Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilangnya Diana
Diana terbangun dari tidur. Ia kucek mata sembari melihat ke sekeliling area.
Diana masih di dalam mobil Aska, di sebuah parkiran apartemen yang tak seperti biasanya. Aska tidak ada di dalam mobilnya dan Diana lapar.
Perempuan itu meraih air sebotol air mineral di kursi kemudi. Ia tegak hampir seperempatnya. Ia lapar sekali dan Aska tak membelikannya makan.
Diana menyalakan musik, merasakan kepalanya berdenyut-denyut dan perutnya keroncongan. Lima belas menit mendengarkan musik rupanya tak membuat perutnya kenyang.
" Ini buat kamu."
Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Aska membawa nasi kotak yang disodorkan kepada Diana.
" Kamu habis dari mana?" Tanya Diana, meraih nasi kotak itu.
Aska tersenyum, " habis muter-muter nyariin kamu makan," ucapnya kemudian duduk di balik kemudi dan menutup pintu mobil.
Mata Diana mengitari seluruh area dengan seksama, " kita di mana? kayaknya ini bukan parkiran apartemen kamu."
Bukannya menjawab, Aska justru mengencangkan volume musik, menyandarkan badan dan terpejam. Membiarkan suara merdu Marcell masuk kendang telinga dan membiarkan aroma makanan terhirup hidung mancungnya.
" Ka, kamu capek ya?" Diana bertanya lagi. Namun, sampai lima detik kemudian tak ada jawaban yang keluar dari mulut Aska.
Sepertinya dia benar-benar lelah karena sudah mengurus Diana selama dua hari. Diana tak mempermasalahkan soal itu. Yang jelas Aska membuatnya terkesan. Aska benar-benar lelaki yang ia idam-idamkan.
" Aska, aku sayang banget sama kamu," lirihnya, kemudian kembali melanjutkan makan.
***
" Doni, pastikan Aska tidak berhubungan lagi dengan Diana ya," ucap Niko sambil membaca sebuah berita di portal media online di laptopnya.
" Baik, Pak."
" Kamu cari cara bagaimana lah supaya pelacur itu nggak nggak dekat-dekat lagi sama anak saya. Saya udah capek. Sampe mulut berbusa, Aska atau Diana sama aja. Sama-sama batu!"
" Baik, Pak."
" Oh ya, Don... eng... tolong pantau apartemen Aska dan Bella. Kabari saya dua belas jam sekali."
" Baik, Pak."
" Satu lagi saya mau tanya. Umurmu berapa?"
" Dua puluh delapan, Pak."
" Sudah punya pacar?"
Doni diam.
" Oh jomblo rupanya," Niko terkekeh, " kalau kamu suka, kamu gebet saja Diana. Nanti saya modali lah. Tapi kalau sudah pacaran, jangan keterusan minta dimodali ya. Apalagi kalau kamu sampe mau nikah."
Doni membelalak. Lelaki itu tidak menyangka, Tuan besarnya akan mengatakan hal demikian. Meskipun, ia sering melihat Diana, Doni berani bertaruh tak ada lelaki yang tak suka dengan perempuan cantik dan seksi macam dia.
" Don, kamu kok diem aja?"
" Enggak kenapa-kenapa kok, Pak."
" Jadi, kamu mau?"
" Saya belum tahu, Pak."
Niko membuang napas, " ya sudah kalau begitu."
" Saya izin pamit, Pak."
" Ya. Saya percaya kamu, Doni."
Niko memandang kepergian Doni. Lelaki itu bisa dibilang lelaki tangguh. Mukanya tak jelek-jelek amat. Badannya oke, efek sering membantu Bapaknya menebang dan menggendong kayu dari kebun sampai rumah. Katanya jaraknya lumayan, sekitar dua belas kilometer jalan kaki. Maklum, waktu Doni kecil, kampunya masih sangat tertinggal dan belum bayak orang yang punya kendaraan bermotor.
Dalam hati, tak tega juga Niko mengatakan itu kepada Doni. Setahunya, Doni terlahir dari keluarga orang terpandang di kampungnya dan Bapaknya seorang Haji. Mana mungkin Doni mau.
Lagi-lagi Niko yang memimpin permainan. Ia sengaja menyewakan apartemen yang pernah diberikan kepada Aska untuk temannya yang membutuhkan tempat tinggal. Niko kasihan melihat salah sepasang suami istri yang jauh-jauh merantau diusir dari kontrakan. Lebih sedih lagi pasangan itu punya anak dua, satu laki-laki berusia tiga tahun, satu perempuan berusia lima bulan.
" Apa pekerjaan kamu?" tanya Niko.
" Saya cuma dagang pempek keliling. Itu juga saya ambil di orang," ucap lelaki yang mengaku bernama Anton.
" Kamu bisa apa selain jualan pempek?"
" Saya pernah kerja jahit celana kerja dan masker, jadi saya cuma bisa jahit."
" Buat pola?"
" Saya nggak bisa."
" Saya punya Apartemen. Nggak terlalu besar. Tapi cukup buat keluarga kecil kalian. Tadinya ditempati anak saya, berhubung dia mau pindah, saya berniat menyewakan apartemen itu."
Suami istri itu malah saling berpandangan.
" Tenang saja. Harga sewanya cuma tujuh ratus lima puluh ribu sebulan. Saya nggak minta kalian bayar sekarang. Nanti saya pikirin buat sistem pembayarannya. Yang penting kalian tidur nyenyak saja dulu."
Suami istri itu kegirangan dan berterimakasih berkali-kali. Niko senang melihat orang lain senang. Ia bangga bila bisa membantu sesama. Karena itulah yang diajarkan oleh orang tua Feri dulu.
Semenjak kenal dengan Feri, ia selalu berpegang pada prinsip 'satu kebaikan akan dibalas seribu kebaikan, begitu dengan sebaliknya'.
***
Akhirnya Bella selesai beres-beres. Aparyemennya jauh lebih nyaman untuk ditempati sekarang.
Rupanya apartennya sudah full furnished dan terasa mewah sekali. Bahkan kasurnya menempel di dinding dan bisa bersandar pada dinding menggunakan sebuah teknologi yang Bella tak paham.
Apartemennya punya dua kamar tidur, satu kamar mandi yang dekat dengan pantry, satu ruang keluarga, satu ruang tamu dan satu balkon yang dapat dialih fungsikan sebagai ruang berkumpul terbuka. Lokasinya pun sangat strategis dan pemandangannya sangat memukau. Dari lantai dua puluh, Bella dapat melihat sebuah gunung nun jauh di sana meski tak terlalu jelas, dan jalan yang berkelok-kelok.
Sepertinya Bella akan betah tinggal di sini sendiri. Tapi, entah jika sudah tinggal berdua bersama Aska. Semoga Aska lebih memilih tinggal bersama Diana di tempat antah berantah daripada di sini.
" Saya mau minta izin."
Bella menoleh dan mendapati Aska sudah berdiri di belakangnya. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Bella dan bersiri di sebelah istrinya.
" Ayah menjual apartemen yang ditinggalin sata sama Diana. Saya masih belum tahu soal tempat tinggal Diana. Buat sementara waktu, saya minta izin Diana buat tingg di sini."
Bella meneliti pandangan Aska yang begitu tulus. Tapi, tidak bisa begitu. Selama ini Bella merasa sudah sangat baik sebagai seorang istri, meski ia tak mau diperlakukan macam istri kebanyakan. Tapi bukan berarti Aska dapat bertindak semaunya, memasukkan orang asing ke tempat tinggal mereka. Meski hanya hadiah.
" Gimana?"
Bella menggeleng, " saya nggak setuju pacar kamu tinggal di sini. Yah, walaupun apartemen ini atas nama kamu, sebagai istri, saya nggak mengkzinkan suami saya memasukkan orang lain ke tempat tinggal kita."
Aska menembuskan napas kasar, " saya nggak peduli."
" Kalo nggak peduli, kenapa kamu minta persetujuan saya?"
Aska takenjawab, ia meninggalkan Bella ingin menemui Diana dan memberitahukan kekasihnya untuk tinggal bersama Bella sementara waktu. Tak peduli dengan Bella. Aska tak peduli pada siapapun kecuali Diana. Namun, setelah ia sampai di mobil, ia tak menemukan Diana di tempatnya. Hanya ada boks bekas makanan dan aromanya yang tertinggal.
Aska menunggu Diana kembali, karena ia berpikir mungkin Diana kebelet buang air kecil atau ingin buang air besar. Namun, hingga satu jam perempuan itu tak menunjukkan batang hidungnya. Aska menjadi panik, karena Diana masih sakit.
Aska berjalan mengitari parkiran dan mengitari setiap sudut apartemen hingga lantai teratas. Namun, Diana tak ada dimanapun. Sekembalinya Aska ke mobil, Diana juga belum kembali.
Aska panik dan melajukan mobil ke kantor polisi.
***
sukses
.....semangat