Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Yang Belum Dikatakan
"Kamu nikah?! KAPAN?!"
Suara Jason memantul ke kaca ruang kerja. Kalau pintu tidak tertutup rapat, seluruh lantai eksekutif mungkin sudah tahu bahwa PT Nusatek Mandiri baru saja memiliki skandal paling menarik tahun ini.
Nathanael berjalan ke dispenser kecil di sudut ruangan, menuang air putih ke gelas, lalu meletakkannya di depan Jason.
"Minum dulu."
Jason menatap gelas itu seperti gelas itu menghina keluarganya. "Gue tidak haus."
"Kamu teriak."
"Karena lo menikah diam-diam!"
"Tidak diam-diam. Keluarga tahu."
"Keluarga lo tahu. Sekretaris lo tahu. Bahkan jadwal tablet Tiffany tahu. Gue, teman sekamar lo empat tahun, tahu dari layar yang kebuka dua detik."
Nathanael tidak membantah.
Itu yang paling membuat Jason kesal.
Dulu, waktu masih tinggal di kos Depok, Nathanael juga begini. Diam kalau ketahuan. Tidak membela diri. Tidak panik. Hanya menatap meja, rak buku, atau layar laptop, seolah dengan cukup lama menatap benda mati, manusia di depannya akan lelah sendiri.
Jason tidak pernah lelah secepat itu.
"Oke." Ia menarik kursi di depan meja dan duduk dengan keras. "Mulai dari awal. Kapan?"
"Beberapa minggu lalu."
"Beberapa minggu." Jason mengulang pelan, lalu tertawa tanpa suara. "Lo sadar kalimat itu bisa bikin orang normal kena darah tinggi?"
"Aku sadar."
"Sadar, tapi tetap nggak bilang."
"Situasinya cepat."
"Cepat itu kalau orang booking tiket dadakan. Bukan menikah sama perempuan yang dulu bikin lo berubah jadi mahasiswa paling absurd se-UI."
Nathanael menatapnya.
Jason menunjuk wajahnya sendiri. "Jangan lihat gue begitu. Lo pikir gue lupa?"
Nathanael mengambil gelasnya sendiri, tetapi tidak minum.
Jason melihat gerakan kecil itu, dan ingatannya terbuka seperti pintu kamar kos lama yang engselnya berderit.
Tahun pertama UI, Nathanael Susanto datang ke kos dengan dua koper hitam, jadwal kuliah rapi, dan wajah orang yang hidupnya sudah disusun sampai usia tiga puluh. Ia masuk jurusan yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni, punya nilai cukup untuk jalur yang lebih mudah, punya keluarga yang bisa mengantar sampai gerbang masa depan tanpa membuatnya berkeringat.
Lalu, minggu kedua kuliah, Jason melihat formulir mata kuliah pilihan Nathanael.
"Pengantar Estetika Visual?" Jason waktu itu membaca dari balik bahu. "Sejarah Batik Nusantara? Dasar Komposisi Warna? Nath, lo salah klik?"
Nathanael menutup laptop terlalu cepat.
Terlalu cepat untuk orang yang tidak menyembunyikan apa-apa.
Seminggu kemudian, ia pulang membawa tote bag putih dari Fakultas Seni Rupa. Di dalamnya ada katalog pameran mahasiswa baru, dua kuas tipis, dan brosur komunitas batik yang anggotanya bisa dihitung dengan jari.
"Lo ikut klub batik?" tanya Jason.
"Belajar."
"Belajar apa? Motif kawung buat rapat direksi masa depan?"
Nathanael hanya menggantung tote bag itu di kursi.
Jason baru tahu alasannya pada suatu sore hujan, ketika ia datang menjemput Nathanael dari aula kecil dekat ruang pamer. Di sana ada Louisa Hartono, duduk di lantai dengan celana jeans terkena noda cat, sedang mengeringkan kain batik kecil di dekat kipas angin.
Ia tertawa karena seseorang salah mencampur warna sampai ungu berubah menjadi cokelat kusam.
Nathanael berdiri di ambang pintu.
Tidak maju.
Tidak memanggil.
Hanya melihat.
Wajahnya waktu itu tidak seperti laki-laki yang sekadar tertarik. Lebih parah. Lebih diam. Seperti seseorang yang menemukan rumah, tetapi tidak berani mengetuk pintunya.
"Itu dia?" bisik Jason waktu itu.
Nathanael langsung berjalan pergi.
Jawaban paling jelas yang pernah Jason terima.
Sejak hari itu, semua potongan menjadi masuk akal. Nathanael yang tiba-tiba tahu jadwal pameran mahasiswa seni rupa. Nathanael yang mau bangun pagi demi antre seminar yang pembicaranya bahkan tidak ia kenal. Nathanael yang mengatur akun Close Friends Instagram dengan satu penonton saja, lalu menghapus story lima menit kemudian karena penonton itu tidak membukanya.
Dan yang paling keterlaluan, @UI_menfess.
Jason masih ingat malam ketika Nathanael duduk di lantai kamar kos, laptop di lutut, wajah serius seperti sedang menyelamatkan perusahaan keluarga. Di layar, ada draft menfess anonim yang menyebut nama Louisa dengan kalimat terlalu manis dan terlalu jelas berasal dari anak fakultas sebelah.
"Lo ngapain?" tanya Jason.
"Minta admin tahan dulu."
"Kenapa?"
"Isinya terlalu personal."
"Itu bukan urusan lo."
Nathanael diam.
Besoknya Jason mendengar Nathanael menghubungi Bu Kartini dengan alasan membantu moderasi kiriman yang berpotensi mengganggu privasi mahasiswa. Kalimatnya rapi, masuk akal, dan sangat menyebalkan karena niat aslinya terlalu mudah dibaca.
Nathanael tidak pernah mengaku.
Tidak sekalipun.
Kalau Louisa lewat di kantin, ia menunduk pada nasi campurnya. Kalau Louisa mengirim pesan di grup komunitas batik, ia membaca tiga kali sebelum menjawab satu kata. Kalau Louisa mengunggah foto sketsa jeruk di Instagram, ia menyimpannya di galeri dengan nama file yang terlalu rapi.
Jason pernah berkata, "Nath, lo suka dia."
Nathanael menjawab, "Dia suka orang lain."
Tidak membantah.
Hanya meletakkan batas, seperti orang meletakkan pagar di depan rumah sendiri.
Sekarang orang yang sama berdiri di kantor mewah SCBD, memakai jam mahal, memegang gelas yang tidak diminum, dan berkata bahwa ia sudah menikah dengan Louisa Hartono.
Jason harus duduk karena kalau tidak, ia mungkin benar-benar melempar bantal sofa ke kepala sahabatnya.
"Dia tahu?" tanya Jason.
Nathanael mengangkat mata. "Tahu apa?"
"Jangan pura-pura bodoh. Lo bisa pura-pura cool, tapi nggak bisa pura-pura bodoh."
Nathanael meletakkan gelasnya di meja. Bunyi kacanya kecil, tetapi Jason mendengarnya jelas.
"Louisa tahu kami menikah," jawab Nathanael.
"Itu bukan yang gue tanya."
Hening turun.
Dari balik kaca, SCBD siang terlihat sibuk dan mahal. Mobil-mobil bergerak di bawah gedung, kecil seperti titik hitam. Di ruangan ini, udara dingin, meja rapi, semua benda berada di tempatnya. Hanya satu rahasia lama yang akhirnya tidak muat lagi disimpan.
Jason mencondongkan tubuh.
"Dia tahu lo sudah suka dia dari SMA?"
Nathanael tidak menjawab.
"Dia tahu soal kelas seni rupa? Klub batik? Close Friends? Menfess yang lo tahan? Semua hal gila yang dulu lo lakukan sambil bilang itu cuma kebetulan?"
Nathanael menatap map hitam yang tadi ia simpan di laci.
Jason mengusap wajahnya lagi. Kali ini tidak ada tawa.
"Nath," katanya, lebih pelan. "Gue senang. Serius. Kalau ada satu orang di dunia yang paling keras kepala menunggu Louisa Hartono, itu lo. Tapi kalau dia masuk pernikahan ini tanpa tahu seberapa lama lo menunggu, dia bisa salah paham. Dia bisa kira lo cuma membantu dia keluar dari Kevin."
Nama Kevin membuat mata Nathanael berubah dingin.
"Aku memang membantu dia keluar."
"Dan mencintai dia."
Nathanael diam.
Jason menunggu. Ia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus berhenti. Di depan semua staf, ia bisa menjadi orang paling berisik. Di depan Nathanael yang menyimpan satu nama selama sepuluh tahun, ia harus memilih kata dengan hati-hati.
"Lo sudah sampai sejauh ini," lanjut Jason. "Jangan ulangi kesalahan lama. Dulu lo diam karena dia suka orang lain. Sekarang dia sudah jadi istri lo."
Nathanael menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh sisi gelas, tetapi tidak mengangkatnya.
Jason bertanya, "Kamu udah bilang ke dia?"
Nathanael diam.