Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Harga berikutnya datang dalam bentuk notifikasi yang tidak berhenti.
Meiran berjalan keluar dari auditorium dengan ponsel di tangan, Sari di sisi kiri, Hafeng di sisi kanan. Di belakang mereka, suara peserta masih berisik karena ciuman yang baru saja terjadi. Di depan mereka, layar ponsel Meiran dipenuhi pesan kantor.
Romansa tidak pernah menunggu dunia selesai menyerang.
"Mobil sudah di lobi," kata Sari. Suaranya cepat, tetapi tidak panik. "Tim finance, legal, dan procurement sudah berkumpul di ruang rapat utama. Pak Lim Tjeng Hong meminta Ibu langsung naik ke lantai dua puluh tujuh."
Hafeng menatap Meiran. "Aku ikut."
"Ini urusan Lim Group."
"Aku bisa membaca pola dokumen."
"Kamu baru saja membuat satu auditorium meledak."
"Itu tidak mengurangi kemampuanku membaca dokumen."
Meiran berhenti di depan lift kampus. Ia menatap Hafeng selama dua detik. Di wajahnya masih ada sisa panas dari panggung tadi, tetapi matanya sudah kembali tajam.
"Kalau ikut, jangan jadi pahlawan."
"Aku tidak pernah mengaku pahlawan."
"Bagus. Duduk, baca, bicara hanya kalau menemukan sesuatu."
Hafeng mengangguk. "Kirim file."
Sari langsung mengirim folder krisis ke ponsel Hafeng sebelum Meiran sempat memerintah.
Perjalanan ke kantor Lim Group di Sudirman terasa lebih pendek daripada seharusnya. Jakarta di luar jendela bergerak dalam garis lampu, klakson, dan gedung kaca. Meiran duduk di kursi belakang, membaca daftar masalah yang bertambah setiap lima menit.
Vendor bahan konstruksi menunda pengiriman.
Bank meminta review ulang fasilitas kredit karena "perubahan profil risiko".
Satu media bisnis kecil menerbitkan artikel tentang dugaan keterlambatan pembayaran Lim Group.
Dua klien pemerintah meminta klarifikasi dokumen kepatuhan lingkungan.
Terlalu rapi.
Terlalu cepat.
"Ini bukan krisis alami," kata Hafeng dari kursi depan.
Meiran tidak mengangkat wajah dari tablet. "Aku tahu."
"Tiga isu berbeda muncul dalam rentang dua jam. Sumbernya mungkin satu paket data."
"Atau satu tangan yang tahu titik tekan Lim Group."
Sari menambahkan, "Tim legal sedang melacak artikel pertama. Domain-nya baru aktif dua minggu."
Meiran menutup satu file. "Prioritas: bank, vendor utama, lalu media. Jangan biarkan rumor jadi alasan kredit macet."
Sari mencatat. "Baik, Bu Lim."
Di kantor, lift menuju lantai dua puluh tujuh terbuka pada udara yang lebih dingin dan wajah-wajah yang terlalu tegang. Beberapa manajer berdiri dari kursi begitu Meiran masuk. Yang lain menatap Hafeng sekilas, bingung melihatnya, tetapi tidak ada yang cukup bodoh untuk bertanya.
Meiran langsung menuju ruang rapat utama.
Lim Tjeng Hong sudah berada di sana.
Ayahnya duduk di ujung meja, jasnya masih rapi, rambutnya tertata, tetapi wajahnya lebih pucat daripada pagi tadi. Di depannya ada dua cangkir kopi yang tidak disentuh dan tumpukan dokumen merah.
"Papa."
Lim Tjeng Hong mengangkat tangan. "Duduk. Kita tidak punya waktu untuk drama."
Suara itu masih kuat.
Tetapi Meiran melihat tangan kirinya menekan ujung meja sedikit terlalu lama.
Ia duduk di sisi kanan ayahnya. "Mulai dari bank."
Direktur finance membuka laporan. "Bank Nusantara meminta review ulang seluruh fasilitas kredit jangka pendek. Mereka mengutip artikel media dan pembatalan pembayaran vendor sebagai indikator risiko. Kalau review diproses, pencairan minggu depan tertahan."
"Vendor mana yang membatalkan?"
"Tiga vendor menengah. Bukan yang terbesar, tapi cukup untuk menciptakan sinyal pasar."
"Alasan?"
"Mereka menerima informasi bahwa Lim Group akan menunda pembayaran proyek Q4."
Meiran menatap legal. "Informasi dari siapa?"
"Belum ada yang mau menyebut sumber."
Hafeng yang duduk di kursi samping membuka tablet. "Kalimat di surat vendor sama."
Semua orang menoleh.
Ia memutar tablet ke arah Meiran. "Tiga vendor memakai frasa `penyesuaian eksposur risiko` dan `menunggu kepastian likuiditas`. Itu bukan bahasa operasional vendor kecil. Mereka menyalin template."
Meiran mengambil tablet itu. Benar.
Ia merasakan dingin naik di belakang lehernya.
"Sari, minta tim legal cari siapa yang mengirim draft awal. Procurement, jangan hubungi mereka satu per satu lewat telepon. Kirim surat resmi dengan tenggat dua jam untuk mencabut penundaan atau menyatakan dasar hukum."
Lim Tjeng Hong mengangguk kecil.
"Finance," lanjut Meiran, "siapkan ringkasan cash position hari ini, bukan laporan triwulan. Kita kirim ke bank dengan surat dari Papa dan aku. Jangan menunggu mereka menyelesaikan review sepihak."
Direktur finance mencatat cepat.
Salah satu manajer berkata ragu, "Bu Lim, artikel media sudah mulai dibagikan di grup investor. Kalau kita merespons terlalu keras, mungkin terlihat defensif."
Meiran menatapnya.
"Kalau rumahmu dilempari batu, kamu tidak berdiri di jendela sambil berharap orang menganggapmu elegan. Kamu nyalakan lampu, tunjukkan batunya, dan tanya siapa yang melempar."
Ruang rapat hening satu detik.
Lim Tjeng Hong tertawa pendek.
Tawa itu hanya berlangsung sebentar.
Lalu ia batuk.
Awalnya kecil. Lalu lebih berat.
Meiran langsung menoleh. "Papa?"
"Tidak apa-apa."
Tetapi tangan Lim Tjeng Hong mencari gelas air dan gagal menggenggamnya pada percobaan pertama.
Meiran berdiri. "Sari, panggil dokter kantor."
"Meiran," suara ayahnya mengeras.
"Papa boleh memarahiku setelah tekanan darah diperiksa."
Lim Tjeng Hong menatapnya. Ada bantahan di matanya, kebiasaan lama seorang pendiri yang tidak suka terlihat lemah di depan bawahan.
Meiran tidak mundur.
"Rapat lanjut. Papa duduk dan diam tiga menit."
Beberapa manajer pura-pura membaca dokumen.
Hafeng menatap Meiran, lalu menutup tablet tanpa suara. Kali ini, ia tidak maju. Ia tahu ini wilayah Meiran.
Dokter kantor datang tujuh menit kemudian. Tekanan darah Lim Tjeng Hong tinggi. Denyutnya tidak stabil, belum darurat, tetapi cukup untuk membuat dokter meminta ia berhenti minum kopi dan istirahat.
"Saya tidak punya waktu istirahat," kata Lim Tjeng Hong.
Dokter terlihat tersiksa. "Pak Lim, tubuh Bapak tidak sedang meminta izin."
Meiran mengambil cangkir kopi di depan ayahnya dan menyerahkannya pada Sari. "Tidak ada kopi lagi hari ini."
"Kamu mulai memerintah papamu sendiri?"
"Sudah lama. Papa hanya baru sadar."
Untuk pertama kalinya sejak krisis dimulai, beberapa orang di ruangan bernapas lebih lega.
Namun Sisi tidak ikut ringan.
**【Sistem Predator】Peringatan: target serangan kedua teridentifikasi. Rantai bisnis dan kesehatan Lim Tjeng Hong terhubung.**
Meiran menatap ayahnya.
Wajah Lim Tjeng Hong kembali tenang, tetapi warna pucat itu belum hilang.
Di layar tablet, pesan baru masuk dari finance.
`Bank Nusantara meminta pertemuan besok pukul 09.00. Mereka juga meminta kehadiran langsung Pak Lim.`
Meiran membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia menutup tablet.
"Balas," katanya pada Sari. "Bu Lim akan hadir."
Sari mengangkat mata. "Tanpa Pak Lim?"
Meiran berdiri di samping kursi ayahnya.
"Dengan atau tanpa izin bank, mulai hari ini aku yang bicara untuk Lim Group."
Di ujung meja, Lim Tjeng Hong menatap putrinya lama.
Kali ini, ia tidak membantah.