan matanya. Entah wanita itu sedang tidur atau pingsan. Ia tidak tau.
Chris melepaskan penyatuan mereka dan segera turun dari ranjang. Ia melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Setelah lima menit, Chris keluar dari kamar mandi dan melangkahkan kakinya ke walk in closed untuk menggunakan pakaian nya. Setelah menggunakan pakaian nya. Chris keluar dari walk in closed. Menarik koper nya dan segera keluar dari kamar.
"Nyonya mu seperti nya pingsan. Suruh Adelia untuk memeriksa nya" ucap Chris. Pada pengawal yang sedang berdiri di depan pintu kamar nya itu.
"Baik Mr" ucap pengawal itu. Menundukkan kepalanya hormat.
"Jangan sampai dia kabur dari mansion ini di saat aku tidak ada" ucap Chris.
"Baik Mr. Saya mengerti" ucap pengawal itu. Setelah mendengar jawaban dari pengawal nya. Chris pun segera pergi dari sana.
...*****...
Monica keluar dari walk in closed dengan pakaian nya yang sudah rapi. Membuat Max yang sedang duduk di pinggir ranjang menatap ke arah nya dengan bingung.
"Kau ingin kemana" ucap Max.
"Aku ingin pergi menemui Alexa" ucap Monica. Melangkahkan kakinya ke arah meja rias nya. Dan duduk disana. "Kenapa kau tidak memakai pakaian mu Max" ucap Monica lagi. Saat menyadari Max yang masih menggunakan handuk.
"Aku tidak memiliki pakaian ganti" ucap Max. Membuat Monica menatap ke arah nya.
"Kau sudah tau, kau tidak memiliki pakaian ganti. Untuk apa kau mandi" ucap Monica kesal. Ia bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar.
"Kau ingin kemana" ucap Max.
"Mencari pakaian ganti untuk mu" ucap Monica. Ia membuka pintu kamar nya dan segera keluar dari sana.
Tak berapa lama. Monica kembali masuk kedalam kamar nya dan menyerahkan kemeja berwarna merah maroon dan celana panjang pada Max.
"Pakai ini" ucap Monica.
"Ini milik siapa" ucap Max.
"Itu milik Daddy ku saat dia masih muda" ucap Mon. Max menganggukkan kepalanya dan bangkit berdiri dari duduk nya. Dengan santai ia membuka handuk yang melingkar di pinggang nya itu. Membuat Monica membulatkan matanya. "Max!" ucap Monica lagi. Setengah berteriak.
"Ada apa. Kau sudah dua kali melihat nya" ucap Max terkekeh. Monica memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan kembali ke meja rias nya. "Monica" ucap Max lagi. Sambil mengenakan pakaian nya.
"Hhmm" jawab Monica berdehem. Sambil memoleskan beberapa make up ke wajahnya.
"Surat perceraian itu..... Apa kau masih ingin meminta ku untuk menandatangani nya?" ucap Max.
"Besok adalah hari terakhir untuk kau menandatangani surat perceraian itu" ucap Monica.
"Apa kau benar-benar ingin menceraikan ku?"ucap Max sendu. "Aku sudah meminta maaf padamu. Aku sudah mengungkapkan perasaan ku padamu. Kenapa kau masih ingin menceraikan mu? Apa yang sudah kita lakukan itu tidak berarti sama sekali bagi mu?" ucap Max lagi. Monica menghentikan aktivitas nya dan menatap Max melalui kaca yang ada di meja rias nya itu.
"Max....."
"Kau pilih Brian atau aku" ucap Max. Memotong ucapan Monica. Membuat wanita itu terdiam. Ia sendiri pun bingung dengan pilihan yang Max berikan. Ia masih bingung dengan perasaan nya saat ini. Apakah ia benar-benar mencintai Brian? Atau apakah dia mencintai Max.
"Entahlah Max. Aku bingung" ucap Monica. Bangkit berdiri. Ia mengambil tas jinjing nya dan segera keluar dari kamar.
saya mampir lg thor
menang dasar,,,,, cerita ini Tdk ada mencerminkan adab yg baik.