NovelToon NovelToon
Mirage

Mirage

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Romansa Modern / Konflik etika / Tamat
Popularitas:152.8k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.

Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.

Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?

⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi

Sejak kejadian tempo hari, dimana Riri dengan teganya memutus tali perteman di antara mereka, Mari tak lagi datang berkunjung ke rumah besar itu, bahkan hanya untuk sekedar menyapa tukang kebun yang sudah sangat baik kepadanya.

Gadis yang beberapa tahun belakangan ini terlihat lebih ceria, kini kembali berwajah suram, dingin dan datar.

Ibu Mari sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi pada sang putri. Namun, beliau tidak sekali pun bertanya ada apa atau kenapa, karena dia sudah tau betul perilaku orang-orang kaya itu seperti apa.

Itu lah sebabnya, dia merasa khawatir ketika mengetahui, jika putrinya tengah dekat dan berteman dengan seseorang dari golongan kelas atas.

"Benarkan dugaan Ibu. Kau hanya akan terluka, dan luka mu saat ini akan lebih parah dari sebelumnya. Lihatlah dirimu saat ini, Nak. Kamu benar-benar seperti es, bahkan dengan Ibu sekalipun," batin Ibu Mari.

Mari memang kembali kepada sikapnya yang dulu, namun kali ini, tidak hanya kembali, tapi melebihinya.

Dia cenderung lebih pendiam dan dingin. Mari yang biasanya masih suka melihat anak-anak lain bermain, kini dia justru tak mengacuhkan keberadaan mereka.

Tatapannya tajam, namun ekspresi wajahnya begitu datar. Ibu Mari sangat khawatir dengan sang putri. Hal itu sudah terjadi selama hampir dua minggu, dan selama itu pun, Mari selalu menyendiri di dalam bilik yang ia sebut sebagai kamarnya.

Hingga suatu sore, Mari tiba-tiba terlihat tengah memasukkan benda-benda yang pernah ia dapatkan dari rumah Riri, ke dalam sebuah kantung plastik berukuran besar.

Teddy bear pertamanya pun turut ia masukkan ke dalamnya, lalu mengikatnya dengan sebuah simpul.

Waktu terlihat telah senja kala itu, dan Mari bergegas untuk menuju rumah besar, yang telah memberikan warna lain pada hari-harinya selama kurun waktu tiga tahu ini.

Dia membawa semua barang-barang yang ada di kantong tadi, dan akan mengembalikan semuanya ke sana.

Mari berjalan kaki menuju ke rumah besar itu, dengan perasaan yang begitu kacau. Jauh di dalam hatinya, dia masih sangat menginginkan agar bisa kembali dekat dengan Riri.

Namun sepertinya, temannya itu sudah tak menginginkan dirinya sebagai teman lagi.

Dia berjalan dengan begitu lambat, dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Meski wajahnya tanpa ekspresi dan dingin, namun sejujurnya ia sangat merindukan kehangatan yang ia dapatkan dari setiap penghuni rumah mewah itu.

Dia berjalan cukup lama, hingga gelap pun telah menyelimuti seluruh cakrawala, dan hanya menyisakan cahaya dari lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah dan jiga penerangan jalan.

Jarak antara blok terakhir dengan rumah Riri cukup jauh. Hal itu dikarenakan, keluarga Riri membeli sebidang tanah yang terletak di samping komplek perumahan, dan membangun sebuah rumah mewah yang nampak menjadi satu dengan komplek perumahan itu.

Rumah Riri sebenarnya bukan merupakan bagian dari komplek itu, melainkan sebuah rumah milik individu yang tersembunyi di ujung jalan komplek.

Saat di tengah jalan yang sudah masuk kawasan rumah Riri, ia melihat sebuah mobil melaju kencang, dengan kaca belakang yang sedikit terbuka, membuat gadi kecil itu bisa melihat, jika ada Arya di dalam sana sedang meronta dan berteriak.

"Lepaskan!"

Di susul kemudian, sebuah mobil lain yang melaju tak kalah kencangnya dari belakang, dan mengejar mobil yang tadi, hingga terdengar benturan di persimpangan jalan.

BRAK!

Mari menoleh, dan bergegas berlari ke arah sana. Ia menjatuhkan semua barang-barang yang ia bawa begitu saja di pinggir jalan hingga berserakan.

Ia berlari, hingga langkahnya terhenti ketika menyaksikan dua mobil yang sudah saling bertumbukkan, dengan penyok di banyak bagian.

Mari semakin terperanjat, kala melihat sebuah adegan di mana Arya, kakak dari temannya, tengah di rangkul dari belakang oleh seorang pria yang mengenakan penutup kepala, dan sebuah pisau mengkilap yang berada tepat di depan leher pemuda itu.

Sedangkan di seberangnya, seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam, tengah mengarahkan senjata apinya ke arah si pria bertopeng itu.

"Letakkan pistol mu, atau leher anak ini akan ku potong!" perintah si pria bertopeng.

"Lepasin!" Arya meronta minta dilepaskan, namun sang pria bertopeng justru membentaknya dengan keras.

"Diam!"

Laki-laki di seberang masih menodongkan senjatanya, namun lagi-lagi teriakan dari pria bertopeng yang menyuruhnya membuang senjata api itu, kembali terdengar.

Mari bingung harus berbuat apa. Kakinya kaku dan tak bisa digerakkan. Dia hanya mampu melihat dengan menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan.

Satu goresan pisau, membuat Arya meringis merasakan perih di lehernya. Hal itu membuat laki-laki yang tengah berdiri di seberangnya, menurunkan senjata Api.

"Lemparkan kemari! Ayo lemparkan!" perintah pria bertopeng lagi.

Tanpa disuruh dua kali, laki-laki berjaket kulit hitam di seberang pun, melempar pistol yang sedari tadi ia pegang ke hadapan pria bertopeng.

Dan dengan gerakan cepat, pria bertopeng itu menendang pistol ke sembarang arah, agar menjauh dari jangkauan lawannya.

Saat itu, Arya merasakan rangkulan lengan pria di belakangnya terasa mengendur, dan membuatnya memikirkan sesuatu.

Dia menarik nafas dalam, dan lalu membuka mulutnya lebar-lebar.

"Aaaarrrghhhhhh!"

Arya menggigit kuat-kuat tangan pria itu, hingga pisau yang ia pegang terjatuh dan rangkulannya terurai.

Pada saat itulah, Arya segera berlari menjauh dari pria tersebut, dan menuju tempat di mana Mari tengah berdiri mematung.

Si pria bertopeng segera meraih pisaunya yang sempat terjatuh, dan berlari menyusul Arya. Sedangkan laki-laki berjaket kulit di sebarang, segera berlari ke arah pistolnya di tendang.

Arya tadinya tak melihat Mari, karena dia hanya fokus berlari menjauh, namun saat sudah semakin dekat, dia bisa melihat kehadiran gadis yang beberapa waktu belakangan sudah tak bisa ia temui lagi.

Entah kenapa, Arya merasa begitu senang melihat gadis itu. Matanya berbinar kala melihat kehadiran Mari di sana. Senyumnya mengembang, dan tangannya terulur hendak membawanya turut berlari menjauh dari tempat berbahaya itu.

Namun, Ekspresi Mari justru sebaliknya. Matanya membulat, dan dia menggelengkan kepalanya cepat. Dia dengan tiba-tiba meraih tangan Arya yang terulur ke arahnya, namun bukannya berlari, Mari justru menarik Arya hingga berputar dan bertukar posisi dengannya.

CRAASSSS!

"Eng!" Mari merasakan bagian belakangnya telah tertusuk senjata tajam.

Rupanya, ia melihat jika pria bertopeng itu hampir menyusl Arya. Dengan gerakan cepat, dia membalik tubuh Arya, dan menjadikan dirinya sebagai tameng.

Mata Arya membulat, tubuhnya kaku, kala menyaksikan gadis itu ditusuk tepat di depan matanya, untuk melindungi dirinya dari si pria bertopeng.

Saat mengetahui jika dia salah sasaran, si pria bertopeng lalu dengan serampangan menarik kembali pisau yang telah tertancap di punggung Mari, kemudian menyingkirkan gadis yang telah terluka parah itu dari hadapannya, dan mengayunkan kembali pisaunya.

DOOOR!

Tepat saat itu, sebuah tembakan secara tepat mengenai bahu kanan si pria bertopeng, yang membuatnya menjatuhkan senjata tajam yang hampir menghunus tubuh Arya.

DOOOR!

Dan sepersekian detik kemudian, kembali terdengar bublnyi tembakan, yang mengenai kaki kiri pria bertopeng, yang membuatnya ambruk seketika, dan mengerang kesakitan.

Arya masih diam mematung di tempat, sampai suara lirih Mari membuyarkan pikirannya.

"Kak! To … long!"

Arya menoleh ke arah di mana Mari terjatuh, dengan luka di punggung yang terlihat dengan jelas menganga, dan darah mengucur deras dari sana.

Tangan gadis itu terulur ke arahnya, seolah meminta bantuan kepada Arya. Arya masih diam, namun tatapannya memandang ke arah Mari dengan raut wajah yang kebingungan. Dia terlihat gemetar, namun diam bergeming di tempat, dan hanya melihat Mari kesakitan

Hingga gadis itu sudah tak bisa bertahan lagi, dan akhirnya tak sadarkan diri dengan tubuh yang telah bersimbah darah.

.

.

.

.

ternyata flash backnya belum selesai😅maaf ya nge prank✌sabar aja sambil baca yah guys🤭

Yang sudah baca, jangan lupa kasih jempolnya ya😊🙏

1
Verlit Ivana
Mungkin seulas Kak kalau senyum, seutas cocok untuk tali.
*cmiiw
🐌KANG MAGERAN🐌: iya bener 😅 maaf ken🤭
total 1 replies
Verlit Ivana
mantap Kak, penggambaran tragisnya kena. /Smile/
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih kak
total 1 replies
Verlit Ivana
Kak, mungkin karena pake tanda seru ya, aku bacanya si petugas kayak sambil bentak. /Frown/.
🐌KANG MAGERAN🐌: gemes kan lihat tulisan acak-acakan
total 5 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih mbak Author sudah di ijinin baca Marathon 👍🌹❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga junior mau lounching
Bundanya Pandu Pharamadina
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
❤❤❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
perasaan sudah baca, otw lagi 👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
mundur alon alon sing penting tetep gadi konco yo mbak Author
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga nanti bahagia Lingga Mira
Bundanya Pandu Pharamadina
part ulang yah kaka Author👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
ternyata yg nolong Arya(Lingga) tek kira Thomas
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga Mira 👍❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Mira😭😭😭😭
Bundanya Pandu Pharamadina
ada teka teki hubungan apa antara mama Mirna (Shofia) sama Thomas dan mami Ge*mo
Bundanya Pandu Pharamadina
tMira itu bukan teripang tapi anak konda
Bundanya Pandu Pharamadina
per*ek teriak per*ek duhhh🤭🤭
Bundanya Pandu Pharamadina
ihhh sampai ikutan gos²an bacanya
Bundanya Pandu Pharamadina
Mungkin Mari /Mari belum siap untuk kembali seperti dulu Lingga
Bundanya Pandu Pharamadina
mungkinkah dia(Lingga) anak dan keluarga yg di tolong Mira🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!