NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tembus Hujan Peluru

Suara tembakan beruntun memecah kesunyian malam di area perbukitan. Gerbang besi otomatis yang biasanya kokoh itu kini hancur lebur dihantam oleh dua mobil SUV hitam milik kelompok Naga Hitam.

"Masuk ke mobil! Cepat!" teriak Bara di bawah guyuran hujan yang kembali menderas.

Rara tidak perlu diperintah dua kali. Sambil merapatkan piyamanya yang basah kuyup, dia melompat ke jok belakang SUV lapis baja yang mesinnya sudah menyala. Arka menyusul dengan langkah gontai namun tetap tegap, wajahnya kini sepucat kertas. Tangan kirinya memegangi perut, sementara tangan kanannya tetap menggenggam pistol dengan sigap.

Dino langsung melompat ke kursi penumpang depan, mengokang senapan laras panjangnya. Begitu pintu tertutup rapat, Bara menginjak gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit keras di atas aspal basah, membelah hujan dengan kecepatan gila.

DOR! DOR! TRANG!

Rentetan peluru menghantam kaca belakang dan bodi SUV. Walaupun tahu kaca itu anti peluru, Rara tetap menjerit histeris saat melihat retakan berbentuk jaring laba-laba muncul tepat beberapa sentimeter dari kepalanya. Ia langsung merosot, meringkuk memeluk lutut di lantai mobil.

"Gila, gila, gila! Kuis gue aman, skripsi gue di-ACC, tapi besoknya gue masuk berita obituari! Mama udah DP kebaya wisuda, masa gue pulangnya tinggal nama doang?!" racau Rara panik, bicara sendiri dengan dada naik-turun memburu udara di sela gemuruh mesin.

Di kursi depan, Dino menurunkan sedikit kaca jendelanya dan mulai membalas tembakan ke arah belakang. Suara senapannya memekakkan telinga. "Woy, Bar! Jangan lurus terus, kita kalah jumlah! Tembakan gue meleset mulu nih gara-gara jalanan licin!" teriak Dino di tengah adu peluru.

"Bara, ambil jalur pintas," perintah Arka dengan suara parau dari kursi belakang. "Lewat hutan pinus di sebelah barat."

Rara bisa melihat noda merah baru yang mulai merembes tebal di perban perut bos mafia itu. Tarikan napas Arka terdengar semakin berat.

"Tapi, Bos! Medannya curam banget dan berlumpur, mobil ini bisa terguling!" sergah Bara dari balik kemudi, tangannya mencengkeram setir kuat-kuat menghindari rentetan tembakan.

"Lakukan, Bara. Itu perintah," desis Arka dingin.

Tanpa banyak protes lagi, Bara membanting setir secara ekstrem. Mobil SUV seberat dua ton itu berbelok tajam keluar dari jalan aspal, menerobos pembatas jalan dan masuk ke jalan setapak berbatu di tengah hutan pinus yang gelap gulita.

Guncangan dahsyat langsung terasa. Rara terhempas ke samping, menabrak tubuh besar Arka. Pria itu mengerang tertahan. Tangannya meremas pinggiran kursi kulit itu kuat-kuat sampai urat di punggung tangannya menonjol kaku demi menahan rasa sakit dari jahitannya yang sepertinya robek kembali.

"Lo gila ya?!" teriak Rara mengalahkan suara deru mesin. "Lo mau bunuh diri bareng-bareng di sini?! Ini hutan, Bos! Kalo kita masuk jurang gimana?!"

Arka menoleh ke arah Rara. Meski kesadarannya mulai menipis dan keringat dingin membasahi dahinya, tatapan mata pria itu tetap setajam silet, mengunci mulut Rara seketika. "Kalau kita tetap di jalan utama, kita hanya akan jadi sasaran empuk roket mereka. Duduk di kursi dan pegang ini."

Arka menyodorkan sebuah pistol cadangan miliknya yang sejak tadi terselip di pinggang belakang.

Mata Rara melotot. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh logam yang sedingin es itu. "Apaan ini?! Gue nggak bisa pake beginian! Gue potong bawang aja pisau sering meleset ke jari, lo nyuruh gue pegang pistol?!"

"Saya tidak menyuruhmu jadi penembak jitu," balas Arka sinis, suaranya makin parau dengan tarikan napas yang sesak. "Cukup arahkan ke pintu. Kalau ada yang membuka pintu ini selain orang kita, tarik pelatuknya. Fokus saya sekarang... hanya memastikan Bara dan Dino tidak mati."

Kejar-kejaran itu berubah menjadi adu nyali yang brutal. Bara meliuk-liuk menghindari batang pohon raksasa di jalan setapak hutan yang berlumpur. Rara nekat mengintip ke belakang melalui kaca yang retak. Dua mobil pengejar tampak semakin dekat, lampu sorot mereka menyapu kabin mobil Arka dengan liar, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan.

"Bara, di depan ada tanjakan tebing!" Rara berteriak histeris saat melihat ujung jalan yang menanjak curam dan diselimuti kabut tebal.

"Pegang erat!" Bara membanting setir sambil menginjak pedal gas penuh.

Mobil itu melompat kecil saat melewati gundukan tanah liat. Suspensi SUV berderit keras. Guncangan hebat itu menjadi batas akhir bagi ketahanan fisik Arka. Pria itu meringis panjang, lalu tubuh besarnya perlahan tumbang dan kepalanya jatuh tersandar ke bahu Rara.

Rara mematung. Ia bisa merasakan hawa dingin dari kulit Arka dan bau anyir darah yang semakin pekat membasahi piyamanya.

"Arka? Eh, Bos!" Rara panik setengah mati. Ia menepuk pipi Arka dengan sedikit kasar. "Arka, jangan tidur! Bangun!"

Arka membuka kelopak matanya dengan susah payah. Sorot matanya sudah meredup. "Saya... tidak tidur, Rara. Hanya... sedikit pusing."

"Sedikit apanya?! Darah lo ngucur terus dari tadi!" Rara makin histeris. Ia melempar pistol ke lantai mobil, lalu menggunakan kedua tangannya untuk kembali menekan luka di perut Arka, persis seperti yang dilakukannya semalam. "Bara, Dino! Bos lo mau mati nih, buruan kek jalannya!"

Tiba-tiba, suara dentuman keras menggelegar dari arah belakang. Salah satu mobil pengejar kehilangan kendali di lumpur dan menabrak pohon pinus raksasa. Ledakan terjadi, menerangi hutan gelap itu dengan kobaran api jingga.

"Satu kecoak tumbang!" seru Dino dengan tawa tegang. "Tinggal satu lagi!"

Namun, belum sempat mereka bernapas lega, mobil pengejar yang tersisa nekat memotong jalur dan menabrak sisi samping SUV mereka dengan kecepatan tinggi.

*BRAK!*

Bunyi derit besi bergesekan terdengar memilukan. Mobil mereka terhuyung ke arah bibir jurang yang gelap. Rara menjerit keras, memejamkan mata rapat-rapat, bersiap untuk dampak terburuk sambil memeluk tubuh Arka secara refleks.

Bara memutar setir dengan gila-gilaan, melawan momentum tabrakan. Ban mobil mencakar tanah basah, mencoba mencari pijakan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, SUV itu menghantam semak belukar tebal dan akhirnya berhenti dengan kasar di sebuah dataran tanah terbuka.

Mobil musuh yang menabrak mereka tadi tergelincir, ban depannya selip di lumpur jurang sebelum akhirnya terjun bebas ke bawah, disusul suara benturan yang menggema di kejauhan.

Keadaan di dalam kabin mendadak sunyi senyap. Hanya deru napas yang memburu, bunyi hujan yang menimpa atap mobil, dan mesin yang bergetar pelan.

"Semua masih hidup?" Bara bertanya sambil ngos-ngosan, segera mematikan lampu utama mobil agar posisi mereka tidak terlihat di kegelapan.

"Gue masih napas, tapi bahu gue kayaknya mau copot," rintih Dino sambil memegangi pundaknya yang terbentur *dashboard*.

Tidak ada suara dari kursi belakang.

Rara perlahan membuka matanya. Ia menoleh pelan ke samping. Arka terkulai lemas di pelukannya. Matanya tertutup rapat, wajahnya pucat tanpa rona, dan suhu tubuhnya menurun drastis.

"Arka?" Rara mengguncang tubuh pria itu, tapi tak ada respons. Jantung Rara berpacu dua kali lipat. "Bara, Dino! Dia nggak sadar! Napasnya pelan banget!"

Bara langsung melompat keluar dari kursi pengemudi, menembus hujan, dan membuka pintu belakang. Dia memeriksa nadi di leher Arka. Wajah Bara yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi, kini berubah drastis menjadi pias karena panik.

"Pendarahannya terlalu parah. Jahitan dokter Haryo robek semua gara-gara guncangan tadi," desis Bara, tangannya bergetar. "Kita harus sampai ke vila persembunyian di utara sekarang juga. Masih butuh tiga puluh menit dari sini."

Rara menatap Arka dengan perasaan campur aduk. Ketakutan, marah, frustrasi, dan entah kenapa, ada sebersit kecemasan yang mendalam melihat monster ini tak berdaya. Ia menoleh ke arah hutan gelap gulita di sekeliling mereka. Mereka mungkin berhasil lolos dari Naga Hitam, tapi nyawa Arka kini berpacu dengan waktu.

Kalau sampai bos mafia ini mati, siapa yang akan menjamin Rara bisa pulang hidup-hidup dari kekacauan ini?

Rara mengusap air mata yang bercampur keringat di wajahnya, lalu menatap Bara tajam. Kepanikannya memudar, digantikan oleh dorongan insting bertahan hidup yang nekat.

"Tunggu apa lagi, Bar?! Tutup pintunya dan jalan!" bentak Rara dengan suara bergetar namun menuntut. "Kalau dia mati di perjalanan, nyawa gue dan nyawa kalian berdua juga kelar! Cari klinik, cari rumah sakit, terserah! Pokoknya jalan sekarang!"

Bara sempat tertegun melihat mahasiswi penakut ini tiba-tiba meneriakinya, namun ia tak punya waktu untuk mendebat. Bara mengangguk kaku, kembali ke kursi pengemudi, dan memacu mobil menembus sisa malam.

Di kursi belakang, Rara memeluk tubuh dingin Arka, terus menekan perut pria itu sekuat tenaga. Taruhan nyawa mereka di dunia gelap ini, rupanya belum benar-benar berakhir.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!