NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11- Administrasi

Bara berdiri tegak di depan meja. Ia menjadi pendengar yang baik selama petugas rumah sakit menjelaskan tentang rincian biaya rumah sakit perawatan Alena.

“Untuk tindakan operasi, ICU, obat-obatan, dan perawatan lanjutan… total sementara yang harus dibayarkan adalah—”

Petugas itu menyebutkan angka yang cukup panjang yang tentunya bukan angka yang kecil.

Max yang sejak tadi berada di luar ruangan pun ikut mendengarnya. Matanya sedikit membesar dan reflek menegakkan tubuhnya karena terkejut dengan angka yang di sebutkan tadi.

Dengan kondisi hidupnya sekarang yang bahkan belum punya pekerjaan tetap, tentunya ia merasa tak mampu untuk mengadakan biaya tersebut untuk membantu Alena.

Max kemudian mengalihkan pandangannya dan rahangnya pun mengeras. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar merasa… tidak berdaya.

Sementara Bara yang berada di dalam hanya mengangguk setuju dan menyanggupi.

"Dia setuju saja dan mampu?," gumam Max.

Ia kemudian berjalan ke lorong rumah sakit hingga akhirnya duduk di kursi ruang tunggu ICU. Ia tampak gusar dan gelisah lalu menyapu wajahnya dengan kasar.

Angka itu terus terngiang dan menari nari di kepalanya.

“Gila…” gumamnya lagi.

Ia menunduk dan sedikit meremas rambutnya karena frustrasi.

“Mana mungkin gue bisa bayar…”

Beberapa saat kemudian, Max mengangkat kepalanya dan mengingat satu nama yang terlintas di ingatannya.

Ia segera merogoh ponselnya dan mencari kontak itu lalu menekan tombol panggilan hingga akhirnya tersambung.

“Bro?” suara di seberang yang terdengar santai.

“Gue butuh bantuan. Sekarang," seru Max tanpa basa basi.

“Serius amat? Kenapa?”

“Gue butuh uang,” tegasnya. “Banyak. Buat rumah sakit.”

“Lo lagi bercanda?”

“Enggak," jawab Max dengan nada suara yang sedikit menurun. “Tolong… transfer sekarang. Nanti gue balikin.”

“Berapa?”

Max lalu menyebutkan nominalnya hingga membuat teman di seberangnya itu sempat terdiam.

“Anjir… itu bukan sedikit, Max.”

“Gue tau!” potong Max yang sedikit emosi. “Gue nggak punya waktu buat jelasin. Tolong aja dulu.”

Temannya itu sempat berpikir selama beberapa saat hingga akhirnya menjawab, “Ya udah. Gue transfer. Cek nanti.”

Max pun menutup telepon dengan perlahan lalu menghela nafasnya beberapa kali. Ia merasa lega karena akhirnya bisa mendapatkan uang untuk biaya Alena meski harga dirinya sedikit runtuh.

Ping!

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi yang menandakan sebuah notifikasi masuk dan memberitahu jika uangnya sudah ditransfer.

Max menatap layar itu selama beberapa detik, lalu langsung berdiri dan melangkah cepat menuju ruang administrasi.

Namun, sebelum sampai di ruangan tersebut langkahnya langsung terhenti ketika melihat Bara yang baru keluar dari dalam sana. Dahi Max mengernyit saat melihat wajah Bara yang tenang seperti tak ada beban.

“Apa lo udah selesai?” tanyanya.

“Sudah," balas Bara.

Tidak menunggu lama, Max pun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Permisi, saya mau bayar—”

Kalimatnya tidak terucapkan hingga selesai saat petugas rumah sakit itu menatapnya dengan sedikit bingung.

“Maaf, untuk pasien Nona Alena… seluruh biaya sudah diselesaikan.”

“Apa?!” pekik Max tidak percaya.

“Sudah lunas,” ulang petugas itu. “Beberapa menit yang lalu.”

Max pun tidak perlu bertanya siapa orangnya. Ia langsung berbalik dan melangkah keluar dengan cepat.

“Bara!” panggil Max seraya mendekat dengan rahang yang mengeras.

“Lo yang bayar?” tanyanya langsung.

Bara tidak menjawab. Namun diamnya itu sudah cukup menjelaskan.

“Gila…” gumam Max. “Lo pikir ini apa? Mainan?”

“Itu yang harus dilakukan.”

“Harus?!” ulang Max. “Sejak kapan lo punya hak buat mutusin semua itu sendirian?!”

Bara menatap Max lekat-lekat. “Kamu juga mau bayar, bukan?”

Pertanyaan itu membuat Max membisu sesaat hingga Bara berkata lagi,

“Tapi kamu terlambat."

Max mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal dan emosinya pun tersulut.

“Gue udah dapet uangnya, Gue bisa bayar."

“Sekarang tidak perlu," balas Bara.

“Kenapa lo lakuin ini?” tanya Max.

Bara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap sekilas ke arah pintu ICU, tempat Alena berada.

“Karena dia harus selamat."

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!