Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 - Nathan Tinggal
"Malam ini," kata Felicia, "Nathan tinggal."
Empat kata itu membuat kamar lantai satu berubah menjadi ruang sidang tanpa hakim.
Jayden berdiri paling cepat. "Kenapa dia?"
"Karena aku memilih."
"Tapi tadi lo bilang Undian tidak dipakai."
"Benar. Aku pakai hak override."
Jayden membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia membenci aturan ketika aturan itu tidak menguntungkannya, tetapi ia juga orang pertama yang tahu Felicia tidak mengulang perintah hanya untuk membuat orang merasa lebih baik.
Calvin bersandar di dinding, senyumnya tipis. "Ci kejam juga. Baru saja aku menjaga rumahku sendiri, langsung diusir."
"Kamu bisa menjaga rumah dari luar kamar."
"Sakit sekali."
Sebastian menutup kotak obat dengan bunyi klik. "Secara medis, siapa pun yang tinggal harus menjaga tiga hal: tidak ada tekanan pada bahu kiri, tidak membuat pasien kurang tidur, dan tidak memicu pusing."
Jayden menunjuk Nathan. "Dengar tuh. Jangan sok pangeran terus bikin dia begadang."
Nathan berdiri dekat meja dengan wajah terlalu tenang. Justru karena terlalu tenang, telinganya yang memerah menjadi jelas.
"Aku mengerti," katanya.
Felicia menatap tiga pria lain. "Keluar."
Jayden mendesis, tetapi keluar. Calvin membungkuk ringan seperti aktor panggung yang kalah adegan, lalu sempat menyentuh kusen pintu sebelum pergi. Sebastian menjadi yang terakhir. Ia meletakkan daftar obat di meja, mengarahkannya ke Nathan.
"Pukul sepuluh, cek suhu. Jika mual atau pusing memburuk, panggil aku. Jangan mengambil keputusan romantis yang mengabaikan medis."
Felicia mengangkat alis. "Kamu ingin berdiri di luar pintu sambil menulis protokol?"
"Jika perlu."
"Tidak perlu."
Sebastian memandang Nathan. "Jaga dia."
Nathan mengangguk. "Aku akan."
Pintu tertutup.
Kamar mendadak sunyi.
Tidak sepenuhnya. Ada suara air taman, pendingin ruangan yang halus, dan napas Nathan yang terlalu teratur karena ia sedang memaksa diri untuk tidak panik.
Felicia bersandar pada bantal. Rasa sakit hari ini akhirnya menagih semua panggung yang ia ambil: rumah sakit, pisau, Om Charles, susu hangat, Sri. Bahu kirinya berat, rusuknya nyeri saat tertawa, kepala bagian belakang seperti diisi kapas panas.
Nathan berdiri tiga langkah dari ranjang.
"Kalau kamu berdiri di sana terus, aku akan merasa sedang diawasi OSIS."
Ia tersentak kecil, lalu mendekat. "Maaf."
"Duduk."
Nathan duduk di kursi dekat ranjang. Tangannya rapi di atas lutut. Terlalu rapi.
Felicia melihatnya dan hampir tertawa. "Kamu takut?"
"Iya."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Felicia menyukainya.
"Takut apa?"
Nathan menatap perban di pelipisnya, penyangga bahu, lalu tangan kanan yang baru dipasang ulang infus tadi sore meski sekarang jarumnya sudah dilepas. "Takut menyakitimu."
"Kamu bukan kuda liar, Nathan."
"Tapi kamu terluka."
"Aku tahu."
"Kamu sering mengatakan itu seolah tubuhmu hanya benda yang mengganggu."
Felicia diam sebentar.
Kalimat itu tidak tajam, tetapi masuk ke tempat yang jarang disentuh. Bagi Felicia, tubuh memang selalu alat. Di dunia lama, tubuh bisa patah selama misi selesai. Di dunia ini, tubuh kecil ini punya memori, punya batas, punya orang-orang yang terlihat seperti akan runtuh setiap kali ia berdarah.
"Tubuh ini berguna," katanya akhirnya. "Aku tidak akan membuangnya."
Nathan menunduk. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk mengatakan itu."
Anak ini benar-benar mudah diberi makan dengan kalimat kecil.
Felicia mengulurkan tangan kanan. "Sini."
Nathan langsung menyambut, tetapi berhenti sebelum menyentuh. "Boleh?"
"Kalau aku sudah mengulurkan tangan, itu bukan teka-teki."
Ia memegang tangan Felicia dengan sangat hati-hati. Telapak tangannya hangat, sedikit gemetar. Jari-jarinya panjang dan bersih, tetapi genggamannya tidak punya rasa dingin pewaris Salim. Malam ini ia bukan Ketua OSIS, bukan anak emas keluarga, bukan orang yang tadi mengatur bukti seperti pengacara muda.
Ia hanya Nathan yang takut.
Felicia menarik tangannya mendekat sampai punggung jari Nathan menyentuh bibirnya.
Napas Nathan patah.
"Feli..."
"Itu baru dicium tangannya."
"Aku tahu."
"Kenapa seperti mau pingsan?"
"Aku tidak punya latihan untuk hal seperti ini."
"Bagus. Aku tidak suka yang terlalu terlatih."
Wajah Nathan memerah sampai leher. Ia menunduk, tetapi Felicia menarik tangannya lagi.
"Lihat aku."
Nathan menurut.
Di mata emasnya, ada sesuatu yang basah, bukan air mata penuh, hanya ketegangan yang hampir pecah.
"Hari ini kamu bilang aku orangmu," kata Felicia.
"Iya."
"Apa maksudnya?"
Nathan menelan ludah. "Aku ingin menjadi orang yang kamu panggil saat kamu butuh sesuatu. Dokumen, keamanan, rumah sakit, kebohongan orang dewasa, apa pun. Aku tahu aku bukan satu-satunya. Aku tidak akan meminta kamu membuatku satu-satunya."
Kalimat terakhirnya keluar lebih pelan.
Felicia menatapnya.
Nathan melanjutkan, "Tapi aku ingin menjadi yang boleh tetap tinggal ketika kamu lelah."
Ruangan menjadi lebih tenang.
Felicia tidak memahami cinta seperti dunia ini menuntutnya. Ia memahami kepemilikan, pilihan, kesetiaan, rasa ingin menyentuh dan disentuh. Ia memahami ketika seseorang menundukkan kepala bukan karena kalah, tetapi karena ia memberi lehernya dengan sukarela.
Nathan memberi semua itu dengan cara paling sopan.
Sangat menggoda.
"Kalau begitu, tinggal," katanya.
Mata Nathan bergetar.
Felicia mengangkat tangan, menyentuh sisi wajahnya. "Tapi jangan cuma duduk seperti panitia rapat."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Bantu aku lepas penyangga luar. Yang sesuai instruksi dokter, bukan semua."
Nathan langsung berdiri, fokusnya kembali sebagian karena ada prosedur. Ia membaca catatan Sebastian, mencuci tangan, lalu membantu membuka bagian luar penyangga bahu agar Felicia bisa lebih nyaman bersandar. Gerakannya lambat, kadang terlalu lambat, tetapi tidak sekali pun tangannya ceroboh.
Ketika ujung jarinya menyentuh kulit dekat tulang selangka Felicia, napasnya berhenti.
Felicia melirik. "Kamu yang menyentuh, kamu yang kaget."
"Kulitmu hangat."
"Biasanya kulit manusia begitu."
"Aku tahu." Ia tampak malu pada kalimatnya sendiri. "Maaf."
"Jangan minta maaf untuk hal yang lucu."
Setelah penyangga luar dilepas sesuai batas, Nathan membantu menyelipkan bantal di belakang punggungnya. Felicia menangkap kerah kemejanya sebelum ia mundur.
Nathan membeku.
"Sekarang," kata Felicia, "ciuman."
Ia tidak bertanya siapa yang harus memulai.
Felicia menariknya turun.
Ciuman itu awalnya sangat hati-hati. Nathan menahan tubuhnya agar tidak menekan bahu kiri Felicia. Satu tangan bertumpu di sisi ranjang, satu lagi menggenggam seprai. Bibirnya lembut, ragu, lalu bergetar ketika Felicia menggigit pelan bibir bawahnya.
Suara kecil keluar dari tenggorokannya.
Felicia tersenyum di sela ciuman.
Nah.
Ini yang ia ingat dari Nathan. Bukan kekuasaannya, bukan kesempurnaan keluarganya, tetapi cara ia kehilangan udara seperti ikan yang ditarik dari air.
Nathan menjauh sedikit, napasnya berantakan. "Feli, bahumu..."
"Bahuku tidak sedang dicium."
"Rusukmu."
"Juga tidak."
Wajahnya merah total. "Kamu benar-benar..."
"Apa?"
"Berbahaya."
"Baru sadar?"
Nathan tertawa kecil, hampir tidak bersuara. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia yang mendekat lebih dulu. Masih hati-hati. Masih sopan. Namun ada keinginan yang tidak lagi bisa ia lipat rapi di bawah seragam Ketua OSIS.
Ciuman kedua lebih lama.
Felicia membiarkan tangan kanan Nathan menyentuh pipinya. Ia merasakan gemetar di ujung jari itu, lalu perlahan gemetar itu berubah menjadi keberanian. Tidak banyak. Cukup untuk membuat Sis menjerit tertahan di kepalanya.
"Tuan Rumah! Data emosi Nathan naik! Bintang dari 3% menjadi 6%. Belum menyala, belum melanggar urutan, tapi warnanya makin stabil!"
Felicia membuka mata sedikit.
Nathan masih sangat dekat, bibirnya basah, matanya setengah kehilangan fokus.
"Apa?" tanyanya pelan.
"Tidak apa-apa. Sis sedang ribut."
"Tentang aku?"
"Tentu."
Nathan menunduk, menyembunyikan wajah di sisi tangan Felicia. "Aku tidak tahu apakah itu baik."
"Baik untukku."
Kalimat itu membuatnya diam.
Felicia mengusap rambut emasnya pelan. "Tidur di sini."
Nathan mengangkat kepala cepat. "Di kursi?"
"Di ranjang. Sisi kanan. Jangan sentuh bahu kiri."
Ia terlihat seperti baru diberi perintah perang. "Aku tidak akan bergerak."
"Itu mustahil."
"Aku akan berusaha."
Felicia bergeser sedikit, cukup untuk memberi ruang tanpa menarik rusuknya. Nathan naik ke ranjang dengan hati-hati yang hampir menyakitkan untuk dilihat. Ia berbaring di sisi kanan, jarak tubuh mereka masih sopan, sampai Felicia menarik pergelangan tangannya dan meletakkan tangan Nathan di pinggangnya yang tidak cedera.
Nathan berhenti bernapas lagi.
"Feli..."
"Kalau kamu pingsan, aku suruh Jayden angkat kamu keluar."
"Aku tidak akan pingsan."
"Bagus."
Lampu kamar diredupkan.
Di luar pintu, tiga pria lain memang belum tidur.
Jayden duduk di sofa lorong dengan wajah gelap, memutar cincin di jarinya seperti sedang menahan diri untuk tidak menerobos. Calvin bersandar di dinding sambil menggambar tanpa melihat kertas, garisnya terlalu keras untuk disebut sketsa biasa. Sebastian berdiri paling jauh, memegang timer obat berikutnya, pura-pura tidak peduli padahal matanya terus kembali ke pintu.
Di dalam kamar, Nathan berbaring kaku seperti orang yang memeluk mimpi dan takut mimpi itu retak.
"Aku boleh bernapas normal?" bisiknya.
Felicia hampir tertawa, tetapi rusuknya masih tidak ramah. "Kalau kamu minta izin untuk bernapas, aku benar-benar panggil Jayden."
Nathan tertawa sangat pelan. Suaranya menyentuh bahu malam, lembut dan tidak rapi.
"Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan."
"Kesalahanmu sekarang cuma terlalu sopan."
"Aku akan memperbaikinya pelan-pelan."
"Bagus. Jangan terlalu pelan."
Di kepala Felicia, Sis berbisik lagi, kali ini lebih pelan, "Stabil di 6%. Dia bahagia sampai takut bergerak."
Felicia menyentuh tangan Nathan sebagai jawaban kecil yang jelas.
Felicia menutup mata.
Sebelum tidur, ia mendengar Nathan berbisik sangat pelan.
"Terima kasih sudah memilihku."