Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Halaman gubuk kini berbau anyir, perpaduan antara darah segar dan bau getah daun obat yang mengering. Punggung Jangkrik sudah tidak berbentuk lagi; bilur-bilur merah kehitaman melintang merata, robek di beberapa tempat hingga meneteskan darah ke tanah kapur.
Tangan kirinya bergetar hebat, membengkak dua kali lipat dari ukuran normal. Namun, di matanya tidak ada lagi air mata, yang ada hanyalah tatapan kosong yang teramat dingin.
Pletarrr!
Sabetan terakhir mendarat tepat sebelum tengah hari. Tubuh Jangkrik limbung, lututnya membentur tanah dengan keras. hatinya menolak menyerah, tapi fisiknya sudah mencapai batas maksimal manusia.
Sang Warok menarik pecut Samandiman-nya, membiarkan ujungnya menjuntai di tanah. Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekati muridnya yang sedang bertumpu pada kedua tangan yang hancur.
"Cukup," ucap Sang Warok datar, suaranya tak lagi meledak-ledak seperti tadi pagi. "Kau bertahan sampai siang. Tidak buruk untuk seorang bocah yang tiga bulan lalu menangis karena ketakutan."
Jangkrik terbatuk, meludah ke samping untuk membersihkan debu dari mulutnya. Sambil mengertakkan gigi, ia memaksa tubuhnya untuk kembali berdiri tegak, meski badannya gemetar hebat.
"Kenapa berhenti, Warok?" desis Jangkrik, suaranya serak dan parau. "Matahari baru saja tegak. Kau mulai kasihan padaku?"
Sang Warok menatap Jangkrik, lalu sebuah senyum sinis kembali menghiasi wajah angkernya. "Kasihan?! Di dalam kamus seorang Warok, kata itu sudah lama mati, Jangkrik. Aku menghentikan sabetanku karena jika kulanjutkan, kulitmu akan habis dan kau mati kehabisan darah. Mati sebelum sempat membalas dendam itu... membosankan."
Pria itu berbalik, menyampirkan pecutnya di pinggang kombor hitamnya, lalu berjalan menuju kendi air di dekat pintu gubuk. Ia meminumnya seteguk, lalu melemparkan kendi tanah liat itu ke arah Jangkrik.
Hup. Jangkrik menangkap kendi itu dengan sisa tenaga tangan kirinya, meski rasa ngilu langsung menusuk hingga ke ubun-ubun. Ia meminumnya dengan rakus, membiarkan air dingin membasahi kerongkongannya yang kering.
"Dengar, Jangkrik," kata Sang Warok sambil bersandar pada tiang gubuk, mengawasi muridnya. "Punggungmu yang robek itu adalah harga yang harus kau bayar untuk menumbuhkan Ilmu Tameng Waja—dasar dari ilmu kebal. Mulai malam ini, luka-luka itu tidak boleh diobati dengan getah lagi."
Jangkrik menyeka air di dagunya dengan punggung tangan yang bengkak. "Lalu? Kau mau membiarkannya membusuk?"
"Kau harus merendam punggungmu di air garam hangat yang dicampur dengan gerusan belerang gunung," sahut Sang Warok dengan nada santai, seolah sedang menyuruh muridnya makan pisang. "Rasanya akan seperti dikuliti hidup-hidup. Tapi itu satu-satunya cara agar jaringan kulitmu mengeras bagai perisai tembaga."
Jangkrik terdiam sesaat. Membayangkan luka robek akibat pecut disiram air garam dan belerang sudah cukup membuat orang dewasa menjerit histeris. Tapi bocah itu hanya menatap kendi di tangannya, lalu menatap Sang Warok dengan mata yang menyipit tajam.
"Hanya itu?" tanya Jangkrik menantang.
Sang Warok menaikkan satu alisnya, agak terkejut dengan ketenangan muridnya. "Kau tidak takut?"
Jangkrik berjalan mendekati batang jati yang bergoyang diterpa angin siang. Ia menempelkan telapak tangannya yang bengkak pada noda darah yang mengering di kulit pohon itu.
"Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding malam saat kau menyembelih keluargaku, Warok," ucap Jangkrik, suaranya pelan namun bergaung penuh ancaman di halaman gubuk. "Siapkan garam dan belerangmu. Semakin sakit yang kurasakan, semakin besar pula kekuatanku untuk merobek dadamu nanti."
Sang Warok tertegun mendengarnya. Sesaat kemudian, pria itu tersenyum lebar, tatapannya dipenuhi kepuasan yang gila.
"Luar biasa! Kau benar-benar monster kecil yang menyenangkan, Jangkrik! Kalau begitu, bersiaplah. Malam ini, nerakamu yang sebenarnya baru saja dimulai!"
Di tengah ruangan, sebuah gentong batu besar mengepulkan uap hangat yang berbau menyengat—perpaduan antara garam dapur yang pekat dan gerusan belerang kuning yang diambil Sang Warok dari kawah gunung.
Jangkrik berdiri di tepi gentong itu. Punggungnya yang telanjang memperlihatkan bilur-bilur merah menganga bekas sabetan pecut tadi siang.
"Tunggu apa lagi, Jangkrik? Masuk," perintah Sang Warok yang duduk di sudut gubuk, matanya berkilat di balik temaram api obor. "Atau nyalimu mendadak ciut?"
Jangkrik tidak menjawab. Ia mencengkeram tepi gentong batu dengan kedua tangannya yang bengkak, lalu perlahan menurunkan tubuhnya ke dalam air ramuan tersebut.
Begitu air garam dan belerang itu menyentuh luka-luka terbuka di punggungnya—
Ssshhhh!
Rasa sakit yang teramat sangat, seperti ribuan jarum membara yang ditusukkan sekaligus ke dagingnya, langsung menghantam kesadaran Jangkrik. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga giginya berderit keras, menahan jeritan yang sudah sampai di ujung tenggorokan. Air mata mengalir deras di pipinya secara refleks, namun ia menolak mengeluarkan suara.
Sang Warok bangkit, berjalan mendekati gentong dan menatap muridnya yang sedang menggigil hebat di dalam air hangat.
"Tahan, Jangkrik! Jangan melompat keluar!" gertak Sang Warok. "Gunakan napasmu! Salurkan rasa perih itu ke ulu hati, satukan dengan hawa amarahmu!"
Jangkrik mencengkeram tepi gentong lebih erat, sampai kuku-kukunya memutih. "K-Kau... bajingan..." desisnya di sela-sela gigi yang merapat.
Sang Warok malah tersenyum puas. "Memang. Aku memang bajingan. Tapi bajingan inilah yang sedang mengubah kulit tipismu menjadi Tameng Waja. Rasakan air itu, Jangkrik. Biarkan belerang dan garam itu membakar dagingmu, mematikan saraf-saraf manjamu, dan mengeraskan setiap senti kulitmu!"
Jangkrik memejamkan mata. Di dalam kegelapan benaknya, rasa perih yang membakar ini perlahan berkelindan dengan dendam yang membara. Ia membayangkan setiap detak rasa sakit ini sebagai bahan bakar yang akan mempercepat kematian pria di hadapannya. Perlahan, napasnya yang semula terengah-engah mulai teratur. Tubuhnya yang menggigil mulai tenang, meski air di dalam gentong perlahan berubah warna menjadi kemerahan akibat darah yang larut.
Melihat perubahan itu, Sang Warok menaikkan alisnya, tampak kagum. "Luar biasa. Kau bisa menjinakkan rasa sakit sesedikit ini dalam hitungan menit. Kau benar-benar jangkrik aduan yang langka."
Jangkrik membuka matanya. Sorot mata bulat yang dulunya jernih kini telah sepenuhnya berubah menjadi sepasang mata pemburu yang dingin dan kelam.
"Warok..." suara Jangkrik terdengar berat, keluar dari tenggorokan yang kering.
"Apa?"
"Setelah kulitku mengeras..." Jangkrik menatap gurunya dengan tatapan menusuk. "...apa latihan berikutnya?"
Sang Warok terkekeh pelan, lalu mengambil pecut Samandiman yang tersampir di meja. "Setelah kulitmu siap, kita akan mulai melatih kecepatanmu. Kau harus bisa menangkap ujung pecutku ini dengan tangan kosong saat aku menyabetkannya sekuat tenaga. Jika kau gagal menangkapnya, ujung pecut ini yang akan merobek wajahmu."
Jangkrik menyeringai tipis di dalam gentong, mengabaikan rasa perih yang masih berdenyut di punggungnya.