NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Yang Memilih Pergi.

Lamunanku buyar ketika terdengar ketukan di pintu kamar.

"Seolhwa... apa kamu sudah tidur?" tanya oppa dari balik pintu.

"Belum, Oppa. Masuk saja."

Pintu terbuka dan Hwi Sol oppa masuk sambil membawa sepotong strawberry cheesecake dan segelas matcha latte kesukaanku.

"Ini untuk menambah energimu. Dimakan, ya?" ujarnya sambil meletakkan nampan di sampingku.

"Oppa mau membuatku gemuk, ya? Malam-malam begini."

"Tidak dong, sayang. Tapi kalau kamu tidak mau, ya sudah. Biar Oppa bawa lagi saja."

Ia berpura-pura hendak mengambil kembali nampan itu.

"Ih! Siapa bilang aku tidak mau? Aku cuma bilang begitu saja."

Aku segera menahan tangannya agar tidak mengambil kembali makanan itu.

Hwi Sol oppa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkahku.

Aku pun mulai menyantap cheesecake itu dengan lahap.

"Wah! Cheesecake memang tidak pernah mengecewakan. Enak sekali, Oppa!"

"Kalau enak, habiskan."

"Oppa, kenapa hanya berdiri? Duduk di sini."

Ia pun duduk tepat di sampingku. Tatapannya terus mengawasi saat aku makan.

Tiba-tiba ibu jarinya mengusap sudut bibirku yang terkena remahan cheesecake.

"Dasar anak kecil. Masih saja makan berantakan."

Aku membeku seketika.

Kedua mataku membesar. Jantungku berdetak tak beraturan, seolah ingin meloncat keluar dari dada.

Apa ini?

Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekat Hwi Sol oppa?

Aku buru-buru mengalihkan pikiranku dan berusaha bersikap biasa saja.

Lalu aku teringat permintaan Bora eonnie.

"Oppa... bagaimana kalau Sabtu ini kita jalan-jalan berdua?"

"Tumben sekali kamu yang mengajak Oppa. Biasanya kan Oppa yang mengajak."

"Kenapa? Oppa tidak mau?"

"Bagaimana mungkin Oppa menolak permintaan adiknya sendiri? Baiklah. Kita jalan-jalan. Memangnya kamu mau melakukan apa?"

"Ada deh. Rahasia. Kali ini Oppa harus menuruti kemauanku, ya."

Hwi Sol terkekeh pelan.

"Memangnya sejak kapan Oppamu ini tidak menuruti keinginanmu?"

"Hehe... iya juga, ya."

"Kalau begitu Oppa kembali ke kamar dulu. Setelah makan, jangan lupa sikat gigi dan langsung tidur."

Ia mencubit pipiku dengan lembut sebelum pergi.

Begitu Hwi Sol oppa menyetujui ajakanku, aku langsung mengirim pesan kepada Bora eonnie.

Benar saja.

Bora eonnie terdengar sangat senang.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan rencana agar mereka bisa semakin dekat satu sama lain.

"Semoga saja rencanaku berhasil menyatukan mereka berdua."

Di sisi lain rumah, Hwi Sol berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

"Aku harus segera memberitahu Seolhwa tentang perasaanku... dan tentang orang tua kandungnya."

*Keesokan Harinya*

Bakery milikku cukup ramai hari ini.

Aku bahkan berencana menambahkan beberapa menu baru yang sedang viral. Kurasa itu bisa membantu meningkatkan penjualan.

Hari ini aku memutuskan makan siang sendirian di luar.

Pagi tadi, saat berangkat ke bakery, aku melihat sebuah kafe baru yang letaknya tidak jauh dari tempat kerjaku.

Sesampainya di sana, aku memesan satu makanan dan satu minuman.

Setelah selesai makan, aku duduk santai sambil memainkan ponsel.

Namun sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

"Kau akan mati."

Aku terkejut membaca isi pesan itu.

Tetapi aku mencoba berpikir positif. Mungkin hanya pesan iseng atau salah kirim.

Tak lama kemudian aku kembali ke bakery.

Namun sesampainya di sana, langkahku terhenti.

Seorang pria tampan duduk di dekat jendela dengan segelas es cokelat di mejanya.

Tatapannya tak lepas mengawasi setiap langkahku.

Aku pun tersenyum saat menyadari siapa orang itu.

"Darimana saja owner muda satu ini?" tanyanya.

"Owner muda ini baru pulang makan siang. Lalu bagaimana dengan atlet taekwondo yang sedang cuti sakit ini?" balasku sambil bercanda.

Eun Dam tertawa kecil.

Aku duduk di sampingnya dan menceritakan bahwa bunga yang pernah ia berikan kusimpan di dalam pot lucu dan kurawat setiap hari.

"Aku juga—"

Belum sempat melanjutkan kalimatku, Eun Dam tiba-tiba berkata,

"Seolhwa... jika aku adalah pria yang kejam dan jahat, apakah kamu akan membenciku dan menjauhiku?"

Aku menatapnya bingung.

Wajahnya sangat serius. Berbeda dari biasanya.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu pendapatmu tentangku."

Aku tersenyum kecil.

"Kita memang baru kenal. Tapi aku bisa tahu kalau kamu pria yang baik. Meskipun dari luar terlihat kuat dan dingin, sebenarnya hatimu mudah tersentuh."

Mendengar jawabanku, Eun Dam hanya tersenyum getir sambil menundukkan pandangan.

"Aku sebenarnya datang ke sini untuk mengatakan sesuatu."

Jantungku tiba-tiba berdebar.

"Ini adalah pertemuan terakhir kita, Seolhwa."

"M-maksudmu apa?"

Aku menatapnya tidak percaya.

"Aku tidak ingin memberimu harapan terlalu jauh. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Dan perasaan itu semakin besar setiap harinya."

Suaranya terdengar berat.

"Tapi aku sadar... tidak semua yang kita cintai akan menjadi milik kita. Ada jalan hidup yang harus kita pilih."

"Kalau kamu menyukaiku, kenapa kamu memilih pergi dan menyerah begitu saja?" tanyaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Eun Dam menatapku lama.

Karena tatapan itu, hatiku semakin sakit.

"Karena aku bukan pria baik yang kamu pikirkan, Seolhwa."

Ia tersenyum pahit.

"Kamu akan membenciku ketika mengetahui siapa diriku yang sebenarnya."

Air mataku mulai jatuh.

"Aku melakukan ini karena tidak ingin menghancurkan hidupmu untuk kedua kalinya."

Aku terdiam.

Tidak mengerti apa maksud perkataannya.

"Maafkan aku, Seolhwa."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Eun Dam berdiri dan pergi meninggalkanku.

Aku ingin mengejarnya.

Sungguh ingin.

Namun kakiku terasa begitu berat untuk digerakkan.

Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan.

Aku benar-benar tidak mengerti.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa Eun Dam berbicara seolah ia menyimpan kesalahan besar terhadapku?

Saat itulah aku menyadari satu hal.

Tidak semua orang berakhir bahagia dengan cinta pertamanya.

Sebagian orang mencintai lalu memiliki.

Sebagian lainnya mencintai, namun harus melepaskan.

Dan mungkin...

Aku adalah bagian dari mereka yang harus belajar melepaskan.

***

Aku sudah menuruti perintahmu, jadi jangan ganggu dia lagi!"

Ucap Eun Dam kepada seseorang di telepon sebelum memutuskan sambungan secara sepihak.

"Akh...!"

Teriakannya menggema di seluruh kamar.

Tangisan pilu mengalir tanpa bisa ia tahan. Pria tampan itu meremas rambutnya sendiri, seolah sedang menghukum dirinya atas sesuatu yang tidak mampu ia ubah.

"M-maafkan aku, Seolhwa..."

Suaranya bergetar.

"Aku benar-benar bodoh."

Ia menundukkan kepala.

"Aku mencintaimu,tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri Seolhwa..."

Kalimat itu keluar lirih, nyaris tak terdengar.

Di sisi lain, aku duduk seorang diri di tepi Sungai Han, memandangi aliran air yang bergerak tenang di bawah gemerlap lampu kota.

Namun pikiranku sama sekali tidak tenang.

Aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini.

Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan tangis yang sejak tadi memenuhi pelupuk mata.

"Brengsek..."

Suaraku nyaris tenggelam oleh embusan angin malam.

"Kalau akhirnya meninggalkanku seperti ini, kenapa memberiku harapan sebesar itu?"

Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh.

Satu tetes.

Lalu dua.

Hingga akhirnya mengalir deras membasahi pipiku.

Aku sudah lelah menebak-nebak alasan kepergian Eun Dam.

Hidupku seolah dipenuhi tanda tanya yang bahkan tidak mampu kupecahkan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!