NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Apakah Orang Jahat Boleh Dicintai?

Bau hujan yang basah bercampur dengan dingin AC minimarket, membuat lantai di dekat pintu kaca terasa licin dan lengket. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, putih pucat, menimpa wajah Naomi Liem yang sudah dua kali menahan kantuk di balik meja kasir.

Di luar, hujan turun seperti seseorang sedang menuangkan ember dari langit.

Universitas Nusantara biasanya ramai sampai malam, apalagi saat awal semester. Tapi malam ini, hanya beberapa mahasiswa yang nekat menembus hujan untuk membeli mi instan, kopi sachet, atau payung plastik yang harganya naik dua kali lipat karena stok tinggal sedikit.

Naomi merapikan tumpukan struk di samping mesin kasir. Jari-jarinya agak kaku karena terlalu lama terkena udara dingin. Seragam minimarket yang ia pakai masih menyimpan bau deterjen murah dari kos, bercampur sedikit aroma gorengan yang tadi ia makan diam-diam di gudang.

Perutnya belum benar-benar kenyang.

Tapi shift malam memberi tambahan upah.

Tambahan upah berarti satu hari lagi ia bisa menunda pesan dari pinjol yang selalu datang dengan kalimat sopan tapi terasa seperti tangan yang mencengkeram leher.

Pintu kaca bergeser terbuka.

Dua mahasiswi masuk sambil tertawa tertahan. Sepatu mereka basah, payung mereka ditutup sembarangan di dekat rak promo. Salah satunya langsung berjalan ke bagian minuman, sementara yang satu lagi menunduk menatap layar ponsel.

"Lo udah dengar belum? Celine katanya beneran ninggalin Kelvin."

Tangan Naomi yang sedang menata permen di dekat kasir berhenti sebentar.

Nama itu jatuh begitu saja di tengah dengung lampu neon.

Kelvin.

Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.

"Celine Tanuwijaya?" tanya temannya. "Serius? Bukannya mereka dijodohin keluarga?"

"Perjodohan doang. Katanya Celine mau ke luar negeri. Lagian Kelvin Hartono mana pernah kelihatan sayang sama orang? Mantan-mantannya aja katanya kaya mendadak setelah putus."

Yang satu tertawa kecil. "Ya ampun, putus sama dia dapat pesangon? Kalau gitu aku juga mau."

"Jangan gila. Dia itu serem. Orang ganteng, kaya, tapi matanya kayak nggak punya hati."

Naomi menunduk, pura-pura sibuk menghitung uang kembalian di laci kasir.

Matanya seperti nggak punya hati.

Kalimat itu terlalu mudah masuk ke kepalanya, karena Naomi pernah melihat mata itu dari dekat. Bukan benar-benar dekat, sebenarnya. Hanya beberapa meter. Hanya dari balik tirai hujan. Hanya pada satu sore di masa SMA yang sampai sekarang masih sering datang ke mimpinya.

Hujan. Gerbang sekolah. Jalanan becek di depan warung nasi bungkus kecil milik Mama Rosa.

Naomi yang dulu masih memakai seragam putih abu-abu berdiri di bawah atap warung, menggenggam bungkusan nasi yang sudah dingin. Badannya terasa berat karena obat yang harus ia minum setiap hari. Napasnya mudah pendek. Rambutnya lepek. Seragamnya terlalu ketat di lengan.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti.

Seorang anak laki-laki duduk di kursi belakang. Kaca mobil turun sedikit. Wajahnya tampak samar di balik hujan, tapi Naomi ingat garis rahangnya, cara matanya menatap keluar, dingin dan tidak terburu-buru.

Di dekat pos satpam, dua orang berbadan besar sedang mengurus seorang pria yang berteriak-teriak soal utang. Mereka tidak memukulnya di depan umum, tapi cara mereka memegang lengan pria itu cukup membuat semua orang tahu bahwa perlawanan tidak akan berguna.

Anak laki-laki di mobil itu hanya melihat.

Tidak marah.

Tidak takut.

Tidak kasihan.

Kelvin Hartono, kata murid-murid lain waktu itu. Anak dari keluarga Hartono. Orang seperti dia tidak perlu berlari menghindari hujan. Hujan yang akan dibukakan jalannya.

Naomi masih ingat bagaimana ia diam-diam bertanya pada dirinya sendiri malam itu.

Kalau seseorang terlihat begitu jahat, kenapa jantungnya tetap berdebar saat melihatnya?

"Mbak."

Naomi tersentak.

Salah satu mahasiswi tadi sudah berdiri di depan kasir dengan dua botol teh dan sebungkus tisu basah. Naomi cepat-cepat memindai barcode.

"Dua puluh tujuh ribu lima ratus," ucapnya.

Mahasiswi itu membayar dengan QRIS sambil masih berbicara pada temannya. "Tapi kalau dipikir-pikir, Kelvin itu cocok sih jadi tokoh novel. Bad boy konglomerat, dingin, terus nanti luluh sama cewek biasa."

"Cewek biasa yang mana dulu? Yang biasa tapi cantik, bukan yang biasa banget."

Mereka tertawa lagi.

Naomi menempelkan struk pada kantong plastik, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan. "Terima kasih."

Mereka pergi tanpa benar-benar melihat wajahnya.

Itu tidak apa-apa. Naomi sudah terbiasa tidak dilihat.

Pintu kaca tertutup. Hujan kembali menjadi suara paling keras di ruangan kecil itu. Naomi menarik napas pelan, lalu merapikan rak cokelat yang sebenarnya sudah rapi.

Kelvin Hartono.

Ia pikir nama itu akan tetap tinggal di masa SMA, terkunci bersama seragam lama, foto-foto yang tidak ingin ia lihat lagi, dan suara tawa orang-orang yang memanggilnya dengan julukan yang membuat perutnya mual.

Ternyata tidak.

Nama itu masuk ke universitasnya, masuk ke tempat kerjanya, masuk ke malam hujan yang harusnya biasa saja.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Shift-nya masih tersisa empat puluh lima menit. Setelah ini ia harus mengepel lantai, menghitung stok rokok elektrik, lalu pulang ke kos di Tebet dengan jaket tipis yang tidak pernah cukup menahan angin malam.

Naomi menekan telapak tangannya ke perut.

Lapar bisa ditahan.

Kantuk bisa ditahan.

Mengingat Kelvin Hartono, ternyata tidak semudah itu.

Pintu kaca kembali bergeser.

Angin basah masuk lebih dulu, membawa aroma aspal dan hujan. Naomi otomatis mengangkat kepala, siap mengucapkan salam toko yang sudah ia hafal.

"Selamat datang di..."

Kalimatnya berhenti di tengah jalan.

Seorang laki-laki masuk sambil menutup payung hitam. Jaket gelapnya sedikit basah di bahu, rambutnya terkena titik hujan, tapi ia tampak seolah cuaca buruk hanya sesuatu yang terjadi pada orang lain. Di belakangnya, Danny Setiawan masuk sambil menggerutu karena sepatunya kebasahan.

"Kel, gue bilang tadi parkir dekat sini aja, lo malah sok drama jalan kaki," kata Danny.

Laki-laki itu tidak menjawab.

Naomi tahu wajah itu bahkan sebelum otaknya sempat menerima kenyataan.

Kelvin Hartono berjalan ke rak minuman dingin.

Minimarket yang tadi terasa sempit mendadak seperti kehilangan udara.

Naomi menunduk terlalu cepat. Jantungnya memukul rusuk, keras sekali sampai ia takut suara itu bisa terdengar. Tangannya mencari-cari kesibukan, tapi mesin kasir tidak perlu disentuh dan rak permen sudah rapi.

Pintu kulkas terbuka. Ada bunyi kaleng saling beradu.

Es kola.

Tentu saja.

Di masa SMA, Naomi pernah melihatnya memegang minuman yang sama. Kaleng merah dingin di antara jari panjangnya, tetesan air turun ke pergelangan tangan, sementara dunia di sekitarnya seperti tidak berani mengganggu.

"Mbak, bayar," ujar Danny lebih dulu, menaruh sebungkus permen karet di meja kasir.

Naomi mengangguk. "Baik."

Suaranya terlalu pelan.

Lalu Kelvin meletakkan satu kaleng es kola di depan mesin pemindai.

Jarak tangan mereka hanya beberapa sentimeter.

Kaleng itu dingin. Dingin yang langsung merambat ke meja kaca, menyisakan lingkaran air di bawahnya. Naomi memindai barcode dengan gerakan kaku.

"Delapan belas ribu," katanya.

Kelvin mengeluarkan kartu dari dompet tipis. Tidak ada logo mencolok, tidak ada gerakan pamer. Justru karena terlalu biasa, semuanya terasa semakin jauh. Naomi menerima kartu itu dengan hati-hati, seolah benda kecil itu bisa membakar jarinya.

Saat ia mengembalikan kartu, Kelvin menatapnya.

Hanya satu detik.

Mungkin kurang.

Tapi cukup untuk membuat dunia Naomi kehilangan suara. Dengung neon, hujan, keluhan Danny, semua mundur ke belakang.

Mata itu masih sama.

Tenang. Dingin. Seperti tidak menyisakan ruang untuk siapa pun masuk.

Namun kali ini, mata itu melihatnya.

Benar-benar melihatnya.

"Terima kasih," ucap Naomi, hampir berbisik.

Kelvin menerima kartu itu. Ujung jarinya menyentuh sisi jari Naomi, ringan sekali, mungkin tidak sengaja.

Naomi menahan napas.

"Kel, ayo. Hujannya makin gila," kata Danny dari dekat pintu.

Kelvin menarik kaleng es kola dari meja. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak air kecil di lantai yang baru saja Naomi pel.

Pintu kaca bergeser tertutup.

Naomi tetap berdiri di belakang kasir, tangannya masih menggantung di udara.

Di luar, hujan menghantam kaca semakin keras.

Di atas meja, lingkaran air bekas kaleng es kola perlahan melebar. Naomi menatapnya seperti menatap sesuatu yang tidak seharusnya ia simpan, tapi tidak sanggup ia hapus.

Ujung jarinya masih dingin.

Seolah sisa suhu dari kaleng itu, atau mungkin dari sentuhan Kelvin Hartono, tertinggal lebih lama dari yang seharusnya.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!