Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 — Nyanyian Dan Tarian
Ren dengan senang hati memasang telinganya baik-baik selagi tersenyum, dia ingin mendengar suara Theresia yang sedang bernyanyi. Meskipun dia tampak sedikit memaksa, namun dengan keras Ren membantah bahwa dia tidak memaksa!
Dia hanya menggunakan trik yang dia pelajari dari anime, bahkan tidak sedikit orang menggunakan trik yang sama untuk memohon, jadi hal itu tidak termasuk memaksa.
Meskipun ini bukan kali pertamanya seorang gadis bernyanyi untuknya, namun bisa dibilang ini kali pertama Ren meminta gadis bernyanyi untuknya.
Bukan bermaksud untuk sombong, Ren percaya diri ada banyak gadis yang jatuh cinta kepadanya saat di SMA. Bahkan yang membuat Ren terkejut dan takut adalah tanpa disadari dia memiliki klub penggemar!
Meskipun wajah Ren terbilang sedikit bagus, ada yang lebih bagus selain dia di SMA. Bahkan di pulau ini, tanpa keraguan Zain nomor satu. Seharusnya dia pasti memiliki semacam klub penggemar seperti halnya Ren.
Yah, itu akan menjadi cerita lain. Sekarang karena nampaknya Theresia sudah menentukan lagu yang ingin dia nyanyikan, segera dia membersihkan tenggorokannya.
“Ehem, ehem!” dia melirik Ren untuk beberapa waktu sebelum memejamkan matanya dan bernyanyi.
Theresia mulai bernyanyi dengan merdu, Ren terpana akan suara dan Theresia yang memancarkan pesona khusus seorang penyanyi panggung.
Meskipun tidak ada iringan musik menyertai, entah bagaimana Ren seakan-akan dapat mendengarkan halusinasi suara musik yang mengiringi nyanyian Theresia.
Lagu yang dia nyanyikan adalah milik Billie Eillish - Lovely. Hanya ada satu yang terpikirkan oleh Ren, dia seakan melihat penyanyi tersebut tecerminkan melalui Theresia.
Ren bukanlah pakar soal musik ataupun ahli tentangnya, namun dia yang amatir sekalipun berani menyatakan bahwa Theresia sangatlah berbakat untuk menjadi penyanyi.
Tanpa disadari oleh Theresia yang hanyut dalam lagunya sendiri, jumlah penonton yang ada bertambah dengan sendirinya. Tidak perlu bertanya, mereka adalah Zain, Laura dan Mirai.
Mereka baru saja tiba beberapa waktu lalu. Saat perjalanan mereka melihat Ren dan Theresia yang sepertinya bernyanyi. Karena kesempatan yang langka untuk Theresia bernyanyi di depan orang, Mirai menyarankan untuk tidak bersuara sedikitpun hingga Theresia menyadarinya.
Mirai sudah mengenal Theresia semenjak sekolah dasar, dia sangat mengetahui seperti apa sosok teman masa kecilnya itu. Dia sudah tidak terkejut dengan suaranya, namun tetap tidak bisa untuk tidak terpesona. Tidak peduli berapa kali dia mendengarnya, hatinya meleleh!
“Huh~, itu saja. Tenggorokanku terasa kering karena kurang ... Minum ...” Theresia terlambat menyadari bahwa Zain dan yang lainnya sudah merapatkan barisan bersama Ren dan mendengarkannya bernyanyi seperti anak kecil.
Segera dia menutup wajahnya yang semerah tomat karena begitu malu untuk bernyanyi di depan mereka. Dia benar-benar lupa bahwa sedang menunggu Zain dan yang lainnya.
“Sejuknya~, Theresia memang yang terbaik soal imut dan lagu ...” Mirai meremas pipinya sendiri dan tersenyum lebar.
“Benar~, tepat setelah lagu berakhir, kita bisa melihat wajah manis kucing malu-malu.” Laura bertindak sama dengan halnya Mirai.
Ren dan Zain hanya tertawa melihat mereka. Patut disyukuri bahwa mereka tidak merasa terbebani ataupun mengalami kelelahan mental saat ini. Nyatanya, mereka dapat bergurau dan tertawa seperti ini sudah menjadi buktinya.
Terdampar di pulau terpencil jelas memiliki efek luar dan dalam. Efek luar seperti yang sedang dipertahankan Ren dan kelompoknya. Mereka sebisa mungkin memenuhi kebutuhan tubuh mereka perharinya dengan memberikan asupan makanan ataupun minuman yang terbatas.
Efek dalam adalah kelelahan, baik itu fisik maupun mental keduanya sama pentingnya. Fisik jelas mudah diatasi dengan beristirahat beberapa jam, bila perlu satu hari penuh.
Namun kelelahan mental adalah dua hal yang berbanding beda dengan fisik. Sulit untuk mengatasi kelelahan mental. Meskipun terdapat hiburan dan sejenisnya, efeknya hanya akan sementara.
Sama halnya ketika memulai sekolah, mayoritas siswa akan berkata “Besok sudah senin dan harus sekolah, rasanya malas sekali.” bahkan tidak jarang dari mereka yang memilih membolos.
Tidak jauh berbeda, bagi mereka yang memiliki kegiatan, setiap minggunya hanya akan ada satu hari libur yaitu pada hari minggu. Hal itu dapat mengobati sedikit kelelahan mental, tetapi akan kambuh lagi.
Belum juga terdapat faktor seperti banyaknya pekerjaan rumah dan bahkan ujian. Karena hal itulah tingkat kelelahan mental dan depresi lebih banyak dilalui mereka yang masih menempuh pendidikan.
Patut disyukuri bahwa Zain dan yang lainnya memiliki mental kuat. Clarissa juga, meskipun tidak satu kelompok Ren dapat menebak bahwa orang sepertinya sudah dilatih tahan terhadap tekanan semenjak kecil.
Anastasia tidak perlu diragukan, jika dia memiliki pengetahuan bertahan hidup dan ini bukan pengalaman pertamanya, dia pasti memiliki mental yang kuat.
Setelah memastikan setiap orang memasang jebakannya, Ren dan yang lain melanjutkan perjalanan. Seringkali Zain bertanya-tanya dengan khawatir tentang apa yang mereka cari.
Seperti semalam, Ren bungkam tentang apa yang dia ingin tunjukan kepada yang lainnya. Walaupun hanya tebakan, dia yakin perbandingannya antara 70:30.
Sikap optimis-nya bukan tanpa pertimbangan. Terdapat faktor-faktor yang meyakinkan Ren bahwa “Itu” benar-benar ada di sana. Telinganya juga tidak mungkin salah mendengar.
“Tenang saja, kalian tidak perlu khawatir karena tempat yang kita tuju tidaklah berbahaya. Ah, namun berhati-hatilah saat melalui semak-semak karena mungkin ada ular.” Ren memberikan peringatan selagi tetap memimpin jalan.
“U-ular?!!” Laura menjerit, membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya.
“A-ada ular di pulau ini, Ren?” lanjutnya dengan suara gemetar dan takut.
Ren justru menunjukkan tatapan yang seakan mengatakan “Kamu bego?” kepada Laura.
“Eh? Tentu saja ada, kan?” Ren menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Laura menatap langsung mata Ren selagi bersembunyi di punggung Mirai. Entah bagaimana dia seperti kelinci kecil dan satu ekor kelinci lain— Theresia ikut bersembunyi di punggung Mirai.
“Tunggu, jangan jadikan aku perisai hidup kalian!” Mirai merasa terusik karena dijadikan tameng Laura dan Theresia.
“Kenapa? Kenapa bisa ada ular di pulau ini?” Laura menunjukkan tatapan tidak percaya.
Ren justru semakin bingung, tatapannya kepada Laura kini berubah menjadi tatapan yang seperti melihat orang aneh.
“Kok tanya kenapa, ini hutan dan sudah kewajaran hewan seperti ular dan jenis lainnya bisa saja tinggal di pulau ini.” Ren berkata seakan itu hal yang sudah jelas di dunia ini.
Meskipun dia tidak pernah menjumpai atau tanda-tanda adanya ular dan hewan berbahaya lain, ada baiknya menganggap bahwa mereka benar-benar ada.
Hal itu diperlukan untuk memperingati Laura dan yang lainnya untuk selalu waspada. Tidak ada yang paling menakutkan selain kemarahan alam dan tidak ada yang patut diwaspadai selain alam rimba.
“Yah, tidak perlu setakut itu Laura. Bahkan jika ada ular, aku yakin mereka tidaklah berbisa ... Mungkin.” Ren segera melanjutkan perjalanan.
Laura masih merasakan takut, bahkan ragu untuk melangkah sampai Zain meraih pergelangan tangannya dengan wajah serius.
“Jangan takut, aku ada di sini dan akan melindungimu.” Zain menatap mata laura secara langsung.
Hal itu membuat Laura memerah, sementara Mirai dan Theresia segera menjauh dengan senyuman nakal di bibir.
“Sebagai gantinya ...” Zain melanjutkan dengan perkataan gantung, dia mulai mengangkat tangannya dan menunjuk sesuatu di kepalanya, “Mohon singkirkan ulat bulu di kepalaku!”
Zain nampak ingin menangis dan tubuhnya menggeliat dengan gemulai. Ren tidak menolongnya, justru dia kagum akan hal lain.
“Muke gile! Aku tidak menduga kamu bisa melakukan tarian ular Zain! Mohon ajari aku cara melakukannya!” Ren mulai menggoyangkan bokong dan tangannya, mencoba meniru gerakan Zain.
“Menari gundulmu! Bantu singkirkan ini! Emak!” Zain mulai berteriak keras dan memanggil ibunya.
Ren tidak memiliki pilihan lain sehingga membantu menyingkirkan ulat itu dengan ranting yang dia ambil.
‘Yah, aku akan memintanya mengajariku lain kali.’ Ren memutuskan untuk mempelajarinya nanti.