Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab²⁰
Sore itu, suasana mansion keluarga Ardynata terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya. Tawa Laura dan Lionel bersahutan dari halaman belakang, tempat keduanya sedang bermain gelembung sabun bersama beberapa pelayan. Angin sore berembus pelan membawa aroma bunga melati dari taman, menciptakan suasana yang begitu damai.
Naura berdiri di balkon lantai dua sambil memegang secangkir teh hangat. Pandangannya tertuju pada kedua anaknya yang kini kembali bisa tertawa tanpa rasa takut.
"Sedang mengawasi pasukan kecilmu?" suara Alaska terdengar dari belakang.
Naura menoleh sekilas sebelum tersenyum tipis. "Aku sedang memastikan mereka benar-benar bahagia."
Alaska ikut bersandar di pagar balkon. "Sepertinya misiku berhasil."
Naura mengangkat sebelah alis. "Misi apa?"
"Mengembalikan senyum pasien."
"Kau yakin pasiennya aku?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Laura dan Lionel."
Naura tertawa kecil. "Berarti aku cuma bonus?"
"Kamu paket bundling."
Naura spontan memukul pelan lengan pria itu menggunakan handuk kecil yang masih dibawanya. "Dokter macam apa bicara begitu?"
"Dokter yang sedang berusaha membuat pasiennya berhenti cemberut."
"Aku memang pernah cemberut?"
Alaska menatap Naura cukup lama hingga wanita itu mulai salah tingkah.
"Dulu."
"Kalau sekarang?"
"Sekarang lebih banyak mengomel."
Naura memutar bola matanya. "Nilai mata kuliah komunikasimu waktu kuliah, pasti pas-pasan."
"Nilainya bagus."
"Mustahil! Saat bicara denganku, kau selalu menyebalkan."
Alaska hanya terkekeh pelan. "Kalau setiap kali melihat seseorang rasanya ingin menggodanya terus... itu termasuk gejala apa menurutmu?"
"Itu gejala kurang kerjaan." Naura langsung menjawab tanpa berpikir.
"Bukan."
"Lalu?"
"Mungkin... sedang menyukai seseorang."
Naura menoleh sambil mengerutkan dahi. "Wah... Dokter Alaska ternyata sedang jatuh cinta?"
Alaska tidak langsung menjawab Naura, pandangannya justru beralih kepada Laura dan Lionel yang sedang berlari mengejar gelembung sabun.
"Sudah cukup lama aku jatuh cinta padanya..." gumam Alaska.
"Serius?" Naura tampak benar-benar penasaran. "Tapi... aku kasihan juga sama perempuan itu."
Alaska menoleh sambil mengangkat sebelah alis, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Dia pasti sering kena ceramah darimu kalau telat makan," ejek Naura.
Alaska terkekeh pelan sambil menggeleng.
"Aku tidak pernah memarahinya, Naura."
"Kalau begitu, dia sering disuruh olahraga olehmu."
"Olahraga memang perlu."
“Perempuan mana yang tahan sama dokter iblis sepertimu?" Naura menggeleng geli.
Alaska tersenyum tipis. "Entahlah...“
"Dia sudah tahu kalau kamu menyukainya?" tanya Naura tanpa sadar.
Alaska tersenyum tipis. "Belum. Aku belum pernah mengatakan apa pun padanya."
"Kenapa gak bilang?"
Alaska terdiam beberapa saat sebelum menjawab pelan. "Karena... dia baru saja berhasil keluar dari hubungan yang menyakitkan."
Naura mengangguk pelan, seperti paham. "Kalau begitu, jangan buru-buru. Biarkan dia benar-benar sembuh dulu."
"Itu juga yang sedang kulakukan." Tatapan Alaska melembut.
Naura sama sekali tidak menyadari bahwa sejak awal pembicaraan itu, perempuan yang dimaksud Alaska adalah dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, suara mobil memasuki halaman mansion. Seorang kurir khusus turun sambil membawa sebuah map cokelat berlogo pengadilan.
"Permisi, apakah ini kediaman Ibu Naura Ardynata?"
"Benar." Jawab pelayan di rumah itu.
"Ini dokumen resmi dari Pengadilan Negeri."
Tak lama, Naura menerima map itu dengan sedikit rasa penasaran. Namun begitu membaca tulisan pada halaman depannya, tangannya perlahan membeku.
Akta Cerai.
Naura membuka lembar demi lembar dokumen itu dengan perlahan. Delapan tahun pernikahannya, kini benar-benar berakhir hanya dalam beberapa lembar kertas.
Naura hanya menarik napas panjang, dadanya terasa jauh lebih lega. Ia menutup map itu perlahan, lalu menatap langit sore yang mulai berwarna jingga.
"Akhirnya... aku benar-benar bebas." Suara Naura terdengar begitu lirih.
"Sedih?"
Naura menggeleng pelan, Ia tersenyum kecil. "Ternyata mengakhiri sesuatu yang sudah lama mati... tidak sesakit yang kubayangkan."
Alaska memperhatikan wajah Naura dengan pandangan lembut, tak ada lagi kesedihan yang dulu selalu ia lihat di wajah wanita itu. Yang tersisa kini, hanyalah seorang perempuan yang perlahan menemukan kembali dirinya sendiri.
Malam harinya, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah. Laura dan Lionel sedang sibuk menyusun balok, sementara Naura membaca dokumen yang baru dikirim kuasa hukumnya.
"Sidang kedua dijadwalkan minggu depan," gumamnya.
Alaska yang sedang membaca jurnal medis mengangkat kepala. "Gugup?"
"Sedikit." Naura jujur.
"Aku takut kalau..." Kalimatnya menggantung. "Aku takut mereka dipisahkan lagi dariku."
Alaska menutup jurnalnya lalu duduk lebih dekat.
"Naura, ada satu hal yang kupelajari saat menjadi seorang dokter. Pasien yang terlalu banyak membayangkan kemungkinan buruk, biasanya justru lebih cepat lelah."
Naura tertawa kecil. "Kau selalu bisa menghubungkan semuanya dengan dunia medis."
"Itu penyakit profesi."
"Lalu resepmu apa kali ini?"
"Percaya." Alaska menatap wanita itu sambil tersenyum tipis.
"Hanya itu?"
"Hakim memutus berdasarkan bukti." Alaska menunjuk Laura dan Lionel yang sedang tertawa bersama Bik Ela. "Kamu punya bukti kalau mereka... tumbuh bahagia bersamamu. Kamu juga punya saksi, dan punya kemampuan memberi mereka kehidupan yang baik."
Alaska berhenti sejenak. "Dan yang paling penting, kamu punya mereka yang memilihmu."
Tatapan Naura mengikuti arah pandang Alaska. Laura sedang membantu Lionel menyusun balok yang roboh, sementara Bik Ela tertawa melihat tingkah kedua bocah itu.
Naura mengembuskan napas panjang, perlahan rasa cemas di dadanya mulai menghilang. Ia menggenggam map sidang itu lebih erat. "Kau benar, aku tidak boleh takut."
"Itu baru pasienku." Alaska mengangguk puas.
Tanpa sadar, tatapan Naura kembali tertuju pada Alaska. Namun kali ini, ia tak sekadar melihat pria itu sebagai dokter yang selalu mengomelinya. Perhatiannya justru berhenti pada senyum tipis yang menghiasi wajah Alaska. Senyum yang jarang muncul itu membuat wajah pria tersebut terlihat jauh lebih hangat, bahkan... sangat tampan.
Selama ini Alaska selalu tampak tegas dan sulit ditebak, tetapi kini sosoknya terlihat berbeda di mata Naura. Namun senyum di wajah Naura perlahan memudar, saat dia teringat ucapan Alaska beberapa waktu lalu.
“Hatiku memang sudah kuberikan pada seseorang."
Pikiran tersebut tiba-tiba membuat dada Naura terasa tidak nyaman.
Astaga... ! Sejak kapan aku jadi penasaran dengan kehidupan Alaska? Dan kenapa jantungku malah berdebar hanya karena melihatnya? Jangan sampai pria menyebalkan ini sadar! Kalau dia tahu aku mulai memperhatikannya, pasti aku bakal jadi bahan ejekannya seumur hidup dengan mulut iblisnya itu!
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂